6 Fakta dari Biodiesel, Solar yang Dicampur dengan Minyak Kelapa Sawit

 

JAKARTA – Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) meminta percepat mandatori biodiesel. Program ini mewajibkan bahan bakar minyak jenis solar dicampur dengan minyak kelapa sawit. Biodiesel ini merupakan salah satu jenis Energi Baru Terbarukan (EBT) yang saat ini, konsumsinya tengah didorong oleh pemerintah.

Berikut ini fakta-fakta tentang biodiesel yang dirangkum oleh Okezone Finance:

 

1. Penggunaan Biodiesel, Indonesia Bisa Hemat Devisa Hingga Rp79,2 Triliun

Penggunaan solar dengan kandungan minyak kelapa sawit sebesar 20% atau B20 diklaim bisa menghemat devisa negara hingga USD21 juta per hari setara Rp302,4 miliar (kurs Rp14.400 per USD). Sebab, dengan penggunaan B20 pemerintah bisa menekan impor solar sekaligus meningkatkan konsumsi minyak kelapa sawit dalam negeri.

Sempat Sentuh Rp14.200 per Dolar AS, Rupiah Ditutup Menguat 0,53%

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menuturkan, jika dihitung dalam satu tahun, maka penghematan cadangan devisa sebagai imbas penggunaan B20 sebagai bahan bakar setara dengan USD5,5 miliar setara Rp79,2 triliun (kurs Rp14.400 per USD). Dengan syarat, penggunaan B20 sudah dilakukan sepenuhnya oleh sektor kewajiban pelayanan publik atau public service obligation (PSO) dan non PSO.

2. Pemerintah Menambah Target Biodiesel Jadi 3,5 juta per Tahun

Pemerintah untuk tahun ini menambah target penggunaan biodiesel dari 2,5 juta per tahun menjadi 3,5 juta per tahun. Namun, setelah ditambah dengan pertambangan ini maka proyeksi realisasi akan mencapai 3,35 juta kilo liter per tahun. Maka untuk mencapai target maka pihaknya akan memperluas penggunaan biodiesel.

Rencana Penambahan Subsidi Solar di Tengah Kenaikan Harga Minyak Dunia

“Sekarang kita lagi kejar target 3,5 juta kilo liter tahun ini. Awalnya kan penggunanya 2,5 juta per tahun. Saat ini pegang baru 3,35 juta dengan asumsi pertambangan pakai B10, dan KAI pakai B5. Bagaimana lebih masif lagi digunakan. Karena kalau ada disparitas kan, ada B5 dan B10, kan kasihan pertamina nyediain tangkinya. Jadi nanti akan ada satu kadar BBN saja yang dipakai B berapa ke semua industri, tapi harus diterima semua dengan harga yang seolah-olah harga solar,” tukasnya.

3. Biodiesel Sasar KAI dan Sektor Tambang

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan, setelah memperluas penggunaan ke sektor transportasi yakni ke KAI, kali ini pihaknya akan menyasar sektor pertambangan. “Kita juga memerlukan perluasannya, tadi saya melaporkan untuk ke sektor transportasi darat (KAI). Kita juga perluas ke sektor tambang,” ungkapnya di Kemenko Perekonomian, Selasa (20/3/2018).

 

Sumber: Okezone.com