Antisipasi Langkah AS, Pengusaha Sawit Alihkan Produk Biodiesel ke Negara Lain

 

Jakarta – Pelaku usaha kelapa sawit rupanya telah mengantisipasi langkah pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk mengenakan bea masuk anti dumping produk kelapa sawit asal indonesia dengan nilai sebesar 50,71%.

“Sejak setahun terakhir, Wilmar sudah tidak lagi ekspor biodiesel ke AS,” kata Direktur Wilmar Nabati Indonesia, Erik Tjiang kepada pers di Jakarta, Kamis (26/10/2017).

Ia mengatakan, produksi biodiesel yang sebelumnya digunakan untuk ekspor ke AS telah dialihkan.

“Pengalihannya dalam dua bentuk, pertama penjualan biodiesel dialihkan ke tempat lain dan kedua memproduksi jenis lain dari olahan sawit. Namun, kebijakan AS tersebut patut disayangkan karena AS merupakan pangsa pasar ekspor biodiesel Indonesia,” ungkapnya.

Sementara, Direktur Pengamanan Perdagangan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri (Ditjen Daglu) Kemendag, Pradnyawati membenarkan produsen biodiesel dalam negeri tidak lagi mengekspor biodiesel ke AS sejak awal tahun ini. Salah satu alasannya adalah harga biodiesel ke AS sudah tidak kompetitif lagi.

“Karena itu, kami sedang mencari pasar baru di luar AS untuk dapat mengekspor biodiesel,” ujarnya.

Antisipasi sejak dini dilakukan karena industri biodiesel dalam negeri sudah mencium gelagat proteksionisme perdagangan yang dilakukan Presiden AS Donald Trump.

Pengalihan pasar telah dilakukan produsen biodiesel sejak awal tahun ini. Selain pasar baru, para produsen juga melakukan ekspor sawit dalam bentuk lain.

 

Sumber: Industry.co.id