Peremajaan Sawit Rakyat Ditargetkan Meningkat

 

 

Jakarta – Direktur lenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Bambang menyatakan, bahwa pihaknya akan terus menambah luasan perkebunan kelapa sawit milik rakyat untuk di-replanting atau peremajaan. “Sebab dengan melakukan replanting itu sama dengan menambah pendapatan negara,” ujarnya di Jakarta, disalin dari Antara.

Berdasarkan catatannya, dari total 11,9 juta hektar kebun kelapa sawit Indonesia terdapat 4,7 hektar perkebunan rakyat atau 48 Dersen. Dari 4,7 juta hektar tersebut seluas 2,4 juta hektar kebun sawit saat ini masih dikembangkan dengan cara tradisional oleh petani dan tidak sedikit yang menggunakan benih asalan atau tidak bersertifikat

Bahkan kebun kelapa sawit yang menggunakan sumber benih tidak baik itu sekarang berkembang jutaan hektar, akibatnya produktivitasnya rendah, hanya 1 -2 ton CPO/hektat Menurut dia jika program replanting kelapa sawit itu bisa dengan cepat dilakukan dengan serentak maka akan menghasilkan nilai tambah produktivitas sebesar Rp 125 triliun per tahun.

“Itu semua jika seluruh perkebunan sawit rakyat mampu memproduksi minimal 8 ton minyak sawit mentah (CPO), sehingga setiap tahun kita bisa mendapatkan nilai tambah produktivitas sebesar Rp 125 triliun,” ujarnya.

Sementara itu Pemerintah Daerah Bengkulu Utara siap mereplanting perkebunan milik masyarakat yang telah melewati umur produktif atau yang menggunakan benih palsu dalam upaya peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat.

Program peremajaan tanaman kelapa sawit milik rakyat tersebut dilakukan melalui dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapasawit (BPDP-KS). “Kita telah menetapkan target peremajaan seluas 8000 hektar untuk kebun swadaya ataupun plasma untuk tahun 2018 ini. Bahkan saat ini seluruh jajaran di Bengkulu Utara tengah bergegas menyiapkan calon petani dan calon lokasi (CPCL) sehingga target tersebut dapat segera direalisasi,” ujar Bupati Bengkulu Utara, Mian.

Menurut Mian, pihaknya sangat serius untuk mempersiapkan replanting kelapa sawit karena tanaman tersebut sebagai salah satu komoditas unggulan di Bengkulu Utara, yang mana saat ini luas areal perkebunan sawit rakyat telah mencapai 36.861 hektar.

Namun dia mengakui produktivitas tandan buah segar (TBS) sawit rakyat masih rendah yakni 1,18 ton/-hektar/bulan, idealnya bisa mencapai 2-2,5 ton/hektar/bulan. Salah satu penyebabnya, tambahnya, adalah penggunaan benih palsu. Bahkan, 40 persen dari areal perkebunan rakyat atau sekitar 14.475 hektar menggunakan benih palsu.

“Atas dasar itulah kita berharap tanaman kelapasawityang telah tua atau memiliki produksi rendah karena berasal dari benih ilegal dapat digantikan dengan varietas unggul kelapa sawit,” ujar Mian.

Adapun untuk penyediaan benihnya, Mian mengakui akan mengandalkan peran penangkar pewaralaba  kelapa sawit Artinya melalui penetapan target peremajaan tahun 2018 ini akan memberikan gambaran bagi penangkar dalam memperkirakan kebutuhan bibit di tahun mendatang. “Dimana untuk memenuhi kebutuhan 8000 hektar di Bengkulu Utara penangkar harus menyiapkan bibit salur 1.040.000 batang,” katanya.

Disisi lain, Mian menghimbau agar bisa melakukan tumpang sari dengan tanaman lainya selama melakukan replanting, agar selama tanaman kelapa sawit belum menghasilkan, petani tetap mendapatkan hasil dari tanaman yang ditumpang-sarikan, seperti jagung, ataupun tanaman lainnya.

“Sehingga melalui kegiatan replanting tidak saja berkontribusi pada perbaikan produksi tanaman kelapa sawit rakyat namun juga turut mendukung upaya mewujudkan swasembada jagung,” ujar bupati.

Sambut baik Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perkumpulan Penangkar Benih Tanaman Perkebunan Indonesia, Rusbanrti menyambut baik atas kesiapan Bengkulu Utara untuk meremajakan kelapa sawit rakyat.

Dengan melakukan replanting, menurut dia, akan memperbaiki produktivitas tanaman rakyat, sehingga meningkatkan produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) nasional. Seperti diketahui permintaan akan CPO setiap tahunnya terus meningkat sering meningkatnya permintaan biofuel.

“Melalui kegiatan replanting kami harapkan dapat meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat melalui penggunaan bahan tanam unggul bermutu yang memiliki daya hasil dan mutu lebih baik,” kata Rusbandi.

Pihaknya menegaskan, pada prinsipnya penangkar bibit kelapa sawit di sentra pengembangan kelapa sawit maupun di Provinsi Bengkulu siap melakukan investasi penyediaan benih selama pasarnya jelas serta, proses pembayarannya juga tidak berbelit-belit. “Karena bisnis penangkaran bibit kelapa sawit adalah usaha yang sangat beresiko maka diharapkan para pengambil kebijakan memahami hal tercabut,” tuturnya.

 

Sumber: Harian Ekonomi Neraca

EKSPOR MINYAK SAWIT DAN PRODUK KAYU SUMATERA SELATAN NAIK

 

PALEMBANG – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Provinsi Sumatera Selatan pada November 2017 mencapai US$ 401,41 juta, atau meningkat 1,38% dibandingkan nilai ekspor pada Oktober 2017. Demikian pula ekspor pada periode Januari-November 2017 tercatat meningkat 108,76% dibandingkan tahun 2016 lalu pada periode yang sama.

Kepala BPS Sumatera Selatan Yos Rusdiansyah, Jumat (05/01/2018) mengungkapkan, naiknya nilai ekspor provinsi Sumsel pada November 2017 tersebut disebabkan oleh naiknya nilai ekspor migas sebesar 33,46% yaitu dari  US$ 20,05 juta menjadi US$ 26,76 juta. “Sedangkan nilai ekspor nonmigas turun sebesar 0,33 persen dari US$ 375,91 juta menjadi US$ 374,65 juta,” katanya seperti dikutip Antara.

Nilai ekspor Sumsel pada November 2017 sebesar US$ 401,41 juta itu terdiri atas ekspor migas sebesar US$ 26,76 juta dan US$ 374,65 juta merupakan hasil ekspor komoditas nonmigas.

Turunnya ekspor nonmigas pada November 2017 disumbang oleh melemahnya ekspor komoditas utama diantaranya karet, batubara, udang, kopi dan teh. Sementara komoditas utama lainnya seperti minyak kelapa sawit dan produk olahan minyak sawit, serta kayu/produk kayu mengalami peningkatan nilai ekspor.

Nilai ekspor nonmigas Sumsel pada periode Januari-November 2017 masih didominasi oleh komoditas karet yang mencapai nilai sebesar US$ 1.915,44 juta disusul batu bara sebesar US$ 491,60 juta dan minyak kelapa sawit dan produk olahan minyak sawit sebesar US$ 157,44 juta. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Sawit Memenuhi Kebutuhan Minyak Nabati Dimasa Depan

 

 

Untuk memperkirakan kebutuhan minyak nabati global kedepan diperlukan  perkiran jumlah pendudukdunia dan komsumsi perkapita minyak nabati dunia menuju 2050.Untuk proyeksi populasi pendududk dunia digunakan data proyeksimedium yang dikeluarkan UNPD yakni penduduk dunia tahun 2050 akan mencapai 9,2 miliar orang.

Proyeksi komsumsi per kapita minyak nabati dunia diperagakan dalam tiga skenario berikut : Skenario Pertama, kebutuhan didasarkan pada rekomendasi gizi FAO (1994) edible use dan non edible use (diluar biodiesel) yakni 21 kg/kapita/tahun.

Skenario Kedua, diasumsikan minyak nabati dunia (pangan dan non pangan, selain biodiesel) mengikuti proyeksi rataan komsumsi minyak nabati India dan China, yakni 25 kg/kapita/tahun pada tahun 2050. Namun skenario pertama dan skenario kedua tersebut kurang realistis karena negara maju (USA dan Eropa) komsumsinya tahun 2008 sudah lebih dari 37 kg/kapita/tahun. Tentu masyarakat negara maju tidak bersedia menurunkan komsumsinya/kesejateraannya.

Dan Skenario Ketiga, diasumsikan seluruh negara dunia akan mencapai rata-rata komsumsi minyak nabati (pangan dan non pangan, selain biodiesel) negara Eropa dan USA tahun 2008 yakni 37 kg/kapita/tahun pada tahun 2050. Skenario ketiga ini mengasumsikan negera-negara maju tersebut tidak lagi menambah konsumsi minyak nabatinya menuju 2050.

Dengan skenario di atas, maka kebutuhan minyak nabati dunia tahun 2050. Tambahan produksi minyak nabati dunia menuju 2050 diasumsikan produksi minyak nabati lainnya (selain minyak kedelai dan minyak sawit) tidak memungkinkan lagi ditingkatkan dari produksi tahun 2014 (produksi tetap) sehingga tambahan komsumsi minyak nabati dunia dipenuhi dari minyak kedelai dan minyak sawit.

Proyeksi Kebutuhan Minyak Nabati Dunia dan Tambahan Areal Baru Menuju 2050

Sekenario 2050 Konsumsi perkapita (kg/kapita) Kebutuhan Minyak Nabati Dunia 2050 (juta ton) Tambahan Produksi Minyak Nabati 2014 – 2050 (juta ton) Tambahan Areal Baru Untuk Memenuhi Tambahan Produksi Minyak Nabati Dunia 2050
Jika Hanya Dari Minyak Kedelai (juta Ha) Jika Hanya Dari Minyak Sawit (juta Ha)
21 194 24 48 4,8
25 230 60 120 12
37 340 170 340 34

Sumber : PASPI (2016)

Peningkatan produksi minyak kedelai khususnya melalui perluasan areal masih mungkin terjadi di kawasan Amerika Sealatan sebagaimana terjadi dalam sepuluh tahun terakhir.Demikian juga perluasan areal kelapa sawit masih mungkin dilakukan di Indonesia maupun kawasan Afrika Tengah.

Pertanyaannya adalah untuk memenuhi tambahan kebutuhan minyak nabati tersebut, apakah masyarakat dunia memilih meningkatkan produksi minyak kedelai atau minyak sawit? Jika masyarakat dunia memilih cara pemenuhan tambahan minyak nabati menuju 2050 dari peningkatan produksi minyak kedelai dunia seluas 340 juta hektar (dengan asumsi produktivitas 0,5 ton minyak /hektar). Hal ini berarti masyarakat dunia akan kehilangan hutan (deforestasi) seluas 340 juta hektar di Amerika Selatan.

Jika masyarakat dunia memilih pemenuhan tambahan kebutuhan minyak nabati dunia menuju 2050 dari minyak sawit, maka ekspansi kebun sawit (tambahan) yang diperlukan hanya cukup seluas 34 juta hektar (asumsi produktivias 5 ton minyak/hektar).

Dengan kata lain, pemenuhan tambahan kebutuhan minyak nabati dunia menuju tahun 2050 melalui ekspansi kebun sawit  jauh lebih menghemat deforestasi (hanya 34 juta hektar) dibandingkan dengan melalui ekspansi kebun kedelai (340 juta hektar). Ekspansi kebun sawit dunia jauh lebih menguntungkan bagi dunia dari pada ekspansi kebun kedelai. Bahkan ekspansi kebun sawit dapat menghindari deforestasi global yang lebih besar khususnya di Amerika Selatan.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

Lawan Kampanye Negatif Sawit, RI Siapkan Siasat Hadapi Eropa

 

Empat Menteri Kabinet Kerja merapatkan barisan untuk membahas permasalahan kelapa sawit Indonesia. Di antaranya, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya.

Rapat yang diselenggarakan di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian itu juga dihadiri oleh kalangan pengusaha, di antaranya CEO Sinar Mas Group Franky Wijaya.

 

Seperti diketahui, saat ini, produk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) mendapatkan masalah di pasar luar negeri. Uni Eropa berupaya menjegal produk sawit melalui Resolusi Sawit yang disahkan oleh parlemen Uni Eropa dalam Report on Palm Oil and Deforestation of Rainforests.

Mendag Enggar yang pertama kali meninggalkan rapat mengatakan, pemerintah Indonesia masih akan menyiapkan data untuk melakukan pertemuan tingkat menteri dengan negara penghasil produk kelapa sawit seperti Malaysia.

“Tanggal 11-12 (Januari), kita mengusulkan menyampaikan bahwa kita minta ditunda saja dulu. Pertemuan tingkat menterinya,” kata dia di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin 8 Januari 2018.

Ia mengatakan, ada beberapa catatan yang dipersiapkan dalam pertemuan tingkat menteri lintas negara itu. Persiapan matang untuk memperkuat argumen Indonesia diperlukan.

“Daripada kita datang pertemuan, tetapi kita belum siap. Ministerial meeting-nya yang dipimpin dari kita pak Menko. Jadi, nanti pak Menko saja (menjelaskan),” ujar dia.

Sementara itu, CEO Sinar Mas Group, Franky Wijaya mengatakan, Malaysia dan Indonesia adalah dua negara penghasil produk sawit terbesar di seluruh dunia yang menyumbang hingga 85 persen produksi sawit global.

“Kedua negara, kita ini kan sudah produksi 83, atau 85 dari seluruh dunia. Dengan dua negara ini, kalau bisa sepakat harusnya semua itu bisa di-resolve, keruwetan ini bisa resolve-lah istilahnya,” ujar dia.

Menurut dia, melalui ahli universitas dan pusat riset, Indonesia dan Malaysia bisa menyelesaikan persoalan ini. “Bisa dengan seluruh expert di universitas atau riset center, untuk melakukannya. We dont have to debate lah, kita bukan hanya berantem mulut tapi fakta,” kata dia.

Sedangkan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah masih menindaklanjuti persoalan CPO ini. “Tadi bahas CPO, belum (ada hasil), kita tindaklanjuti lagi, masih rapat, nanti tunggu pak Menko (hasilnya), masih lanjut di atas (rapatnya),” ujarnya.

Amran mengatakan, pihaknya juga fokus membahas mengenai kebijakan plasma  20 persen dan sawit di hutan produksi. “Tadi (juga) masalah plasma 20 persen, kita cari solusi, kemudian sawit yang ada di hutan produksi,” katanya.

 

Sumber: Viva.co.id

Ketua PWI: Di Indonesia Sawit Dimunculkan Selalu Masalahnya

 

 

PONTIANAK – Sawit menjadi komoditas unggulan tak hanya bagi Kalbar bahkan bagi Indonesia. Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalbar Gusti Yusri menyebutkan bila di Malaysia, sawit diposisikan sebagai tanaman titipan dari Tuhan.

“Beda dengan Indonesia kalau bicara sawit yang dimunculkan adalah masalah dan masalah,”ungkapnya saat memberikan sambutan dalam kegiatan Workshop Jurnalistik ‘Jurnalis Menguak Fakta Dibalik Indutri Kelapa Sawit’, di Hotel Santika, Senin (8/1/2018).

Menurutnya isu isu negatif yang dimunculkan terkait sawit di antaranya masalah lingkungan. Karena sawit, katanya, disebutkan bikin tanah tidak subur.

 

“Ada yang bilang, dulu tidak sawit kampung kami tidak banjir. Padahal tahun 1968 sawit tidak ada, banjir dahsyat juga,” paparnya.

Persoalan lainnya saat ini produk turunansawit yang dihasilkan masih sangat terbatas hanya crude palm oil (cpo) dan masih sedikit produk minyak goreng.

“Ingat 2020 diesel akan digantikan biodiesel. Dari mana sumbernya, kalau tidak dipersiapkan dari sekarang,” katanya.

Indonesia merupakan produsen minyak sawt terbesar dunia atau sekitar 54 persen dari produkai minyak sawit dunia.

 

Sumber: Pontianak.tribunnews.com

,

Permintaan minyak nabati diprediksi cuma naik 1%

 

JAKARTA. Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) memperkirakan permintaan minyak nabati domestik pada tahun ini bakal naik tipis 1% dari 8,104 juta ton pada tahun 2017 menjadi 8,14 juta ton. Dari jumlah itu, 56% atau sekitar 4,5 juta ton merupakan minyak goreng curah dan kemasan, sementara sisanya produk minyak nabati lainnya.

Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif GIMNI mengatakan, tipisnya kenaikan permintaan minyak nabati dikarenakan adanya perubahan dari minyak goreng curah ke minyak goreng kemasan. Akibatnya, banyak masyarakat yang mengurangi konsumsi karena harga minyak goreng kemasan lebih mahal. Apalagi Kementerian Perdagangan juga telah meminta industri minyak goreng mengurangi penjualan curah dan mengalihkannya ke produk kemasan.

Kenaikan permintaan yang tipis juga disebabkan karena banyak konsumen yang beralih ke produk nabati selain sawit karena daya belinya meningkat. “Secara volume permintaan naik, tetapi kenaikan tersebut bukan dari minyak goreng,” katanya kepada KONTAN, Kamis (4/1). Dari sisi harga, harga minyak goreng akan tetap stabil.

 

Sumber: Kontan.co.id

Replanting Sawit Beri Nilai Tambah Rp 125 Triliun

 

JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) akan terus menambah luasan perkebunan kelapa sawit milik rakyat yang masuk dalam program peremajaan tanaman (replanting). Alasannya, dengan melakukan replanting sama saja menambah pendapatan negara. Asumsinya, apabila program replanting kelapa sawit itu bisa dengan cepat dilakukan secara serentak maka akan menghasilkan nilai tambah produktivitas sebesar Rp 125 triliun per tahun.

Dirjen Perkebunan Kementan Bambang menyatakan, dari total 11,90 juta hektare (ha) kebun kelapa sawit di Indonesia terdapat 4,70 juta ha perkebunan rakyat atau 48%. Dari 4,70 juta ha tersebut, seluas 2,40 juta ha di antaranya masih dikembangkan secara tradisional oleh petani dan tidak sedikit yang menggunakan benih asalan atau tidak bersertifikat.

Bahkan, kebun kelapa sawit yang menggunakan sumber benih tidak baik itu sekarang berkembang jutaan ha dan akibatnya produktivitasnya rendah yaitu hanya 1-2 ton minyak sawit mentah (crude palm oil) per ha.

Menurut Bambang, apabila program replanting kelapa sawit itu bisa dengan cepat dilakukan dengan serentak maka akan menghasilkan nilai tambah produktivitas sebesar Rp 125 triliun per tahun. Itu semua apabila seluruh perkebunan sawit rakyat mampu memproduksi minimal 8 ton CPO.

“Dengan begitu, setiap tahun kita bisa mendapatkan nilai tambah produktivitas Rp 125 triliun. Artinya, dengan replanting itu sama dengan menambah pendapatan negara,” ujar dia di Jakarta, Jumat (4/1).

Sementara itu, Pemda Bengkulu Utara siap melakukan replanting perkebunan milik masyarakat yang telah melewati umur produktif atau yang menggunakan benih palsu dalam upaya peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat. Program peremajaan tanaman kelapa sawit milik rakyat tersebut dilakukan melalui dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP Sawit).

“Kita telah menetapkan target peremajaan seluas 8.000 ha untuk kebun swadaya ataupun plasma untuk tahun ini. Bahkan saat ini seluruh jajaran di Bengkulu Utara tengah bergegas menyiapkan calon petani dan calon lokasi (CPCL) sehingga target tersebut dapat segera direalisasi,” ujar Bupati Bengkulu Utara Mian seperti dilansir Antara, Jumat.

Menurut Mian, pihaknya sangat serius untuk mempersiapkan replanting kelapa sawit karena tanaman tersebut sebagai salah satu komoditas unggulan di Bengkulu Utara, yang mana saat ini luas areal perkebunan sawit rakyat telah mencapai 36.861 ha.

Saat ini, produktivitas tandan buah segar (TBS) sawit rakyat masih rendah yakni 1,18 ton per ha per bulan dan idealnya bisa mencapai 2-2,5 ton per ha per bulan. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan benih palsu, bahkan 40% dari areal perkebunan rakyat atau sekitar 14.475 ha menggunakan benih palsu.

“Atas dasar itulah kami berharap tanaman kelapa sawit yang telah tua atau memiliki produksi rendah karena berasal dari benih illegal dapat digantikan dengan varietas unggul kelapa sawit,” ujar Mian.

Untuk penyediaan benih, Pemda Bengkulu Utara akan mengandalkan peran penangkar pewaralaba sawit. Artinya, melalui penetapan target peremajaan tahun ini akan memberikan gambaran bagi penangkar dalam memperkirakan kebutuhan bibit tahun mendatang. “Untuk memenuhi kebutuhan 8.000 ha di Bengkulu Utara penangkar harus menyiapkan bibit salur 1.040.000 batang,” katanya.

Di sisi lain, Mian mengimbau agar bisa melakukan tumpang sari dengan tanaman lainya selama melakukan replanting, sehingga selama tanaman kelapa sawit belum menghasilkan petani tetap mendapatkan hasil dari tanaman yang ditumpangsarikan, seperti jagung, ataupun tanaman lainnya.

“Dengan begitu, melalui replanting tidak saja berkontribusi pada perbaikan produksi tanaman sawit rakyatnamun juga turut mendukung upaya mewujudkan swasembada jagung,” ujar Mian.

Sekjen Perkumpulan Penangkar Benih Tanaman Perkebunan Indonesia Rusbandi menyambut baik kesiapan Bengkulu Utara untuk meremajakan kelapa sawit rakyat. Dengan replanting, akan memperbaiki produktivitas tanaman rakyat, sehingga meningkatkan produksi CPO nasional.

Seperti diketahui permintaan akan CPO setiap tahunnya terus meningkat sering meningkatnya permintaan biofuel. “Melalui replanting, kami harap dapat meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat melalui penggunaan bahan tanam unggul bermutu berdaya hasil dan mutu lebih baik,” kata dia.

Pada prinsipnya penangkar bibit kelapa sawit di sentra pengembangan kelapa sawit maupun di Provinsi Bengkulu siap melakukan investasi penyediaan benih selama pasarnya jelas serta, proses pembayarannya juga tidak berbelit-belit. “Karena bisnis penangkaran bibit sawit adalah usaha yang sangat beresiko maka diharapkan para pengambil kebijakan memahami hal tersebut,” tuturnya.

 

Sumber: Investor.co.id

Kementerian Targetkan Peningkatan Peremajaan Sawit Rakyat

 

Jakarta-Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Bambang menyatakan, bahwa pihaknya akan terus menambah luasan perkebunan kelapa sawit milik rakyat untuk direplanting atau peremajaan.

“Sebab dengan melakukan replanting itu sama dengan menambah pendapatan negara,” ujarnya di Jakarta, Jumat (5/1/2017)

Berdasarkan catatannya, dari total 11,9 juta hektar kebun kelapa sawit Indonesia terdapat 4,7 hektar perkebunan rakyat atau 48 persen.

Dari 4,7 juta hektar tersebut seluas 2,4 juta hektar kebun sawit saat ini masih dikembangkan dengan cara tradisional oleh petani dan tidak sedikit yang menbggunakan benih asalan atau tidak bersertifikat.

Bahkan kebun kelapa sawit yang menggunakan sumber benih tidak baik itu sekarang berkembang jutaan hektar, akibatnya produktivitasnya rendah, hanya 1-2 ton CPO/hektar.

Menurut dia jika program replanting kelapa sawit itu bisa dengan cepat dilakukan dengan serentak maka akan menghasilkan nilai tambah produktivitas sebesar Rp125 triliun per tahun.

“Itu semua jika seluruh perkebunan sawit rakyat mampu memproduksi minimal 8 ton minyak sawit mentah (CPO), sehingga setiap tahun kita bisa mendapatkan nilai tambah produktivitas sebesar Rp 125 triliun,” ujarnya.

Sementara itu Pemerintah Daerah Bengkulu Utara siap mereplanting perkebunan milik masyarakat yang telah melewati umur produktif atau yang menggunakan benih palsu dalam upaya peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat.

Program peremajaan tanaman kelapa sawit milik rakyat tersebut dilakukan melalui dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS).

“Kita telah menetapkan target peremajaan seluas 8000 hektar untuk kebun swadaya ataupun plasma untuk tahun 2018 ini. Bahkan saat ini seluruh jajaran di Bengkulu Utara tengah bergegas menyiapkan calon petani dan calon lokasi (CPCL) sehingga target tersebut dapat segera direalisasi,” ujar Bupati Bengkulu Utara, Mian.

Menurut Mian, pihaknya sangat serius untuk mempersiapkan replanting kelapa sawit karena tanaman tersebut sebagai salah satu komoditas unggulan di Bengkulu Utara, yang mana saat ini luas areal perkebunan sawit rakyat telah mencapai 36.861 hektar.

Namun dia mengakui produktivitas tandan buah segar (TBS) sawit rakyat masih rendah yakni 1,18 ton/hektar/bulan, idealnya bisa mencapai 2 – 2,5 ton/hektar/bulan.

Salah satu penyebabnya, tambahnya, adalah penggunaan benih palsu. Bahkan, 40 persen dari areal perkebunan rakyat atau sekitar 14.475 hektar menggunakan benih palsu.

“Atas dasar itulah kita berharap tanaman kelapa sawit yang telah tua atau memiliki produksi rendah karena berasal dari benih ilegal dapat digantikan dengan varietas unggul kelapa sawit,” ujar Mian.

Adapun untuk penyediaan benihnya, Mian mengakui akan mengandalkan peran penangkar pewaralaba kelapa sawit. Artinya melalui penetapan target peremajaan tahun 2018 ini akan memberikan gambaran bagi penangkar dalam memperkirakan kebutuhan bibit di tahun mendatang.

“Dimana untuk memenuhi kebutuhan 8000 hektar di Bengkulu Utara penangkar harus menyiapkan bibit salur 1.040.000 batang,” katanya.

Disisi lain, Mian menghimbau agar bisa melakukan tumpang sari dengan tanaman lainya selama melakukan replanting, agar selama tanaman kelapa sawit belum menghasilkan, petani tetap mendapatkan hasil dari tanaman yang ditumpangsarikan, seperti jagung, ataupun tanaman lainnya.

“Sehingga melalui kegiatan replanting tidak saja berkontribusi pada perbaikan produksi tanaman kelapa sawit rakyat namun juga turut mendukung upaya mewujudkan swasembada jagung,” ujar bupati.

Sambut baik Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perkumpulan Penangkar Benih Tanaman Perkebunan Indonesia, Rusbandi menyambut baik atas kesiapan Bengkulu Utara untuk meremajakan kelapa sawit rakyat.

Dengan melakukan replanting, menurut dia, akan memperbaiki produktivitas tanaman rakyat, sehingga meningkatkan produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) nasional. Seperti diketahui permintaan akan CPO setiap tahunnya terus meningkat sering meningkatnya permintaan biofuel.

“Melalui kegiatan replanting kami harapkan dapat meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat melalui penggunaan bahan tanam unggul bermutu yang memiliki daya hasil dan mutu lebih baik,” kata Rusbandi seperti dilansir Antara.

Pihaknya menegaskan, pada prinsipnya penangkar bibit kelapa sawit di sentra pengembangan kelapa sawit maupun di Provinsi Bengkulu siap melakukan investasi penyediaan benih selama pasarnya jelas serta, proses pembayarannya juga tidak berbelit-belit.

“Karena bisnis penangkaran bibit kelapa sawit adalah usaha yang sangat beresiko maka diharapkan para pengambil kebijakan memahami hal tersebut,” tuturnya.

 

Sumber: Industry.co.id

DIPREDIKSI PERMINTAAN MINYAK SAWIT MENINGKAT JELANG IMLEK

 

JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) Malaysia berpeluang mengalami kenaikan pada perdagangan Kamis (04/01/2018). Kenaikan harga CPO Malaysia itu didorong peningkatan permintaan dari Cina dan kenaikan harga minyak nabati lainnya.

Analis bursa komoditas PT Monex Investindo Futures, Faisyal, mengatakan, permintaan CPO dari Cina biasanya akan naik menjelang Hari Raya Imlek bulan depan. Karena itu, para trader minyak nabati di Cina mulai mengantisipasi peningkatan permintaan tersebut sejak awal tahun ini agar kenaikan harga dapat dikendalikan.

Lanjut Faisyal, para trader pasar berjangka di Kuala Lumpur berpendapat, pasar minyak nabati global saat ini sedang bereaksi terhadap antisipasi peningkatan ekspor ke depan. “Itu karena ekspor CPO Malaysia meningkat antara 6-9% pada Desember 2017. Sementara itu, kenaikan ekspor tersebut diprediksi bakal terus berlanjut di sepanjang Januari 2018 karena peningkatan permintaan dari Cina,” papar Faisyal, seperti dikutip InfoSAWIT dari Industry.co.id.

Seperti diketahui, Cina adalah importir CPO terbesar kedua di dunia setelah India. Para trader di Cina akan meningkatkan cadangan CPO mereka menjelang Hari Raya Imlek untuk mengantisipasi kenaikan permintaan untuk keperluan memasak. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

PERKUAT PERDAGANGAN MINYAK SAWIT, INDIA BUKA AKSES PASAR

 

 

 

JAKARTA – Merujuk data dari kedutaan besar India untuk Indonesia, perdagangan India-Indonesia sebagian besar didominasi oleh komoditas minyak sawit. Indonesia merupakan eksportir sawit terbesar bagi India. Hal yang sama, India juga merupakan pengimpor komoditas sawit Indonesia terbesar bahkan mengalahkan Uni Eropa.

Masih merujuk catatan data kedutaan besar India untuk Indonesia, perdagangan India-Indonesia pada periode Januari hingga Oktober 2017 mencapai US$14 miliar. Hanya saja bagi India kondisi perdagangan kedua negara kerap defisit rata-rata per tahunnya berkisar US$10 miliar, dengan surplus pada Indonesia.

Sebab itu menurut Menteri Luar Negeri India, Sushma Swaraj, cara terbaik untuk mengatasi defisit perdagangan tersebut adalah dengan memperluas keluar masuknya barang dan jasa antara kedua negara. “Pentingnya mengatasi defisit perdagangan yang tinggi antara India dan Indonesia. Caranya dengan tidak membatasi perdagangan,” ucap Swaraj dihadapan media, Jumat (5/1/12) di Jakarta.

Selain perdagangan, Swaraj mengatakan, India dan Indonesia telah sepakat meningkatkan hubungan aviasi, salah satunya dengan membuka jalur penerbangan langsung Jakarta ke New Delhi.

Menurut Swaraj, dengan adanya penerbangan langsung antara kedua negara diharapkan mampu mempermudah konektivitas sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan kedua negara.

Sementara itu dikatakan Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, Indonesia akan berkomitmen memperkuat dan meningkatkan kemitraan strategis dengan India. Bahkan kedua negara juga setuju mengintensifkan implementasi India Indonesia Eminent Persons Group (II-EPG) sebagai road map dan visi untuk meningkatkan dan memperdalam kemitraan strategis kedua negara. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com