,

FJS Bersama GIMNI, APROBI, dan APOLIN Bagikan Paket Sembako

Forum Jurnalis Sawit (FJS) menggandeng asosiasi hilir kelapa sawit yaitu Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI), dan Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) untuk mendistribusikan 250 paket sembako kepada yayasan yatim piatu di Jakarta dan Depok (Jawa Barat).

Pemberian donasi bertujuan membantu anak yatim piatu dan masyarakat tidak mampu sehingga daya tahan tubuhnya tetap baik saat Ramadhan dan menjelang lebaran termasuk kala pandemi Covid-19.

Bantuan paket sembako diberikan kepada 4 yayasan yatim piatu dan Satu Posko Kampung Siaga Covid-19 diantaranya Yayasan Manba’ul Khairaat (Pasar Minggu), Asrama Yatim dan Dhuafa (Cilandak), Yayasan Baitul Yataama Fadlan (Meruyung, Depok), Wisma Tuna Ganda (Depok), dan Posko Kampung Siaga Covid-19 di Kelurahan Depok Jaya, Depok, Jawa Barat.

Total paket sembako yang diberikan berjumlah 250 paket untuk 4 yayasan yatim piatu dan Satu Posko Covid-19. Setiap paket terdiri dari beras 3 kilogram, minyak goreng 1 liter, gula 1 kilogram, 1 kue kaleng, dan sabun.

Pemberian bantuan ini secara simbolis dilakukan di Asrama Yatim dan Dhuafa Mizan Amanah, Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (20 Mei 2020). Di tengah PSBB, pemberian donasi tetap mengikuti protokol kesehatan seperti penggunaan masker, mencuci tangan sebelum dan sesudah acara, juga menjaga jarak.

Penyerahan ini dihadiri perwakilan asosiasi antara lain Mustafa Daulay (Pengurus GIMNI), Irma dan Dwi (Sekretariat APROBI, dan Dinna (Sekretariat APOLIN. Hadir pula pengurus serta anggota
Forum Jurnalis Sawit

“Kami menyambut kegiatan Forum Jurnalis Sawit yang membagikan paket sembako kepada Yayasan Yatim Piatu. Tentunya, harapan kami ingin meringankan beban ekonomi masyarakat seperti anak-anak yatim piatu ini supaya dapat merasakan kebahagiaan di bulan Ramadan. Selain itu, mereka harus menjaga kesehatan di tengah wabah pandemi Covid-19,” ujar Mustafa Daulay saat memberikan sambutan.

Dalam kesempatan tersebut, Ustad Yiyi Sutarna, Kepala Asrama Mizan Amanah Cilandak, mengucapkan terima kasih atas bantuan paket sembako ini karena dapat membantu kegiatan anak-anak di Yayasan.

Bernard Riedo Ketua Umum GIMNI, dalam kesempatan terpisah, mengatakan donasi paket sembako sebagai wujud kepedulian anggota GIMNI kepada masyarakat yang membutuhkan menyambut Hari Idul Raya Fitri 1441 H. Melalui kegiatan sosial seperti ini, GIMNI berbagi dan berharap agar situasi di Indonesia segera membaik sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dan ekonomi bergulir.”

MP Tumanggor, Ketua Umum APROB, juga memberikan apresiasi positif atas kerjasama tiga asosiasi hilir kelapa sawit (APROBI, GIMNI, dan APOLIN) dengan Forum Jurnalis Sawit sebagai upaya membantu pemerintah dalam meringankan beban masyarakat di masa pandemi Covid-19.

“Bantuan ini kami berikan supaya dapat membantu masyarakat terutama anak yatim piatu dan kalangan tidak mampu. Apalagi, masyarakat sedang kesulitan di kala pandemi ini,” ujarnya.

Rapolo Hutabarat, Ketua Umum APOLIN menyampaikan bahwa di saat kita dan seluruh dunia dilanda wabah pandemi Covid-19 tentu berdampak kepada sendi perekonomian semua negara tidak terkecuali lndonesia. Saat inilah kita sebagai anak bangsa dari sektor industri hilir sawit turut berbagi dan berempati kepada saudara-saudara kita yang paling terdampak.

“Penanggulangan pandemi Covid-19 ini masih berlangsung hingga saat ini – khususnya kita memasuki suasana bulan suci Ramadhan. Biasanya kita dari tiga asosiasi ini selalu melaksanakan buka puasa bersama dengan sahabat-sahabat jurnalis dari berbagai media dan sekaligus menyampaikan informasi kinerja industrinya baik pasar ekspor, pasar dalam negeri maupun tantangannya di masa depan. Maka tahun ini kita ubah pelaksanaannya dengan kami sebut Berbagi Berkah di Bulan Suci Ramadhan,” pungkasnya.

Suharno, Perwakilan Forum Jurnalis Sawit, berharap pemberian paket sembako dapat menjadi kegiatan rutin dalam rangka memperkuat hubungan antara jurnalis dan asosiasi di industri sawit. “Dengan pemberian paket sembako ini akan memberikan nilai tambah industri sawit kepada masyarakat,” katanya saat menutup kegiatan.

 

Sumber: Majalahhortus.com

,

FJS Bersama GIMNI, Aprobi, dan Apolin Bagikan 250 Paket Sembako

JAKARTA, investor.id –  Forum Jurnalis Sawit (FJS) menggandeng asosiasi hilir kelapa sawit yaitu Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi),  dan Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) untuk membagikan 250 paket sembako kepada yayasan yatim piatu di Jakarta dan Depok (Jawa Barat).

Pemberian donasi bertujuan membantu anak yatim piatu dan masyarakat tidak mampu sehingga daya tahan tubuhnya tetap baik saat Ramadan dan menjelang lebaran termasuk kala pandemi Covid-19.

Bantuan paket sembako diberikan kepada 4 yayasan yatim piatu dan Satu Posko Kampung Siaga  Covid-19 diantaranya Yayasan Manba’ul Khairaat (Pasar Minggu), Asrama Yatim dan Dhuafa  (Cilandak), Yayasan Baitul Yataama Fadlan (Meruyung, Depok), Wisma Tuna Ganda (Depok), dan Posko Kampung Siaga Covid-19 di Kelurahan Depok Jaya, Depok, Jawa Barat.

Total paket sembako yang diberikan berjumlah 250 paket untuk 4 yayasan yatim piatu dan Satu Posko Covid-19.  Setiap paket terdiri dari beras 3 kilogram, minyak goreng 1 liter, gula 1 kilogram, 1 kue kaleng, dan sabun.

Pemberian bantuan ini  secara simbolis dilakukan di Asrama Yatim dan Dhuafa Mizan Amanah, Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2020).

Di tengah PSBB, pemberian donasi tetap mengikuti protokol kesehatan seperti penggunaan masker, mencuci tangan sebelum dan sesudah acara, juga menjaga jarak.

Penyerahan ini dihadiri perwakilan asosiasi antara lain Mustafa Daulay (Pengurus GIMNI), Irma dan Dwi (Sekretariat Aprobi, dan Dinna (Sekretariat Apolin). Hadir pula pengurus serta anggota Forum Jurnalis Sawit.

“Kami menyambut kegiatan Forum Jurnalis Sawit yang membagikan paket sembako kepada Yayasan Yatim Piatu. Tentunya, harapan kami ingin meringankan beban ekonomi masyarakat seperti anak-anak yatim piatu ini supaya dapat merasakan kebahagiaan di bulan Ramadan. Selain itu, mereka harus menjaga kesehatan di tengah wabah pandemi Covid-19,” ujar Mustafa Daulay saat memberikan sambutan.

Dalam kesempatan tersebut, Ustad Yiyi Sutarna, Kepala Asrama Mizan Amanah Cilandak, mengucapkan terima kasih atas bantuan paket sembako ini karena dapat membantu kegiatan anak-anak di Yayasan.

Bernard Riedo, Ketua Umum GIMNI, dalam kesempatan terpisah,  mengatakan donasi paket sembako sebagai wujud kepedulian anggota GIMNI kepada masyarakat yang membutuhkan menyambut Hari Idul Raya Fitri 1441 H. Melalui kegiatan sosial seperti ini, GIMNI berbagi dan berharap agar situasi di Indonesia segera membaik sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dan ekonomi bergulir.”

MP Tumanggor, Ketua Umum Aprobi, juga memberikan apresiasi positif atas kerjasama tiga asosiasi hilir kelapa sawit (Aprobi, GIMNI, dan Apolin) dengan Forum Jurnalis Sawit sebagai upaya membantu pemerintah dalam meringankan beban masyarakat di masa pandemi Covid-19.

“Bantuan ini kami berikan supaya dapat membantu masyarakat terutama anak yatim piatu dan kalangan tidak mampu.  Apalagi, masyarakat sedang kesulitan di kala pandemi ini,” ujarnya.

Rapolo Hutabarat, Ketua Umum Apolin menyampaikan bahwa di saat dan seluruh dunia dilanda wabah pandemi Covid-19 tentu berdampak kepada sendi perekonomian semua negara tidak terkecuali lndonesia.

“Saat inilah kita sebagai anak bangsa dari sektor industri hilir sawit turut berbagi dan berempati kepada saudara-saudara kita yang paling terdampak,” katanya.

Menurut dia, penanggulangan pandemi Covid-19 ini masih berlangsung hingga saat ini – khususnya memasuki suasana bulan suci Ramadhan.

“Biasanya kita dari tiga asosiasi ini selalu melaksanakan buka puasa bersama dengan sahabat-sahabat jurnalis dari berbagai media dan sekaligus menyampaikan informasi kinerja industrinya baik pasar ekspor, pasar dalam negeri maupun tantangannya di masa depan. Maka tahun ini kita ubah pelaksanaannya dengan kami sebut Berbagi Berkah di Bulan Suci Ramadan,” pungkasnya.

Suharno, Perwakilan Forum Jurnalis Sawit, berharap pemberian paket sembako dapat menjadi kegiatan rutin dalam rangka memperkuat hubungan antara jurnalis dan asosiasi di industri sawit. “Dengan pemberian paket sembako ini akan  memberikan nilai tambah industri sawit kepada masyarakat,” katanya saat menutup kegiatan. (gr)

 

 

Sumber: Investor.id

,

GIMNI, Aprobi dan Apolin Bersama FJS Distribusikan 250 Paket Sembako

 

KONTAN.CO.ID –  JAKARTA, Forum Jurnalis Sawit (FJS)  menggandeng asosiasi hilir kelapa sawit yaitu Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi),  dan Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) untuk mendistribusikan 250 paket sembako kepada yayasan yatim piatu di Jakarta dan Depok (Jawa Barat).

Pemberian donasi bertujuan membantu anak yatim piatu dan masyarakat tidak mampu sehingga daya tahan tubuhnya tetap baik saat Ramadhan dan menjelang lebaran termasuk kala pandemi Covid-19.

Bantuan paket sembako diberikan kepada empat yayasan yatim piatu dan Satu Posko Kampung Siaga  Covid-19 diantaranya Yayasan Manba’ul Khairaat (Pasar Minggu), Asrama Yatim dan Dhuafa  (Cilandak), Yayasan Baitul Yataama Fadlan (Meruyung, Depok), Wisma Tuna Ganda (Depok), dan Posko Kampung Siaga Covid-19 di Kelurahan Depok Jaya, Depok, Jawa Barat.

Total paket sembako yang diberikan berjumlah 250 paket untuk 4 yayasan yatim piatu dan Satu Posko Covid-19.  Setiap paket terdiri dari beras 3 kilogram, minyak goreng 1 liter, gula 1 kilogram, 1 kue kaleng, dan sabun.

Pemberian bantuan ini  secara simbolis dilakukan di Asrama Yatim dan Dhuafa Mizan Amanah, Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (20 Mei 2020) Mei 2020). Di tengah PSBB, pemberian donasi tetap mengikuti protokol kesehatan seperti penggunaan masker, mencuci tangan sebelum dan sesudah acara, juga menjaga jarak.

“Kami menyambut kegiatan Forum Jurnalis Sawit yang membagikan paket sembako kepada Yayasan Yatim Piatu. Tentunya, harapan kami ingin meringankan beban ekonomi masyarakat seperti anak-anak yatim piatu ini supaya dapat merasakan kebahagiaan di bulan Ramadan. Selain itu, mereka harus menjaga kesehatan di tengah wabah pandemi Covid-19,” ujar Mustafa Daulay,perwakilan GIMNI dalam keterangannya, Kamis (21/5).

Dalam kesempatan tersebut, Ustad Yiyi Sutarna, Kepala Asrama Mizan Amanah Cilandak, mengucapkan terima kasih atas bantuan paket sembako ini karena dapat membantu kegiatan anak-anak di Yayasan.

Bernard Riedo Ketua Umum GIMNI, dalam kesempatan terpisah,  mengatakan donasi paket sembako sebagai wujud kepedulian anggota GIMNI kepada masyarakat yang membutuhkan menyambut Hari Idul Raya Fitri 1441 H.

Melalui kegiatan sosial seperti ini, GIMNI berbagi dan berharap agar situasi di Indonesia segera membaik sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dan ekonomi bergulir.

Ketua Umum Aprobi Master Parulian Tumanggor juga memberikan apresiasi positif atas kerjasama tiga asosiasi hilir kelapa sawit (Aprobi, GIMNI, dan Apolin) dengan Forum Jurnalis Sawit sebagai upaya membantu pemerintah dalam meringankan beban masyarakat di masa pandemi Covid-19.

“Bantuan ini kami berikan supaya dapat membantu masyarakat terutama anak yatim piatu dan kalangan tidak mampu.  Apalagi, masyarakat sedang kesulitan di kala pandemi ini,” ujarnya.

Rapolo Hutabarat, Ketua Umum Apolin menyampaikan bahwa di saat kita dan seluruh dunia dilanda wabah pandemi Covid-19 tentu berdampak kepada sendi perekonomian semua negara tidak terkecuali lndonesia. Saat inilah kita sebagai anak bangsa dari sektor industri hilir sawit turut berbagi dan berempati kepada saudara-saudara kita yang paling terdampak.

“Penanggulangan pandemi Covid-19 ini masih berlangsung hingga saat ini – khususnya kita memasuki suasana bulan suci Ramadhan. Biasanya kita dari tiga asosiasi ini selalu melaksanakan buka puasa bersama dengan sahabat-sahabat jurnalis dari berbagai media dan sekaligus menyampaikan informasi kinerja industrinya baik pasar ekspor, pasar dalam negeri maupun tantangannya di masa depan. Maka tahun ini kita ubah pelaksanaannya dengan kami sebut Berbagi Berkah di Bulan Suci Ramadhan,” pungkasnya.

Suharno, Perwakilan Forum Jurnalis Sawit, berharap pemberian paket sembako dapat menjadi kegiatan rutin dalam rangka memperkuat hubungan antara jurnalis dan asosiasi di industri sawit. “Dengan pemberian paket sembako ini akan  memberikan nilai tambah industri sawit kepada masyarakat,” katanya saat menutup kegiatan.

 

 

Sumber: Kontan.co.id

,

FJS Bersama GIMNI, APROBI, dan APOLIN Salurkan 250 Paket Sembako ke 4 yayasan

 

InfoSAWIT, JAKARTA – Forum Jurnalis Sawit (FJS)  menggandeng asosiasi hilir kelapa sawit yaitu Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI),  dan Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) untuk mendistribusikan 250 paket sembako kepada yayasan yatim piatu di Jakarta dan Depok (Jawa Barat). Pemberian donasi bertujuan membantu anak yatim piatu dan masyarakat tidak mampu sehingga daya tahan tubuhnya tetap baik saat Ramadhan dan menjelang lebaran termasuk kala pandemi Covid-19.

Bantuan paket sembako diberikan kepada 4 yayasan yatim piatu dan Satu Posko Kampung Siaga Covid-19 diantaranya Yayasan Manba’ul Khairaat (Pasar Minggu), Asrama Yatim dan Dhuafa  (Cilandak), Yayasan Baitul Yataama Fadlan (Meruyung, Depok), Wisma Tuna Ganda (Depok), dan Posko Kampung Siaga Covid-19 di Kelurahan Depok Jaya, Depok, Jawa Barat.

Total paket sembako yang diberikan berjumlah 250 paket untuk 4 yayasan yatim piatu dan Satu Posko Covid-19.  Setiap paket terdiri dari beras 3 kilogram, minyak goreng 1 liter, gula 1 kilogram, 1 kue kaleng, dan sabun.

Pemberian bantuan ini  secara simbolis dilakukan di Asrama Yatim dan Dhuafa Mizan Amanah, Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (20 Mei 2020). Di tengah PSBB, pemberian donasi tetap mengikuti protokol kesehatan seperti penggunaan masker, mencuci tangan sebelum dan sesudah acara, juga menjaga jarak. Penyerahan ini dihadiri perwakilan asosiasi baik pengurus maupun anggota.

“Kami menyambut kegiatan Forum Jurnalis Sawit yang membagikan paket sembako kepada Yayasan Yatim Piatu. Tentunya, harapan kami ingin meringankan beban ekonomi masyarakat seperti anak-anak yatim piatu ini supaya dapat merasakan kebahagiaan di bulan Ramadan. Selain itu, mereka harus menjaga kesehatan di tengah wabah pandemi Covid-19,” ujar perwakilan pengurus GIMNI, Mustafa Daulay dalam keterangan tertulis diterima InfoSAWIT.

Dalam kesempatan tersebut, Ustad Yiyi Sutarna, Kepala Asrama Mizan Amanah Cilandak, mengucapkan terima kasih atas bantuan paket sembako ini karena dapat membantu kegiatan anak-anak di Yayasan.

Sementara secara terpisah Ketua Umum GIMNI, Bernard Riedo mengatakan, donasi paket sembako sebagai wujud kepedulian anggota GIMNI kepada masyarakat yang membutuhkan dikala  menyambut Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Melalui kegiatan sosial seperti ini, GIMNI berbagi dan berharap agar situasi di Indonesia segera membaik sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dan ekonomi bergulir.

Senada dikatakan Ketua Umum APROB, MP Tumanggor, kerjasama tiga asosiasi hilir kelapa sawit (APROBI, GIMNI, dan APOLIN) dengan Forum Jurnalis Sawit sebagai upaya membantu pemerintah dalam meringankan beban masyarakat di masa pandemi Covid-19. “Bantuan ini kami berikan supaya dapat membantu masyarakat terutama anak yatim piatu dan kalangan tidak mampu.  Apalagi, masyarakat sedang kesulitan di kala pandemi ini,” ujarnya.

Rapolo Hutabarat, Ketua Umum APOLIN  menyampaikan bahwa di saat Indonesia dan seluruh dunia dilanda wabah pandemi Covid-19 tentu berdampak kepada sendi perekonomian semua negara. “Saat inilah kita sebagai anak bangsa dari sektor industri hilir sawit turut berbagi dan berempati kepada saudara-saudara kita yang paling terdampak,” katanya.

Perwakilan Forum Jurnalis Sawit, Suharno,  mengungkapkan  pemberian paket sembako diharapkan bisa menjadi kegiatan rutin dalam rangka memperkuat hubungan antara jurnalis dan asosiasi di industri sawit. “Dengan pemberian paket sembako ini akan  memberikan nilai tambah industri sawit kepada masyarakat,” tandas dia. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Penyaluran Dana Peremajaan Sawit Capai Rp 3,41 Triliun

 

JAKARTA-Pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan kelapa sawit(BPDPKS) telah menyalurkan dana program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) sebesar Rp 3,41 triliun sepanjang 2016 hingga April 2020, dana itu terdistribusikan kepada 60.060 petani dengan total lahan 136.345 hektare (ha).

Program PSR terus dikebut salah satu tujuannya untuk mengamankan pasokan sawit bagi industri hilir sehingga program mandatori biodiesel tetap berjalan.

Direktur Utama BPDPKS Eddy Abdurrachman mengatakan, penyaluran dana BPDPKS dilakukan melalui instrumen program penyaluran dana yang merupakan kebijakan dan kewenangan dari kementerian/ lembaga (K/L). “BPDPKS akan menyalurkan atau mencairkan dana PSR ke petani dengan tepat sasaran, yaitu petani swadaya, sebagian besar petani swadaya berasal dari keluarga berpenghasilan menengah ke bawah dan mereka menguasai lahan kurang dari 4 ha,” kata dia dalam diskusi tentang Kebijakan Percepatan Peremajaan Sawit Rakyat di Jakarta, Selasa (19/5).

Eddy Abdurrachman juga menjelaskan, kebanyakan dari peserta program PSR berasal dari masyarakat lokal dan transmigran dengan tingkat pendidikan rendah dan hal inilah yang menjadi fokus utama pencairan dana PSR “BPDPKS sudah menyediakan sebuah aplikasi yang mendukung program PSR melalui aplikasi PSR online. Sebelumnya, kami juga telah bekerja sama dengan Kementerian

Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/ BPN) untuk menyelesaikan simpul masalah yang dihadapi para pekebun sawit di Tanah Air,” jelas dia.

Sementara itu, Asosiasi Petani kelapa sawit Indonesia (Apkasindo) mendukung penuh rencana pemerintah yang ingin mempercepat dan meningkatkan realisasi program PSR menjadi 500 ribu ha pada periode 2020-2022. Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat Manurung mengatakan, PSR seluas 500 ribu ha merupakan program penting untuk mendorong industri sawit yang berkelanjutan.

“Program PSR 500 ribu ha bisa dicapai asalkan pemerintah serius dan memegang target tersebut, jangan hanya di atas kerja saja dan merupakan sebuah mimpi,” kata Gulat.

Program PSR 500 ribu ha bisa dicapai asalkan manajemen BPDP-KS memaksimalkan kinerjanya dan mengutamakan keberlanjutan petani dan kebun kelapa sawit, juga Dinas Perkebunan Provinsi dan Kabupaten/ Kota harus diajak bekerja sama berdiskusi untuk mempercepat PSR. “Tahun ini, pandemi Covid-19 memang berdampak pada semua sektor termasuk sawit tetapi operasi perkebunan sawit tetap dilaksanakan sesuai dengan protokol pencegahan Covid-19 dan kami berharap pandemi Covid-19 ini tidak menganggu target PSR 500 ribu ha karena pandemi Covid-19 hanya mempengaruhi ekspor minyak sawit,” jelas Gulat Manurung.

Dia menjelaskan, tujuan pemerintah ingin mempercepat program PSR 500 ribu ha adalah untuk mengamankan pasokan industri hilir kepala sawit termasuk mandatori penggunaan biodiesel. Karena itu, kunci kesuksesan PSR adalah integrasi antara kebun dan pabrik pengolahan sawit, keduanya harus terkoneksi. “Kebanyakan masalah yang terjadi di lapangan terkait PSR adalah banyak petani yang mengajukan PSR tetapi ditolak karena kebunnya diklaim masuk ke dalam kawasan hutan. Agar permasalahan soal kebun masuk dalam kawasan hutan tidak terjadi lagi maka diperlukan kolaborasi anta rpemerintah,” ungkap Gulat.

Secara spesifik, Apkasindo mengusulkan beberapa terobosan guna mempercepat program PSR sehingga target 500 ribu ha bisa tercapat, di antaranya penyaluran bibit unggul harus merata, kemudahan akses dana bantuan PSR sebesar Rp 25 juta per ha, dan kemudahan bagi pekebun untuk mengakses fasilitas kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga kredit ringan yaitu 6% per tahun. Di sisi lain, perlunya pendampingan kepada para petanikelapa sawitdan penyelesaian konflik lahan perkebunan kelapa sawit. “PSR 500 ribu ha bagus sehingga harus didukung dengan program percepatan yang masuk akal. Saat ini adalah laporan bahwa masih banyak petani sawit yang mengalami kendala administrasi pencairan dana PSR oleh dinas perkebunan, sehingga perlu kerja sama serius dari dinas perkebunan kota/kabupaten,” papar Gulat.

Orang Rimba Dukung Sawit

Sementara itu, Orang Rimba di Jambi memberikan dukungannya terhadap keberadaan industri sawit. Hal tersebut tercermin dari kesepakatan yang dilakukan antara sekelompok Orang Rimba dan pihak keamanan perusahaan sawit PT SAL di Jambi, Minggu (17/5). Sebelumnya sempat terjadi ketegangan akibat pemukulan tiga orang sekuriti PT SAL Jambi oleh sekelompok Orang Rimba, namun kemudian berakhir damai. Kedua pihak telah sepakat berdamai dan berjanji bekerja sama untuk menjaga stabilitas keamanan di lingkungan masing-masing,

 

Sumber: Investor Daily Indonesia

Petani Sawit Dukung Penyelesaian RUU Cipta Kerja

 

JAKARTA-Asosiasi Petanikelapa sawit Indonesia (Apkasindo) memberikan dukungan kepada pemerintah untuk segera menyelesaikan RUU Cipta Kerja dalam rangka mempaduserasikan regulasi pertanahan dan kehutanan. Hal itu mengingat persoalan legalitas lahan merupakan tantangan bagi perkebunan sawit rakyat dalam beberapa tahun terakhir.

Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat Manurung mengatakan, masalah legalitas lahan disebabkan empat tipe konflik tenurial yakni perkebunan sawit rakyat dimasukkan ke dalam kawasan hutan, lahan petani berada dalam kesatuan hidrologis gambut (KHG) fungsi lindung, lahan petani masuk peta indikatif penundaan izin baru, dan moratorium kelapa sawit. Solusi atas persoalan tenurial yaitu membuat desk petani sawit di Kementerian ATR/BPN, sosialisasi kepada seluruh kantor BPN provinsi/kabupaten, yang mana Apkasindo berpartisipasi dalam pemetaan dan pengukuran lahan petani, pemberian sertifikat gratis untuk lahan pekebun sawit, dan proses balik nama kolektif.

Apabila persoalan tenurial tidak dijalankan, petani akan kesulitan mengikuti Perpres No 44 Tahun 2020 yang mewajibkan setiap pekebun sawit untuk memiliki sertifikat ISPO dalam lima tahun mendatang. Sertifikat ISPO mempersyaratkan petani mempunyai surat hak milik (SHM) atas lahan perkebunan kelapa sawit, di lapangan,
masih banyak petani yang baru memperoleh SKT/ SKGR (surat keterangan tanah). “Waktu lima tahun untuk pra kondisi ISPO sangat singkat bagi petani. Jangan sampai ada kesan dengan aturan yang ada para petani justru seperti hendak disingkirkan dari sektor industrikelapa sawitdi Tanah Air,” ujarnya dalam diskusi bertema Omnibus Law dan Terobosan Kebijakan Pertanahan di Sektor Sawit yang diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia.

Gulat berharap Omnibus Law Cipta Kerja ini hendaknya bisa memangkas dan menyelaraskan berbagai aturan yang ada agar para petani dapat mengurus status legal lahan mereka dengan mudah, tidak berbeli-belit, serta tidak mengeluarkan biaya pengurusan yang tinggi.

Akademisi dari Universitas Prasetya Mulya Rio Christiawan mengakui Omnibus Law Cipta Kerja, khususnya pada klaster pertanahan merupakan peluang bagi industrikelapa sawityang merupakan penyumbang devisa terbesar RI. Pelaku usaha mendapat kepastian hukum dalam bentuk sertifikasi, di sisi lain, banyak perkebunan sawityang sudah beroperasi lama dan mengantongi hak guna usaha (HGU) tetapi saat diperpanjang ternya-ta masuk kawasan hutan. “Jadi konflik antar peraturan perundangan yang mengakibatkan tumpang tindih yang menghambat investasi dan pembangunan sejatinya bersumber pada konflik kewenangan,” katanya.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia

,

Gimni Perkirakan Produksi Hilir Oleopangan pada 2020 Rendah

Bisnis.com, JAKARTA – Gabungan Industri Minyak Nabati (Gimni) meramalkan produksi hilir oleopangan pada tahun ini tidak akan mencapai target yang ditetapkan awal 2020. Adapun, produk hilir oleopangan adalah margarin, shortening, dan minyak goreng.

Direktur Eksekutif Gimni Sahat Sinaga mengatakan pihaknya menargetkan dapat memproduksi 7.08 juta ton produk hilir oleopangan pada tahun ini. Namun demikian, menurutnya, wabah Covid-19 membuat asosiasi mengkoreksi target tersebut sekitar 2-2,5 persen menjadi sekitar 6,9 juta ton.

“3 bulan pertama serapan produk hilir Oleopangan [oleh masyarakat] 584.700 ton per bulan. Proyeksi kami pada April-Juni itu menjadi 306.000 ton, padahal ada Lebaran. [Serapan turun] karena orang jarang ke pasar,” katanya kepada Bisnis belum lama ini.

Namun demikian, Sahat menyatakan wabah Covid-19 membuat serapan produk hilir oleopangan oleh pelaku industri meningkat, khususnya pada pabrikan mi instan. Menurutnya, serapan produk hilir oleopangan oleh pabrik mi instan pada kuartal II/2020 naik 14 persen dibandingkan dengan periode yang sama dalam keadaan normal.

Sahat menduga peningkatan tersebut disebabkan oleh perilaku masyarakat pada masa pandemi. Menurutnya, konsumsi min instan meningkat karena konsumsi pribadi dalam bentuk alternatif panganan utama maupun sumbangan.

“Dia [pabrik mi instan] overtime produksinya sekarang. Jadi, yang turun [serapannya] cuma di pasar tradisional, kalau di industri [pengguna] dia lancar saja. Itu menarik,” katanya.

Di sisi lain, Sahat sebelumnya menilai produksi minyak goreng curah kemasan sederhana dapat meningkatkan produksi oleopangan nasional. Pasalnya, produksi minyak jelantah di pasar akan berkurang seiring berjalannya produksi minyak goreng curah kemasan sederhana.

Sahat mendata produksi minyak goreng secara curah mencapai 4,2 juta ton pada tahun ini. Adapun, 20 persen dari pasar minyak goreng pasar tradisional tersebut merupakan minyak jelantah.

“Jadi yang dari pabrik itu cuma 3,3 juta ton. Dengan menghilangnya jelantah, berarti produksi naik. Alhasil production cost turun. Maka dari itu, [harga minyak goreng di pasar tradisional diminta] jangan naik. [Kami diminta] cari untung di orang-orang kaya, di ritel modern,” katanya.

Sumber: Bisnis.com

,

Target Serapan Minyak Goreng Curah Kemasan Sederhana Sulit Tercapai

JAKARTA – Gabungan Industri Minyak Nabati (Gimni) menyatakan serapan minyak goreng curah kemasan sederhana sepanjang 2020 tidak akan mencapai target yang telah ditetapkan pada awal tahun.

Direktur Eksekutif Gimni Sahat Sinaga mengatakan pada awal 2020 pihaknya menargetkan serapan minyak goreng curah kemasan dapat mencapai 810.000 Kiloton hingga akhir tahun. Namun demikian, Sahat pesimistis bahwa realisasi akhir tahun dapat mencapai target.

“Kamu tahu [karakter] pedagang lah: mana yang laku, itu yang dia juga. Jadi, kalau di pasar tradisional melihat [minyak goreng curah] kemasan 1 liter harganya 15 persen di atas minyak goreng curah biasa, ya dia [pedagang dan konsumen] beli minyak curah,” katanya kepada Bisnis baru-baru ini.

Oleh karena itu, Sahat meminta agar seluruh pemasok minyak goreng curah kemasan sederhana untuk menggunakan merek dagang Minyak Kemendag. Menurutnya, hal tersebut akan meningkatkan tingkat serapan minyak goreng curah kemasan sederhana di pasaran.

Pasalnya, lanjutnya, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada merek dagang Minyak Kemendag telah ditanggung pemerintah seluruhnya. Dengan kata lain, harga Minyak Kemendag dengan minyak goreng curah biasa hampir sama.

“PPN-nya menjadi ‘Rp0’. Jadi, harga minyak goreng curah dan kemasan sama. Orang pasti lebih senang kemasan dong. Minyak goreng curah itu [harganya] Rp9.000, karena ada PPN 10 persen jadi Rp9.900. Kemasan juga begitu harganya,” jelasnya.

Namun demikian, Sahat menyampaikan imbauannya tidak pernah diguris oleh pemasok minyak goreng curah kemasan sederhana. Sahat berujar para pemasok mengeluhkan birokrasi yang panjang untuk menggunakan merek dagang tersebut.

Sahat menilai peningkatan jumlah produsen dengan merek dagang Minyak Kemendag justru akan meringankan beban BPJS Kesehatan. Pasalnya, ujarnya, dengan minyak goreng yang bersih dapat mengurangi penyakit yang selama ini terjadi karena minyak goreng yang kotor.

Sahat menambahkan target serapan di kuartal I/2020 hanya terpenuhi 67,39 persen dari target atau sebanyak 155.000 Kiloton. Adapun, Sahat meramalkan serapan pada kuartal II/2020 akan lebih rendah lagi atau di sekitar posisi 128.000 Kiloton.

Sahat berujar pihaknya kini meramalkan serapan minyak goreng curah kemasan sederhana di pasaran hanya akan tercapai 64,81 persen dari target awal tahun atau sekitar 525.000 Kiloton.

 

 

Sumber: Bisnis.com

UJI KOMITMEN UNTUK BIODIESEL

JAKARTA – Pemerintah menegaskan komitmennya untuk melanjutkan program pengembangan biodiesel berbasis minyak kelapa sawit di tengah potensi defisit insentif dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit.

Komitmen itu tertuang dalam rencana untuk menyuntikkan dana subsidi untuk program biodiesel yang akan diserap dari APBN 2020. Subsidi tersebut termasuk dalam program yang tertuang pada Peraturan Pemerintah (PP) No. 23/2020 tentang Pelaksanaan Program Pemulihan Ekonomi Nasional.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan bahwa kondisi adanya gap atau jarak antara harga indeks pasar (HIP) bahan bakar nabati (BBN) dan HIP solar pada saat ini membuat kebutuhan subsidi meningkat.

Dia mengungkapkan, dengan adanya gap yang besar tersebut membuat insentif yang seharusnya diberikan Badan Pengelola Dana Perkebunan kelapa sawit (BPDP-KS) tak lagi mencukupi karena kondisi keuangan lembaga itu yang sedang tertekan.

“Saat ini posisi keuangannya [BPDP KS] tidak mungkin untuk meng-couer insentif itu hingga akhir tahun, cukup besar gapnya antara HIP,” ujarnya pada Rabu (13/5).

Untuk menjaga program biodiesel berkelanjutan, maka dibutuhkan insentif tambahan. Dia menyebut pihaknya telah membahas masalah tersebut dalam rapat kooordinasi yang juga melibatkan BPDP-KS dan pelaku industri.

Berdasarkan data Kemenkeu yang diperoleh Bisnis, terdapat kebutuhan subsidi gap antara HIP BBN dengan HIP BBM.

Adapun, harga referensi CPO Mei pada level US$635,15 per ton, sehingga pungutan ekspor CPO sebesar US$50 per metrik ton dan bea keluar CPO sebesar US$0 per ton. Dengan tren saat ini, diperkirakan rata-rata subsidi gap antara HIP BBN dengan HIP BBM sebesar Rp3.732 per liter.

Dengan demikian, kekurangan pembiayaan BPDPKS adalah se-nilai Rp3,54 triliun. Kekurangan tersebut akan ditambal pengusaha melalui kenaikan tarif pungutan ekspor US$5/ton mulai 1 Mei 2020, di mana dana akan terkumpul sekitar Rp760 miliar.

Sementara itu, pemerintah bakal memberikan subsidi senilai Rp2,78 triliun yang bersumber dari APBN.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pun tak tinggal diam dan tengah mencarikan solusi untuk mengatasi masalah defisit insentif yang dapat berikan oleh BPDP KS.

Direktur Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Andriah Feby Misna mengungkapkan bahwa pihaknya masih membahas sejumlah opsi yang akan digunakan untuk masalah tersebut. “Ya sedang dicarikan solusinya,” katanya pada Kamis (14/5).

Dia menambahkan, pandemi Covid-19 turut berdampak pada program pengembangan biodiesel. Pasalnya, penurunan permintaan solar turut berdampak terhadap minat akan bahan campuran biodiesel fatty acid methyl ether (FAME), sehingga bakal ada koreksi untuk target yang sudah direncanakan.

Adapun, serapan FAME sampai dengan 22 April 2020 tercatat sebesar 2,58 juta kiloliter atau sekitar 26,8% dari target awal.

Di sisi lain, tambahnya, kondisi saat ini membuat pemerintah mengkaji opsi untuk menunda program pengembangan B50 (campuran FAME 50%) antara satu hingga dua tahun mendatang dari rencana tahun ini.

VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menjelaskan bahwa pembelian FAME oleh Pertamina dari badan usaha bahan bakar nabati (BU BBN) telah mengikuti regulasi pemerintah yaitu harga terendah antara HIP BBN dengan HIP Solar.

Adapun, atas selisih harga tersebut BUBBN mendapatkan insentif pembayaran dari BPDP KS. “Pertamina tetep berkomitmen untuk implementasi [mandatori] B30 [biodiesel kadar 30% FAME],” katanya kepada Bisnis, Kamis (14/5).

KONSUMSI CPO

Gabungan Pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) menilai komitmen pemerintah dalam program Biodesel cukup baik dengan rencana skema subsidi dari APBN 2020 dalam rangka pemulihan ekonomi.

Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono mengatakan meski belum mendengar secara detail rencana tersebut, tetapi dia menyambut baik karena akan positif untuk sawit.

“Saya kira akan bagus buat sawit, kebijakan pemerintah sejak B20 kemudian B30 meningkatkan penggunaan CPO [minyak sawit mentah] dalam negeri dan berperan memperbaiki harga sawit,” katanya kepada Bisnis, Kamis (14/5).

Gapki melaporkan produksi sawit pada kuartal 1/2020 cenderung lebih rendah 14% dengan volume total 10,99 juta ton. “Konsumsi minyak sawit untuk pangan dalam negeri turun sekitar 8,3%. Sebaliknya konsumsi untuk produk oleokimia naik sebesar 14,5% dan konsumsi biodiesel relatif tetap,” katanya.

Sementara itu, pemerintah diminta untuk mengkaji rencana pemberian subsidi untuk kelanjutan program biodiesel 30.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menjelaskan, pemerintah memiliki target yang ambisius dengan mendorong B30 lebih cepat sehingga biaya yang diperlukan untuk memberikan subsidi menjadi sangat besar.

Padahal, harga minyak sawit di pasar dunia juga anjlok di bawah batas minimum untuk dilakukannya pungutan ekspor minyak sawit. Akibatnya, BPDP KS mengalami defisit karena dana dari pungutan sawit tidak dapat dilakukan tahun lalu dan awal tahun ini.

Dorong Energi Baru Terbarukan

Pemerintah menempuh berbagai cara untuk mendorong penggunaan energi berbasis sumber daya alam yang terbarukan, termasuk salah satunya dengan mandatori pemanfaatan bahan bakar nabati atau biodiesel dari hasil olahan minyak kelapa sawit.

 

Sumber: Bisnis Indonesia

KLHK Minta Gapki Gencar Pulihka Lahan Gambut

JAKARTA. Gabungan Pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) akan berupaya mendorong anggotanya untuk meningkatkan kinerja memulihkan lahan gambut di areal perkebunan yang mereka kelola. Pemulihan lahan gambut diantaranya dengan cara membuat tata kelola irigasi yang baik agar bisa mencegah kebakaran lahan dan hutan.

Karena itulah, Ketua Gapki Joko Suprianto mendorong seluruh anggotanya untuk segera melakukan pemulihan ekosistem gambut dan menyusun dokumen perencanaan pemulihan ekosistem gambut seperti yang diminta oleh pemerintah.

Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, M.R. Karliansyah saat ini sebagian besar pengusaha perkebunan sawit belum menyampaikan dokumen rencana pemulihan ekosistem gambut atau belum melakukan pemulihan ekosistem gambut pada areal konsesinya.

“Perbaikan tata kelola air di lahan gambut di areal konsesi perkebunan berperan dalam mencegah potensikebakaran hutandan lahan. Serta dalam menghadapi potensi musim kering yang diprediksikan oleh BMKG akan terjadi pada bulan Juli sampai dengan Agustus mendatang,” terang Karliansyah, Rabu (13/5).

 

Sumber: Harian Kontan