BPPT RI Gandeng Australia Teliti Integrasi Sawit-Sapi

 

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memperpanjang kerja sama tahun kedua dengan Coffey International Development Pty Ltd yang merupakan Managing Contractor for Indonesia Australia Commercial Cattle Breeding Program untuk penelitian analisis dampak integrasi sawit-sapi terhadap kesuburan lahan dan produktivitas sawit. Penelitian itu akan menjawab terutama dampak ekonomi jika perkebunan sawit diintegrasikan dengan pemeliharaan sapi.

Penandatanganan perjanjian kerja sama antara BPPT dengan perusahaan untuk Program Pembibitan Sapi Komersial Indonesia Australia dilakukan oleh Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB)

BPPT Soni Solistia Wirawan dan Kepala perwakilan Coffey International Development Pty Ltd untuk Indonesia Trudy Djanggeur. Kerja sama itu akan dilakukan di dua lokasi yakni di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah di lahan milik perusahaan tersebut.

“Kita selalu mengadakan penelitian dan pengembangan untuk dapat inovasi dan temuan yang hasilnya langsung komersial,” kata Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT Soni Solistia Wirawan dalam acara penandatanganan kerja sama itu di Jakarta, Kamis (16/5).

Soni menuturkan, penelitian itu akan menjawab terutama dampak ekonomi jika perkebunan sawit diintegrasikan dengan pemeliharaan sapi. Pada saat ini, Indonesia masih mengimpor banyak sapi dan diharapkan hasil penelitian tersebut akan menjadi masukan untuk upaya pengembangan populasi dan pemeliharaan sapi. “Kita masih banyak sapi impor, kita berusaha bisa memenuhi dari dalam negeri,” tutur Soni seperti dilansir Antara.

Target penambahan populasi sapi di Indonesia perlu didukung dengan peningkatan pakan dan perluasan lahan. Dengan integrasi sawit-sapi maka perkebunan sawit dapat menjadi lahan penggembalaan sapi dan pemenuhan pakan sapi di samping menjaga produktivitas sawit. Pemanfaatan potensi industri perkebunan kelapa sawit dengan luas sekitar 14,03 juta hektare (ha), sebagai sumber ba-han pakan dan lahan penggembalaan untuk mendukung perkembangan populasi sapi nasional melalui program integrasi sawit-sapi.

Salah satu isu negatif yang paling menonjol adalah dampak masuknya sapi ke areal perkebunan terhadap kesuburan tanah dan produktivitas pohon sawit. Ruang lingkup perjanjian kerja sama tahun kedua ini meliputi antara lain kajian kesuburan tanah di perkebunan sebagai dampak integrasi sapi yang digembalakan di bawah perkebunan sawit.

Koordinator Indonesia Australia Commercial Cattle Breeding Program Paul GM Boon mengatakan penelitian itu akan mengungkap ada tidaknya kelayakan usaha secara ekonomis jika mengintegrasikan sapi ke dalam perkebunan sawit.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia