Anggota RSPO Telah Membantu Menekan Emisi CO2

64826612 – plantation worker watches as a truck unloads freshly harvested oil palm fruit bunches at a collection point.

The Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) mengklaim para anggotanya telah berhasil mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) secara signifikan sejak 2015.

“Kami telah menyaksikan kenaikan terus menerus dari angka kumulatif tahunan emisi CO2 yang berhasil dihindari berkat konservasi lahan gambut, setara dengan menghilangkan emisi dari lebih dari 110.000 mobil dalam hanya setahun saja,” demikian Chief Executive Officer RSPO Datuk Darrel Webber dikutip dalam sebuah rilis RSPO yang diperoleh The Palm Scribe pada hari Selasa (31/11).

Pengurangan ini, yang digarisbawahi dalam Laporan Dampak 2018 (2018 Impact Report) RSPO, diketahui berdasarkan asesmen GHG yang diajukan semenjak 2015.

“Saya berharap kami dapat terus melihat kemajuan seperti ini di semua bidang di tahun berikutnya,” ujar Webber.

Laporan yang mencakup periode 1 Juli 2017 hingga 30 Juni 2018 ini juga mengatakan bahwa terjadi kenaikan sebesar 39 persen dari luas lahan Nilai Konservasi Tinggi (HCV) yang telah berhasil disisihkan dan dikelola oleh anggota RSPO pada periode tersebut. Luasan tersebut hampir sama dengan 350.000 lapangan sepak bola.

Laporan tersebut juga memperlihatkan bahwa pertumbuhan area HCV yang berhasil disisihkan anggota RSPO meningkat sebesar 83 persen di Amerika Latin dan mencapai 66.229 hektar. Sementara itu, di Afrika, luas area HCV yang disisihkan anggota RSPO mencapai 18.043 hektar, atau naik 132 persen.

RSPO, yang  merupakan skema sertifikasi keberlanjutan bagi kelapa sawit yang terbesar di dunia, juga mengatakan bahwa sampai dengan 30 Juni 2018, 3,2 juta hektar perkebunan kelapa sawit telah memperoleh sertifikasi, atau mencakup volume produksi tahunan sebesar 13,6 juta ton.

Peningkatan kuat terjadi di Afrika di mana area yang tersertifikasi RSPO naik 94 persen sementara di Amerika latin luasannya naik sebesar 15 persen.

RSPO juga mengatakan bahwa jumlah anggotanya melampaui 4.000 yang berasal dari 92 negara. Pada tanggal 30 Juni 2018, keanggotaan tersebut masih berada pada 3.920 dari 91 negara, atau 15 persen lebih tinggi dari periode yang sama di tahun sebelumnya.

Organisasi nirlaba yang menghimpun pemangku kepentingan dari ketujuh sektor di industri sawit, termasuk produsen, prosesor, pedagang, manufaktur, pengecer, bank, investor, dan LSM ini sedang mengadakan Konferensi Meja Bundar Tahunan mengenai Kelapa Sawit Berkelanjutan yang ke 16 (RT16) di Kota Kinibalu, Sabah, yang akan berakhir Rabu (14/11).

Konferensi kemudian akan disusul oleh Sidang Umum Tahunan RSPO ke 15 yang akan mengadakan pemungutan suara untuk menentukan berbagai resolusi, termasuk usulan Prinsip dan Kriteria RSPO terbaru.

 

Sumber: Thepalmscribe.id