,

Bio Pelumas Bisa Pacu Serapan RBD Olein Dalam Negeri

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bakal mempertemukan produsen bio base oil dari Jerman dan para pelaku industri pelumas.

Pertemuan tersebut bertujuan untuk menjelajahi kemungkinan penggunaan turunan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) sebagai bahan baku produksi base oil di dalam negeri.

Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menyatakan pemanfaatan CPO sebagai bahan baku base oil baru dapat digunakan sebagai produksi pelumas industri. Asosiasi menyatakan CPO yang akan dimanfaatkan akan dilakukan pemurnian kembali untuk menghilangkan impuritas dan menjadi refined, bleached, deodorized (RBD) olein.

“Bahan baku [pelumas] 80% diimpor berupa minyak bumi. Jadi, pertama, bisa menghemat devisa dengan ini. Kedua, bisa menyerap produksi minyak sawit kita,” ujarnya kepada Bisnis belum lama ini.

Sahat mengatakan penggunaan teknologi yang dibawa dari Jerman tersebut memungkinkan mengganti seluruh minyak bumi menjadi RBD olein. Menurutnya, penggunaan RBD olein sebagai bahan baku pelumas akan mengurangi dampak lingkungan yang dihasilkan oleh pelumas konvensional.

Organisme yang terkena tumpahan grease bio-pelumas, katanya, tidak akan merusak. Sahat menyampaiakn bio-pelumas tersebut belum dikembangkan untuk penggunaan kendaraan bermotor. “Itulah yang dipatenkan Jerman. [Teknologi] itu dibawa ke Indonesia.”

Sahat mengatakan kapasitas produksi RBD olein di dalam negeri mencapai 38 juta ton dengan utilitas pabrikan di level 47,36%. Adapun, industri minyak goreng nasional dialokasikan maksimal 6 juta ton, alokasi maksimal ekspor 20 juta ton, sedangkan 12 juta ton lainnya dialokasikan untuk industri pengguna lainnnya.

Menurutnya, rendahnya utilitas pabrikan RBD olein lokal disebabkan oleh pengubahan dana pungutan (DP) sawit menjadi Rp0. Dengan demikian, para pelaku industri memilih untuk langsung menjual CPO daripada melakukan pemurnian lanjutan.

“Daya saing kami kurang karena masih ada sekitar 20 juta ton yang tidak digunakan. Kalau DP-nya dikenakan, lebih baik ekspor RBD olein daripada crude. Karena DP Rp0, ngapain bikin refined oilcrude saja dapat ekspor,” katanya.

 

Sumber: Bisnis.com