Menperin Puas dengan Kontribusi Sektor Hilir Kelapa Sawit

 

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengaku cukup puas dengan kontribusi sektor hilir kelapa sawit dalam beberapa tahun terakhir.

“Hingga akhir 2016, nilai industri kelapa sawit dan turunannya telah mencapai US$20 milyar,” katanya di Jakarta, Senin (9/10).

Di samping itu, lanjut Menperin, sebanyak 60% ekspor berbasis kelapa sawit kini terdiri dari sektor hilirnya. Kondisi ini lebih baik dibanding lima tahun lalu yang hanya 30% dari total seluruh ekspor kelapa sawit.

“Ini cukup bagus karena kami bisa menciptakan nilai tambah dari komoditas unggulan. Kami harap, pohon industri dari kelapa sawit ini bisa lebih banyak lagi,” papar Airlangga.

Kementerian Perindustrian mencatat, nilai ekspor nilai ekspor produk hilir kelapa sawit pada akhir 2010 tercatat US$7,2 milyar. Angka ini kemudian naik signifikan 118,05% ke angka US$15,7 milyar di akhir tahun lalu.

Sumber: Gatra.com

Pemanfaatan Lahan Kian Optimal

Lahan sela kebun kelapa sawit umur 0-3 tahun memang bisa ditanami tanaman semusim jenis apa saja yang sesuai di dataran menengah ke dataran rendah atau 0-700 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Di Kabupaten Langkat, lahan sela sawit banyak ditanami tanaman semangka dan jagung. Sedangkan di Deliserdang banyak ditanami jagung. Ada juga yang ditanami tanaman obat-obatan seperti kunyit, temu lawak, dan lainnya.

Di Langkat, terutama daerah Namu Ukur, lahan sela kebun kelapa sawit muda kategori tanaman belum menghasilkan (TBM), banyak digunakan untuk budidaya tanaman bengkuang.

�Tentu saja, tanaman sela ini bisa mengoptimalkan pemanfaatan lahan (bagi perkebunan rakyat sangat diperlukan) guna mengisi kekosongan produksi kelapa sawit di masa TBM,� sebut pengamat pertanian Sumut Prof Abdul Rauf ketika dihubungi MedanBisnis, belum lama ini.

Tanaman sela kata dia, juga dapat mengefisienkan pemeliharaan tanaman seperti pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit tumbuhan (HPT).

Pemeliharaan untuk tanaman sela sudah sekaligus pemeliharaan untuk tanaman utama (kelapa sawitnya). Lebih khusus, kehadiran tanaman sela juga menambah biomassa tanah.

Apalagi bila tanaman sela-nya dari golongan leguminosa (tanaman kacangan, seperti kacang tanah, kacang kedelai, kacang hijau dan sebagainya) yang dapat menambah kesuburan tanah. Karena akarnya bersimbiosis dengan bakteri Rizhobium yang dapat memdiksasi Nitrogen udara dan menambah Nitrogen tanah.

Nitrogen merupakan unsur hara makro dan esensial diperlukan oleh semua jenis tanaman. Biomassa tanah dapat mempertahankan dan meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah. Kadar bahan organik tanah yang subur dan sehat harus dipertahankan sebanyak 3-5%.

�Tentunya, kehadiran tanaman sela dapat membantu mempertahankan kadar bahan organik tanah tersebut melalui sumbangan biomassanya,� ujar Rauf yang merupakan Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian USU itu.

Kebaikan lainnya kata dia, adalah dapat mempertahankan dan meningkatkan ketahanan pangan (menstabilkan politik pangan).

Paling penting juga, tanaman sela dapat menjadi inang bagi hama dan penyakit tanaman. Karena dengan adanya tanaman sela, hama dan penyakit yang dapat menyerang tanaman utama (kelapa sawit) akan terdistribusi ke tanaman sela, sehingga intensitas serangannya, baik di tanaman utama maupun tanaman sela menjadi rendah. (elvidaris simamora)

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim, Naik

 

SAMARINDA – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Timur pada Oktober 2017 kembali mengalami kenaikan, sehingga kondisi ini menjadi kabar menggembirakan bagi pekebun sekaligus menjadikan petani semakin giat.

“Untuk TBS yang dipanen dari kelapa sawit umur 10 tahun ke atas, misalnya, pada bulan Agustus lalu masih seharga Rp1.506,22 per kilogram (kg), namun dalam dua bulan terakhir terus mengalami kenaikan,” ujar Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kaltim, Ujang Rachmad di Samarinda, Minggu (8/10/2017).

Dari harga TBS bulan Agustus tersebut, kemudian pada September mengalami kenaikan menjadi Rp1.588,30 per kg, selanjutnya pada Oktober ini tim penetapan harga kembali memutuskan bahwa harga TBS naik menjadi Rp1.696,58 per kg.

Didampingi Mohammad Yusuf, selaku Kepala Bidang Usaha, Ujang melanjutkan bahwa tren kenaikan dalam dua bulan terakhir terjadi, karena mengikuti harga minyak dunia yang juga mengalami kenaikan.

Sedangkan rincian penetapan harga TBS pada Oktober 2017 per usia panen pohon kelapa sawit adalah, untuk TBS dari kelapa sawit umur tiga tahun ditetapkan seharga Rp1.494,58 per kg, umur empat tahun Rp1.594,57 per kg, dan umur lima tahun seharga Rp1.603,60 per kg.

Kemudian TBS yang dipanen dari kelapa sawit umur enam tahun ditetapkan seharga Rp1.620,73 per kg, umur tujuh tahun Rp1.630,43 per kg, umur delapan tahun Rp1.642,73 per kg, dan yang dipanen dari kelapa sawit umur sembilan tahun ditetapkan seharga Rp1.676,85 per kg.

Sementara untuk harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) tertimbang dikenakan sebesar Rp7.903,63 per kg, mengalami kenaikan Rp292,64 ketimbang bulan sebelumnya yang seharga Rp7.610,99 per kg.

“Sedangkan untuk harga kernel atau inti sawit rerata tertimbang yang sama, ditetapkan seharga Rp5.538,91 dengan Indeks K sebesar 84,61 persen. Harga kernel juga mengalami kenaikan jika dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar Rp4.943,48 per kg,” katanya. (Ant)

Sumber: Cendananews.com

Harga CPO Terkerek Naik

 

JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) berhasil meraih penguatannya kembali pada perdagangan hari keempat berturut-turut, Jumat (6/10/2017) lalu.

Kontrak berjangka CPO untuk Desember 2017, kontrak teraktif di Bursa Malaysia, naik 0,07% atau 2 poin ke posisi RM 2.722 per ton pada siang. Kendati harga CPO sempat tergelincir ke zona merah ketika dibuka dengan pelemahan 0,37% atau 10 poin di level RM 2.710/ton, setelah pada perdagangan Kamis (5/10) berakhir menguat 0,18% di posisi RM 2.720/ton.

Menurut Gnanasekar Thiagarajan, kepala strategi perdagangan dan lindung nilai di Kaleesuwari Intercontinental, minyak sawit kembali terangkat oleh survei yang mengindikasikan bahwa peningkatan jumlah persediaan tidak terlalu mengkhawatirkan.

“Faktor penting yang telah mempengaruhi pasar secara positif adalah survei yang mengindikasikan bahwa jumlah persediaan tidak naik sebanyak yang pasar khawatirkan selama musim produksi yang tinggi,” ujar Thiagarajan, seperti dikutip dari Bloomberg.

Jumlah persediaan minyak sawit Malaysia diperkirakan naik 3,1% (m-o-m) menjadi 2 juta ton pada September, sedangkan tingkat ekspor naik 8,1% (m-o-m) menjadi 1,61 juta ton.

“Begitu musim festival mereda dari India, tingkat permintaan secara keseluruhan bisa berkurang saat musim dingin mendekat dan minyak sawit cenderung memadat,” tandasnya. (T3)

 

Sumber: Infosawit.com

Harga CPO Melesat di Kuartal Tiga

 

JAKARTA. Sepanjang kuartal ketiga tahun ini, harga minyak sawit mentah atawa crude palm oil (CPO) naik signifikan. Di periode Juli-September 2017, harga CPO kontrak pengiriman Desember 2017 di Malaysia Derivative Exchange melonjak 9,02% jadi RM 2.695 per metrik ton.

Keperkasaan harga CPO terjadi setelah ekspor CPO Indonesia dan Malaysia meningkat. Kenaikan ekspor ini mengindikasikan permintaan tengah menguat Research Analyst Asia Tradepoint Futures Deddy Yusuf Siregar menyebut, survei Bloomberg menunjukkan estimasi atau perkiraan ekspor CPO Indonesia di Agustus naik 1,9% menjadi 2,45 juta ton. Ekspor CPO dari Malaysia pun melonjak.

Permintaan CPO terutama datang dari China dan India. “Saat itu permintaan sedang tinggi menjelang golden week di China,” ujar Agus, kemarin.

Produksi mulai naik

Di lain pihak, produksi CPO di Malaysia ternyata belum kembali normal. Agus Chandra, Analis Monex Investindo Futures menuturkan, industri CPO Malaysia masih dalam masa pemulihan setelah terkena dampak Badai El Nino pada tahun lalu. Pelemahan ringgit terhadap dolar AS juga jadi sentimen positif yang membuat harga CPO di kuartal III menguat.

Menurut Deddy, penguatan harga CPO masih akan berlanjut. Permintaan dari India kembali membludak jelang hari raya Diwali. Karena itu, ia optimistis harga CPO dapat mencapai level krusialnya di RM 2.900 per metrik ton.

Hanya saja, jika harga sudah mencapai level tertinggi, maka harga rawan koreksi. Deddy pun tidak memungkiri di akhir tahun juga akan ada banyak aksi profit taking. “Memang rawan, tapi kalau harga berhasil ditembus di level tersebut, maka bukan tidak mungkin harga bisa berlanjut ke RM 3.000-RM 3.200 per metrik ton di akhir tahun,” kata Deddy menganalisa.

Tapi, bersamaan dengan peningkatan permintaan, stok minyak sawit Malaysia pada minggu ketiga bulan September diprediksi menyentuh angka tertinggi sejak Februari 2016. Survei Bloomberg menunjukkan, persediaan CPO akan naik 3,1% mehjadi 2 juta metrik ton dibanding Agustus. Angka tersebut akan menjadi level tertinggi dalam 19 bulan dan mencerminkan kenaikan 29% dibanding periode sama tahun lalu.

Survei juga menunjukkan produksi minyak sawit Malaysia naik 1,1% jadi 1,83 juta ton, sementara ekspor menanjak 8,1% menjadi 1,61 juta ton, atau tertinggi sejak Agustus 2016. Malaysian palm oil Board (MPOB) akan merilis data resmi pada 10 Oktober. . Agus menambahkan, pergerakan CPO juga bakal terimbas harga minyak kedelai. Pasalnya, komoditas tersebut merupakan kompetitor bagi CPO. “Jika minyak kedelai naik, CPO ikut naik karena harganya saling bersaing,” terang Agus.

Ia pun memprediksi harga CPO masih bisa menguat dan bergerak di kisaran RM 2.700-RM 2.800 per metrik ton pada akhir tahun ini.

Nathania Zevwied Pessak/Dimas Andi Shadewo

 

Sumber: Harian Kontan

Sawit Sumbang Laba PTPN III

 

SURABAYA – Peningkatan produktivitas komoditas kelapa sawit menjadi salah satu penyumbang laba bersih PT Perkebunan Nusantara IFI atau PTPN Holding yang mencapai Rp478 miliar selama Januari-Agustus 2017.

Nilai tersebut melonjak 130% dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun lalu. PTPN Holding mencatat pada Januari- Agustus 2016, perseroan sempat mengalami kerugian sebesar Rpl ,57 triliun.

Tahun ini, keuntungan yang diperoleh selama 8 bulan pertama didapat dari peningkatan penjualan, perbaikan produktivitas komoditas tanaman, serta efisiensi di segala lini usaha.

Direktur Utama Perkebunan Holding Nusantara Dasuki Amsir dalam keterangan resminya menjelaskan penjualan perseroan selama Januari-Agustus tahun ini tercatat sebesar Rp21,16 triliun atau meningkat 9% dibandingkan periode sama tahun lalu yaitu sebesar Rpl9,5 triliun.

“Selain itu, produktivitas komoditas kelapa sawit juga meningkat sebesar 18% dibandingkan dengan tahun lalu. Sejak 2016, program transformasi yang dijalankan perseroan sudah on track. Kami optimis perbaikan kinerja terus berlanjut sampai akhir tahun ini,” jelas Dasuki, Kamis (5/10).

Dasuki menjelaskan sejak awal tahun ini, tren kenaikan laba bersih konsisten terjadi setiap bulan. Hal tersebut ditopang oleh peningkatan kinerja anak usaha Holding Perkebunan Nusantara. Menurutnya, program transformasi PTPN akan terus dapat memperbaiki kinerja perseroan secara menyeluruh.

Bermodalkan kenaikan .laba tersebut, Dasuki mengaku optimistis dapat memenuhi target yang sudah dituangkan perseroan ke dalam RKAP 2017 yaitu sebesar Rp650 miliar sepanjang tahun ini. “Dengan tetap menerapkan strategi corporate turnaround, kami optimistis target tahun ini tercapai,” katanya.

Holding Perkebunan Nusantara merupakan induk usaha dari PTPN I sampai PTPN XIV yang dibentuk berdasarkan PP No.72/2014. Sebanyak 90% saham PTPN I sampai PTPN XIV dimiliki oleh Holding Perkebunan Nusantara dan sisanya 10% dimiliki pemerintah.

Holding Perkebunan Nusantara memiliki cakupan usaha berupa budidaya tanaman, produksi, perdagangan, pengembangan usaha bidang perkebunan, agrowisata, agrobisnis, agroindustri, agroforestry, dan usaha lainnya dengan total aset hingga April 2017 sekitar Rpll3 triliun.

Komoditas yang dikelola di atas lahan 1,18 juta hektar adalah kelapa sawit, karet, gula, teh, kopi, kakao, tembakau, aneka kayuan, buah-buahan, dan aneka tanaman lainnya. Adapun, komoditas sawit merupakan penopang utama pendapatan perseroan.

Bisnis mencatat PTPN Holding baru dapat menikmati pundi laba bersih dalam dua tahun terakhir. Setelah kerugian sempat mencapai Rp613 miliar pada 2015 lalu, perseroan akhirnya mulai mencatatkan untung pada Januari 2017.

Selain itu, Dasuki menyebut perseroan terus melakukan upaya efisiensi untuk mengantisipasi penurunan harga komoditas yang bisa sewaktu-waktu terjadi.

(Dara Aziliya)

 

Sumber: Bisnis Indonesia

RI Lawan Kampanye Negatif Sawit di WTO

JAKARTA-Pemerintah Indonesia melawan kampanye negatif terhadap industri minyak sawit melalui forum Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO). Di beberapa negara tujuan ekspor, khususnya di Eropa, produk sawit telah mengalami perlakuan diskriminatif terkait dengan isu-isu perusakan hutan, perubahan iklim dan pelanggaran hak masyarakat adat.

Keterangan pers Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di Jenewa, Swiss yang diterima Antara di Jakarta, kemarin, menyebutkan untuk melawan kampanye negatif minyak sawit di forum perdagangan Internasional, Pemerintah Indonesia telah memprakarsai pelaksanaan kegiatan Workshop on Sustainability and Non-Tariff Barriers to Trade: The Case Study of Palm Oil yang dilaksanakan pada akhir September 2017 di Forum Publik WTO, Jenewa, Swiss.

Workshop itu merupakan prakarsa Indonesia yang kemudian didukung oleh beberapa negara produsen sawit lainnya seperti Malaysia, Thailand, Guatemala, dan Kolombia. Pada pembukaan acara tersebut, Wakil Tetap RI di Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib, menyampaikan bahwa berbagai fakta menunjukkan adanya berbagai tekanan terhadap produk sawit di Eropa. Tekanan berasal dari berbagai negara maju dan aturan tarif dan nontarif yang ditetapkan oleh pemerintah pengguna sawit.

Kampanye negatif dinilai berpotensi mengakibatkan kerugian negara yang sangat besar dan berdampak pada perekonomian nasional.

Beberapa pembicara, khususnya dari negara ekonomi kecil, mengungkapkan bahwa perkembangan industri sawit telah mengubah kondisi ekonomi di negaranya ke dalam tatanan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. “Program pengentasan kemiskinan, pengurangan kesenjangan, peningkatan pendapatan telah banyak didukung oleh industri sawit. Di dalam perkembangannya, industri sawit ini telah melibatkan para pelaku berskala kecil,” ujar Dubes Hasan Kleib.

Margot Logman dari Aliansi Minyak Sawit Eropa (European Palm Oil Alliance/EPOA) juga memberikan informasi yang seimbang dalam perspektif kelapa sawit yang berkelanjutan di kawasan Eropa, khususnya dari sisi pelaku konsumen, untuk mengatasi tantangan terhadap isu lingkungan dan sosial terkait dengan penggundulan dan degradasi hutan. “Minyak kelapa sawit menafkahi banyak orang di dunia, sehingga negara maju harus membantu negara-negara produsen untuk membuat minyak sawit lestari,” ujar Margot Logman.

EPOA mengakui produksi sawit memainkan peran penting di dalam kegiatan ekonomi negara-negara produsen dan telah berperan langsung maupun tidak langsung untuk membantu masyarakat keluar dari kemiskinan di negara-negara tersebut. (tl)

Sumber: Id.beritasatu.com

Eksportir Sawit dan Kakao Menikmati Berkah Penguatan Nilai Tukar Dollar AS

 

JAKARTA. Pelemahan mata uang rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) bakal membawa berkah bagi produk ekspor seperti minyak kelapa sawit dan turunnya, komoditas kakao, serta kopi. Produk-produk tersebut selama ini menjadi salah satu andalan ekspor di pasar global.

Andi Nuhung, Direktur Eksekutif Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) mengatakan, dalam beberapa hari terakhir harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani terdongkrak menjadi Rp 2.000 per kilogram (kg) dari sebelumnya hanya bertengger di kisaran Rp 1.500-Rp 1.700 per kg. Menurutnya peningkatkan harga tersebut disumbang oleh pelemahan rupiah terhadap dollar AS.

“Harga di pasar dunia memang berkisar US$ 600 – USS 750 per ton. Tetapi karena penguatan dollar, maka setelah diubah menjadi rupiah, maka petani dan eksportir akan menerima harga yang lebih besar. Dengan begitu, seharusnya dengan penguatan ini, petani akan menerima rupiah lebih banyak,” tutur Iskandar kepada KONTAN, Rabu (4/10).

Menurut Iskandar, dengan adanya peningkatan harga di tingkat petani, maka akan turut berdampak positif terhadap produksi minyak sawit. Pasalnya, dengan meningkatnya harga maka akan mendorong petani untuk melakukan pemeliharaan yang baik terhadap pohon kelapa sawit milik mereka

Hal senada juga dikatakan Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Zulhelfl Sikumbang. Ia bilang penguatan dollar AS turut berpengaruh terhadap kenaikan harga kakao di tingkat petani.

Menurutnya, saat ini harga kakao di petani naik menjadi Rp 28.000 per kg dari sebelumnya Rp 20.000 per kg. “Penguatan dollar membuat petani mendapatkan harga kakao lebih besar dalam bentuk rupiah, karena harga kakao berbasiskan harga dollar. Untuk eksportir juga akan menguntungkan. Secara umum ini akan meningkatkan penerimaan petard,” jelas Zulhefi.

Hanya saja Wakil Ketua Umum Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) menilai penguatan dollar belum berpengaruh besar terhadap peningkatan harga kopi. Pasalnya harga kopi lebih dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan. “Penguatan dolar tidak berpengaruh pada harga kopi karena harga kopi sesuai dengan supply and demand, walaupun akhir-akhir ini dipengaruhi oleh fund manager” ujarnya.

Saat ini harga kopi robusta di pasar dunia sekitar USS 2 per kg, sementara kopi-kopi specialty USS 5 per kg.

Lidya Yuniartha Panjaitan

 

Sumber: Harian Kontan

RI Lawan Kampanye Negatif Sawit di WTO

 

JAKARTA – Pemerintah Indonesia melawan kampanye negatif terhadap industri minyak sawit melalui forum Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization /WTO). Di beberapa negara tujuan ekspor, khususnya di Eropa, produk sawit telah mengalami perlakuan diskriminatif terkait dengan isu-isu perusakan hutan, perubahan iklim dan pelanggaran hak masyarakat adat.

Keterangan pers Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTR!) di Jenewa, Swiss yang diterima Antara di Jakarta, kemarin, menyebutkan untuk melawan kampanye negatif minyak sawit di forum perdagangan Internasional, Pemerintah Indonesia telah memprakarsai pelaksanaan kegiatan Workshop on Sustainability and Non-Tariff Barriers to Trade The Case Study of Palm Oil yang dilaksanakan pada akhir September 2017 di Forum Publik WTO, Jenewa.Swiss.

Workshop itu merupakan prakarsa Indonesia yang kemudian didukung oleh beberapa negara produsen sawit lainnya seperti Malaysia, Thailand, Guatemala, dan Kolombia. Pada pembukaan acara tersebut. Wakil Tetap RI di Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib, menyampaikan bahwa berbagai fakta menunjukkan adanya berbagai tekanan terhadap produk sawit di Eropa. Tekanan berasal dari berbagai negara maju dan aturan tarif dan nontarif yang ditetapkan oleh pemerintah pengguna sawit 

Kampanye negatif dinilai berpotensi mengakibatkan kerugian negara yang sangat besar dan berdampak pada perekonomian nasional.

Beberapa pembicara, khususnya dari negara ekonomi keci], mengungkapkan bahwa perkembangan industri sawit telah mengubah kondisi ekonomi di negaranya ke dalam tatanan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. “Program pengentasan kemiskinan, pengurangan kesenjangan, peningkatan pendapatan telah banyak didukung oleh industri sawit Di dalam perkembangannya, industri sawit ini telah melibatkan para pelaku berskala kecil,” ujar Dubes Hasan Kleib.

Margot Logman dari Aliansi Minyak Sawit Eropa (European Palm Oil Alliance/EPO A) juga memberikan informasi yang seimbang dalam perspektif kelapa sawit yang berkelanjutan di kawasan Eropa, khususnya dari sisi pelaku konsumen, untuk mengatasi tantangan terhadap isu lingkungan dan sosial terkait dengan penggundulan dan degradasi hutan. “Minyak kelapa sawit menafkahi banyak orang di dunia, sehingga negara maju harus membantu negara-negara produsen untuk membuat minyak sawit lestari,” ujar Margot Logman.

EPOA mengakui produksi sawit memainkan peran penting di dalam kegiatan ekonomi negara-negara produsen dan telah berperan langsung maupun tidak langsung untuk membantu masyarakat keluar dari kemiskinan di negara-negara tersebut.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia

Kelapa Sawit, Salah Satu Komoditas Sukses

 

Sedangkan Wakil Umum Ketua Kadin Bidang Agribisnis, Pangan, dan Kehutanan Franky O Widjaja mengatakan industri pertanian, pangan, dan kehutanan mempekerjakan sekitar 40 juta orang tenaga kerja langsung.

Salah satu komoditas RI yang cukup sukses adalah kelapa sawit, di mana kesuksesan ini ditargetkan akan diaplikasikan kepada komoditas lainnya, seperti perikanan dan peternakan.

Ia menjelaskan, kunci sukses dari kelapa sawit adalah menggunakan koperasi sebagai wadahnya, kemudian diberikan pelatihan praktik yang baik dan diberikan bantuan finansial. Masalah finansial, menurut dia, menjadi salah satu kendala besar dalam pertanian.

“Potensi kita yang sangat besar bisa kita tingkatkan pemanfaatannya. Banyak sekali komoditas kita produktivitasnya masih 30-40%, ini yang mau kami tingkatkan,” kata Franky.

Untuk peternakan dan pertanian, lanjut dia, diharapkan bisa dibuka peluang impor lebih banyak lagi, tidak hanya dari negara-negara tertentu. Kemudian terkait Inpres No 7/2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Perikanan perlu diperbaiki. Selama ini, industri masih kesulitan bahan baku. (c01/ts)

 

Sumber: Id.beritasatu.com