,

GIMNI: Kampanye Hitam tak Ganggu Ekspor CPO RI

 

Pangkalan Bun – Meski terus diterpa kampanye hitam untuk minyak sawit dalam negeri, permintaan minyak sawit terus tumbuh.

“Minyak sawit tidak tergantung pendapatan, minyak nabati suatu kebutuhan yang tidak dapat dihindari,” kata Ketua Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, di Jakarta, Selasa (14/11/2017).

Pertumbuhan permintaan minyak sawit mentah (CPO) tiap tahunnya mencapai 3%. Banyak kampanye negatif dari Eropa dan Amerika, namun negara lain masih membutuhkan minyak sawit.

“Pasar domestik terus berkembang. Saat ini, Indonesia menerapkan penggunaan biodiesel mencapai 20% dan tidak perlu khawatir terhadap kampanye negatif,” papar Sahat.

Pendapatan industri CPO terus naik hingga kuartal III. Kampanye hitam dari berbagai negara tujuan ekspor tidak membuat penjualan lesu.

PT Astra Agro Lestari Tbk merupakan salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit yang penjualannya meningkat hingga kuartal III.

Program peningkatan produktivitas yang direncanakan diakui berjalan dengan baik. Hal tersebut diakui akan meningkatkan produksi hingga akhir tahun.

Penjualan emitan berkode AALI ini juga tidak terpengaruh oleh isu global dikarenakan pasar penjualan AALI berada pada dalam negeri.

Pendapatan bersih AALI hingga kuartal III tahun ini naik dibandingkan tahun lalu. Sedangkan pendapatan bersih AALI periode Januari hingga September 2017 sebesar Rp 12,49 triliun.

Sementara pada periode yang sama tahun lalu, AALI mencatatkan pendapatan sebesar Rp9,58 triliun.

 

Sumber: Borneonews.com

Harga CPO Naik, Produsen Jaga Produktivitas Kebun sawit

 

JAKARTA. Gabungan Pengusaha Kelapa sawit Indonesia (GAPKI) mencatat harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) melambung tinggi pada September 2017. Kenaikan harga CPO karena stok minyak sawit yang menipis. Berdasarkan catatan GAPKI, harga CPO pada bulan September naik rata-rata 7% atau sebesar US$ 724,9 per metrik ton dari sebelumnya US$ 676 per metrik ton.

Kondisi ini membawa berkah bagi produsen sawit dalam negeri. Salah satu produsen sawit yakni PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk. Untuk memaksimalkan berkah kenaikan harga CPO tersebut, perusahaan dengan kode emiten UNSP ini bakal menjaga agar tingkat produktivitas mereka tetap stabil.

“Bagi produsen Tandan Buah Segar (TBS) dan CPO yang terpenting adalah menjaga produktivitas TBS dan ton CPO per hektare lahan,” ujar Direktur Investor Relations UNSP Andi VV. Setianto kepada KONTAN, Senin (13/11).

Andi bilang, peningkatan produktivitas kepala sawit dapat menekan biaya produksi TBS dan CPO. Namun, kenaikan harga CPO juga tetap memiliki pengaruh ke penjualan industri. Harga yang semakin tinggi akan meningkatkan pendapatan industri.

Andi bilang, kenaikan harga CPO akan membuat pendapatan perusahan terdongkrak. Apalagi saat ini, UNSP juga tengah berupaya meningkatkan produksi TBS menjadi 8 ton per hektare (ha) dari sebelumnya 3 ton per ha.

Sementara itu, Sekretaris PT Eagle High Plantation Tbk (BWPT) Satria Budi Wibawa mengatakan kenaikan harga CPO baru dapat akan terlihat di akhir tahun. “Apalagi saat ini, harga CPO dunia masih belum stabil. Bahkan prediksi bagaimana harga CPO tahun depan pun masih belum bisa ditebak,” ujarnya.

Togar Sitanggang, Sekjen Gapki mengatakan, ekspor minyak sawit Indonesia pada bulan September turun sebesar 7,5% atau sebesar 2,76 juta ton dibandingkan bulan Agustus yang sebesar 2,98 juta ton. “Kondisi ini membuat pasar minyak sawit terus bergeliat karena kurangnya pasokan dari minyak nabati lainnya di pasar global,” ujarnya.

Sementara, India dan China terus mengisi stok minyak nabati di dalam negeri mereka. Kedua negara ini pada bulan September lalu mencatatkan permintaan minyak sawit masing-masing sebesar 370,470 ton dan 650.750 ton.

 

Sumber: Harian Kontan

Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke India dan China Akan Bertambah

 

Jakarta – Indonesia berharap pasar minyak sawit di India dan China akan meningkatkan ekspor hingga akhir tahun ini. Berdasarkan data GAPKI, ekspor di bulan September turun 7,5% menjadi 2,76 juta ton daripada Agustus yaitu berjumlah 2,98 juta ton.

Sekjen GAPKI, Togar Sitanggang mengatakan pasar minyak sawit masih terus bergeliat karena kurangnya pasokan dari minyak nabati lainnya di pasar global. India dan China masih terus mengisi stok minyak nabati di dalam negerinya yang mulai menipis meskipun pada September ini tercatat penurunan permintaan dari China dan India masing-masing 17,5% dan 17%.

“Secara volume impor kedua negara tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia ini masih tinggi yaitu masing-masing mencatatkan permintaan di September ini sebesar 370,47 ribu ton dan 650.75 ribu ton,” jelas Togar.

Di sisi lain, beberapa negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia mencatatkan peningkatan permintaan pada bulan September yang cukup tinggi yaitu negara-negara Timur Tengah naik 26%, dan Pakistan naik 9%. Sedangkan di negara-negara Uni Eropa hanya membukukan kenaikan permintaan pada September ini sebesar 1%.

Sementara itu, produksi minyak sawit Indonesia (CPO dan PKO) sepanjang September 2017 menembus 4 juta ton. Angka ini merupakan angka produksi tertinggi sepanjang tahun 2017 dan peningkatan produksi ini merupakan siklus panen raya tahunan.

Sepanjang September 2017, produksi minyak sawit Indonesia tercatat 4,03 juta ton atau naik 2% dibandingkan Agustus lalu di 3,95 juta ton.

 

Sumber: Industry.co.id

Hari Sawit Indonesia Bakal Digelar 18 November

 

Dewan Minyak Sawit Indonesia atau DMSI akan menggelar acara peringatan Hari Sawit Indonesia di Medan, Sumatera Utara pada 18 November 2017.

“Acara peringatan Hari Sawit Indonesia akan digelar secara sederhana di PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit) Medan,” ujar Ketua Umum DMSI, Derom Bangun di Medan, Minggu (12/11/2017).

Derom mengakui, usulan DMSI tentang penetapan Hari Sawit Indonesia pada tanggal 18 November masih belum dijawab pemerintah dengan alasan masih dalam proses.

“Jadi yang dilaksanakan tanggal 18 November 2017 bukan acara penetapan/deklarasi, tetapi peringatan.Saya kira peringatan, seperti peringatan suatu hari tertentu boleh oleh siapa saja,” katanya.

Derom menjelaskan, sebelumnya, pemangku kepentingan sawit yang tergabung melalui delapan asosiasi yang anggota DMSI mengusulkan penetapan Hari Sawit Indonesia 18 November.

Tujuan penetapan Hari Sawit itu untuk semakin mengenalkan dan menunjukkan bahwa Indonesia adalah salah satu produsen sawit terbesar di dunia.

Adapun penetapan tanggal 18 November karena sesuai data pustaka PPKS Medan bahwa tanaman sawit pertama kali dikembangkan komersial di Indonesia mulai 18 November 1911.

Penanaman sawit pertama di Indonesia adalah di Pulo Raja.

Sawit yang ditanam di kawasan itu yang dewasa ini masuk Kabupaten Asahan adalah milik PTPN IV yang dulunya disebut PTPN VI.

Pada saat bersamaan, tanaman sawit itu dikembangkan perusahaan swasta yakni Socfindo di Sungai Lipit.

“Gagasan untuk mencari tanggal yang tepat untuk dipilh sebagai Hari Sawit Indonesia itu sudah dibahas sejak beberapa bulan lalu,” ujar Derom.

Hari Sawit Indonesia dinilai semakin perlu karena komoditas lainnya sepeti kopi sudah ada serta dinilai pentingnya peran industri sawit dalan perekonomian Indonesia.

Pertumbuhan industri sawit telah membantu kemajuan daerah-daerah yang terpencil, meningkatkan perekonomian bangsa dan membantu mengentaskan kemiskinan.

Direktur PPKS Medan Hasril Hasan Siregar menyebutkan, PPKS mendukung peringatan Hari Sawit Indonesia itu karena data memang menunjukkan pengembangan sawit secara komersial itu dilakukan di Sumut dan pada tanggal 18 November 1911.

Hari Sawit Indonesia itu semakin dipastikan akurat atau benar karena hingga saat ini belum ada komplain dari berbagai pihak dengan menunjukkan data akurat soal tanggal tersebut.

Untuk memastikan hari pas Hari Sawit Indonesia itu, DMSI sudah menyurati berbagai pihak terkait .

Mulai Kementerian Pertanian, Koordinator Perekonomian, Pendidikan dan Kebudayaan, Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Serta asosiasi anggota DMSI, PTPN, PT Socfindo,TolanTiga Indonesia, Rektor USU, IPB, UGM dan LIPI.

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id

PRODUKSI MINYAK SAWIT INDONESIA DI SEPTEMBER TEMBUS 4 JUTA TON

 

JAKARTA – Produksi minyak sawit Indonesia (CPO dan PKO) untuk periode sepanjang September 2017 tercatat mampu menembus 4 juta ton. Kondisi ini merupakan tertinggi di sepanjang tahun 2017. Produk minyak sawit Indonesia pada September mencapai 4,03 juta ton atau naik 2% dibandingkan Agustus lalu di 3,95 juta ton.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan stok minyak sawit Indonesia, lantaran merujuk informasi dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), stok minyak sawit asal Indonesia justru tidak meningkat secara signifikan, disaat produksi melonjak tinggi.

Alasannya kata Sekjen Gapki, Togar Sitanggang, lantaran masih tingginya permintaan minyak sawit di pasar global. Stok pada September hanya tercatat 2,92 juta ton atau naik 8,5% dibandingkan dengan bulan Agustus sebesar 2,69 juta ton.

Geliat pasar diperkirakan masih akan terus meningkat karena produksi kedelai diprediksi pada bulan agustus masih menurun akibat kondisi cuaca kering di Amerika Selatan dan curah hujan yang tinggi di Brazil. “Kondisi cuaca ini mengganggu hasil panen,” tutur Togar dalam keterangan resmi yang diterima InfoSAWIT.

Ementara di sektor biodiesel, serapan biodiesel di dalam negeri pada September meningkat 7% atau dari 210 ribu ton di Agustus naik menjadi 225 ribu ton. Dengan serapan biodiesel yang konsisten dapat disimpulkan mandatori biodiesel Indonesia telah berjalan dengan baik. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Hari Sawit Indonesia diperingati 18 November

 

Dewan Minyak sawit Indonesia atau DMSI akan menggelar acara peringatan HarisawitIndonesia di Medan, Sumatera Utara pada 18 Nopember 2017.

“Acara peringatan Hari sawit Indonesia akan digelarsecara sederhana di PPKS (Pusat Penelitian Kelapa sawit) Medan,” ujar Ketua Umum DMSI, Derom Bangun di Medan, MInggu.

Derom mengakui, usulan DMSI tentang penetapan Hari sawit Indonesia pada tanggal 18 November masih belum dijawab pemerintah dengan alasan masih dalam proses.

“Jadi yang dilaksanakan tanggal 18 November 2017 bukan acara penetapan/deklarasi, tetapi peringatan.Saya kiraperingatan, seperti peringatan suatu hari tertentu boleh oleh siapa saja,” katanya.

Derom menjelaskan, sebelumnya, pemangku kepentingansawityang tergabung melaluidelapan asosiasi yang anggota DMSI mengusulkan penetapan HarisawitIndonesia 18 November.

Tujuan penetapan Harisawititu untuk semakin mengenalkan dan menunjukkan bahwa Indonesia adalah salah satu produsen sawit terbesar di dunia.

Adapun penetapan tanggal 18 Novemberkarena sesuai data pustaka PPKS Medan bahwa tanaman sawit pertama kali dikembangkan komersial di Indonesia mulai 18 November 1911.

Penanamansawitpertama di Indonesia adalah di Pulo Raja.

Sawit yang ditanam di kawasan itu yang dewasa ini masuk Kabupaten Asahan adalah milik PTPN IV yang dulunya disebut PTPN VI.

Pada saat bersamaan, tanamansawititu dikembangkan perusahaan swasta yakni Socfindo di Sungai Lipit.

“Gagasan untuk mencari tanggal yang tepat untuk dipilh sebagai HarisawitIndonesia itu sudah dibahas sejak beberapa bulan lalu,” ujar Derom.

HarisawitIndonesia dinilai semakin perlukarena komoditas lainnya sepeti kopi sudah ada serta dinilai pentingnya peran industri sawit dalam perekonomian Indonesia.

Pertumbuhan industri sawit telah membantu kemajuan daerah-daerah yang terpencil, meningkatkan perekonomian bangsa dan membantu mengentaskan kemiskinan.

Direktur PPKS Medan Hasril Hasan Siregar menyebutkan, PPKS mendukung peringatan Hari sawit Indonesia itu karena data memang menunjukkan pengembangan sawit secara komersial itu dilakukan di Sumut dan pada tanggal 18 November 1911.

Hari sawit Indonesia itu semakin dipastikan akurat atau benar karena hingga saat ini belum ada komplain dari berbagai pihak dengan menunjukkan data akurat soal tanggal tersebut.

Untuk memastikan hari pas Hari sawit Indonesia itu,DMSI sudah menyurati berbagai pihak terkait .

Mulai Kementerian Pertanian, Koordinator Perekonomian, Pendidikan dan Kebudayaan, Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Serta asosiasi anggota DMSI, PTPN, PT Socfindo,TolanTiga Indonesia, Rektor USU, IPB, UGM dan LIPI.

 

Sumber: Antaranews.com

Potensi Energi Limbah Sawit

 

Saya tidak menyangka bahwa limbah kelapa sawit dapat menjadi sumber energi yang bisa dimanfaatkan, teruma limbah tandan kosong dan batang sawit. Buktinya, perusahaan asal Jepang DSJ Holding berminat dengan potensi energi dari limbah tersebut.

Orang Indonesia memang belum melihat jauh ke depan soal potensi energi tersebut. Namun, bagi pimpinan perusahaan tersebut, terbuka potensi besar untuk mengolah limbah kelapas sawit di Provinsi Riau menjadi sumber Energi Terbarukan seperti pelet biomassa.

Bila kita perhatikan, selama ini produk dari tanaman kelapa sawit hanya memanfaatkan buah sawit segar dan menyisakan limbah di lapangan. Padahal, dengan teknologi yang tepat, dan perusahaan itu memilikinya, limbah tadi dapat diolah menjadi sumber Energi Terbarukan dengan bentuk pelet dan tentu saja ramah lingkungan.

Pengolahan limbah itu juga dijamin ramah lingkungan sehingga mengurangi potensi emisi karbon.

Siapa pun pihak yang mengolah limbah tersebut menjadi energi, tentu harus ramah lingkungan dengan dukungan teknologi yang memadai. Kabarnya, perusahaan Jepang tersebut sudah menyatakan kesiapannya mengolah sekitar 250.000 ton limbah menjadi pelet.

Adanya kesiapan investor asing tersebut tentunya harus disambut dengan tangan terbuka. Sejauh ini, karena lokasinya berada di Riau, biasanya para investor membangun fasilitas produksi di daerah Tanjung Buton atau Dumai, yang memang sudah ditetapkan sebagai kawasan industri oleh pemerintah. Keuntungannya adalah kawasan tersebut dekat dengan jalur pelayaran internasional dan negara tetangga.

Keunggulan lainnya, dari dua daerah industri itu adalah akses wilayahnya yang terhubung dengan kabupaten lain yang memiliki perkebunan kelapa sawit berskala besar.

Di Dumai untuk kawasan industrinya ditetapkan 2.500 ha, sedangkan yang terpakai baru 500 ha, jadi masih ada sisa 2.000 ha bisa dijadikan lahan pembangunan pabrik yang strategis.

 

Sumber: Bisnis Indonesia

Perusahaan Kelapa Sawit Dipacu Untuk Lebih Efisien

 

JAKARTA. Perusahaan perkebunan sawit harus melakukan efisiensi untuk menyiasati perubahan harga minyak sawit yang terus berfluktuatif. Menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono, hanya perusahaan efisien yang bisa bertahan dalam situasi ekonomi seperti saat ini. “Fluktuasi harga CPO akan terus terjadi,” ujar Joko kepada KONTAN, Kamis (9/11).

Laporan keuangan perusahaan perkebunan kelapa sawit di kuartal III-2017 menunjukkan perbaikan kinerja pendapatan. Menurut Joko, indikator kinerja perusahaan sawit ini tidak hanya berkaitan dengan harga karena harga CPO akan terus-berubah.

Industri perkebunan kelapa sawit saat ini sudah memperhatikan efisiensi pengeluaran. Ketika harga CPO turun, perusahaan yang efisien akan dapat bertahan.

Efisiensi ini juga penting guna menyiasati penurunan produksi akibat cuaca serta moratorium ekspansi lahan dari pemerintah. “Kebijakan moratorium tak ada hubungan langsung dengan penjualan, tapi jangka panjang,” ujarnya.

 

Sumber: Harian Kontan

Pengembangan Ekspor

 

 

Badan Pusat Statistik mencatat ekspor Indonesia pada triwulan III-2017 tumbuh 17,27 persen dibandingkan dengan triwulan III-2016 dengan nilai Rp 717,7 triliun. Angka ini setara 20,5 persen produk domestik bruto (PDB). Namun, pertumbuhan ekspor masih tidak terlepas dari komoditas mentah seperti minyak sawit mentah (CPO) dan batubara.

Pertumbuhan ekspor ini merupakan yang tertinggi sejak triwulan IV-2011. Pada triwulan III-2011, ekspor tumbuh 17,76 persen. Tahun 2011 adalah era ledakan komoditas. Namun, setelah harga komoditas turun tajam, ekspor Indonesia turun. Secara otomatis, kontribusinya terhadap PDB juga turun. Di tengah belum stabilnya harga komoditas, utang luar negeri Indonesia bertambah. Bank Indonesia (BI) mencatat, per akhir Agustus 2017 mencapai 340,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 4.735,99 triliun, tumbuh 4,7 persen dalam setahun.

Pertumbuhan utang luar negeri itu tidak sebanding dengan pertumbuhan ekspor yang merupakan salah satu sektor penyumbang devisa Pada semester 1-2017, rasio utang luar negeri terhadap ekspor 174,08 persen, sedangkan rasio utang luar negeri terhadap penerimaan devisa 172 persen. Rasio itu masuk kategori lampu kuning karena melebihi batas ideal 100 persen. Ekspor Indonesia saat ini bisa dikatakan masih jalan di tempat Ekspor masih bertumpu pada komoditas dan negara-negara tujuan tradisional, terutama China Amerika Serikat, dan kawasan Eropa. Hilirisasi industri penopang ekspor dan substitusi bahan baku impor masih jauh dari optimal. Hilirisasi yang terlihat sekarang masih bertumpu pada sektor pertambangan melalui pengembangan industri pengolahan dan pemurnian (smelter).

Penetrasi pasar ekspor ke negara-negara nontradisional telah dilakukan, seperti Amerika Latin, Afrika, Timur Tengah, dan Eropa Timur. Namun, pembukaan pasar baru itu masih membutuhkan proses lama dan terganjal hambatan perdagangan.

Di Afrika Selatan, misalnya, hambatan utama menyangkut tarif. Penentuan tarif negara itu tidak bisa berdiri sendiri, harus ditentukan bersama-sama Serikat Bea Cukai Afrika Selatan (SACU). Adapun Nigeria merupakan bagian dari Masyarakat Ekonomi Afirka Barat (Ecowas). Hal itu menyebabkan Indonesia sulit melakukan perjanjian perdagangan khusus (PTA) dengan Afrika Selatan dan Nigeria.

Di tengah arus pelambatan perdagangan global dan proteksionisme, tantangan menumbuhkan ekspor semakin berat. Banyak negara yang secara langsung maupun tidak langsung melindungi industri dalam negerinya meski telah memasuki era perdagangan bebas.

India, misalnya, menerapkan bea masuk CPO dua kali lipat dari 7,5 persen menjadi 15 persen. Sejumlah negara di Eropa menggaungkan kampanye hitam CPO. Adapun AS telah memulai menginventarisasi dan menyelidiki produk-produk impor yang mendapatkan subsidi dari negara-negara pengekspor. Indonesia memiliki dua pekerjaan besar untuk menumbuhkan ekspor. Pertama, pemerintah bersama pemangku kepentingan perlu memastikan hilirisasi berjalan optimal. Sejak digaungkan kembali pada 2011, hilirisasi masih belum berkontribusi secara signifikan.

Kedua, pendekatan bilateral dan multilateral dengan negara-negara lain perlu ditingkatkan, baik negara dengan negara maupun pelaku usaha dengan pelaku usaha.

Pengembangan hilirisasi tidak bisa berdiri sendiri, perlu ditopang peta kebutuhan pasar global. Selain itu, perlu dicermati masuknya produk-produk negara-negara lain secara eceran melalui perdagangan elektronik atau e-dagang. E-dagang ini juga dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk memasarkan produk-produk unggulan. Hal ini telah dilakukan Indonesia bekerja sama dengan perusahaan e-dagang China, Alibaba, yang dirintis sejak 2015.

 

Sumber: Kompas

Menteri PPN/Bappenas: Sawit Penyumbang Devisa Nomor Satu RI, Kalahkan Pariwisata dan Migas

 

 

INDONESIA – Bambang Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasionan (PPN)/Kepala Bappenas, mengatakan sampai  tahun 2016 nilai ekspor sawit mencapai Rp 240 triliun. Kontribusi sawit sebagai penyumbang devisa lebih tinggi daripada pariwisata dan migas.

“Industri sawit berperan penting kepada kesejahteraan masyarakat. Dari yang data didapat, sawit ini penyumbang devisa nomor satu. Baru nomor dua sektor pariwisata dan disusul migas,” ujarnya dalam sebuah diskusi pada pekan lalu.

Berdasarkan data BPS dan Kementerian Perindustrian, sawit menghasilkan devisa Rp 240 triliun. Disusul, sektor pariwisata sebesar Rp 190 triliun dan migas sekitar Rp 170 triliun.

Menteri Bambang mengatakan dengan adanya perbaikan harga di pasar global mendukung kinerja ekspor. “Dan harus diakui, sawit menjadi andalan ekspor kita,” tuturnya.

Di sektor tambang khususnya batubara, menurut Bambang, menghadapi permasalahan isu lingkungan. Ataupun dari negara-negara yang mengurangi penggunaan listrik dari  PLTU.

“Sedangkan migas ya berkaitan alama di mana produksi minyak berkurang. Ini membuat cadangan menipis. Hanya sawit yang produksinya cukup besar. Ini kalau berbicara sumber daya alam,” kata Bambang.

Menteri Bambang menjelaskan bahwa kelapa sawit mampu menghasilkan produk turunan lainnya, alhasil akan memicu pertumbuhan di sektor industri pengolahan. “’Maka,sangatlah tepat kalau kita terfokus kepada sawit. Tanpa melupakan potensi komoditas perkebunan lain seperti karet, kopi, dan kelapa,” tegasnya.

Berbicara tenaga kerja, jumlah tenaga kerja di industri sawit mampu menyerap tenaga kerja langsung dan tidak langsung mencapai 16,2 juta jiwa. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, luas perkebunan sawit pada 2015 mencapai 11,3 juta hektare. Dari jumlah tadi terdiri dari 4,6 juta hektare perkebunan rakyat, perkebunan swasta seluas 6 juta hektare, dan milik BUMN seluas 760 ribu hektare. Total produksi sawit nasional sebanyak 33,4 juta ton.

Sumber: Sawitindonesia.com