Harga CPO Naik, Prospek Saham Emiten Sawit Kembali Cerah

INDOVIZKA.COM – Bupati Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), HM Wardan menjadi pemateri webinar yang diselenggarakan oleh “Sawit Watch”, Rabu (5/8/2020) di Kantor Diskominfo PS Kabupaten Inhil, Tembilahan. Diskusi yang digelar organisasi non-pemerintah ini bertajuk “Peluang Pengembangan Komoditi Kelapa di Masa Moratorium dan Evaluasi Perkebunan Sawit,”.

Diskusi ini spesifik membahas tentang peluang dan strategi pengembangan komoditi kelapa di tengah ekspansi sawit dan di masa adanya kebijakan moratorium terhadap perkebunan sawit melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2018 tentang penundaan dan evaluasi perizinan perkebunan Kelapa Sawit serta peningkatan produktivitas perkebunan Kelapa Sawit.

Bupati Inhil, HM Wardan dipilih sebagai salah satu pemateri webinar “Sawit Watch” karena diketahui bahwa Kabupaten Inhil merupakan salah satu Kabupaten yang terkenal dalam hal pengembangan komoditi kelapa.

Menurut Bupati, beberapa hal yang penting untuk dilakukan oleh pemerintah daerah dalam konteks pengembangan komoditi kelapa adalah melakukan penundaan penerbitan rekomendasi izin usaha kelapa sawit dan pembukaan lahan kelapa sawit yang baru dalam kawasan hutan.

Disamping itu, Bupati mengungkapkan, perlunya dilakukan pengumpulan data dan pemetaan seluruh areal perkebunan pada wilayah yang diusahakan badan atau perorangan yang mencakup luas tanah dan tahun tanam.

“Sejak tahun 2014 Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir sudah tidak menerbitkan lagi izin untuk pembukaan lahan perkebunan sawit dengan pembukaan lahan baru karena Pemda lebih fokus mengembangkan komoditi kelapa yang sudah ada,” tutur Bupati.

Bupati juga menyampaikan bahwa Kabupaten Inhil memiliki hamparan lahan perkebunan kelapa yang tidak sedikit. Bahkan, Kabupaten Inhil sampai mendapat julukan “Negeri Hamparan Kelapa Terluas Dunia”.

“Tercatat, luas perkebunan kelapa rakyat, yaitu untuk jenis kelapa dalam memiliki luas hingga 323.079 hektar dan kelapa hibrida seluas 38.404 hektar,” ungkap Bupati seraya mengatakan mayoritas masyarakat atau lebih dari 70 persen masyarakat Kabuapten Inhil berprofesi sebagai petani kelapa.

Dalam diskusi yang digelar secara virtual ini, Bupati Kabupaten Inhil, HM Wardan didampingi Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Inhil, Plt Kepala Dinas Perdagangan dan Industri (Disdagtri) Kabupaten Inhil dan Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Inhil.

Sumber: Indovizka.com

Harga TBS Sawit Riau Periode 5-11 Agustus 2020 Naik Rp 13,17/Kg

InfoSAWIT, PEKANBARU — Merujuk hasil dari tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Riau merujuk surat Penetapan  Harga TBS Kelapa Sawit Provinsi Riau No.31 periode 05 s/d 11 Agustus 2020, telah menyepakati harga sawit umur 10 – 20 tahun naik Rp 13,17/Kg menjadi Rp 1.873,60/Kg.

Berikut harga sawit Riau berdasarkan penelusuran InfoSAWIT,  sawit umur 3 tahun Rp Rp 1.380,93/Kg; sawit umur 4 tahun Rp 1.496,22/Kg; sawit umur 5 tahun Rp 1.635,67/Kg; sawit umur 6 tahun Rp 1.675,01/Kg; sawit umur 7 tahun Rp 1.740,33/Kg; sawit umur 8 tahun Rp 1.788,43/Kg.

Sementara sawit umur 9 tahun Rp 1.830,61/Kg dan sawit umur 10-20 tahun Rp 1.873,60/Kg, sawit umur 21 tahun Rp 1.793,77/Kg, dan sawit umur 22 tahun Rp 1.784,73/Kg, sawit umur 23 tahun Rp 1.777,20/Kg, sawit umur 24 tahun Rp 1.701,89/Kg dan sawit umur 25 tahun  Rp 1.660,46/Kg. Dimana harga minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp 8.580,59/Kg dan harga Kernel Rp 4.639,38/Kg dengan indeks K 87,77%. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

,

Jualan Kode Bahan Bakar Diesel

Pekanbaru, Gatra.com – Uji coba Biodiesel(B)50 itu belum terlalu lama, Januari tahun lalu. Satu dari dua unit Innova automatic keluaran 2018 yang sama-sama bersilinder 2.4, dicekoki B50 dan satu lagi B20.

Kedua mobil ini digeber Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan Sumatera Utara (Sumut) dari kantornya menuju kawasan Riset Perkebunan Nusantara (RPN) Bogor Jawa Barat (Jabar) dan balik lagi ke Medan. Kalau dihitung-hitung, dua Innova tadi sudah melintasi jalanan sejauh 5000 kilometer.

Hasilnya, Fitback Injection Innova yang memakai B50 masih stabil, masih di angka 0,0. “Artinya, enggak ada kotoran pada injection meski sudah menempuh jarak 5000 kilometer,” kata Teknical Leader Auto2000 Amplas Medan, Andiarto. Kebetulan dua mobil itu diservice di sana, setelah sampai lagi di Medan.

B50 yang dipakai Innova tadi, untuk 100 liter, butuh campuran 37,5 liter biodiesel (B100) dan 62,5 liter biodiesel komersil (B20).

B50 ini sudah punya Cetane Number (CN) 60, jauh di atas CN yang disyaratkan oleh Standard Nasional Indonesia (SNI), 51. Lantas, B50 ini tahan pada suhu minus dua derajat celcius.

Lantas, untuk Fatty Acid Methyl Ester (FAME) nya, B50 bisa mencapai 99 persen massa, padahal SNI hanya mensyaratkan 96,5 persen massa.

Pertengahan bulan lalu, Pertamina juga melakukan uji coba. Namanya D100 alias Green Diesel. Bahan bakar diesel ini diolah dari Crude Palm Oil (CPO) memakai teknologi Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO).

Habis itu diolah lagi pakai katalis “Merah Putih” dengan teknologi Hydroprocessed Esters and Fatty Acids (HEFA). Pertamina kemudian menyebut kalau hasil akhir dari semua proses itu adalah Green Diesel dan ini yang pertama di Indonesia.

Hanya saja, pada Innova keluaran 2017 yang dijadikan kendaraan uji coba untuk menempuh jarak 200 kilometer itu, Pertamina justru membikin campuran 30 persen FAME, 50 persen Dexlite dan 20 persen D100.

Sayang, lebih dari sepeken Gatra.com melayangkan pertanyaan seputar campuran uji coba tadi, berapa duit yang dihabiskan untuk menghasilkan satu liter D100 dan se ekonomis apa D100 itu, Pertamina tak kunjung memberikan jawaban.

Tapi kemudian, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga mengatakan, proses produksi D100 di kilang Pertamina Dumai menggunakan bahan baku RBDPO lantaran kilang di sana tidak didesign untuk tahan asam.

“Proses produksinya pada tekanan yang sangat tinggi supaya injeksi Hidrogen yang dimasukkan dengan mudah menarik molekul O dan H dari dalam minyak sawit. Jadi, tinggallah elemen gugus C dan H. Itulah makanya hasilnya sama dengan solar minyak bumi yang juga mengandung C dan H,” katanya kepada Gatra.com pekan lalu.

Bedanya dengan solar kata Sahat, CN D100 berada di angka 79. Sementara solar yang biasa dibeli di SPBU, CN nya cuma 55.

“Biar bisa dipakai di mobil solar yang umum di jalanan CN D100 ini diturunkan. Itulah makanya dicampur dengan FAME dan Dexlite. Kalau CN nya enggak diturunkan, enginenya bisa meledak,” terangnya.

Sahat juga menyebut kalau memproduksi FAME tidak sama dengan D100,”Katalisnya dan prosesnya beda. Membikin FAME, itu menambahkan metanol ke dalam minyak sawit memakai katalis Na-methoxide. Itulah makanya disebut bahan bakar oxygenate. FAME ini menghasilkan produk samping bernama glycerine. Sementara D100, menambahkan Hidrogen untuk membuang oxygenate nya. Produk sampingnya adalah LPG dan Air,” Sahat merinci.

Bagi Sahat, munculnya D100 adalah menjadi bukti bahwa Indonesia tidak lagi perlu mengeluarkan duit sekitar $US 450 juta-500 juta untuk membeli peralatan kilang D100 dari luar negeri.

“Indonesia sudah menunjukkan kemampuan yang mandiri dan menguasai teknologi katalis untuk menghasilkan D-100 itu. Ini sudah cukup bagi Indonesia untuk membuktikan ke dunia luar kalau Pemerintah mau mendukung kemampuan bangsa sendiri, untuk membuat rancang-bangun kilang hydrotreating seperti yang di Dumai, untuk menghasilkan D100,” ujarnya.

Hanya saja Researching Of Engineering & Environmental Management Technology PPKS Medan, Muhammad Ansori Nasution menyebut, secara teknologi, Indonesia pasti bisa membikin D100 lantaran di luar negeri, sudah ada perusahaan yang bisa membikin itu, katakanlah Neste Oil yang berbasis di Espoo, Finlandia.

“Katalis juga bisa kita bikin. Tapi secara kajian ekonomi, D100 itu dipertanyakan. Sebab sebesar Neste saja masih mengejar insentif dari PBB. Insentif itu dikejar dengan alasan telah bisa menurunkan emisi carbon. Mengejar insentif ini mengindikasikan kalau membikin Green Diesel itu hight tech dan mahal. Makanya membikin refinery minyak bumi pun, berat. Biodiesel saja yang cukup murah, masih kempang kempis, masih butuh insentif,” katanya kepada Gatra.com, Selasa (4/8).

Tapi meski harus mengeluarkan insentif untuk membikin biodiesel tadi kata doktor jebolan University Of Tsukuba Jepang ini, minimal duit Indonesia enggak meluber keluar negeri untuk membeli solar.

“B50 sudah kita coba, enggak ada masalah. Malah lebih bagus dari Dexlite. Kalaupun ada masalah, paling pada filter minyak mobil. Kalau pakai B50, filter harus karet sintetis, tidak karet alami. Kewajiban vendor mobil lah menyesuaikan diri. Ini bargaining bagi Indonesia. Alhamdulillah, sampai sekarang saya pakai B50, apalagi saat keluar kota,” katanya.

Lantas kenapa B50 terkesan senyap? “B50 bukan terkendala pada teknis, tapi justru bahan baku. Produksi CPO kita hanya 46 juta ton pertahun. Kalau B50 dipakai, kita butuh CPO 15 juta ton pertahun. Ini sama dengan sekitar separuh dari jumlah CPO yang diekspor. Kalau B50 segera diberlakukan, harga CPO Indonesia akan aman dan ini akan sangat berdampak positif kepada petani,” ujarnya.

Membikin Biodiesel kata lelaki 42 tahun ini, tidak serumit dan semahal membikin D100. “Sejak tahun ’90 an kami sudah punya pabrik biodiesel. Sudah bisa memproduksi sekitar 3.300 liter perhari. Pabrik semacam ini bisa diadopsi petani kelapa sawit di seluruh Indonesia. Biodieselnya bisa dijual langsung ke kilang-kilang Pertamina yang ada. Tentu ini akan membikin petani naik kelas, enggak lagi hanya sekadar menjual Tandan Buah Segar (TBS),” katanya.

 

Sumber: Gatra.com

5 Tahun Terakhir Devisa minyak Sawit Rata-Rata US$ 20 Miliar

InfoSAWIT, JAKARTA – Sampai saat ini produksi minyak sawit mentah (CPO) Indonesia tercatat terus meningkat jika di tahu 2018 lalu produksi CPO dan minyak inti sawit (PKO) mencapai 47,3 juta ton, maka di tahun 2019 mampu menembus angka 51,8 juta ton.

Peningkatan produksi ini sebanding dengan volume ekspor yang juga terus bertumbuh, kondisi ini justru membuat nilai devisa sawit juga terus meningkat. Jika di tahun 2015 lalu nilai devisa sektor sawit mencapai US$ 18,6 miliar maka di 2019 telah meningkat menjadi US$ 20,2 miliar.

Dikatakan Wakil Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Agam Fatchurrochman, peningkatan devisi ini membuat sektor sawit menjadi penyeimbang bagi neraca perdagangan Indonesia yang masih terus mengalamai defisit. “Devisa sektor sawit jadi penyeimbang neraca perdagangan,” katanya dalam diskusi online yang diikuti InfoSAWIT awal Mei 2020 lalu. (T2)

Sumber: Infosawit.com

2021, Indonesia Sudah Bisa Terapkan B50

JAKARTA- Indonesia sudah bisa menerapkan program mandatori biodiesel B50 pada 2021, setelah sukses menerapkan B30 secara penuh pada tahun ini. Dari sisi hulu, produksi minyak sawit Indonesia sangat mencukupi untuk memenuhi bahan baku bagi program B50 tersebut, pun dari sisi hilir dan teknis implementasi di lapangan. Program biodiesel harus konsisten dijalankan Indonesia karena bisa menghemat devisa, menciptakan nilai tambah bagi perekonomian, dan membantu mengangkat harga tandan buah segar (TBS) sehingga menyejahterakan para petani sawit.

Direktur Eksekutif palm oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Paspi) Tungkot Sipayung menjelaskan, melalui program biodiesel, penurunan nilai impor sebesar 1 juta kiloliter akan menghemat devisa US$ 1 miliar, artinya apabila pada 2021 melalui B50 Indonesia bisa menurunkan impor 16 juta kl solar maka diperoleh penghematan devisa hingga US$ 16 miliar, itu dengan asumsi situasi normal. Namun manfaat program biodiesel bukan sekadar penghematan devisa, tapi juga dampak ganda (multiplier effect) atau nilai tambah terhadap perekonomian, setiap penambahan konsumsi biodiesel senilai Rp 1 akan memberi nilai tambah empat kali lipat terhadap perekonomian, misalnya konsumsi biodiesel Rp 10 triliun maka dampak ekonominya Rp 40 triliun yang menyebar di sentra-sentra sawit. “Karena itu, program biodiesel harus didorong agar on the right track, bukan soal hemat devisa saja tapi benefit ekonominya,” kata dia kepada Investor Daily.

Presiden Jokowi pernah menargetkan untuk mempercepat implementasi program B50 pada 2021, kata Tungkot, hal tersebut sangat memungkinkan dan patut didukung. Komitmen pemerintah dalam hal ini Presiden Jokowi dalam membangun industri sawit nasional sebenarnya sudah sangat kuat dan bersifat jangka panjang, bahkan Jokowi sudah berpikir sampai pada greenpremium hingga bioplastik. “Tinggal bagaimana hal itu diimplementasikan oleh kementerian di bawahnya dan ditangkap oleh pelaku usaha sebagai peluang yang menjanjikan. Contohnya, saat pandemi Covid-19 ini permintaan biosur-faktan sangat besar, namun sayangnya Indonesia belum mampu memenuhi sepenuhnya. Ini jadi pelajaran agar industri hilir lebih dikembangkan,” jelas Tungkot.

Tungkot menuturkan, penerapan program B50 dapat ditempuh melalui dua jalur, yakni jalur B50 sepenuhnya yang mana 50% biodiesel dicampur dengan 50% solar fosil atau jalur B50 greendiesel yang mana solar B30 yang ada saat ini dicampur D20 (greendiesel), jalur kedua dinilai para pakar dan peneliti lebih aman dari sisi teknis implementasi di lapangan. Hanya saja, untuk memproduksi B50 jalur kedua membutuhkan adanya katalis yang saat ini masih tahap produksi di pabrik milik Pupuk Kujang di Cikampek (Katalis Merah Putih). “Katalis ini targetnya sudah bisa diproduksi akhir tahun ini sehingga harapannya B50 jalur kedua bisa diimplementasikan tahun depan. Jalur yang kedua ini juga akan memberi keuntungan banyak bagi petani, karena sawit petani yang umumnya kandungan asam lemak bebas (ALB) di atas 3% bisa dijadikan bahan baku B50, ALB sawit petani berlebihan karena tidak langsung diolah,” ujar dia.

Dari sisi hulu, kata Tungkot, pasokan minyak sawit domestik sangat mencukupi, bahkan apabila Indonesia menerapkan B100 sekalipun. Apabila pada 2021 konsumsi solar nasional mencapai 35 juta kl artinya dibutuhkan sekitar 16 juta kl biodiesel atau setara dengan 15 juta ton minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

 

Sumber: Investor Daily Indoensia

Harga TBS Sawit Jambi Periode 31 Juli – 6 Agustus 2020 Naik Rp 152,57/Kg

InfoSAWIT, JAMBI – Merujuk hasil dari tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Jambi, harga TBS Kelapa Sawit Provinsi Jambi periode 31 Juli s/d 06 Agustus 2020, telah menyepakati harga sawit umur 10 – 20 tahun naik Rp 152,57/Kg menjadi Rp 1.748,01/Kg.

Berikut harga sawit Jambi berdasarkan penelusuran InfoSAWIT,  sawit umur 3 tahun Rp Rp 1.378,60/Kg; sawit umur 4 tahun Rp 1.458,44/Kg; sawit umur 5 tahun Rp 1.526,60/Kg; sawit umur 6 tahun Rp 1.591,18/Kg; sawit umur 7 tahun Rp 1.631,49/Kg; sawit umur 8 tahun Rp 1.664,98/Kg.

Sementara sawit umur 9 tahun Rp 1.698,54/Kg dan sawit umur 10-20 tahun Rp Rp 1.748,01/Kg, sawit umur 21-24 tahun Rp 1.693,37/Kg, dan sawit umur 25 tahun Rp 1.611,92/Kg. Dimana harga minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp 8.277,71/Kg dan harga Kernel Rp 4.066,21/Kg dengan indeks K 86,34%. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Politeknik LPP Yogyakarta dan Perusahaan Perkebunan Berkolaborasi Membangun SDM

Untuk mengisi kebutuhan SDM Kebun, pendidikan vokasi Politeknik LPP Yogyakarta siapkan beberapa program berkolaborasi dengan perusahaan perkebunan.

Pendidikan vokasi mendapatkan perhatian yang cukup besar dari pemerintah. Sebagaimana diterbitkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2019 tentang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Perubahan yang paling mendasar dalam Perpres itu, adalah adanya Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Pendidikan Vokasi) di Kemendikbud.

Sebelumnya, pendidikan vokasi di bawah Direktorat Jenderal lainnya, seperti Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah, mau pun Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan di bawah Ditjen Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat.

Kehadiran Ditjen Pendidikan Vokasi bertujuan untuk menyiapkan sumberdaya manusia yang siap menghadapi era Revolusi Industri 4.0 yang membutuhkan tenaga-tenaga terampil yang ahli di bidangnya.

Sejalan dengan itu, Politeknik LPP Yogyakarta berencana berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan perkebunan melalui program Diploma III Perkebunan yang ada di kampusnya. Hal itu diutarakan Direktur Politeknik LPP Yogyakarta, Ari Wibowo.

Kini, Politeknik LPP Yogyakarta memiliki program Diploma III Perkebunan yang sangat aplikatif, berbeda dengan kampus lain. Program ini, dengan sistem pembelajaran 2 semester di Kampus, 1 semester di Kebun, 2 semester di kampus dan 1 semester di kebun.

Bagi mahasiswa Diploma III, yang sedang menjalani Semester 3, mendapatkan Bimbingan Mental, Fisik dan Disiplin (Bintalfisdik) yang dipandu oleh Brigadir Mobil (Brimob) Yogyakarta. Selama satu bulan, mahasiswa akan mendapatkan materi Bintalfisdis, tujuannya untuk meningkatkan kedisiplinan dan Jiwa Korsa.

“Jadi, mahasiswa yang sudah sedang menjalani semester 3, mereka harus menjalani Bintalfisdis di Mako Brimob. Selain itu, mahasiswa juga mendapatkan materi populer, misalnya materi Penanggulangan Kebakaran, P3K dalam kondisi darurat, materi praktis yang sangat diperlukan saat berada di kebun tetapi di luar kurikulum,” terang Ari.

Setelah itu, selama 4 bulan berikutnya, mahasiswa menjalani proses magang di perusahaan perkebunan untuk belajar praktik di kebun. “Mahasiswa masuk keperusahaan unggul, untuk belajar mulai dari materi dasar budidaya tanaman hingga materi lainnya. Kami sudah kirimkan 30 mahasiswa dibagi menjadi 2 kelompok untuk belajar teknis di Socfindo di Sumatera Utara,” tambah Ari.

Pada program Diploma III Perkebunan, selain praktik di perusahaan, mahasiswa semester akhir, juga akan diterjunkan untuk pendampingan petani. Namun, program pendampingan petani sawit belum dilaksanakan.

“Kami sedang komunikasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Labuhan Batu Selatan (Labusel), Sumatera Utara. Karena ada pandemi Covid-19 jadi tertunda. Rencanannya mahasiswa akan disebar kebeberapa Koperasi Petani dan Kelompok Petani. Selama 4 bulan, mereka wajib membantu petani untuk meningkatkan kinerja di kebun. Mulai dari penyuluhan, administasi, perbaikan budidaya tanaman,” jelas Ari.

Menurutnya, program ini sudah sangat baik itu sebabnya perusahaan bisa melihat kesempatan ini sebagai peluang. “Jika perusahaan bersedia berkolaborasi dengan Politeknik LPP Yogyakarta, baik dalam bentuk rekrutmen, pemberian Beasiswa, Beasiswa Ikatan Dinas, kami bersedia untuk mengelola program ini dengan baik lagi,” kata Ari.

Yang menarik mahasiswa program Diploma III Perkebunan Politenik LPP Yogyakarta yaitu mendapatkan Mata Kuliah Umum seperti Mata Kuliah Bahasa Indonesi dan Agama yang sangat aplikatif. Mahasiswa selama belajar MKU (Bahasa Indonesia dan Agama) tidak hanya belajar teori, tetapi lebih menekankan pada penggunaan Bahasa dan praktik ilmu agama yang diaplikasikan di kebun.

“Sebagai contoh, kami berkewajiban memberikan Mata Kuliah Bahasa Indonesia, maka kami tidak lagi belajar materi Bahasa Indonesia, misalnya EYD, dasar-dasar Bahasa Indonesia, Tetapi melihat kebutuhan Bahasa Indonesia yang diaplikasikan di kebun. Misalnya, seorang Asisten Kebun harus bisa memberikan sambutan saat apel pagi pada anggota, maka itu yang harus dilatih,” jelas Ari.

“Dan. bagaimana berkomunikasi yang baik, bicara di depan audience dan apa saja yang harus dipersiapkan. Mulai dari pembukaan, isi dan penutup dalam sambutan. Dan, seorang asisten kebun harus bisa membuat Memo dan harus bisa membaca kontrak kerjasama, pelajar seperti itu yang harus diajarkan,” tambahnya.

Contoh lain, saat belajar Agama, tidak lagi bicara fikih atau Tauhid. “Tetapi kami lebih bicara pada kebutuhan Asisten Kebun harus bisa khotbah, adzan, mengaji bahkan memandikan jenazah. karena Asisten Kebun saat berada di kebun adalah seorang yang terpandang. Itu dari sisi mata kuliah yang diajarkan. Tetapi untuk yang lain praktek dan sebagainya sudah pasti diajarkan,” pungkas Ari.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

Mengenal dan Mengendalikan Penyakit Bercak Daun pada Bibit Sawit

Penyakit ini merupakan salah satu penyakit utama pada pembibitan kelapa sawit, yang diakibatkan serangan patogen Curvularia sp.

Pembibitan tanaman memiliki peran penting pada perkebunan atau budi daya tanaman, karena akan menentukan hasil produksi. Hal tersebut, diungkapkan Agus Susanto, Peneliti Senior, Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), saat diskusi Webinar dengan tema ‘Solusi Efektif Mengatasi Bercak Daun Curvularia di Pembibitan Kelapa Sawit’, pada Kamis (16 Juli 2020).

Menurut Agus, bagaimana kita bisa mengharapkan tanaman yang baik, jika pembibitan tidak dirawat secara optimal. “Setelah kita memilih bibit yang bagus. Tahap selanjutnya merawatnya. Agar bisa meminimalisir penyakit-penyakit yang umumnya menyerang bibit kelapa sawit,” ujarnya.

Salah satu penyakit yang menyerang bibit kelapa sawit yaitu penyakit Bercak Daun. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit utama pada pembibitan kelapa sawit, yang diakibatkan serangan patogen Curvularia sp. Awalnya, penyakit ini menyerang daun pupus yang belum membuka atau dua daun termuda yang sudah membuka. Jika, bibit kelapa sawit terpapar penyakit bercak daun, secara fisik akan tampak bercak bulat kecil, warna kuning tembus cahaya.

“Penyakit bercak daun menjadi penghambat pertumbuhan bibit tanaman kelapa sawit,” kata Agus.

Penyakit bercak daun adalah penyakit yang sering terjadi di pembibitan kelapa sawit. Penyakit ini dapat terjadi hingga tanaman menghasilkan (TM). Kosmopolitan. Patogen; cercosporaelaidis (OPTK A1), cochlioboluscarbonus, Curvulariasp, drechsleriahalodes, pestalotiopsis sp.

Penyakit yang umum dan kerap terjadi pada pembibitan kelapa sawit, bercak nekrotik dengan pertumbuhan terbatas, dapat mematikan bibit bila tidak ditangani, mudah menyebar.

Untuk itu, Agus menyarankan pengetahuan untuk memahami bercak pada daun harus dimiliki para penangkar bibit, tak terkecuali pembudidaya tanaman kelapa sawit. Selain itu, yang harus diperhatikan adalah lingkungannya.

Penyakit bercak daun kelapa sawit disebabkan oleh beberapa spesies jamur, antara lain curvulariaeragrostidis, curvulariaspp, drechslerahalodes, cochlioboluscarbonus, cochliobolus sp, dan pestalotiopsis sp. Jamur-jamur tersebut menyebar dengan spora melalui hembusan angin atau percikan air yang mengenai bercak.

Selain jamur-jamur yang menyebabkan penyakit yang menyerang bibit kelapa sawit. ada beberpa Inang alternatif di pembibitan kelapa sawit seperti digitaria sp, echinochloa, eleusineindica, axonopuscompressus, ludwugiahyssopifolia, commelinadiffusa, cyperusiria.

Di lapangan, penyakit bercak daun sering kali terjadi bersamaan dengan penyakit antraknosa, hawar atau busuk daun. Penyakit antraknosa disebebkan oleh glomerellacingulata, botrydiplodia palmarum, dan melanconiumelaedis.

 

Sumber: Infosawit.com

Harga TBS Sawit Kalimantan Timur Periode Agustus 2020 Naik Rp 25,02/Kg

 

InfoSAWIT, SAMARINDA – Merujuk hasil dari tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) bulan Juli 2020 untuk perhitungan harga TBS pada periode Agustus 2020, menetapkan harga sawit umur > 10 tahun naik Rp 25,02/kg menjadi Rp 1.349,04/Kg.

Berikut harga sawit Kalimantan Timur dari penelusuran InfoSAWIT,  sawit umur 3 tahun Rp 1.189,74/Kg; sawit umur 4 tahun Rp 1.271,22/Kg; sawit umur 5 tahun Rp 1.276,76/Kg; sawit umur 6 tahun Rp 1.289,99/Kg; sawit umur 7 tahun Rp 1.297,42/Kg; sawit umur 8 tahun Rp 1.307,42/Kg.

Sementara sawit umur 9 tahun Rp 1.333,23/Kg dan sawit umur > 10 tahun Rp 1.349,04/Kg. Dimana harga minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp 6.980,16/Kg dan harga Kernel Rp 3.218,44/Kg dengan indeks K 80,00%. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Setiap 1 Liter Minyak Sawit Mengandung 20 Persen Vitamin A

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Minyak kelapa sawit mengandung salah satu lemak sehat yang bernutrisi dengan keunggulannya yang tidak mengandung asam lemak trans atau Trans Fatty Acid/ TFA) atau dikenal dengan istilah lemak terhidrogenasi.

Selain memiliki kandungan lemak sehat, juga dalam setiap 1 liter minyak kelapa sawit mengandung 20 persen vitamin Aantioksidan tokoferol dan tokotrienol.

Dengan pemakaian sehari-hari yang tepat guna, minyak sawit lebih sehat untuk kesehatan.Minyak kelapa sawit sebenarnya masuk dalam kategori minyak sayur atau minyak nabati yang mengandung minyak jenuh dan tak jenuh, vitamin E, beta-karoten, serta antioksidan.

Selain kaya nutrisi, minyak sawit berasal dari tumbuhan yang sangat efisien dibandingkan dengan penghasil minyak nabati lainnya.

Dengan memanfaatkan lahan seluas 1 hektar pohon kelapa sawit dapat menghasilkan CPO rata-rata 3,8 ton/tahun sedangkan minyak nabati lain seperti kedelai, bunga matahari dan rapa hanya di bawah 1 ton/tahun.

Selain efisien, minyak kelapa sawit juga bermanfaat bagi perekonomian, karena saat ini tanaman kelapa sawit digunakan oleh sekitar 3 miliar orang di 150 negara.

“Minyak kelapa sawit kaya akan lemak dan vitamin. Pada minyak kelapa sawit mentah atau yang belum dimurnikan terkandung 60 hingga 100 mg vitamin E per 100 gram,” ungkap Lim Teck Guan, General Manager PT Asianagro Agung Jaya (Apical Marunda), salah satu perusahaaan produsen minyak kelapa sawit dalam diskusi virtual bersama media di Jakarta, Senin, 27 Juli 2020.

Dia menjelaskan, minyak kelapas sawit setelah dimurnikan rata-rata mengandung 50-65 persen kandungan vitamin E tetap. “Sebanyak 70% vitamin E dalam minyak sawit mengandung tokotrienol,” ujarnya.

Lim menjelaskan, minyak nabati lainnya seperti jagung, zaitun, kedelai, dan bunga matahari, merupakan sumber tokoferol yang baik tetapi tidak mengandung tokotrienol.

Dokter. Hartika Ketty SpKK memaparkan, dengan komposisi seimbang ini, minyak kelapa sawit dinyatakan sebagai minyak goreng nabati yang paling cocok dibandingkan dengan minyak nabati lain.

“Sehingga jika digunakan untuk menggoreng maka stabilitasnya tinggi, tidak mudah tengik, dan menghasilkan produk gorengan awet serta tidak mengandung radikal bebas tinggi,” jelas nya.

Mengutip European Food And Safety Authority, 2010, dr. Hartika Ketty SpKK. menjelaskan, untuk mencapai diet sehat 25-30% dari asupan energi harian sebaiknya berupa lemak.

Sedangkan menurut Food & Agriculture Organization 2010, 15-35% dari asupan energi harian berupa lemak.

“Jadi pada dasarnya lemak sejatinya yang sangat berguna bagi tubuh adalah kolestrol. Kandungan inilah yang berguna untuk membentuk dinding sel, empedu, hormon dan vitamin,” ujar dr Hartika Ketty.

“Orang cenderung lupa, bahwa sebenarnya lemak yang paling sehat adalah yang berasal dari minyak nabati seperti yang terkandung dalam minyak kelapa sawit ini dan bukan hewani, dengan catatan bahwa harus tepat penggunannya dan tidak berlebihan,” imbuhnya.

Lim menambahkan, Tokotrienol bekerja lebih cepat sebagai antioksidan (zat yang dapat mencegah kerusakan atau kematian sel, kerusakan DNA dan timbulnya sel kanker atau tumor akibat terdapat radikal bebas dalam tubuh manusia) dan sangat bermanfaat untuk melindungi otak dari lemak tak jenuh ganda dan demensia, mengurangi risiko stroke, serta mencegah pertubuhan tumor otak.

Tidak hanya diolah menjadi minyak goreng dan margarine dan mentega, kelapa sawit juga diolah jadi bahan baku es krim, cokelat, sabun, bahan mi instan, biodiesel hingga bahan kosmetik.

Lim menjelaskan, perusahaaannya saat ini memproduksi minyak sawit menjadi minyak goreng dan mentega dengan merek Camar, Harumas, Frybest, Vitas dan Medalia.

 

Sumber: Tribunnews.com