Bukan Semen, Beton Bikinan ITS Ini Berbahan Limbah Kelapa Sawit

Bahan baku beton ternyata tak hanya sebatas pada semen. Namun sejumlah limbah ternyata dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku beton, bahkan kualitasnya tak kalah dengan beton biasa. Salah satunya dikembangkan tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) ini.

Adalah Cita Nanda Kusuma Negari, Agus Bastian dan David Gideon. Ketiganya berinovasi membuat beton Self Compacting Concrete (SCC), atau beton dengan tingkat fluiditas yang tinggi dan tidak memerlukan alat pemadat, dari limbah kelapa sawit.

Salah satu anggota tim, Cita menerangkan alasannya memilih limbah kelapa sawit atau Palm Oil Fuel Ash (POFA) sebagai material pengganti semen.

“Selama ini pemanfaatan POFA masih minim dan belum terkelola dengan baik. Selain itu POFA menjadi masalah bagi industri kelapa sawit karena memerlukan lahan pembuangan yang luas dan jumlahnya yang terus meningkat,” paparnya dalam rilis yang diterima detikcom, Kamis (13/12/2018).

“Jadi, kami ingin mengangkat konsep sustainable atau keberlanjutan dari poin-poin tersebut,” lanjutnya.

Menurut Cita, POFA terlebih dahulu disaring sampai lolos ayakan nomor 325. Tujuannya agar ukuran partikel dapat terkontrol sesuai dengan ukuran semen sehingga bisa reaktif.

“Apabila ukuran partikelnya lebih besar dari ukuran semen, POFA ini hanya akan bekerja sebagai filler atau bahan pengisi, bukan sebagai binder atau pengikat,” terangnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa POFA sebagai substitusi semen memiliki kandungan pozolanik seperti silika, alumina, dan besi yang tinggi. Kandungan tersebut berguna untuk membantu reaksi hidrasi sekunder yang dapat meningkatkan kekuatan beton.

“Pozolannya lebih dari 70 persen sehingga sudah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI),” terang mahasiswa angkatan 2017 ini.

Setelah jadi, beton SCC bikinan tim yang dibimbing Ir Faimun MSc PhD dan Prof Tavio ST MT PhD ini kemudian melewati proses uji slump flow, L-Box, dan compressive strength. Uji slump flow dan L-Box ini berfungsi untuk mengetahui kelecakan (workability) dari campuran beton segar guna menentukan tingkat kemampuan kerjanya. Sedangkan compressive strength atau uji tekan berfungsi untuk menguji kekuatan materialnya.

Dari hasil uji slump flow, beton bikinan tim Cita menunjukkan nilai 685 milimeter, sehingga lolos standar The European Federation of Specialist Construction Chemicals and Concrete Systems (EFNARC) yang besarnya sebesar 500 milimeter. Sedangkan untuk compressive strength-nya mendapat nilai rata-rata 26 megapascal.

Dengan inovasinya tersebut, tim ini berhasil menyabet juara ketiga dalam ajang International Concrete Competition (ICC) 2018 di Universitas Sebelas Maret (UNS), beberapa waktu lalu.

 

Sumber: Detik.com