Kemarau Basah Bakal Dukung Produksi Kelapa Sawit Nasional

InfoSAWIT, JAKARTA – Beberapa bulan terakhir di tahun 2020 ini, tanda-tanda musim kemarau mulai nampak, bahkan beberapa wilayah di Indonesia mulai merasakan musim kering, sehinga wajar bila seluruh perusahaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia pun melakukan persiapan untuk pencegahan kebakaran lahan dan hutan sekitar perkebunan kelapa sawit bekerjasama dengan masyarakat.

Namun apakah pembaca tahu bahwa tahun ini akan menjadi musim dengan tipikal kemarau basah. Merujuk ulasan dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), apakah kemudian kemarau basah akan mempengaruhi produksi kelapa sawit di Indonesia?

Menurut catatan PPKS, kemarau basah bisa diindikasikan dengan prakiraan Hari Tanpa Hujan (HTH) yang sangat pendek atau masih hujan pada musim kemarau, kondisi ini terjadi selama periode 21 Juni sampai 30 Juli 2020.

“Sebagian sentra-sentra perkebunan kelapa sawit di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi diperkirakan masih hujan, pada musim kemarau basah ini,” catat pihak PPKS yang dikutip InfoSAWIT dari laman instagram resminya.

Pada kemarau basah ini penyinaran matahari dan air dari curah hujan akan tercukupi. Pohon kelapa sawit pun memperoleh penyinaran matahari yang efektif (effective sunshine). “Kondisi ini bisa mendukung produksi kelapa sawit Indonesia,” catat pihak PPKS. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Platform Baru SIM-PSR Dan SIM-PPSR (4.0) Membangun Daya Saing Industri Berbasis Sawit Rakyat Berkelanjutan

 Industri Sawit Sumber Kemakmuran

Indonesia negeri harapan, anugerah Tuhan dengan kelimpahan sumber daya alam yang luar biasa, salah satunya adalah kelapa sawit. Saat ini kelapa sawit menjadi komoditas strategis bagi negara dan sumber kemakmuran petaninya. Kelapa Sawit merupakan komoditas yang berkontribusi terhadap perekonomian nasional dan  mampu meningkatkan kesejahteraan petani di Indonesia sekaligus memakmurkan masyarakat di wilayahnya.

Perkebunan sawit rakyat telah mengangkat keragaan petani berpendapatan rendah menjadi petani berpendapatan menengah dan tinggi. Sampai kapan hal ini bisa berlangsung? Pertanyaan ini menjadi relevan mengingat kejayaan petani komoditas di Indonesia dalam jangka panjang sering tidak bisa berkelanjutan, seperti karet, cengkeh, tembakau, tebu dan lainnya.

Sawit Komoditas Global

Sawit dalam dua dekade ini telah menjadi komoditas global dan penuh dinamika, Indonesia sebagai negara produsen terbesar di dunia, suka atau tidak suka harus mengikuti isu-isu  dan dinamika yang terjadi di persaingan komoditas di pasar global.  Saat ini, setidaknya kita harus menghadapi tantangan kaitannya dengan isu sustainability dan fluktuasi harga. CPO menjadi produk antara untuk industri hilir yang menjadi konsumsi masa (mass consumption). Ini menunjukan bahwa merupakan produk strategis dari komoditas, CPO untuk konsumsi pangan, energi mau pun produk turunan lainnya.

Petani sawit menjadi pelaku utama dalam sistem rantai pasok sistem industri sawit. Namun dalam prakteknya petani menjadi pelaku yang memiliki daya tawar  (bargaining position) terendah. Dalam hal ini, petani harus berhadapan dengan pasar industri input dan mengarah pasar persaingan oligopoli pada saat pemberian input sarana produksi. Pada sisi lain saat menjual hasilnya di pasar out put harus berhadapan dengan pasar oligopsoni.  Petani memiliki daya tawar (bargaining position) yang paling lemah, diapit oleh dua pasar oligopoli dan oligopsoni  dan oleh karenanya bisa terjadi praktek kemitraan yang tidak berkeadilan.

Kelembagaan Petani Sebagai Hal Utama

Untuk mengingkatkan daya tawar petani, petani harus bersatu bekerjasama dalam kelembagaan, dan tidak bisa dilakukan apa bila petani secara sendiri-sendiri. Petani harus membangun kelembagaan (organisasi) petani yang kuat sehingga pada prakteknya petani bisa memiliki daya tawar yang setara (oligopoli-oligopsoni pada pasar in put, dan oligopoli-oligopsoni di pasar out put nya). Hasil akhirnya akan terjadi keseimbangan dan kesetaraan dalam kemitraan strategis dengan harga keseimbangan yang dirundingkan agar saling menguntungkan dan saling membangun efisiensi.

Kalau hal ini bisa dilakukan maka akan terwujud sistem industri CPO yang efisien, berkeadilan dan berkelanjutan. Secara ekonomi, sustainability is competiveness, sekali lagi daya saing harus diukur efisiensi sepanjang rantai pasok dengan hasil akhir harga pokok produksi CPO yang kompetitif dan sistem pembagian keuntungan yang berkeadilan. Hal ini bisa diwujudkan jika petani bergabung dalam kelembagaan kuat, kredibel dan dapat dipercaya…..   is about trust … about clean and clear.

Program PSR Harus Sukses

Saat ini, Indonesia sedang menyelenggarakan Program Peremajaan Sawit Rakyat. Selama ini program-program diselenggarakan melalui proyek-proyek yang bersifat parsial dan kurang berkelanjutan, biasanya kalau program selesai, semuanya jadi selesai. Namun untuk PSR ini diharapkan kebun-kebun yang diremajakan pada saatnya harus memperoleh sertifikat ISPO. Dengan cara kerja dan model penyelenggaraan program cara-cara lama, apa kah program ini bisa berkelanjutan untuk memenuhi janji sertifikat ISPO.

Saat ini pendekatan penyelenggaraan pembangunan seperti itu sudah selayaknya sudah harus berubah. Sebuah pembangunan harus berkelanjutan, sehingga biaya pembangunan akan berdampak pada kesejahteraan jangka panjang bagi penerima manfaat dan berkontribusi dalam perekonomian nasional. Peremajaan sawit rakyat mengalokasikan pembiayaan yang sangat besar dengan target 500.000 hektar dalam 3 (tiga) tahun, dengan menggunakan cara-cara lama dalam penyelenggaraannya maka dampaknya dalam jang kapanjang diragukan, apa lagi kalau penyelenggaraannya lebih fokus untuk mengejar target penyelesaian. Untuk dapat berhasil dengan baik, dibutuhkan cara-cara baru, sistem proses baru, manajemen baru dengan memanfaatkan teknologi baru yang tersedia.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

Infrastruktur, Cara Kerja, dan SDM Kompetitif Prasyarat Indonesia Jadi Negara Berpenghasilan Tinggi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan bahwa untuk menjadi Bangsa berpenghasilan tinggi membutuhkan prasyarat di antaranya infrastruktur efisien, cara kerja dan SDM yang kompetitif.

Hal tersebut disampaikan Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada Pembukaan Konferensi Virtual Forum Rektor Indonesia (FRI), Sabtu (4/7), dari Istana Kepresidenan Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Kepala Negara menyampaikan bahwa Bank Dunia mengumumkan laporan pada tanggal 1 Juli 2020, gross national income per kapita Indonesia naik dari posisi sebelumnya USD3.840 menjadi USD4.050 sehingga posisi gross national income naik dari lower middle income menjadi upper middle income country.

“Capaian ini patut kita syukuri bahwa kita berjalan ke arah yang benar, bahwa kita harus terus melangkah maju menuju ke negara berpenghasilan tinggi, dengan mengedepankan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujar Presiden.

Menurut Presiden, menjadi negara berpenghasilan tinggi bukanlah hal yang mudah. Ia menambahkan bahwa banyak negara-negara dunia ketiga yang sudah puluhan tahun bahkan mendekati satu abad hanya berhenti sebagai negara berpenghasilan menengah.

“Artinya, mereka terjebak pada middle income trap. Itulah yang tidak kita inginkan,” kata Presiden.

Indonesia, menurut Presiden, miliki peluang untuk keluar dari middle income trap menjadi negara berpenghasilan tinggi.

Pemenuhan Prasyarat

Lebih lanjut, Presiden menjelaskan bahwa untuk menjadi Negara berpenghasilan tinggi, Indonesia harus memenuhi prasyarat sebagai berikut:

Satu, infrastruktur yang efisien. “Ini sudah mulai kita bangun,” ujarnya.

Dua, kerja yang cepat, kompetitif, dan berorientasi pada hasil.

Tiga, Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, produktif, inovatif, dan kompetitif.

“Di sinilah posisi strategisnya pendidikan tinggi, yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, mencetak generasi muda yang produktif dan kompetitif, yang selalu berjuang untuk kemanusiaan dan untuk kemajuan Indonesia,” jelas Presiden.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

Saat New Normal, Perusahaan Sawit Bersama Masyarakat Tetap Cegah Sebaran Covid-19

InfoSAWT, JAKARTA – Sebaran virus korona atau juga disebut dengan Covid-19, kian meluas ratusan negara tercatat telah terkena wabah ini, tak terkecuali Indonesia. Saat ini pemerintah Indonesia bahkan telah melakukan new normal, setelah sebelumnya selama hampir tiga bulan memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah di Indonesia.

Kendati sebaran virus ini mencapai 70% berada di Pulau Jawa, sementara sisanya sebnyak 30% tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, tidak lantas membuat masyarakat lengah.

Bahkan sejumlah pemerintah provinsi dan daerah mulai melakukan beragam anjuran dan tindakan untuk melakukan pencegahan termasuk memutus sebaran Covid-19 yang dinggap cukup cepat.

Mendukung upaya yang dilakukan pemerintah daerah tersebut, salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit, Bumitama Gunajaya Agro (BGA) Group, melakukan sejumlah tindakan pencegahan dengan melibatkan masyarakat sekitar perkebunan milik perusahaan serta berkoordinasi dengan aparatur keamanan setempat seperti TNI dan Polri serta dinas-dinas terkait.

Langkah ini dilakukan lantaran perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu sektor yang dikelompokkan dalam industri padat karya (memerlukan jumlah pekerja tidak sedikit). Dari informasi yang didapat InfoSAWIT, BGA Group melalui anak usahanya di berbagai wilayah operasional, sejak 17 Maret 2020 lalu, telah membuat Protokol Pencegahan dan Penanganan Covid-19 di Operasional serta membentuk Tim Satgas Covid-19, yang bertujuan guna memberikan rasa aman kepada masyarakat sekitar perkebunan serta diharapkan dapat memberikan kelancaran operasional perusahaan.

Protokol Pencegahan dan Penanganan Covid-19 terdiri dari 8 Protap, antara lain;  Protokol Tentang Kehidupan Pondok & Emplasmen, Lingkungan Kerja, Penerimaan Tamu, Penerimaan TBS Eksternal di PKS, Kesehatan Staff di Estate, Mill, Traksi & Metro, Tugas Security dalam Penertiban Kebijakan Social Distancing, serta Warung Pondok dan Pedagang Keliling.

Sementara, tugas pokok Tim Satgas Covid-19 operasional yang dilakukan diantaranya; pertama, melakukan sosialisasi, edukasi dan antisipasi kepada karyawan terkait wabah Covid-19, lantas kedua, menyiapkan peralatan, bahan, tempat dan tim teknis yang dibutuhkan, serta ketiga, mengambil keputusan, secara cepat dan tepat apabila terjadi keadaan darurat.

Secara umum Tim Satgas Covid-19 ini memiliki tanggung jawab, mengkampanyekan dan mensosialisasikan tentang pencegahan Covid-19  (sesuai protap Pemerintah), membuat tim task force di masing-masing wilayah unit estate, melakukan sosialisasi dan edukasi langkah medis untuk penanganan jika terjadi Covid-19.

Rupanya tidak hanya untuk kalangan karyawan dalam upaya pencegahan sebaran Covid-19, perusahaan juga mendukung upaya masyarakat sekitar perkebunan kelapa sawit milik perusahaan untuk bersama-sama melakukan pencegahan wabah Covid-19 ini.

Bahkan perusahaan dalam mendukung pencegahan sebaran Covid-19 mensinergikan dengan program Tanggung Jawab Perusahaan (CSR), lewat Tim Satgas Covid-19, memberikan bantuan berupa alat medis (bantuan yang diberikan berupa face shield, Masker N95, aparell lokal, kacamata pelindung, safety boots, hand scoen, alat semprot, cairan disinfektan) di Kabupaten Ketapang, Kabupaten Kotim, Kabupaten Kobar dan Kabupaten Rokan Hulu pada akhir Maret dan awal April 2020 lalu. Dilanjutkan dengan bantuan berupa alat  inter pump (semprotan) dan cairan disinfektan serta tempat cuci tangan yang diberikan ke masyarakat dan dinas terkait.

Tidak hanya memberikan bantuan, upaya sosialisasi juga dilakukan Tim Satgas Covid-19. Dari informasi perusahaan guna suksesnya sosialisasi, Tim Satgas Covid-19 melakukan pemasangan Banner pencegahan Covid-19 di desa sekitar perkebunan kelapa sawit milik perusahaan, serta di depan gerbang utama BGA yang dekat dengan jalan poros. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Harga CPO di Jambi naik Rp199, tembus di atas Rp7.000/kg

Jambi (ANTARA) – Harga minyak sawit mentah (CPO) di Provinsi Jambi pada periode 3-9 Juli 2020 mengalami kenaikan signifikan Rp199 per kilogram dibandingkan periode sebelumnya yakni dari Rp6.851 menjadi Rp7.050 per kilogram.

“Sedangkan hasil yang ditetapkan tim perumus, untuk harga inti sawit naik tipis hanya Rp7 dari Rp3.756 menjadi Rp3.763 per kilogram, dan harga Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit pada periode kali ini juga naik tipis hanya Rp30 dari Rp1.142 menjadi Rp1.172 per kilogram,” kata Pejabat Penetapan Harga TBS Sawit Provinsi Jambi, Putri Rainun, di Jambi, Sabtu.

Untuk harga CPO, inti sawit dan TBS sawit beberapa periode terakhir ini sempat turun pada beberapa waktu periode lalu dan pada periode kali ini terjadi kenaikan berdasarkan hasil keputusan dari kesepakatan tim perumus harga CPO di Jambi bersama para petani, perusahaan perkebunan sawit, serta pihak terkait.

Berikut selengkapnya, harga TBS untuk usia tanam 3 tahun yang ditetapkan untuk periode kali ini adalah Rp1.172 per kilogram, usia tanam 4 tahun Rp1.242 per kilogram, usia tanam 5 tahun Rp1.300 per kilogram, usia tanam 6 tahun Rp1.355 per kilogram, dan usia tanam 7 tahun Rp1.389 per kilogram.

Kemudian untuk usia tanam 8 tahun senilai Rp1.418 per kilogram, usia tanam 9 tahun Rp1.447 per kilogram, usia tanam 10 sampai dengan 20 tahun Rp1.489 per kilogram, usia 21 hingga 24 tahun Rp1.443 per kilogram dan di atas 25 tahun Rp1.374 per kilogram.

Penetapan harga CPO, TBS, dan inti sawit, merupakan kesepakatan tim perumus dalam satu rapat dihadiri para pengusaha, koperasi, kelompok tani sawit setempat, serta berdasarkan peraturan menteri pertanian dan peraturan gubernur.

 

Sumber: Antaranews.com

Harga TBS Sawit Jambi Periode 3-9 Juli 2020 Naik Rp 37,54/Kg

 

InfoSAWIT, JAMBI – Merujuk hasil dari tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Jambi, harga TBS Kelapa Sawit Provinsi Jambi periode 03  s/d  09 Juli 2020, telah menyepakati harga sawit umur 10 – 20 tahun naik Rp 37,54/Kg menjadi Rp Rp 1.489,61/Kg.

Berikut harga sawit Jambi berdasarkan penelusuran InfoSAWIT,  sawit umur 3 tahun Rp Rp 1.172,98/Kg; sawit umur 4 tahun Rp 1.242,69/Kg; sawit umur 5 tahun Rp 1.300,62/Kg; sawit umur 6 tahun Rp 1.355,54/Kg; sawit umur 7 tahun Rp 1.389,86/Kg; sawit umur 8 tahun Rp 1.418,55/Kg.

Sementar sawit umur 9 tahun Rp 1.447,04/Kg dan sawit umur 10-20 tahun Rp Rp 1.489,61/Kg, sawit umur 21-24 tahun Rp 1.443,34/Kg, dan sawit umur 25 tahun Rp 1.374,46/Kg. Dimana harga minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp 7.050,60/Kg dan harga Kernel Rp 3.763,25/Kg dengan indeks K 85,59%. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Kementan Targetkan Produksi Minyak Sawit di 2021 Capai 52,1 Juta ton

InfoSAWIT, JAKARTA – Dikatakan Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono, saat ini Kementan memiliki enam fokus kegiatan utama untuk Tahun Anggaran di 2021. diantaranya pengembangan logistik benih, peningkatan produktivitas, optimasi lahan, peningkatan nilai tambah daya saing dan pangsa pasar.

“Selanjutnya kita akan fokus pada modernisasi perkebunan, optimalisasi stakeholder, serta peningkatan kapasitas SDM dan kelembagaan ekonomi pekebun,” katanya pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI, dalam keterangan tertulis diterima InfoSAWIT, belum lama ini.

Dari semua progam yang disiapkan tersebut, kata Kasdi, pihaknya menargetkan peningkatan produksi minyak kelapa sawit sebesar 52.120.800 ton, kopi sebesar 834.750 ton dan karet sebesar 3.528.300 ton.

Sebagai informasi, RDP ini dihadiri Sekertaris Jenderal Momon Rusmono, Inspektorat Jenderal Sumardjo Gatot Irianto, Kepala Badan Litbang Pertanian Fadjry Djufry, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Dedi Nursyamsi, dan Direktorat Peternakan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita. (T2)

 

 

Sumber: Infosawit.com

Menko Airlangga Minta Dukungan Eropa Hadapi Kampanye Negatif Sawit

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerima kunjungan Duta Besar Uni Eropa (UE) untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Vincent Piket. Pertemuan membahas antara lain mengenai ekspor dan impor antara kedua pihak, perkembangan Indonesia – UE Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), serta rencana keikutsertaan Indonesia sebagai Partner Country pada acara Hannover Messe 2020.

Menko Airlangga mengatakan, kejadian pandemi Covid-19 telah menimbulkan efek yang sangat mempengaruhi hubungan bilateral di antara kedua negara. Dengan memasuki fase “normal baru” maka diperlukan juga kerja sama di antara negara-negara yang terkena imbas Covid-19. UE merupakan salah satu partner dagang dan investasi yang utama bagi Indonesia.

“Meskipun saat ini sedang ada tantangan dalam hubungan ekonomi antara Indonesia dan UE, tapi kami percaya masih ada potensi yang hebat, serta kesempatan dagang dan investasi yang masih bisa dieksplorasi lagi,” jelas Menko Airlangga, di Jakarta – Selasa (30/6).

Menko Perekonomian juga mendukung kolaborasi antara Indonesia dan UE untuk memproduksi vaksin Covid-19 melalui skema co-production dan sharing biaya. “Saat ini, Pemerintah Indonesia sedang menyiapkan insentif pajak super deduksi (sampai 300%) untuk perusahaan-perusahaan farmasi yang mengembangkan vaksin Covid-19 di Indonesia.”

Sedangkan, ujar Menko Airlangga, untuk mendorong perdagangan bilateral, masing-masing pihak harus mengeliminasi dan mengurangi perhitungan tarif dan non-tarif antara keduanya, khususnya untuk produk makanan dan peralatan medis. UE dan beberapa negara anggota juga telah memberikan bantuan kepada Indonesia untuk penanganan pandemi Covid-19, antara lain alat pelindung diri (APD), serta dana hibah untuk penguatan sektor kesehatan di Indonesia.

“Kita juga harus menguatkan kerja sama ekonomi digital dalam “normal baru”, melalui e-commercee-health dan e-learning,” ucapnya.

Tantangan dari UE untuk Minyak Sawit dan Nikel

Data menunjukkan komoditas ekspor UE ke Indonesia mayoritas terdiri dari produk alkohol dan turunan susu, sementara ekspor Indonesia ke UE sebagian besarnya adalah minyak sawit, stainless steel, dan nikel.

Sebagai komoditas ekspor utama Indonesia ke UE, minyak sawit memang sedang menghadapi banyak tantangan di pasar Eropa. Industrinya tengah menghadapi diskriminasi dan menjadi target kampanye negatif di UE, mulai dari segi lingkungan, sosial-ekonomi, hak asasi manusia dan kesehatan.

Diskriminasi terhadap minyak kelapa sawit asal Indonesia, antara lain melalui penerapan kebijakan Renewable Energy Directive (RED) II/Delegated Regulation (DR) UE dan aturan turunannya; serta pengenaan bea masuk anti dumping bagi produk minyak kelapa sawit oleh UE.

Indonesia pun sebenarnya telah merilis Keputusan Presiden (Keppres) untuk meningkatkan standar pengelolaan industri kelapa sawit, melalui sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) serta National Action Plan of Sustainable Palm Oil. “Rencana aksi tersebut sudah dibicarakan oleh beberapa stakeholder terkait dalam sesi diskusi yang transparan dan berimbang,” tegas Menko Airlangga.

Buktinya, ISPO sudah diakui dan bahkan dipromosikan oleh Komite Olimpiade Tokyo 2020, bersama dengan RSPO dan MSPO. Hal ini menunjukkan bahwa ISPO sudah diakui secara internasional, khususnya negara konsumen.

“Jadi, kami meminta dukungan Anda untuk menghadapi kampanye negatif tersebut, dan memperbaiki komunikasi antara Indonesia dan EU,” tutur Menko Airlangga.

Sementara untuk komoditas nikel, ada gugatan UE terhadap kebijakan pelarangan ekspor nikel Indonesia melalui forum Dispute Settlement World Trade Organization (WTO) (DS 592). Proses konsultasi dengan UE telah dilakukan di WTO, Jenewa Swiss pada 30 Januari 2020 yang dipimpin Wakil Menteri Perdagangan RI.

Indonesia dan UE juga tengah memfinalisasi rangkaian perundingan Indonesia-UE CEPA, yang terakhir diselenggarakan putaran ke-10 intersessional secara virtual pada 15-26 Juni 2020. Sebagai bentuk kerja sama ekonomi yang komprehensif, CEPA nantinya akan memberi dampak positif bagi hubungan ekonomi, perdagangan dan investasi kedua pihak.

“Kami percaya penyelesaian perundingan Indonesia-UE CEPA yang tepat waktu sesuai jadwal akan mengirim pesan kuat bagi dunia, bahwa kerja sama ekonomi yang baik antar negara tentu akan membawa hasil positif bagi kepentingan ekonomi masing-masing negara, terutama dalam masa penuh tantangan seperti saat ini,” ungkap Menko Airlangga.

Selain itu, Menko Perekonomian juga menyampaikan komitmen Indonesia melanjutkan persiapan untuk menjadi Partner Country di acara Hannover Messe 2020. Sebagai mana diketahui, waktu penyelengaraan Hannover Messe 2020 memang masih belum ditentukan sejak diundur pada April 2020 akibat kejadian pandemi Covid-19.

Turut hadir dan mendampingi dalam courtesy meeting ini antara lain Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Rizal Affandi Lukman, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Musdhalifah Machmud, dan perwakilan dari Uni Eropa.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

BPDP-KS Kucurkan Rp 27,5 Miliar Untuk 14 Riset Sawit

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) mengucurkan dana untuk program riset perkelapasawitan untuk memperkuat keberlanjutan industri kelapa sawit. Penandatangan 14 perjanjian penelitian tersebut seharusnya dilakukan pada Maret 2020. Tetapi ditunda sebagai dampak pandemi Covid 19 yang menyebabkan hampir semua laboratorium ditutup sehingga berdampak pada kegiatan penelitian.

“Penelitian dan pengembangan merupakan salah satu elemen penting dalam pengembangan sektor perkebunan sawit, sehingga penelitian dan pengembangan harus menjadi salah satu bagian dari proses utama dalam upaya pengembangan kelapa sawit berkelanjutan,”ujar Direktur Utama BPDPKS Eddy Abdurrachman saat memberikan sambutan dalam penandatangan yang dilakukan secara virtual, Rabu (1 Juli 2020).

Penandatanganan dilakukan secara online oleh Direktur Utama BPDPKS Eddy Abdurrachman bersama delapan lembaga penelitian dan pengembangan yaitu LPPM Institut Teknologi Bandung, LPPM Institut Pertanian Bogor, LPPM Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, LPPM Universitas Sriwijaya, Politeknik Negeri Media Kreatif dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Ada 14 perjanjian baru tersebut merupakan penelitian yang telah lolos seleksi dari total 328 proposal yang diajukan ke BPDPKS sejak tahun 2019. Total dana yang disetujui untuk 14 penelitian ini adalah sebesar Rp27,5 milliar.

Pada tahun 2020 ini BPDPKS telah menandatangani 18 perjajian penelitian, termasuk 4 penelitian melalui jalur inisiatif dari kementerian anggota Komite Pengarah BPDPKS.

Topik-topik yang didanai di antaranya, Pengembangan Nano-Structured Lipid Carrier (NLC), Pembuatan Purwarupa Superkapasitor, Perengkahan Minyak Sawit menjadi BioBTX, Pemanfaatan glycerine pitch limbah industri oleokimia, SIntetis dan Aplikasi Green Varnish untuk Tinta Cetak, Sistem Informasi Penilaian Kinerja dan Penguatan Kelembagaan Rantai Pasok Kelapa Sawit, Inovasi Kelembagaan dan Teknologi Informasi untuk Pemenuhan Hak dan Perlindungan Perempuan dan Anak.

Penelitian dan pengembangan harus mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh industri kelapa sawit saat ini, seperti peningkatan produktivitas/efisiensi, peningkatan aspek sustainability dan awareness terhadap lingkungan, dan mendorong penemuan/inovasi produk/pasar baru.

Program penelitian dan pengembangan yang didanai oleh BPDPKS diberikan melalui dua kelompok pendanaan yaitu pendanaan Program Grant Riset Sawit yang dilaksanakan oleh lembaga penelitian dan pengembangan dan Program Lomba Riset Sawit Tingkat Mahasiswa.

Dengan penandatangan perjanjian ini, sejak tahun 2015 sampai dengan Juni tahun 2020 BPDPKS telah menandatangi sebanyak 198 perjanjian kerjasama dengan 42 lembaga litbang serta 50 penelitian sawit di tingkat mahasiswa. Dari kegiatan penelitan ini telah dihasilkan 40 paten yang sudah terdaftar, 169 publikasi penelitian yang telah diterbitkan pada jurnal nasional dan internasional dan telah dicetak lima buku dari penelitian yang didanai.

 

Sumber: Sawitindonesia.com