Melakukan Transformasi Perekonomian Dari Tak Berkelanjutan Menjadi Berkelanjutan (Bagian XI)

 

Perkebunan kelapa sawit juga meningkatkan biomas dan stok karbon lahan sehingga lahan perkebunan tidak berubah menjadi tandus. Semakin luas, meningkat produksi CPO dan semakin tua kebun sawit, semakin besar volume standaing biomas dan bahan organik pada zonaperakaran kebun sawit.

Perkebunan kelapa sawit memiliki sistem konservasi tanah dan air berkelanjutan berupa stuktur pohon dan canopy, cover crop, daur ulang biomas dan sistem biopori perakaran sawit. Kebun sawit ternyata relatif hemat air, baik diukur dengan indikator evapotranspirasi maupun kebutuhan air untuk setiap satuan bioenergi yang dihasilkan. Selain itu, polusi tanah dan air pada kebun sawit lebih rendah dibandingkan dengan tanaman minyak nabati lain.

Biodiesel sawit menghemat 62 persen  emisi CO2 diesel, sehingga lebih baik dibandingkan biodiesel berbahan kedelai, rapeseed dan bunga matahari. Pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit dengan teknologi biogas menurunkan emisi karbon dan menghasilkan biogas dan biolistrik.

Sumber:  Industri Minyak Sawit Kalimantan Timur Berkelanjutan, GAPKI.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

Mengolah Limbah Sawit Jadi Bioplastik

Teknologi pengolahan kelapa sawit dikembangkan. Hasilnya, ada sekitar 200 produk turunan bisa dibuat industri, termasuk bioplastik, dihasilkan dari tandan kosong kelapa sawit. Bioplastik bisa mereduksi plastik dari minyak bumi yang tak ramah lingkungan.

 

Kelapa sawit tergolong pesat pemanfaatannya. Pengembangan teknologi prosesnya telah mencapai tahap nirlimbah. Hampir 100 persen sumber daya hayati ini, mulai dari minyak mentah hingga limbahnya, dapat diolah menjadi produk komersial bernilai tambah ekonomi.

Belakangan ini, fokus penelitian Iebih banyak diarahkan pada pengolahan limbah kelapa sawit yang meliputi tandan kosong, serat, cangkang, pelepah, dan batang pohon sawit Jumlahnya mencapai 80-90 persen dari volume hasil perkebunan kelapa sawit.

Selama ini sebagian limbah kelapa sawit sudah dimanfaatkan. Sebagai contoh, cangkang dan serat kepala sawit digunakan sebagai bahan bakar pabrik. Adapun pelepahnya untuk mulsa.

Bagian lain yang saat ini dalam tahap optimalisasi pengolahannya, terutama adalah tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Volume TKKS di Indonesia sangat melimpah, diperkirakan mencapai 27,6 juta ton. Sebagian besar TKKS ini belum dimanfaatkan, hanya ditimbun atau dimanfaatkan sebagai mulsa dan kompos. Padahal, pada TKKS itu terkandung selulosa sekitar 40 persen atau 11 juta ton. Hal itu dapat menjadi bahan baku berbagai produk, seperti kertas, rayon, dan bioplastik.

Pusat Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak tahun 1994 meneliti pemanfaatan serat tandan kosong kelapa sawit untuk menghasilkan kertas. “Dari setiap kilogram TKKS, sekitar 40 persen di antaranya dapat diolah menjadi pulp sebagai bahan baku kertas karton, kertas koran, dan kertas buram untuk pembungkus,” kata Indra Budi, perekayasa dari Pusat Agroindustri BPPT.

Riset pemanfaatan TKKS belakangan juga banyak dilakukan untuk menghasilkan bioplastik. Hal itu dilakukan karena nilai tambahnya yang besar sekaligus untuk mereduksi penggunaan plastik dari bahan bakar fosil atau petrokimia yang sulit terurai di alam sehingga menimbulkan masalah global.

Apalagi sejauh ini jumlah penggunaan plastik dari bahan bakar fosil atau petrokimia terus meningkat. Dalam hal ini, Indonesia menjadi sorotan dunia sebagai negara terbesar kedua yang menyumbang volume sampah plastik di lautan, yaitu 187,2 1 juta ton, setelah China yang membuang 262,9 juta ton.

Riset bioplastik

Penelitian tentang bioplastik di Pusat Penelitian Kelapa sawit dilakukan Tjahjono Herawan sejak 2010. Untuk menghasilkan bioplastik, ia mengolah selulosa atau serat dengan mencampur asam palmitat turunan dan minyak mentah kelapa sawit“Sayangnya, plastik transparan yang dihasilkan masih rapuh sehingga riset akan dilanjutkan untuk meningkatkan elastisitasnya,” kata Tjahjono.

Pembuatan bioplastik dari TKKS juga menjadi tema riset di Lembaga Ibnu Pengetahuan Indonesia. “Riset tersebut berkolaborasi dengan peneliti dari Universitas Kobe, Jepang, melalui proyek Satreps,” ungkap Yopi Su-narya, peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI.

Pembuatan bioplastik dari TKKS dilakukan dengan mengurai selulosa secara enzimatis menjadi gula monomer. Zat gula ini dicerna oleh mikroba atau kapang (yeasi) menjadi asam laktat Mikroba super menjadi kunci keberhasilan proses tersebut Dalam hal ini, LIPI sudah berhasil merekonstruksi rekombinan mikroba itu memakai mikroba koleksi lokal. “Target kami adalah mendapatkan hasil 40-50 gram per liter,” kata Yopi.

Selanjutnya, larutan asam di-polimerisasi menjadi poli asam laktat yang disebut bioplastik. Riset polimerisasi itu melibatkan peneliti di Pusat Penelitian Kimia LIPI, antara lain Yenny Meliana, Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian.

Kelompok Penelitian Kimia Polimer LIPI telah menghasilkan komposit bioplastik dari bahan lignin TKKS yang berperan seperti lem yang mengikat sel-sel.

“Bioplastik dari lignin berwarna kecoklatan bisa dibuat polibag tanaman,” ujarnya.

Bioplastik juga dapat dibuat dari selulosa TKKS melalui reaksi esterifikasi untuk mengurai selulosa menjadi bahan plastik berukuran mikro dan nano, yaitu nano kristalin selulosa (CNQ dan nano fibril selulosa (NFC). Nano selulosa bisa meningkatkan kualitas dan sifat fisik bioplastik. Proses ini masih relatif baru dan membutuhkan teknologi tinggi, energi yang besar, dan rende-mennya kecil.

Produk-produk bioplastik dari nano selulosa diarahkan pada produk-produk plastik yang memiliki nilai jual tinggi. Bioplastik dari kedua bahan ini lebih kuat dan berwarna transparan. “Teknologi pembuatan bioplastik dari TKKS dihasilkan LIPI pada tahun 2015. Namun, saat ini belum ada industri yang menerapkannya,” kata Yenny.

Delignifikasi

Penelitian bioplastik juga dilakukan Isroi dari Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia di bawah Riset Perkebunan Nusantara. Ia menerapkan proses delignifikasi, yaitu

mengurangi kandungan lignin pada selulosa memakai soda pada suhu dan tekanan tinggi. Penguraian selulosa menjadi glukosa dilakukan melalui proses hidrolisis. Glukosa kemudian difer-mentasi menjadi polihidroksi al-kanoat Beberapa proses selanjutnya dilakukan hingga menjadi polietilen. Kelemahan proses ini memerlukan energi tinggi dan bahan kimianya relatif mahal dan prosesnya cukup panjang.

Modifikasi

Selain itu, teknologi modifikasi serat selulosa juga dikembangkan untuk memperkecil ukuran sera-but selulosa Dalam 1 ton TKKS (bobot kering) bisa dihasilkan selulosa termodifikasi sampai 300 kilogram.

Bioplastik dengan kandungan selulosa mencapai 50 persen dapat dimanfaatkan untuk kemasan dan kantong plastik. Adapun bioplastik dengan kandungan 75 persen dapat digunakan sebagai pengganti styrofoam.

Saat ini pengembangan teknologi bioplastik sudah dalam uji coba skala pilot di pabrik plastik. Beberapa prototipe kemasan juga sudah dihasilkan, terutama untuk membuat kantong minyak goreng. Biji bioplastik juga sudah berhasil dibuat dalam skala percontohan. Menurut Isroi, dalam waktu satu atau dua tahun ke depan, bioplastik dari TKKS ini sudah bisa diproduksi dalam skala industri dan secara komersial.

Terkait pengembangan industri bioplastik, Direktur Pusat Teknologi Kawasan Spesifik dan Sistem Inovasi BPPT awan Sudrajat mengatakan akan membangun pabrik percontohan bioplastik berskala kecil. Hal itu merupakan bagian dari pengembangan teknopolitan di Pelalawan, Riau, yang melibatkan industri kecil dan koperasi setempat Untuk itu, kerja sama dengan Riset Perkebunan Nusantara dan Masyarakat Kelapa sawit Indonesia sedang dijajaki.

Saat ini bioplastik dengan bahan baku turunan pati telah muncul di pasaran dengan pangsa 39,1 persen dari volume total produksi plastik dunia Menurut Asosiasi Bioplastik Eropa, permintaan bioplastik di dunia akan naik dari 1,7 juta ton pada 2014 menjadi 7,8 juta ton pada 2019. Hal itu diharapkan turut memacu pengembangan bioplastik dari limbah kelapa sawit.

Yuni Ikawati

 

Sumber: Kompas

Kemdag Sawit Berkelanjutan Diakui Dunia

 

Kemenangan Indonesia atas sengketa iklan produk minyak kelapa sawit Indonesia di Lyon, Prancis menerbitkan semangat baru bagi peningkatan ekspor produk minyak sawit Indonesia dan turunannya. Diumumkan Komisi Etika Periklanan Prancis (JDP) 15 Juni 2018 lalu, kemenangan itu diharapkan bisa membuat partner bisnis industri sawit RI di Eropa lebih yakin atas bisnisnya.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan, kemenangan itu merupakan bukti bahwa bentuk kampanye anti sawit dan seluruh tindakan diskriminasi terhadap sawit tidak dibenarkan oleh sistem hukum di Uni Eropa.

Ia berharap kemenangan itu bisa berdampak positif bagi penjualan minyak sawit Indonesia. “Paling tidak, ini memberi kenyamanan bagi rekan bisnis kita di Eropa untuk tetap membeli sawit Indonesia,” tandas Joko kepada KONTAN, Sabtu (30/6).

Direktur Pengamanan Perdagangan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan (Kemdag) Pradnyawati bilang, dengan kemenangan ini, klaim Indonesia atas minyak sawit yang berkelanjutan diakui dunia.

Hal itu tak terlepas dari sejumlah bukti yang telah diajukan Indonesia, baik dalam bentuk regulasi maupun implementasi di lapangan. “Ini menjadi sebuah kampanye positif untuk minyak sawit, tidak hanya di Prancis dan Eropa, namun seluruh dunia,” ucapnya.

Menurutnya klaim bahwa minyak sawit Indonesia lebih sustainable dan ramah lingkungan terjustiflkasi oleh argumen dan bukti-bukti yang disampaikan Indonesia dalam persidangan tersebut.

Seperti diketahui perkara iklan minyak sawitIndonesia dimulai sejak Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Lyon merilis iklan minyak kelapa sawit Indonesia pada akhir tahun lalu. Dalam iklan itu disebutkan bahwa Minyak kelapa sawit Indonesia lebih berkelanjutan dan lebih ramah lingkungan.

Iklan itu kemudian diadukan ke DJP Prancis. Pelapor, yang merupakan salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) setempat mengadukan pernyataan dalam iklan sebagai sesuatu yang tidak benar dan tidak berdasar.

Setelah melewati berbagai proses JDP mengakui data dan dokumen Pemerintah Indonesia. Selama pemeriksaan DJP juga menemukan adanya evolusi undang-undang dan sertifikasi produksi minyak kelapa sawit di Indonesia. Hal itu sejalan dengan iklan itu.

Lidya Yuniartha Panjaitan

 

Sumber: Harian Kontan

Produksi CPO Mampu Tembus 21 Juta Ton Semester Pertama 2018

 

JAKARTA- Pusat Penelitian Kelapa sawit (PPKS) optimistis produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sepanjang semester 1-2018 mencapai 21,41 juta ton, atau meningkat 17,96% dari realisasi periode sama 2017 yang sebesar 18,15 juta ton.

Rinciannya, pada periode Januari-April 2018 produksi CPO mencapai 14,04 juta ton dan pada Mei-Juni 2018 diperkirakan mencapai 7,37 juta ton. Kondisi cuaca yang mendukung menjadi pemicu kenaikan produksi tersebut

Mengutip data Gabungan Pengusaha Kelapa sawit Indonesia (Gapki), produksi CPO nasional berturut-turut pada Januari-April 2018 adalah 3,41 juta ton, 3.35 juta ton, 3,65 juta ton, dan 3,62 juta ton. Sementara itu, Tun Pusat Penelitian Kelapa sawit (PPKS) Medan mengestimasikan bahwa produksi pada Mei-Juni 2018 masing-masing sebanyak 3,75 juta ton dan 3,62 juta ton. “Produksi Juni memang sedikit menurun, tapi memang begitu pola normalnya. Juga, ada pengaruh jumlah hari kerja. Pola produksi tahun ini relatif normal, yakni pada semester pertama sekitar 4045% dan semester kedua berkisar 665%,” kata Direktur PPKS Medan Hasril Hasan Siregar saat dihubungi dari Jakarta, kemarin. Sementara itu, ekspor minyak sawit nasional untuk jenis CPO, lauric oil, dan biodiesel pada semester 1-2018 diprediksi mencapai 15,98 juta ton. Untuk Januari-April 2018, ekspor CPO, lauric oil, dan biodiesel dengan mengacu data Gapki berturut-turut sebanyak 2,84 juta ton, 2,48 juta ton, 2,53 juta ton, dan 2,64 juta ton. Tim PPKS Medan mengestimasikan bahwa ekspor pada Mei dan Juni 2018 masing-masing 2,78 juta ton dan 2,71 jutat on. Per Juni 2018. stok CPO nasional diproyeksikan 3,63 juta ton yang mana produksi pada Juni 2018 diprediksi mencapai 3,62 juta ton dan konsumsi domestik diperkirakan mencapai 950 ribu ton.

Sebelumnya, Gapki memperkirakan produksi CPO nasional tahun ini bisa mencapai 40 juta ton, atau tumbuh sekitar 5% dari estimasi produksi 2017 yang sebesar 38 juta ton. Kondisi cuaca yang mendukung pertanaman sawit menjadi pemicu utama naiknya produksi komoditas perkebunan tersebut Sekjen Gapki Togar Sitanggang mengatakan, kondisi cuaca yang mendukung pada 2016-2017 akan berlanjut pada tahun ini. Pada 2016-2017 curah hujan relatif bagus, sehingga produksi naik sekitar 10%, meski terdapat juga beberapa pihak yang pesimistis kenaikan produksi tersebut mencapai 10%.

Dalam kesempatan itu, Hasril menjelaskan, penjualan bibit kelapasawit PPKS sejak Januari-Mei 2018 berturut-turut mencapai 2.632.948 kecambah, 2.114.358 kecambah, 2.511.042 kecambah, 2.201.104 kecambah, dan 2.015.496 kecambah. Hingga Mei 2018, penjualan bibit kelapa sawit PPKS Medan sudah mencapai 11.474.948. kecambah. “Pada Juni 2018, penjualan mencapai 829.007 kecambah, relatif rendah karena hanya 11 hari kerja efektif. Dengan begitu, penjualan hingga Juni 2018 sudah mencapai 12.303.955 kecambah,” kata Hasril Hasan Siregar.

Apabila dibandingkan penjualan pada semester 1-2017 yang mencapai 8,90 juta kecambah berarti terjadi peningkatan sekitar 35%. Rinciannya, penjualan bibit kelapa sawit PPKS Medan pada Januari 2017 adalah 2,00 juta kecambah, Februari 1,70 juta kecambah, Maret 1,60 juta kecambah, April sebanyak 1,40 juta kecambah, Mei mencapai 1,40 juta kecambah, dan Juni sebanyak 0,80 juta kecambah.

Hingga akhir 2018, PPKS Medan menargetkan penjualan naik sekitar 30% dari 2017. Pada awal tahun, PPKS menargetkan penjualan 2018 hanya 23 juta kecambah, namun kemudian direvisi menjadi 25 juta kecambah. Penirigkatan tersebut dilakukan karena harga yang baik pada Januari-Mei 2018 serta program Peremajaan sawit Rakyat (PSR) yang sudah tiga kali didorong langsung oleh Presiden RI, yakni di Musi Banyuasin-Sumarera Selatan, Serdang Bedagai-Sumatera Utara, dan Rokan Hilir-Riau.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia

Laporan IUCN: Kedelai Dan Rapeseed Terbukti Mengancam Keanekaragaman Hayati, Daripada Sawit

 

Ekspansi lahan kedelai dan rapeseed akan berdampak besar terhadap rusaknya  ekosistem dan keanekaragaman hayati dunia. Sementara, sawit minim resiko kerusakan. Fakta ini terungkap dalam laporan berjudul Palm Oil and Biodiversity yang diterbitkan  oleh International Union Conservation of Nature (IUCN), sebuah lembaga internasional bergerak di bidang konservasi sumber daya alam.

Laporan setebal 116 halaman ini menunjukkan bahwa pelarangan sawit untuk digantikan dengan tanaman minyak nabati lain seperti kedelai dan rapeseed, membawa dampak buruk bagi kelangsungan ekosistem dan keanekaragaman hayati global.

Mengapa minyak nabati di luar sawit lebih membahayakan ekosistem? Dalam studi tersebut disebutkan tanaman minyak nabati  seperti kedelai, bunga matahari, dan rapeseed membutuhkan lahan sembilan kali lebih luas daripada minyak sawit, untuk mencapai produktivitas yang setara. Itu sebabnya, subtitusi sawit dengan minyak nabati lain secara signifikan meningkatkan penggunaan lahan dalam skala luas. Demi pemenuhan kebutuhan minyak makan di pasar global.

“Setengah dari populasi dunia adalah konsumen minyak sawit untuk kebutuhan makanan, jika kita melarang atau memboikotnya. Maka minyak (nabati) lain yang rakus lahan akan menggantikannya,” kata Direktur Jenderal IUCN Inger Andersen, dalam situs resmi www.iucn.org, pada 26 Juni 2018.

IUCN adalah organisasi multi stakeholder yang kredibel di dunia internasional. Adapun anggotanya terdiri dari 78 negara, 112 badan pemerintah, 735 organisasi non-pemerintah dan ribuan ahli dan ilmuwan dari 181 negara. Tujuan IUCN adalah untuk membantu komunitas di seluruh dunia dalam konservasi alam, seperti dikutip dari laman wikipedia.

Inger Andersen tidak setuju boikot dan larangan penggunaan minyak sawit yang dilakukan sejumlah negara. Menurutnya, minyak sawit perlu tetap ada namun sangat dibutuhkan tindakan bersama untuk membuat produksi minyak sawit lebih berkelanjutan, memastikan bahwa semua pihak baik pemerintah, produsen dan rantai pasok tetap melanjutkan komitmen keberlanjutan mereka.

“Apabila tanaman minyak nabati lainnya menggantikan minyak sawit, kerusakan bisa beralih kepada ekosistem di hutan tropis dan savana Amerika Selatan,” tambahnya.

Ketua Tim Penulisan Laporan dan Ketua Satuan Tugas Kelapa Sawit IUCN, Erik Meijaard memperkuat pernyataan Inger Andersen. Dalam pandangannya, apabila sawit digantikan oleh tanaman dengan kebutuhan area yang lebih luas seperti rapeseed, kedelai atau bunga matahari, maka ekosistem dan spesies alami yang berbeda dapat menderita. “Untuk menghentikan penghancuran, kita harus bekerja menuju kelapa sawit bebas deforestasi. Selanjutnya memastikan tindakan yang membatasi penggunaan minyak sawit akan memberikan konsekuensi lebih besar. Fakta ini perlu didukung oleh pemahaman ilmiah yang kuat.”

Dalam laporan dikatakan sangat dibutuhkan solusi yang fokus pada perencanaan perkebunan kelapa sawit baru yang lebih baik untuk menghindari pembukaan hutan tropis atau lahan gambut. Minyak sawit bersertifikat sejauh ini hanya sedikit lebih baik dalam hal mencegah deforestasi daripada non-sertifikasi, tetapi pendekatan ini relatif baru dan memiliki potensi untuk meningkatkan keberlanjutan. Lebih banyak upaya diperlukan untuk memastikan bahwa komitmen keberlanjutan dihormati dan pelaporan mereka transparan, tetapi masih ada permintaan minyak sawit bersertifikat.

Selain itu, pemerintah perlu membuat kebijakan melindungi hutan di negara-negara penghasil kelapa sawit serta minyak nabati lainnya. Peningkatan kesadaran konsumen di negara-negara konsumen utama seperti India, Cina, dan Indonesia, dapat meningkatkan permintaan akan minyak sawit bersertifikat.

“Ketika Anda mempertimbangkan dampak buruk minyak sawit terhadap keanekaragaman hayati dari kacamata global, sebenarnya tidak ada solusi sederhana,” kata Inger.

Laporan Palm Oil and Biodiversity disusun oleh IUCN Oil Palm Task Force (OPTF) yang terbit pada Juni 2018. IUCN membuat laporan ini sebagai tanggapan atas resolusi 2016 yang diadopsi oleh negara anggota IUCN dan Anggota non-pemerintah. Resolusi ini merupakan tindakan mitigasi dampak ekspansi sawit terhadap biodiversitas.

Melalui laporan terbaru IUCN Oil Palm Task Force diharapkan memberikan skema konstruktif untuk meningkatkan keberlanjutan dalam industri minyak sawit. Laporan ini hanya melihat dampak kelapa sawit terhadap keanekaragaman hayati, dan tidak mempertimbangkan dampak sosial atau ekonomi, yang akan dikaji pada 2019.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

Pemerintah Siap Beri Insentif Dana Pembiayaan Biodiesel ke Sektor non PSO

 

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana akan memberi insentif dana pembiayaan biodiesel ke sektor Non PSO, khususnya pada industri pertambangan. Hal ini merupakan upaya pemerintah untuk mendorong penggunaan biodiesel sebagai alternatif bahan bakar bagi industri.

“Memang (penggunaan biodiesel) masih rendah. Untuk itu, selain pemberian insentif, terdapat beberapa langkah untuk mendongkraknya,” ujar Direktur Jenderal energi baru terbarukan dan Konservasi Energi Rida Mulyana di Jakarta, Jumat.

Selain pemberian insentif, lanjut Rida, langkah-langkah tersebut diantaranya adalah implementasi biodiesel (B5) oleh PT KAI (Persero) yang akan dimulai pada bulan Juli 2018; konsinyasi biosolar pada end depot PT Pertamina (Persero); dan meningkatkan koordinasi dengan pemasok-pemasok biodiesel utama seperti Pertamina dan AKR Corporindo, dengan kuota masing-masing sebesar 1,426 juta kL untuk Pertamina dan 30 ribu kL.

Rida melanjutkan, pihaknya mengusulkan volume insentif biodiesel 2018 total sebesar 3,222 juta kL. Jumlah tersebut terbagi menjadi tiga sektor, yakni PSO Kereta Api (3,002 juta kL), kereta api (20 ribu kL), dan non PSO pertambangan (200.000 kL).

Direktur Penyaluran Dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa sawit (BPDPKS) Edi Wibowo menambahkan, untuk periode Mei hingga Oktober 2018, insentif biodiesel sebesar 1,46 juta kL. “Masih terbatas di sektor jenis BBM tertentu (JBT) atau PSO dan pembangkit listrik PLN,”
ujarnya.

Edi melanjutkan, pembiayaan insentif biodiesel untuk 2018 telah dianggarkan sebesar Rp.9,8 triliun, dengan target volume biodiesel sebesar 3,22 juta kL.

“Tahun ini, pemberian insentif biodiesel akan diperluas ke sektor non PSO,” pungkasnya.

Kementerian ESDM menerbitkan Peraturan Menteri ESDM No.12 tahun 2015 tentang penyediaan, pemanfaatan, dan tata niaga BBN sebagai bahan bakar lain. Tujuan Permen ini adalah untuk mendukung ketahanan energi
nasional, mengurangi konsumsi bahan bakar fosil, dan mengurangi emisi gas rumah kaca.

 

Sumber: Antaranews.com

Ketika Indonesia dan Malaysia Melawan Kampanye Negatif Kelapa Sawit

 

JAKARTA, – Salah satu hal yang dibahas dari pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad hari Jumat (29/6/2018) adalah melawan kampanye negatif produksi minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) asal Asia oleh negara-negara Eropa.

Menurut Mahathir, Malaysia dan Indonesia perlu bekerja sama memperjuangkan CPO karena tudingan Eropa bahwa produksinya merusak lingkungan tidaklah benar.

“Kita menghadapi masalah yang sama. Misalnya ekspor minyak kelapa sawit sekarang diancam oleh Eropa. Kita perlu bersama-sama melawan,” kata Mahathir di Istana Presiden, Bogor, Jawa Barat.

Mahathir juga meyakini, alasan Eropa melakukan kampanye negatif terhadap CPO asal Asia lebih kepada motif bisnis semata. Hanya saja, selama ini alasan yang dikemukakan selalu masalah lingkungan yang dibantah baik oleh Malaysia maupun Indonesia sendiri.

Bentuk kerja sama Malaysia dengan Indonesia dalam hal melawan kampanye negatif CPO akan dibahas lebih lanjut pada forum tingkat menteri yang akan datang. Dari dalam negeri, Kementerian Perdagangan terus berupaya melawan kampanye negatif CPO dari Eropa, salah satunya dengan memenangkan gugatan iklan minyak kelapa sawit di Perancis, baru-baru ini.

Berdasarkan keputusan resmi Komisi Etika Periklanan Perancis, dinyatakan bahwa iklan minyak kelapa sawit yang dipublikasikan Indonesia Trade Promotion Center di Lyon tidak melanggar aturan. Isi iklan yang dilaporkan adalah tentang minyak kelapa sawit Indonesia yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Saat itu, pelapor mengadukan pernyataan dalam iklan sebagai hal yang tidak benar dan tidak berdasar. Namun, berdasarkan pemeriksaan kasus, tudingan pelapor dinyatakan tidak terbukti karena Indonesia sudah memakai cara produksi yang berkelanjutan serta ramah lingkungan.

Indonesia merupakan anggota Roundtable on Sustainable palm oil (RSPO) yang dibentuk tahun 2004. RSPO berperan menginformasikan tentang minyak kelapa sawit yang lestari serta sistem sertifikasi minyak kelapa sawit.

Indonesia juga membuat komitmen kepada Uni Eropa melalui proyek minyak kelapa sawit berkelanjutan Eropa tahun 2015. Proyek itu diadakan untuk membantu meningkatkan kepatuhan terhadap standar sertifikasi sesuai definisi RSPO.

 

Sumber: Kompas.com

Pemerintah akan ke PBB Bicara Pentingnya Sawit Kurangi Kemiskinan

 

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menerangkan, pemerintah akan menyuarakan masalah sawit dalam pertemuan Perserikatan Bangsa-bangsa September mendatang. Dia mengatakan sawit memiliki peran penting dalam pengentasan kemiskinan.

“Nanti September di PBB menyangkut masalah dampak dari phasing out terhadap kemiskinan. Jadi SDG-s itu kan dibentuk negara-negara maju di Indonesia itu kelapa sawit itu sangat berpengaruh terhadap perbaikan kemiskinan terutama di small holders. Jadi gini ratio Indonesia itu dari hasil penelitian banyak turun salah satunya karena palm oil,” jelas dia di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Jakarta, Jumat (29/6/2018).

Dengan kondisi itu, dia mengatakan, Indonesia ingin ikut menentukan kriteria pemanfaatan minyak sawit hingga 2030. Luhut bilang, penentuan kriteria implementasi pada Februari tahun depan.

“Kita jangan terima kriteria saja, lu harus lihat kriteria kita juga. Oleh karena itu dalam pertemuan nanti Agustus, maupun nanti di PBB dan ujungnya di COP23 di Polandia. Sehingga saat Februari tahun depan kita berharap ingin posisi kita sudah lebih bagus,” ujarnya.

Dia mengatakan, minyak sawit merupakan sesuatu yang penting bagi Indonesia. Sebab, Indonesia ke depannya bergantung pada minyak sawit.

“Pendapatan negara terbesar ke depannya adalah palm oil. Kita ingin menunjukkan ke dia, kita nggak akan menambah lahan, tapi kita mau replanting, sehingga produktivitas lahan small holders yang kira-kira 2 ton per hektar itu bisa menjadi 6-8 ton per hektar,” terang Luhut. (hns/hns)

 

Sumber: Detik.com

Mahathir Ajak Jokowi Melawan Kampanye Hitam Eropa

 

Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad mengungkap bahwa negaranya dengan Indonesia memiliki persoalan yang sama yakni kampanye hitam terhadap ekspor minyak kepala sawit atau crude palm oil (CPO).

Saat ini, kata pemimpin 93 tahun itu, ekspor minyak kelapa sawit dari kedua negara terancam oleh Eropa. Bahkan, dia mengajak Presiden Ketujuh RI bersama-sama melakukan perlawanan.

“Dan juga perlu bersama-sama melawan hujah mereka bahwa minyak kelapa sawit ini didapati daripada hutan-hutan yang telah ditebang oleh pengusaha. Dan oleh karena itu dia mempunyai kesan yang buruk kepada cuaca (perubahan iklim-red). Ini tidak benar sama sekali,” ucap Mahathir.

Mahathir menuturkan bahwa Malaysia maupun Indonesia sama-sama memerlukan kawasan yang luas untuk rakyat dalam rangka mendapatkan hasil yang lebih banyak untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bahkan, hal serupa menurutnya juga terjadi di Eropa.

“Kita semua ingat bahwa di Eropa, negara mereka juga dahulu ditutupi dengan hutan. Tetapi mereka sudah tebang hampir semua hutan mereka. Tidak ada siapa yang membantah. Dan kita juga tidak membantah. Tetapi kali ini apabila kita perlu kepada kawasan yang lebih luas maka mereka mendakwa bahwa ini mencermarkan iklim,” sebutnya.

Di sisi lain, tambahnya, Eropa juga mengetahui bahwa minyak kelapa sawit ini bersaing dengan minyak-minyak dari negara-negara lain. Mahathir menduga negara-negara Eropa lebih mengkhawatirkan tantangan ekonomi dan keuangan mereka dibanding masalah lingkungan. (fat/jpnn)

 

Sumber: Jpnn.com

RI Harapkan Dukungan Belanda soal sawit

 

Rencana kunjungan Menteri Luar Negeri Belanda Stef Blok ke Indonesia pada 2-4 Juli mendatang, atau untuk pfertama kalinya setelah menjabat, bisa dijadikan momentum bagi Indonesia untuk mendapatkan dukungan dari Belanda terkait dengan persoalan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO).

“Meskipun hubungan menghangat dalam isu kelapa sawit, kita mendapatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan dukungan dari Belanda. Sekiranya Belanda bisa memengaruhi negara-negara Eropa lainnya agar turut mempromosikan kelapa sawit Indonesia,” ungkap Direktur Eropa I Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Dino R Kusnadi dalam press briefing, di Kantor Kemenlu, Jakarta, kemarin. Hadir pula pada kesempatan itu juru bicara Kemenlu Arrmanatha Nasir.

Dino menjelaskan aksi-aksi diskriminatif terhadap kelapa sawit yang sedang marak di Eropa dapat diatasi para pemegang saham di Belanda yang menghormati keberlanjutan produksi minyak kelapa sawit Indonesia serta diikuti pelestarian lingkungan hidup di sekitar area kebun kelapa sawit di Tanah Air.

Dino menambahkan, selain persoalan minyak sawit, Indonesia akan meningkatkan kerja sama dalam menjaga kelestarian warisan maritim, atau maritime heritage, terutama mengenai isu penemuan kerangka kapal karam Belanda di Indonesia dalam kunjungan Menteri Luar Negeri Belanda tersebut.

Sebelumnya, awal pekan lalu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyebutkan berbagai aktivitas kampanye negatif terhadap CPO Indonesia telah berdampak pada penurunan ekspor produk tersebut ke sejumlah negara.

Jumlah ekspor CPO beserta produk turunannya yang tercatat pada Mei 2018 diketahui menurun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Beberapa negara yang mengalami penurunan dengan mengimpor lebih sedikit CPO dan produk turunannya dari Indonesia ialah India, Spanyol, Italia, dan Belanda.

Sebelumnya, Gabungan Pengusaha Kelapa sawit Indonesia (Gapki) mencatat kinerja ekspor minyak kelapa sawit dan produk turunannya pada Januari-April 2018 menurun 4% dari periode yang sama tahun lalu.

 

Sumber: Media Indonesia