,

Asosiasi: Ada Kekurangan Produksi CPO 2 Juta Ton di 2019

Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) memproyeksi akan terjadi kekurangan produksi (shortage) minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan minyak inti sawit mentah (crude palm kernel oil/CPKO) hingga 2 juta ton tahun depan.

Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga mengungkapkan konsumsi domestik untuk produk CPO dan turunannya (di luar FAME untuk B20) selama lima tahun terakhir tumbuh rata-rata 9,43% per tahun. Adapun pertumbuhan konsumsi pasar ekspor rata-rata 7,94% per tahun.

Dia memperkirakan total produksi CPO dan CPKO sepanjang tahun ini mencapai 48,2 juta ton dengan total konsumsinya mencapai 47,5 juta ton.

“Tapi dengan adanya perang dagang, perang tarif, dan sebagainya, kita memprediksi di 2019 pertumbuhan tadi tidak akan tercapai. Estimasi kita konservatif saja, konsumsi domestik tumbuh 5% dan ekspor tumbuh 4%,” kata Sahat kepada CNBC Indonesia di kantornya, pekan lalu.

Dengan asumsi total permintaan tumbuh 9%, Sahat memperkirakan konsumsi di 2019 mencapai 54,7 juta ton, terdiri atas 44,4 juta ton konsumsi dalam negeri dan ekspor serta 10,3 juta ton kebutuhan FAME.

Dia pun mengestimasi total produksi di 2019 hanya sebesar 52,8 juta ton, terdiri atas 48,2 juta ton CPO dan 4,6 juta ton CPKO.

“Dengan demikian, artinya kita akan shortage mencapai 2 juta ton di 2019. Nah, kebutuhan FAME tidak mungkin kita korbankan, jadi kemungkinan untuk menutupi kebutuhan dalam negeri kita akan menurunkan ekspor sebesar 2 juta ton. Otomatis harga CPO akan naik,” ujarnya.

Ditemui di tempat berbeda, Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor menjelaskan pihaknya memang mengusulkan penyerapan FAME yang lebih besar oleh PLN serta akselerasi penggunaan B30 untuk menaikkan harga CPO di pasar internasional.

“Jadi kita perkuat pasar dalam negeri. Kalau kami maunya B30 di 1 April 2019, dari rencana awal di Januari 2020. Ini akan coba dikaji [pemerintah]. Kami berharap lebih cepat lebih baik, sehingga urusan logistik bisa direncanakan mulai sekarang,” kata Tumanggor di kantor Kemenko Perekonomian.

Terkait logistik, Tumanggor mendorong percepatan pembangunan floating storage supaya 25 titik penyaluran FAME yang ada saat ini bisa dikurangi hingga hanya menjadi 10 titik.

“Kalau sudah tinggal 10 titik, masalah logistik tidak lagi menjadi masalah yang besar. Kita sudah bisa masuk ke B30,” pungkasnya. (prm)

 

Sumber: Cnbcindonesia.com