Bahan Bakar PLTD Dikonversi ke CPO Tahun Ini

Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) segera mengonversi penggunaan bahan bakar dalam pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), dari bahan bakar minyak (BBM) ke crude palm oil (CPO). Diharapkan konversi tersebut bisa direalisasikan tahun ini.

“Selain tadi mengawal B20 yang tinggal melakukan monitoring dan evaluasi (monev), kita juga diminta oleh Menteri ESDM untuk segera mengonversi penggunaan PLTD dengan CPO seperti juga disampaikan bapak Menteri, tahun 2019 harus sudah jalan,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) EBTKE Rida Mulyana di Jakarta, akhir pekan lalu.

Rida mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan dan PT PLN terkait upaya mengonversi penggunaan bahan bakar PLTD dengan CPO tersebut.

Sebelumnya, Menteri ESDM Ignasius Jonan mengungkapkan bahwa PLTD masih digunakan untuk menerangi pulau-pulau terluar. Dia meminta dalam waktu dua tahun PLTD dengan kapasitas total mencapai 2.000 Megawatt (MW) tersebut menggunakan sawit sebagai bahan bakarnya.

“Pembangkit itu diubah jadi pembangkit minyak kelapa sawit bisa sampai 100%,” ujarnya.

PLN juga tengah melakukan kajian mengenai penggunaan CPO sebagai bahan bakar PLTD.

Dirjen EBTKE itu juga menyinggung rencana pihaknya yang akan lebih intens menangani green fuel. “Kita juga akan lebih intens menangani hal yang kita sebut green fuel” kata Rida.

Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Andrian Feby Misnah akhir tahun lalu mengungkapkan bahwa pemerintah mendorong upaya produksi green fuel.

“Selain biodiesel, ke depan juga kita akan mengupayakan untuk memproduksi green fuel” katanya.

Sebelumnya, Direktur Perencanaan PLN Syofvie Rukman mengatakan, kajian yang dilakukan itu mengenai pengaruh kualitas CPO terhadap mesin pembangkit dan tingkat efisiensi dari harga jual CPO. Dia berharap harganya nanti sama dengan atau lebih murah dari bahan bakar gas.

“Ini kami masih kaji. Kami juga harus lebih tahu kandungan CPO seperti apa yang cocok sama mesin,” kata Syofvie.

Syofvie mengungkapkan, pihaknya dan Kementerian ESDM sedang membangun proyek PLTD 100% menggunakan CPO di Belitung. Ini menjadi proyek pertama yang menggunakan bahan bakar nabati dan ditargetkan pada akhir tahun ini. Proyek ini akan menjadi acuan kajian penggunaan 100% CPO di PLTD lain. Dia pun belum bisa memastikan apakah akan ada investasi lagi untuk membeli mesin agar bisa menyerap 100% CPO.

“Kalau kami mau mengubah mesin yang ada sekarang untuk itu, ya saya butuh investasi baru. Tapi kalau ternyata saya butuhnya mesin baru, ya saya tinggal beli saja yang baru,” ujarnya.

Tiga Kilang

Sementara itu, pemerintah juga menyatakan terdapat tiga kilang eksisting yang disiapkan agar dapat mengolah minyak sawit mentah {crude palm oil/CPO) menjadi bahan bakar minyak (BBM) hijau mulai 2022. Pada saat yang sama, pemerintah tetap mengupayakan
diterapkannya mandatori biodiesel 30% (B30) mulai 2020.

Andriati Feby Misnah menuturkan, diversifikasi ke bioenergi ini dilakukan guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang mencapai 40% dari total bauran energi nasional. Kementerian menargetkan, pemanfaatan bioenergi ini dapat mencapai 13,8 juta kiloliter (KL) pada 2025.

Sejumlah langkah telah dilakukan pihaknya untuk mencapai target tersebut. Salah satunya, pihaknya mendorong dilakukannya pilot project dual processing CPO dan minyak mentah di kilang oleh PT Pertamina (Persero).

Ada tiga kilang yang disiapkan untuk pilot project ini yakni Kilang Plaju yang akan mengolah CPO menjadi green fuel, Kilang Dumai menghasilkan green diesel, dan Kilang Balongan memproduksi green avtur.

Sumber: Suara Pembaruan