B20 Bakal Hemat Devisa US$ 2,3 Miliar

DENPASAR – Menteri Keuangan Sri Mulyani optimistis kebijakan biodiesel dengan campuran minyak solar dan minyak sawit 20% atau B20 akan menghemat devisa negara hingga US$2,3 miliar.

Menurut Sri Mulyani, saat ini impor migas sudah mulai menurun sejak adanya penerapan kebijakan B20. Walaupun tidak memberikan angka pasti, paparnya, ekspor migas justru jauh lebih besar daripada impor.

Adapun saat ini migas mengalami penurunan lifting atau realisasi produksi minyak dan gas hingga 35% dibandingkan dengan kondisi pada 12 tahun lalu. Adapun lifting migas sejak 12 tahun lalu dari volume 1 juta barel per hari (BOEPD) menjadi 750 barel per hari (BOEPD).

“Kita masih berharap dengan adanya B20 akan mengurangi porsi kebutuhan [impor] sampai akhir tahun ini, kira-kira Rp2,3 miliar bisa dihemat dan kita akan mengharapkan bisa terjadi,” katanya, Selasa (18/9) sore.

Sri Mulyani menyebutkan, beberapa kebijakan fiskal dan moneter memang harus diterapkan lantaran suku bunga AS yang meningkat dan likuiditas yang ketat. “Defisit perdagangan tidak semakin melebar dan capital inflow [aliran modal masuk) yang meningkat.”

Dia menambahkan, .selain menurunkan impor migas, pihaknya juga akan meningkatkan ekspor berbagai komoditas. Insentif untuk investasi juga akan semakin ditingkatkan sehingga perekonomian Indonesia bisa aman dari guncangan ekonomi dunia yang terjadi saat ini.

Namun, dia menegaskan, kondisi ekonomi pasti tidak akan selamanya baik dan selalu mengalami guncangan, sehingga kebijakan untuk melakukan adaptasi di setiap guncangan yang terjadi memang harus diterapkan.

Sri Mulyani juga mengatakan, pentingnya menjaga penerimaan negara dari perpajakan dan belanja negara secara produktif dan efisien. Ini termasuk di dalamnya pembiayaan utang yang prudent. Adapun anggaran pendapatan dan belanja negara atau APBN akan dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk menstimulasi ekonomi, mengurangi kemiskinan, memperluas kesempatan kerja, hingga mengurangi kesenjangan ekonomi.

“Ekonomi yang sehat adalah yang mampu beradaptasi dan cara saat mengalami guncangan,” katanya.

PEMULIHAN

Lebih jauh, Sri Mulyani menjelaskan, penurunan lifting migas dan tingginya impor menjadi permasalahan yang cukup signifikan bagi pemulihan perekonomian Indonesia pascakrisis ekonomi global pada 2008-2009.

Menurutnya, saat terjadi krisis 12 tahun lalu, Indonesia bisa bertahan dengan gross domestic product (GDP) di bawah 5%. Kondisi ini menjadikan Indonesia masuk pendapatan tertinggi di dunia setelah China dan India. Situsasi ini juga yang membuat Indonesia bisa bertahan saat itu dan menikmati commodities boom (tingginya harga komoditas).

Padahal, krisis 2008-2009, telah mendorong semua negara mengambil kebijakan fiskal dan moneter pada perekonomiannya. Kebijakan tersebut seperti yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dengan menurunkan suku bunga dari 5% menjadi 0,25%. Bahkan, Jepang menurunkan suku bunga hingga 0 %, begitu juga dengan negara-negara di Eropa yang suku bunganya nyaris 0%.

 

Sumber: Bisnis Indonesia