B20 Masih Jadi Senjata Andalan

PEMERINTAH terus berusaha menekan defisit neraca perdagangan untuk memperbaiki perekonomian Indonesia. Aturan wajib biodiesel 20 persen (B20) jadi senjata andalan.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan, B20 akan berkontribusi mengurangi defisit sebesar 1 miliar dolar AS sampai akhir tahun ini. Meski bisa mengurangi defisit neraca perdagangan migas, B20 tidak bisa membuat neraca perdagangan migas menjadi surplus.

“Ini berkontribusi mengurangi. Kita targetkan empat bulan ini bisa mengurangi 1 miliar dolar AS,” ujar Rida di Jakarta, kemarin.

Pihaknya juga akan kembali melakukan rapat di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk memastikan program ini berjalan dengan baik. B20 merupakan bagian untuk menyehatkan neraca perdagangan nasional.

“Kebijakan ini diharapkan juga mendorong ekspor dan menekan impor BBM,” harap Rida.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, kebijakan ini juga akan mengurangi defisit transaksi berjalan. Kenapa hanya mengurangi? Karena dari dulu sejak 1970 defisit Indonesia negatif.

“Banyak kegiatan ekonomi yang belum dimasuki investor terutama di hulu dari bidang penghasil besi baja hulu, petrokimia hulunya, penghasil farmasi,” jelasnya.

Menurut dia, kebijakan ini paling cepat untuk menghemat penggunaan devisa. Sebab, impor minyak berkurang.

“Karena begitu kita mulai dampaknya nomor satu ada penghematan devisa, karena solarnya dicampur dengan CPO (crude palm oil). Berarti berkurang kebutuhan solarnya,” kata Darmin.

Kebijakan B20. lanjutnya, juga akan mendorong kenaikan harga CPO. Menurut Darmin, saat ini produksi dan stok CPO sedang tinggi. “Kita bisa harapkan paling tidak tahun depan harganya membaik, itu akan naikkan devisa,” tegas Darmin.

Saat ini defisit neraca perdagangan untuk non migas sudah mulai turun. Sementara defisit di sektor migas masih besar.

“Bulan sebelumnya defisitnya 2,02 miliar dolar AS, akhir Agustus itu defisitnya 1,02 miliar dolar AS, ya turun satu miliar dolar AS,” kata Darmin.

Diakuinya penerapan B20 belum terlihat dampaknya karena baru berlaku per bulan September.

“Belum bisa dihitung di situ. Kebijakan-kebijakan kita pada dasarnya baru akan kelihatan hasilnya pada September yang akan diumumkan pertengahan Oktober nanti,” katanya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani meminta kepada masyarakat untuk sabar dalam menantikan efek kebijakan mandatori B20. Kebijakan tersebut, diakuinya masih butuh waktu karena baru dilaksanakan bulan ini.

“Untuk menekan defisit kita laksanakan B20 dan kenaikan tarif pajak impor akan kami lihat.” ujarnya.

 

Sumber: Rakyat Merdeka