Biosolar Produksi Pertamina Palembang Tekan Efek Rumah Kaca

Kilang Pertamina Refinery Unit III (RU III) Plaju Palembang sudah resmi meluncurkan Biosolar (B-20) ramah lingkungan di Palembang. Bahan bakar ini diprediksi bisa menekan efek rumah kaca yang cukup besar.

Biosolar (B-20) sendiri merupakan campuran bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, dengan minyak nabati yaitu Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebesar 20 persen. Produk ini diproduksi oleh Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU BBN).

Penjabat sementara (Pjs) General Manager MOR II Hendrix Eko Verbriono mengatakan B-20 memiliki cetaNe number di atas 50. Angka ini lebih tinggi bila dibandingkan cetaNe numbersolar murni yakni 48.

“Semakin tinggi angka cetane, semakin sempurna pembakaran sehingga polusi dapat ditekan. Kerapatan energi pervolume yang diperoleh juga makin besar. Selain itu, campuran FAME menurunkan sulfur pada produk Diesel tersebut,” katanya kepada Liputan6.com, Sabtu (26/1/2019).

Pemanfaatan minyak sawit ini yang diproduksi Pertamina Plaju Palembang ini, mampu mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK), bahkan bisa berkurang hingga 29 persen dari Business as Usual (BAU) pada tahun 2030.

Penerapan Bahan Bakar Ramah Lingkungan ini juga berdampak pada pengendalian angka impor BBM. Serta diharapkan turut mendukung stabilitas nilai rupiah dan menghemat devisa negara.

“Kilang kita merupakan salah satu dari 30 lokasi yang ditentukan menerima FAME. Dengan kebutuhan B-20 untuk Provinsi Sumsel dan Lampung sebanyak 3.500 – 5.000 KL/hari,” katanya.

Pertamina RU III Plaju Palembang juga mampu menghasilkan Biosolar (B-20) 180.000-200.000 KL/bulan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Pertamina menjamin ketahanan stok BBM Ramah Lingkungan di pasaran.

Mereka akan terus berinovasi menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan. Diantaranya langsung mengolah CPO di dalam kilang, untuk menghasilkan green fuel berupa green gasoline, green diesel dan green avtur. 

Sumber: Liputan6.com