BPDP-KS Luncurkan Program Penguatan Dan Pemberdayaan UMKM Sawit

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) meluncurkan program penguatan dan pemberdayaan  Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berbasis sawit.  Peluncuran ini diikuti lebih 120 peserta dari pelaku UMKM, petani sawit, dan asosiasi sawit seperti APKASINDO, ASPEKPIR, dan Samade.

“Dari data kami, ada 600 kelompok tani dan UMKM berbasis kelapa sawit di seluruh Indonesia. Program ini bertujuan mendukung kelompok tani yang telah memiliki unit usaha untuk dapat meningkatkan usahanya lebih maju lagi. Jadi, BPDP ingin membantu koperasi maupun UMKM yang telah punya unit usaha supaya dapat lebih bagus,” ujar Plt. Direktur Kemitraan BPDP-KS, Muhammad Ferian, saat memberikan sambutan dalam Launching Kegiatan Penguatan Kelembagaan dan Pemberdayaan UMK Binaan BPDP-KS, Selasa (30 Juni 2020).

Launcing ini menghadirkan pembicara antara lain Permata Wulandari, Ph.D (Ketua Program Penguatan Kelembagaan dan Pemberdayaan UKMC Universitas Indonesia ), Ir.Gulat Manurung, MP (Ketua Umum DPP APKASINDO).

Permata Wulandari menjelaskan bahwa lembaganya telah membuat penilaian dan kajian kepada petani/UMKM sawit di tiga daerah yaitu Ketapang, Mamuju, dan Pangkalan Bun. Proses pengumpulan database melibatkan dinas perkebunan, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), dinas koperasi, dan UMKM Berbasis Kelapa Sawit. database tersebut lalu dikembangkan menjadi Mitra Binaan Unggul Petani Sawit dan UMKM Berbasis Kelapa Sawit. Pada tahapan selanjutnya adalah, mereka diberikan pelatihan khusus (bootcamp kewirausahaan di akhir tahun). Menjadi sinergi antara BPDP-KS dan UKM Center FEB UI, pada setiap pekannya lalu dilakukan monitoring usaha.

“Dari hasil kajian, banyak produk berbasis kelapa sawit yang diproduksi koperasi maupun UMKM sangat cocok di pasarn. Walaupun, ada banyak tantangan dan kendala yang mereka hadapi di lapangan,” ujar Permata.

Dari informasi yang diperoleh, Petani Sawit juga UMKM Berbasis Sawit memiliki kendala dalam sistem manajerial. Mereka belum memiliki pengolahan dan pencatatan informasi keuangan secara baik. Hal ini sebagai impact dari keterbatasan pelatihan yang diperoleh petani. Nining menambahkan, kompetensi petani akan naik setelah mendapatkan pelatihan cukup.

Setelah mendapatkan pelatihan, otomatis kemampuan petani akan naik. Bukan hanya produktivitas, tapi juga kemampuan manajemennya. Secara umum, profil mereka kompetitif untuk bersaing dengan lainnya.

Gulat Manurung, Ketua Umum DPP APKASINDO mengapresiasi program yang diluncurkan BPDP-KS sebagai upaya mendukung penghasilan petani. Di sejumlah daerah, asosiasinya telah mendampingi UMKM sawit yang menghasilkan produk olahan seperti gula merah, kerajinan tangan, dan minyak goreng.

“Progam BPDP-KS ini sangat bagus membantu petani. Kerajinan mereka sangatlah beragam dan kreatif untuk mendukung penghasilan mereka. Bagi petani, tidak benar kalau dikatakan pungutan ekspor sebatas berpihak kepada konglomerat. PSR dan program ini menjadi buktinya,” ujar Gulat.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

Harga TBS Sawit Riau Periode 1-7 Juli 2020 Naik Rp 46,25/Kg

InfoSAWIT, PEKANBARU — Merujuk hasil dari tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Riau merujuk surat Penetapan  Harga TBS Kelapa Sawit Provinsi Riau No.26 periode 1 s/d  7 Juli 2020, telah menyepakati harga sawit umur 10 – 20 tahun naik Rp 46,25/Kg menjadi Rp 1.617,61/Kg.

Berikut harga sawit Riau berdasarkan penelusuran InfoSAWIT,  sawit umur 3 tahun Rp Rp 1.195,09/Kg; sawit umur 4 tahun Rp 1.293,76/Kg; sawit umur 5 tahun Rp 1.413,15/Kg; sawit umur 6 tahun Rp 1.446,97/Kg; sawit umur 7 tahun Rp 1.503,33/Kg; sawit umur 8 tahun Rp 1.544,71/Kg.

Sementar sawit umur 9 tahun Rp 1.580,79/Kg dan sawit umur 10-20 tahun Rp 1.617,61/Kg, sawit umur 21 tahun Rp 1.549,33/Kg, dan sawit umur 22 tahun Rp 1.541,60/Kg, sawit umur 23 tahun Rp 1.535,15/Kg, sawit umur 24 tahun Rp 1.470,73/Kg dan sawit umur 25 tahun  Rp 1.435,30/Kg. Dimana harga minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp 7.437,70/Kg dan harga Kernel Rp 4.330,33/Kg dengan indeks K 86,62%. (T2)

GAPKI Kaltim Antisipasi Karhutla Di Kala Pandemi

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Perusahaan sawit anggota Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Kalimantan Timur telah melakukan langkah antisipasi supaya kebakaran lahan dan hutan dapat diantisipasi pada tahun ini. Upaya pencegahan timbulnya asap tetap dilakukan saat pandemi Covid-19 belum mereda.

“Kami tetap lakukan pencegahan api di kebun melalui berbagai kebijakan. Walaupun Covid-19 masih berlangsung, anggota Gapki Kaltim tetap berkomitmen cegah kebakaran di dalam dan areal sekitar kebun, ujar H. Muhammadsjah Djafar, Ketua GAPKI Cabang Kalimantan Timur dalam Ngobrol Bareng Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI) Kaltim secara virtual bertemakan “Adaptasi dan Antisipasi Kebakaran Lahan dan Kebun di Perkebunan Kelapa Sawit Provinsi Kalimantan Timur di Masa Pandemi Covid-19, Rabu (24/6/2020).

Muhammadsjah menjelaskan bahwa anggotanya telah membuat tim tanggap darurat Covid-19 untuk mengawasi dan mencegah meluasnya pandemi di kebun. Salah satu tugas tim ini adalah membuat SOP pencegahan dan penanganan Covid-19 serta membuat komunikasi tanggap darurat.

Dalam kata sambutan di diskusi, Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi mengungkapkan saat ini pasien positif virus corona cukup tinggi di Kaltim sebanyak 447 kasus positif. Namun angka kesembuhan mencapai 73 persen. Dan meninggal 1,1 persen.

Terkait hal tersebut, Wagub berharap perusahan sawit agar intensif mengawasi dan bisa melakukan pemeriksaan kesehatan bagi karyawan juga pekerja di lapangan. Terlebih diketahui kabupaten dan kota secara umum banyak perkebunan sawit tentu memiliki karyawan dan pekerja cukup besar pula.

“Jangan sampai di perusahaan terjadi kasus positif, terlebih penularan lokal antar karyawan atau pekerja. Kewaspadaan dan kehati-hatian perlu ditingkatkan di lingkup perusahaan,” ungkap Hadi.

Ujang Rachma, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur, menjelaskan kebijakan pemerintah provinsi telah membuat Brigade Pengendalian Kebakaran Lahan dan Kebun (Dalkarlabun) berbasis masyarakat. Tujuannya adalah membangun sistem kemitraan para pihak dalam upaya pengendalian (pencegahan) kebakaran lahan dan kebun, memperkuat kapasitas (sarana/ prasarana/SDM dan kelembagaan dan tanggap darurat para pihak dalam upaya pengendalian (pencegahan) kebakaran lahan dan kebun, serta membangun sistem tanggap darurat dan pengendalian kebakaran lahan dan kebun.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

,

Urgensi SOP Kualitas Minyak Sawit Indonesia

InfoSAWIT, JAKARTA – Saat ini, minyak sawit yang digunakan untuk bahan baku makanan akan sangat disorot terutama mengenai kandungan 3-monochlorpropandiol ester (3-MCPD Ester) dan glycidyl esters (GE). Apalagi untuk kandungan GE, Uni Eropa telah menetapkan batas aman mencapai 1 ppm.

Sementara untuk batas aman kandungan 3MCPD masih dalam proses pembahasan dan diperkirakan akan ditetapkan mencapai 2,5 ppm. Namun demikian, pihak Uni Eropa mengusulkan pembedaan antara batas aman 3MCPD untuk soft oil dan hard oil.

Lantaran untuk soft oil (minyak nabati tropis) diusulkan memiliki batas aman kandungan 3MCPD mencapai 1,25 ppm. Bila ini disetujui dan ditetapkan maka akan menimbulkan beragam masalah.

Padahal standar batas aman 2,5 ppm sudah layak diterima untuk bahan makanan. “Tetapi kita sedang terus melakukan mitigasi dalam upaya memenuhi standar tersebut, baik dilakukan di hulu maupun mitigasi di hilir sawit,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GAIMNI), Sahat Sinaga kepada InfoSAWIT, belum lama ini.

Masalah berikutnya di Indonesia, belum ada standar baku yang sama untuk menghasilkan kandungan 3MCPD sesuai aturan yang ditetapkan Uni Eropa. Lantas yang akan membuat standar siapa? “Menurut saya Kementerian Perindustrian yang cocok guna menetapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk menekan kandungan 3MCPD di minyak sawit. Sehingga upaya memenuhi batas aman kandungan 3MCPD bisa dipenuhi,” tandas Sahat. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Ratnawati Nurkhoiry, S.P, M.Sc, Kepala Kelti Sosio Tekno Ekonomi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Riset Tetap Jalan Di Kala Pandemi

 

Pandemi Covid-19 bukan halangan untuk melakukan penelitian. Kalangan peneliti menyiasatinya melalui pemanfaatan teknologi informasi.

Sebagai peneliti di bidang Sosial Tekno Ekonomi, aktivitas di lapangan menjadi pekerjaan yang rutin di lakukan untuk mendapatkan data primer. Tetapi pandemi Covid-19 agak mempersempit ruang penelitian di lapangan.

Ratnawati Nur khoiry, S.P, M.Sc menyiasati persoalan ini dengan memaksimalkan pemakaian teknologi informasi. Pandemi Covid-19 menjadi kendala dalam mencari data primer sebagai bahan penelitian karena tidak bisa melihat kondisi lapangan secara langsung.

“Solusinya kami manfaatkan aplikasi Google Form untuk memperoleh data primer. Melakukan survei online melalui pemberian kuisioner kepada narasumber (petani) menggunakan plat form Google Form,” kata Ratna saat dihubungi via telepon.

Ratna mengakui, selama masa pandemi, aktivitas di lapangan banyak yang tertunda. Tetapi untuk pekerjaan di Laboratorium tetap berjalan. Tetapi, khusus kami yang meneliti sosial ekonomi banyak yang tertunda.

“Tetapi bagi peneliti Sosial Tekno Ekonomi, sisi positif dengan adanya pandemi Covid-19, merubah pola menjadi peneliti lebih banyak memanfaatkan teknologi di era 4.0. Semakin terhubung dengan dunia luar karena memanfaatkan teknologi melalui daring (red-dalam jaringan) dengan Webinar. Rapat menggunakan Meeting Zoom, yang melibatkan peneliti dari luar dengan bidang yang sama yang diikuti oleh peserta beberapa negara,” ujar Lulusan S-2 Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada.

Ia menjelaskan bahwa meeting kecil sekarang ini memanfaatkan aplikasi Meeting Zoom yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Networking kami menjadi semakin luas dengan adanya aplikasi yang bisa dimanfaatkan meeting secara online.

“Tidak hanya itu, sejalan dengan himbauan dari pemerintah dalam mencengah dan mengurangi penyebaran Covid-19 untuk bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH), saya manfaatkan untuk menulis ulasan dan membuat tulisan yang tertunda karena banyak aktivitas di lapangan,” tambahnya.

Sejak tahun lalu, Ratna aktif melakukan penelitian terkait sustainability yang berhubungan dengan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Rountable Sustainable Palm Oil (RSPO).

Seperti diketahui, petani sawit pada tahun lalu banyak mengalami kerugian. Pasalnya harga Tandan Buah Segar (TBS) yang diperoleh mengalami penurunan harga yang cukup siginifikan. Atas dasar itu, sebagai peneliti yang fokus pada Sosial Tekno Ekonomi, Ratna bersama tim yang tergabung dalam Kelompok Peneliti Sosial Tekno Ekonomi melakukan penelitian pemanfaatan Biomassa kelapa sawit. Tujuannya untuk meningkatkan pendapatan petani dalam mencari pendapatan lain.

“Sejak 2019, kami sudah mulai melakukan penelitian yang berkaitan dengan pemanfaatan Biomassa skala Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di lingkup petani. Misalnya pemanfaatan lidi  yang digunakan untuk hand craft (bahan membuat piring), Tandan Kosong untuk breket, pemanfaatan serat tankos untuk craft  di tingkat petani,” ujar Ratna.

Selanjutnya, Ratna mengatakan ada juga pemanfaatan tandan kosong (tankos) sawit untuk budidaya jamur Merang dan Tiram dari tankos dan batang sawit yang dimanfaatkan untuk bahan multiguna, misalnya untuk pembuatan kursi dan lain sebagainya, sudah dilakukan di Sumatera Utara.

 

Sumber: Infosawit.com

Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Karya Mandiri Dukung Minyak Sawit Berkelanjutan

InfoSAWIT, JAKARTA – Alternatif membangun ekonomi mandiri bagi petani kelapa sawit swadaya, faktanya mampu memberikan dampak positif. beragam program pelatihan pun berjalan. menyusul adanya peningkatan produktivitas dan melonjaknya ekonomi petani sawit disamping untuk memenuhi kebutuhan petani lainnya.

Setelah mememilih untuk menerapkan ekonomi mandiri dengan membentuk koperasi simpan pinjam, telah mendukung beberapa program pelatihan yang dilakukan KSP Karya Mandiri. Kini program tersebut telah dirasakan manfaatnya oleh beberapa anggota.

Bagi KSP, Pencairan dana bagi anggota dalam bentuk pinjaman tidak bisa dikerjakan hanya menunggu pengembalian dana melainkan adanya pembinaan bagi petani sawit agar mereka mampu mengelola dana tersebut secara baik. Beberapa manfaat dari program ini antara lain diantaranya:

Mendukung Bisnis Skala Kecil Rumah Tangga Petani

Terdapat belasan keluarga petani telah melakukan budidaya ikan lele. Sebagai informasi, kota Jambi saja membutuhkan 8 ton ikan lele per hari atau sekitar 240 ton per bulan. Itu artinya bahwa kebutuhan ikan lele sangat tinggi sehingga bergerak di sektor bisnis ini sangat menjanjikan. Petani ini telah membangun sebanyak 25 kolam ikan lele dengan rincian satu kolam diisi oleh 3000 bibit. Untuk dapat memanen dibutuhkan waktu kurang lebih 40 hari.

Agar memudahkan petani, KSP Karya Mandiri juga membantu membuka akses jaringan pasar di kota Jambi dengan harapan supply ikan lele di kota Jambi berasal dari keluarga petani. Untuk modal budidaya ikan lele, para petani meminjam kepada KSP Karya Mandiri sebesar 10 juta rupiah per petani dengan bunga 1,2% (bunga rendah) setiap bulan. Adapun hitung-hitungan keuntungan bersih yang bisa didapatkan oleh petani selama sebulan berkisar 570 ribu rupiah. Keuntungan tersebut sudah dipotong untuk kebutuhan lainnya.

Selain itu, KSP juga ikut memberikan modal pinjaman bagi petani kelapa sawit untuk mengembangkan bisnis peternakan ayam. Namun proses pendampingan bagi petani terus dilakukan oleh Pengurus KSP untuk memastikan usaha yang petani kembangkan sesuai dengan harapan mereka. Melalui proses pendampingan yang secara terus menerus, anggota KSP sebagiannya sudah menikmati keuntungan dari bisnis yang dikembangkan. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Pemerintah dorong BPDPKS capai target peremajaan sawit rakyat

 

Jakarta (ANTARA) – Pemerintah mendorong Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) untuk merealisasikan target peremajaan sawit rakyat (PSR) yang ditetapkan seluas 500 ribu hektare selama 2020-2022.

“Pemerintah menargetkan 500 ribu hektare peremajaan sawit rakyat dari 2020 sampai 2022. Walaupun seperti poco-poco, maju mundur begini, saya ingin Bapak Eddy (Dirut) BPDP-KS selesaikan ini, “ujar Kepala Kantor Staf Presiden RI, Jend.TNI (Purn) Dr Moeldoko melalui keterangan tertulis di Jakarta, Minggu.

Sebelumnya dalam Diskusi Percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat 500 Ribu Ha yang digagas DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPP APKASINDO), Jumat, (26/6) Moeldoko membeberkan sejumlah catatan kritis tentang hambatan percepatan program PSR di lapangan.

Menurut dia, hambatan tersebut antara lain debirokratisasi yang akuntabel dan transparan, peningkatan kapasitas pekebun dan kapabilitas penyuluh, penguatan basis data pekebun, legalitas dan lemahnya kelembagaan pekebun, perlu keterhubungan sawit rakyat industri, dan perlunya peningkatan komunikasi informasi edukasi.

“Pemerintah tidak ingin petani terpinggirkan dari kebijakan sawit. Kami ingin kebijakan pro petani rakyat. Petani sawit harus menikmati berbagai kebijakan tadi. Masalah peremajaan di lapangan seperti persoalan legalitas kebun di kawasan hutan harus terselesaikan,” tegas Moeldoko yang juga Ketua Dewan Pembina DPP Apkasindo.

Untuk itu, lanjutnya, Pemerintah memiliki komitmen dan perhatian kuat terhadap petani sawit rakyat, salah satunya menyelesaikan tantangan dan hambatan PSR dengan mengurangi syarat peremajaan agar target 500 ribu hektare dapat tercapai.

“Apalagi saya ini Ketua Dewan Pembina DPP Apkasindo berada dalam pemerintahan. Saya ingin petani sejahtera dan punya kehidupan lebih baik. Jangan khawatir, kami berada di situ untuk memikirkan petani bisa sejahtera dan kehidupan semakin baik termasuk kemudahan dari bank,” katanya.

Direktur Utama BPDP-KS Eddy Abdurrachman menyatakan pihaknya sangat mendukung program PSR untuk dapat dirasakan manfaatnya oleh petani.

Dana peremajaan sawit rakyat telah ditingkatkan menjadi Rp30 juta per hektare untuk kebun petani maksimum seluas 4 hektare, dari sebelumnya Rp25 juta per hektare.

Menurut dia, dana peremajaan sawit yang telah disalurkan mencapai Rp3,425 triliun selama 2016 hingga tahun ini, menjangkau 137 ribu hektare dengan jumlah 60.066 petani.

Sementara itu, tambahnya, Ditjen Perkebunan telah menyederhanakan aspek persyaratan dari empat belas syarat, terus disederhanakan jadi delapan syarat dan terakhir menjadi dua yaitu legalitas dan kelembagaan.

BPDP-KS juga telah berkoordinasi dengan Himpunan Bank Pemerintah (Himbara) untuk memberikan fasilitas kredit terjangkau kepada petani.

Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat Manurung mengakui kenaikan dana PSR menjadi bukti keberpihakan pemerintah Presiden Jokowi kepada petani sawit.

“Kami apresiasi kenaikan dana PSR untuk membantu petani. Petani sangat terbantu dengan kebijakan Dirjen Perkebunan dan Dirut BPDP-KS,” katanya.

Dorteus Paiki, petani sawit dari Papua Barat menambahkan banyak petani sawit menjadi peserta program PSR di wilayahnya karena ingin meningkatkan produktivitas dan kesejahteraannya.

“Kami bersyukur sudah 1.360 hektare perkebunan sawit rakyat yang disetujui pemerintah untuk diremajakan. Ini sangat membantu kami petani di Papua Barat,” jelas Paiki yang juga Sekretaris DPW Apkasindo Papua Barat

 

 

Sumber: Antaranews.com

Ayo Konsumsi Minyak Sawit Supaya Bebas Korona

InfoSAWIT, JAKARTA – Memang tak mudah menghindar dari virus Korona yang kini telah menjadi wabah menakutkan di seluruh dunia. Cara terbaik yang bisa dilakukan setiap negara, melalui berbagai pembatasan ruang gerak manusia dan konsumsi barang, termasuk perdagangan ekspor dan impor. Akibatnya, arus barang dan perputarannya menjadi terhambat dan permintaan menjadi turun.

Sebagian besar menurunnya permintaan barang juga terjadi pada produk komoditas, termasuk CPO dan produk turunannya. Lantaran, permintaan pasar menurun, maka harga jual minyak sawit juga kembali melandai. Kabar terbaru, banyak petani kelapa sawit yang ekonominya kembali sulit, akibat turunnya harga jual hasil panen Tandan Buah Segar (TBS) yang dibeli Pabrik Kelapa Sawit (PKS).

Banyak yang bertanya kepada redaksi InfoSAWIT, kenapa harga jual TBS kembali turun? Penjelasan singkat yang bisa kami berikan, akibat permintaan pasar CPO turun, maka harga jual TBS milik petani juga kembali turun. Namun, petani kelapa sawit masih harus bersyukur karena bisa terus bekerja dan menghasilkan panen TBS untuk dijual kepada PKS.

Bila dibandingkan dengan industri lainnya, sektor non migas  atau perkebunan kelapa sawit masih memiliki daya tahan tinggi terhadap laju pandemi korona. Lantaran berbasis sumber daya alam yang dikelola secara berkelanjutan, maka perkebunan kelapa sawit masih bisa melakukan aktivitas bekerja, kendati harus secara ketat patuh terhadap aturan physical distanding (jaga jarak) dan menggunakan masker, supaya bisa terus sehat.

 

Sumber: Infosawit.com

Sawit Tetap Bertahan Saat Pandemi Covid-19

 

InfoSAWIT, JAKARTA – Bukan perkara mudah guna tetap terus tenang dan beroperasi dalam kondisi pandemi Covid-19, lantaran bisa saja segala aktivitas dan kegiatan operasional di sentra-sentra perkebunan kelapa sawit nasional tiba-tiba saja mesti dihentikan sementara untuk upaya pencegahan sebaran Covid-19.

Tentu saja dampaknya tidak hanya akan dirasakan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang tidak lagi beroperasional secara normal, sebab akan pula dirasakan petani sawit mitra perusahaan termasuk petani sawit swadaya yang selama ini menjual buah sawitnya ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) setempat.

Tidak bisa juga dibayangkan bila pandemi ini akan terus berlangsung hingga 4 sampai 6 bulan kedepan. Lantaran bisa dipastikan semua kegiatan perkebunan kelapa sawit akan sangat terganggu, hasilnya pendapatan petani akan merosot, bahkan bisa jadi ada yang akan kehilangan pendapatan.

Untungnya saat ini perkebunan kelapa sawit tetap terus bertahan, bahkan secara bersama-sama berupaya mencegah dan memutus sebaran Covid-19 masuk ke sentra perkebunan kelapa sawit. Berbagai upaya baik dilakukan perusahaan perkebunan kelapa sawit swasta maupun petani sawit, secara bergotong royong membantu pemerintah dalam menghadapi pandemi ini.

Dengan caranya masing-masing, mereka, baik perusahaan perkebunan kelapa sawit maupun petani, melakukan berbagai kegiatan untuk bisa memutus Covid-19. Bahkan tidak hanya memutus sebaran,  lantaran juga melakukan berbagai kegiatan sosial untuk mengurangi dampak akibat Covid-19 bagi masyarakat sektiar perkebunan kelapa sawit.

Pada majalah InfoSAWIT cetak Edisi Mei 2020, akan banyak memaparkan berbagai cara yang dilakukan perusahaan perkebunan kelapa sawit melakukan upaya-upaya pencegahan dan meminimalisir dampak pandemi Covid-19 terhadap masyarakat sekitar kebun. Termasuk juga membahas mengenai dampaknya kepada petani sawit bila pandemi ini akan terus berlangsung. Lebih lengkapnya bisa di baca pada Rubrik Fokus.

Selain itu pada edisi ini juga menampilkan kisah para petani sawit swadaya bersertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), berjuang bersama untuk bisa mencegah pandemi ini menyebar ke perkebunan kelapa sawit. Insentif yang biasanya mereka peroleh dari sertifikat RSPO untuk pengembangan bisnis koperasi, dialihkan sebagian besar untuk kegiatan sosial kepada masyarakat bukan anggota koperasi untuk bisa terus hidup disaat pandemi berlangsung.

Berbagai upaya bantuan sosial dan bantuan pencegahan Covid-19 dilakukan para petani sawit swadaya itu, tentu saja dilakukan dengan segala keterbatasan yang dimiliki petani sawit swadaya bersertifikat RSPO. Untuk lebih lengkapnya baca Rubrik Info Sustainability. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

 

Harga TBS Sawit Jambi Periode 26 Juni – 6 Juli 2020 Naik Rp 23,31/Kg

InfoSAWIT, JAMBI – Merujuk hasil dari tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Jambi, harga TBS Kelapa Sawit Provinsi Jambi periode 26 Juni  s/d  6 Juli 2020, telah menyepakati harga sawit umur 10 – 20 tahun naik Rp 23,31/Kg menjadi Rp Rp 1.452,07/Kg.

Berikut harga sawit Jambi berdasarkan penelusuran InfoSAWIT,  sawit umur 3 tahun Rp Rp 1.142,83/Kg; sawit umur 4 tahun Rp 1.211,32/Kg; sawit umur 5 tahun Rp 1.267,75/Kg; sawit umur 6 tahun Rp 1.321,24/Kg; sawit umur 7 tahun Rp 1.354,69/Kg; sawit umur 8 tahun Rp 1.382,70/Kg.

Sementar sawit umur 9 tahun Rp 1.410,44 /Kg dan sawit umur 10-20 tahun Rp Rp 1.452,07/Kg, sawit umur 21-24 tahun Rp 1.407,07/Kg, dan sawit umur 25 tahun Rp 1.340,10/Kg. Dimana harga minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp 6.851,62/Kg dan harga Kernel Rp 3.756,10/Kg dengan indeks K 85,59%. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com