Perkebunan Merupakan Bentuk Afforestasi Dan Penghasil Energi Terbarukan

 

Menyelamatkan bumi dari pemanasan global yang lebih parah merupakan gerakan masyarakat internasioanal untuk dua hal utama, yakni (1) Mengurangi Emisi GHG khusunya karbondioksida (CO2) melalui pengurangan komsumsi BBF secara dramatis dan (2) Menyerap kembali GHG khususnya CO2 dari atmofir bumi. Perkebunan kelapa sawit potensial menjadi bagian solusi dari kedua hal tersebut.

Perkebunan Kelapa Sawit Secara Netto Penyerap CO2.

Dalam planet bumi, hanya tumbuhan/tanaman yang memiliki kemampuan dalam menyerap CO2. Tumbuhan seperti perkebunan, memiliki mekanisme fotosintesis (asimilasi) yang menyerap CO2 atmofir bumi dan energi matahari dan disimpan dalam bentuk biomass (stock karbon). Selain proses fotosintesis, tumbuhan juga melakukan pernapasan/refirasi  yang menghasilkan CO2 ke atmofir bumi. Oleh sebab itu, yang perlu dilihat adalah penyerapan netto-nya yakni CO2 yang diserap dikurangi CO2 yang dilepas. Henson (1999) menghitung penyerapan netto CO2 perkebunan kelapa sawit dibandingkan dengan hutan alam tropis.

Data empiris tersebut menunjukan bahwa seacra netto kelapa sawit dan hutan alam tropis (juga tanaman lainnya) adalah mrnyerap CO2 dari atmofir bumi. Namaun kemampuan perkebunan kelapa sawit dalam menyrap CO2 (secara netto) lebih besar dibandingkan hutan alam tropis.

Perbandingan Penyerapan Karbondioksida Anatara Perkebunan Kelapa Sawit  dan Huatan Alam Tropis.

Indikator Perkebunan Kelapa Sawit Hutan Alam Tropis
Fotosintesis (ton CO2/ha/tahun) 161 163,5
Respirasi (ton CO2/ha/tahun) 96,5 121,1
Netto (ton CO2/ha/tahun) 64,5 42,4

Sumber : Henson, I.E. (1999). Comparative Eco-Physiology of Palm Oil and Tropical Forest. Oil Palm and The Environment; A Malaysian Perspective. Malaysian Palm Oil Growers Council. Kuala Lumpur. P9-39.

Perbedaan penyerapan netto CO2 tersebut disebabkan perbedaan laju fotosintesi dan respirasi. Pada perkebunan (kelapa sawit) pertumbuhan biomass (termasuk produksinya) masih terjadi sampai kelapa sawit ditebang (umur 25 tahun), sehingga laju fotosintesis lebih besar dari laju respirasi. Sedangkan hutan alam tropis yang sudah mencapai usia dewasa (mature) pertumbuhan biomass sudah terhenti atau sangat kecil, sehingga laju fotosintesis sudah sama (mendekati) laju respirasi.

Dengan demikian untuk penyerapan CO2 dari atmofir bumi, konversi hutan dewasa menjadi perkebunan bukanlah bentuk deforestasi tetapi bersifat reforestsi (Sumarwoto, 1992). Mungkin lebih tepat disebut afforestasi yakni membangun fungsi ekologis hutan diluar (administratif) kawasan hutan.

Sumber: Indonesia Dan Lingkungan Perkebunan Kelapa Sawit Dalam Isu Lingkungan Global, GAPKI 2013.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

Perkebunan Kelapa Sawit Bukan Penyebab Utama Global Warning

 

Pemanasan global bukan disebabkan oleh ekpansi perkebunan kelapa sawit melainkan akibat meningkatnya intensitas efek gas rumah kaca pada atmosfer bumi. Secara alamiah atmosfer bumi metane (CH4), dan nitrogen (N2) denagn konsentrasi alamiah tertentu. Fungsinya membentuk mekanisme efek rumah kaca (natural greenhouse effect) untuk melindungi dan memelihara temperatur atmofer bumi agar nyaman unuk kehidupan. Melalui mekanisme efek rumah kaca alamiah tersebut, sebagian energi panas matahari terperangkap dalam atmofer bumi dan sebagian lagi dipantulkan keruang angkasa sehingga temperatur atmofer bumi akan sanat dingin (tidak nyaman untuk kehidupan).

Intensitas efek rumah kaca alamiah tersebut menjadi meningkat ketika konsentrasi gas-gas rumah kaca pada atmofer bumi meningkat di atas konsentrasi alamiahnya. Penyebabnya adalah meningkatnya emisi GHG dari aktivitas kehidupan manusia di bumi dan munculnya gas-gas buatan manusia seperti golongan chloroflurocarbon (CFC) dan hologen (human enhanced greenhouse effect).

Dengan meningkatnya intensitas efek rumah kaca tersebut, radiasi/panas sinar matahari yang terperangkap pada atmofer bumi menjadi lebih besar (Soemarwoto, 1992) dari alamiahnya sehingga memanaskan temperatur udara bumi. Peningkatan temperatur bumi tersebut yang kita kenal sebgai pemanasan global (global warming) akibat dari meningkatnya intensitas efek Rumah Kaca (green house effect) pada atmofer bumi.

Menurut Intergovernmetal Panel on Climate (IPCC, 1991) dalam priode pre-industri (1980-an) sampai tahun 1990, konsentrasi CO2 pada atmofer bumi telah meningkat ari 280 menjadi 353 ppmv (part per million volume). Sementara CH4 meningkat dari 0,8 menjadi 1, 72 ppmv, N2O meningkat dari 288 menjadi 310 ppbv (part perbillion volume). Dan konsentrasi CFC meningkat dari nol menjadi 280-484 pptv (part per trillion volume). Dan menurut data Internasional Energy Agency konsentrasi CO2 atmaofer bumi pada tahun 2005 mencapai 379 ppmv meningkat menjadi 396 ppmv tahun 2013 dan menjadi 399 ppmv tahun 2015 (IEA, 2016).

Peningkatan konsentrasi GHG atmofer bumi terkait dengan kegiatan masyarakat dunia sejak era pra industri (tahun 1800-an) sampai sakarang. Menurut International Energy Agency (2016), sumber emisi gas global berdasarkan jenis gas GHG, urutan terbesar dari emisi CO2 (90 pesen), kemudian disusul CH(9 persen) dan N2O ( 1 persen).

 

Sumber: Sawitindonesia.com

PPKS Hasilkan Body Lotion Berbahan Aktif Minyak Sawit

 

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) memproduksi Body Lotion berbahan aktif minyak sawit olein merah bernama Guineensis. Body Lotion yang diekstraksi dari minyak ini sawit lebih alami dan punya kandungan nutrisi tinggi seperti karotenoid (pro-vitamin A), vitamin E, dan squalene.

Sulit untuk dipungkiri, kelapa sawit termasuk komoditas alami dan unggulan yang sangat menguntungkan di Indonesia. Produk turunan kelapa sawit dapat dikembangkan menjadi 150 produk baik pangan dan non pangan. Saat ini, minyak sawit tidak lagi sebatas  dijadikan sumber bahan pangan melainkan juga produk turunannya dipakai di industri kosmetik.

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) semenjak tahun 2016 telah mengembangkan minyak sawit sebagai bahan aktif untuk produk pelembab kulit atau lotion. Pemilihan minyak sawit karena tingginya nutrisi dan kandungan vitamin di dalamnya. Lotion banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Secara umum lotion berfungsi untuk menjaga kelembapan kulit dan memenuhi nutrisi kulit.

Ahmad Gazali Sofwan, Peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) di Medan, menjelaskan bahwa ide penelitian tentang lotion berawal dari hasil penelitian yang menjelaskan bahwa kandungan nutrisi buah kelapa sawit yang cukup kompleks, memiliki nutrisi tinggi seperti karotenoid, vitamin E, ubiquinone, squalene dan fitosterol. Hasil penelitian lainnya yang dilakukan terutama dari minyak sawit merah memberikan nilai antioksidan yang sangat kuat sehingga dapat dimanfaatkan dalam pengobatan, terutama  mengatasi penuaan dini dan memperbaiki sistem regenerasi sel kulit.

“Dari tahun 2016 sampai 2017, PPKS telah meneliti produk olahan atau turunan  sawit yang dikembangkan secara klinis pada kulit. Produk tersebut berasal dari buah sawit dengan varietas PPKS tertentu yang memiliki kandungan nutrisi tinggi dan diolah secara aseptis untuk menghasilkan minyak olein merah alami (Natural Red Palm Olein),” ujarnya.

Ahmad Gazali menjelaskan penelitian lotion berbahan aktif sawit melibatkan sejumlah ahli di bidang pengolahan sawit antara lain Donald Siahaan (PPKS) dan Kasmirul Ramlan Sinaga dari Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara sebagai ahli bidang farmasetika (penelitian dan formulasi kosmetika).

Produk lotion sawit berbahan aktif minyak sawit olein merah pertama kali dikembangkan oleh PPKS dengan karakteristik fisik lotion yang khas yaitu berwarna kuning, sedangkan produk lotion lainnya (negara lain) hanya menggunakan asam lemak yang berasal dari minyak nabati yang terfraksinasi.

Apa yang membedakan lotion sawit dan non sawit? Lotion pada umumnya menggunakan bahan aktif tunggal dan biasanya tidak berasal langsung dari bahan alam, sedangkan lotion berbahan sawit langsung menggunakan minyak sawit sebagai bahan aktif dengan kandungan nutrisi yang tinggi seperti karotenoid (pro-vitamin A), vitamin E, dan squalene yang sangat baik digunakan untuk kulit karena memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat.

“Lotion dengan bahan aktif yang berasal dari sawit dapat bekerja lebih efektif dibandingkan produk lainnya yang menggunakan bahan aktif tunggal. Produk lotion sawit mampu melembabkan kulit lebih lama dan mampu mencerahkan kulit lebih cepat dibandingkan produk lotion lainnya,” tambah pria dengan latar belakang pendidikan Apoteker ini.

Untuk lotion berbahan sawit ini, kata Ahmad Gazali, dapat digunakan setelah mandi. Caranya mengoleskan ke bagian tangan dan kaki. Dengan mengoleskan lotion tersebut dapat memberikan kelembapan kulit  kembali.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

Perkebunan Kelapa Sawit Di Lahan Gambut

 

Penelitian emisi CO2 pada alahan gambut tropis di Indonesia dan Malaysia susah banyak di lakukan anatara lain oleh Murayama dan Bakar (1996), Hadi, et.al (2001), Melling, et.al (2005, 2007) dan Germer dan Sauaerborn (2008), Sabiham, et.al (2012), Sabiham, 2013. Hasil penelitian tersebut mengungapkan emisi CO2 dari lahan gambut tropis bervariasi baik akibat variasi lahan gambut itu sendiri maupun perbedaan vegetasi.

Secara keseluruhan hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa emisi CO2 lahan gambut yang masih hutan (huta gambut, hutan gambut sekunder), lenih tiggi dari pada emisi CO2 lahan gambut yang sudah di jadikan pertanian (sawah, kelapa sawit). Bahkan emisi COdari perkebunan kelapa sawit gambut lebih rendah dari emisi CO2  sawah gambut maupun hutan gambut.

Bahkan hasil studi Melling, et.al. (2007) mengungkapkan bahwa secara netto perkebunan kelapa sawit dilahan gambut dalam (deep peat landBukan sumber emisi maupun penyerap CO2 (bila dikoreksi emisi CO2 dari dekomposisi dan respirasi mikroorganisme yang secara alaimah ada dilahan gambut). Pengelolaan lahan gambut dengan menambah bahan mineral amelioran yang mengandung Fe2, O3dan adanya understory cover crop (sebagaimana standar kultur teknis budidaya kelapa sawit gambut Indonesia) dapat menurunkan fluks (emisi) CO2 (Sabiham, et.al.2012).

Emisi CO2 dari Berbagai Penggunaan Lahan Gambut Tropis

Land Use Gambut Rataan Emisi Ton CO2/ha/Tahun Peneliti 
Huatan Gambut Tropis 78,5 Melling,et.al. 2007
Hutan Gambut Sekunder 127 Hadi, et.al. 2001
Sawah Gambut 88 Hadi, et.al. 2001
Kelapa Sawit Gambut 57,06 Melling, et.al. 2007
Kelapa Sawit Gambut 55 Melling, et.al. 2007
Kelapa Sawit Gambut 54 Muryama and Bakar . 1996
Kelapa Sawit Gambut 31,4 Germer and Sauaerborn. 2008

 

Selama ini berkembang pandangan bahwa dengan membuka lahan gambut menjadi perkebunan kelapa sawit menyebabkan stok karbon (carbon stock) pada lapisan atas gambut akan terdekomposisi sehingga mengurangi stok karbon. Pandangan tersebut ternyata tidak selalu benar. Stok karbon perkebunan kelapa sawit gambut makin meningkat (pada lapisan atas) dengan bertambahnya umur tanaman kelapa sawit. Pada usia 14-15 tahun ternyata stok karbon dalam tanah justru melampaui stok karbon hutan gambut sekunder bahkan mendekati stok karbon pada hutan primer.

Perbandingan Stok Karbon Bagian Atas Lahan Gambut dan Perkebunan Kelapa Sawit Gambut

Land Use Gambut Stok Karbon (ton C/ha)
Hutan Gambut Primer 81,8
Huatan Gambut Skunder 57,3
Kelapa Sawit
1.       Umur dibawah 6 Tahun 5,8
2.       Umur 9-12 Tahun 54,4
3.       Umur14-15 Tahun 73

Sumber: Sabiham,S. 2013. Sawit dan Lahan Gambut dalam Pembangunan Kebun Kelapa Sawit Indonesia. Himpunan Gambut Indonesia.

Hasil-hasil penelitian tersebut menujukan bahwa, pemanfaatan lahan gambut yang telah rusak (degraded peat land) untuk pertanian termasuk perkebunan kelapa sawit dapat mengurangi emisi GHG, asalkan dilakukan dengan cara-cara/kultur teknis yang benar. Atas dasar itulah pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian termasuk perkebunan tidak dilarang di Indonesia.

Kultur teknis pemanfaatan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit telah diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 14/Permentan/PL.110/2/2009 tentang Pedoman Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk Budidaya Kelapa Sawit. Kemudian, untuk memastikan penerapan kultur teknis tersebut dievaluasi memalui Peraturan Menteri Pertanian No. 19/Permentan?OT.140/3/2011 tentang Pedoman Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesia Sustainable Plam Oil/ ISPO).

Sumber : Indonesia Dan Perkebunan Kelapa Sawit Dalam Isu Lingkungan Global, GAPKI 2013.

Sumber: Sawitindonesia.com

RI Minta Italia Tak Ikut Kampanye Hitam Sawit Uni Eropa

 

Pemerintah Indonesia meminta Italia dan negara anggota komisi Uni Eropa lainnya untuk tidak mendukung kebijakan parlemen blok regional itu yang ingin menghapus komoditas kelapa sawit sebagai produk biodiesel.

Pernyataan itu diungkapkan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Italia, Angelino Alfano, di Gedung Pancasila, Jakarta, Rabu (7/2).

“Walaupun saat ini aturan penghapusan sawit dari biodiesel baru dalam pembahasan parlemen Eropa dan belum menjadi kebijakan, RI meminta negara-negara dalam komisi Uni Eropa untuk tidak menjadikan hal itu suatu kebijakan. Ini lah yang sedang kita perjuangkan dengan negara-negara Uni Eropa, termasuk Italia,” ucap juru bicara Kemlu RI, Arrmanatha Nasir.

Permintaan itu diungkapkan Retno kepada Alfano menyusul langkah perlemen Uni Eropa yang mengesahkan proposal bertajuk Report on the Proposal for a Directive of the European Parliament and of the Council on the Promotion of the use of Energy from Renewable Sources dalam pemungutan suara di kantor Parlemen Eropa, Perancis, 17 Januari lalu.

Proposal energi tersebut mengatur bahwa negara Uni Eropa akan menggunakan sedikitnya 35 energi terbarukan dari keseluruhan penggunaan energi pada 2030.

Tak hanya itu, proposal tersebut juga menghapus dan tidak lagi menganggap produk biodisel atau bahan bakar yang berasal dari makhluk hidup dan tanaman seperti kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan.

Dengan begitu, penjualan serta penggunaan produk sawit di Eropa akan semakin terbatas. Sementara itu, benua Biru selama ini menjadi importir terbesar minyak sawit Indonesia, salah satu negara produsen sawit terbesar di dunia.

Dalam pernyataan bersama Alfano, Retno mengatakan Indonesia kembali menekankan pentingnya kelapa sawit bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia, di mana 17 juta orang yang sebagian besar adalah petani kecil, sangat mengandalkan komoditas ini.

Meski masih ada beberapa praktik sawit yang tidak mementingkan aspek lingkungan, Rento menuturkan Indonesia bersama negara produsen sawit lainnya terus berupaya memaksimalkan upaya produksi berkelanjutan.

“Kelapa sawit adalah hal penting bagi kepentingan nasional RI yang tidak dapat diabaikan bagi kepentingan ekonomi dan sosial bangsa. Dan kita melakukan pendekatan yang cukup seimbang antara pembangunan ekonomi dan isu lingkungan,” kata Retno.

“Italia adalah pengimpor sawit RI terbesar ketiga di Eropa sehingga kelapa sawit kita juga memiliki kontribusi dalam pembangunan ekonomi Italia. Karena itu Indonesia meminta perhatian pemerintah Italia atas diskusi parlemen dan komisi Eropa tersebut,” lanjutnya.

Tak hanya Italia, Retno juga telah meminta hal serupa kepada Perancis, Belanda, dan sejumlah negara lainnya. Retno juga telah berkomunikasi langsung dengan Menlu Uni Eropa Federica Mogherini terkait hal ini.

Selain sawit, kedua menlu tak lepas membahas penguatan kerja sama bilateral Indonesia dan Italia. Menlu Alfano mengatakan kedua negara berencana menguatkan kerja sama di berbagai sektor perdagangan, investasi, maritim, perencanaan kota, agrobisnis, penguatan kerja sama ekonomi kreatif. (has)

 

Sumber: Cnnindonesia.com

Ekspor Sawit Ditaksir Masih Prospektif Hingga Sepuluh Tahun

 

Jakarta – Pengamat ekonomi Bustanul Arifin memprediksi hingga 10 tahun mendatang, volume dan nilai ekspor minyak sawit dan produk turunannya masih akan terus meningkat. Hal itu dikatakannya di Jakarta dalam rangka menanggapi data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada 2017 mengalami surplus 11,84 miliar dolar AS.

Pada 2016 nilai ekspor minyak sawit dan produk turunannya (tidak termasuk biodiesel dan oleochemical) sebesar 18,22 miliar dolar AS, tahun ini melejit di angka 22,97 miliar dolar atau naik sekitar 26 persen.

Guru besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila) itu mengaku tak terkejut dengan angka yang dirilis BPS tersebut, karena volume ekspor minyak sawit berbanding lurus dengan produksi.

“Saya tidak terlalu kaget dengan angka-angka itu, karena sawit itu nilai ekspornya berbanding lurus dengan produksi, apalagi harga rata-ratanya juga meningkat. Dan tren kenaikan ekspor ini di 2018 masih akan terjadi karena cuaca juga mendukung,” katanya, disalin dari Antara.

Namun demikian, dia mengingatkan kepada para pelaku usaha dan pemerintah bahwa isu “sustainibility” atau keberlangsungan masih akan terus menjadi kendala. “Ini harus diselesaikan. Pemerintah harus terus melakukan diplomasi dagang. Kalau tidak, potensi devisa yang sangat besar ini bisa saja sirna. Karena ini merupakan salah satu hambatan dagang, tariff barrier,” katanya

Selain itu, pemerintah harus gencar membuka pasar-pasar ekspor baru, misalnya negara-negara di Afrika Tengah, Afrika Selatan, negara pecahan Rusia, negara-negara di Timur Tengah yang dinilai sebagai pasar prospektif.

Namun demikian, Bustanul juga mengingatkan agar pasar-pasar tujuan ekspor tradisional seperti Eropa Barat, AS, Jepang, India, Pakistan, China tidak ditinggalkan. “Kita harus cerdas dan cerdik dalam mengembangkan pasar baru yang potensial, tapi jangan sampai lengah dengan meninggalkan pasar tradisional. Sebab kalau lengah, peluang itu akan hilang,” katanya. Menurut dia, berbagai upaya menghambat pertumbuhan industri sawit akan terus dilancarkan karena persaingan dagang minyak nabati yang semakin ketat. “Dalam kondisi ini, pemerintah harus lebih jeli dalam melihat permasalahan dan tidak mengeluarkan regulasi-regulasi yang justru menghambat perkembangan industri sawit yang notabene merupakan mesin penghasil devisa terbesar dalam menyokong perekonomian nasional,” tutur Bustanul.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics Finance (Indef) Bhima Yudhistira menyatakan, hingga kini Indonesia masih terpaku pada pasar tradisional yang mencapai sekitar 70 persen dari total negara tujuan ekspor.

“Kita dari dulu masih tidak terbuka untuk pasar baru. Pakistan, Eropa Timur, Afsel, Afrika Utara ini juga sangat potensial. Oleh karena itu tahun 2018 harus buka pasar altematif itu,” katanya.

Selain itu, tambahnya, pemerintah harus bisa melakukan diplomasi dagang dengan negara tujuan ekspor, sebab setiap negara selalu menerapkan tarif dan non tarif. Amerika Serikat misalnya, saat ini menerapkan kebijakan perdagangan yang lebih protektif.

Saat ini AS telah menerapkan lebih dari 2.000 hambatan non tarif, China punya 4.000 hambatan non tarif, sementara Indonesia hanya memiliki 299 hambatan non tarif. “Itu yang menyebabkan kita tidak bisa masuk ke pasar mereka. Kita harus memperkuat diplomasi perdagangan baik secara bilateral maupun multilateral sehingga hambatan non tarif tadi bisa berkurang,” katanya.

Indonesia yang memiliki sawit sebagai komoditas potensial, menurut Bhima, harus tetap dijaga dan diperjuangkan, terutama dalam sengketa dagang di forum WTO. Pemerintah Indonesia dan Malaysia, sebagai dua negara penghasil utama minyak sawit dunia harus bersama-sama melakukan diplomasi.

Pemerintah harus lebih aktif lagi di forum WTO agar bisa menang dalam menghadapi sengketa dagang. “Apalagi selama kita kekurangan tim banding di WTO sehingga untuk menghadapi sengketa dagang, ini harus diperkuat. Market intelegen kita juga kurang. Padahal ini sangat penting,” katanya.

Kalangan produsen benih siap mengamankan program peremajaan atau replanting perkebunan sawit rakyat 2018 seluas 185 ribu hektare melalui Badan Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa sawit (BPDP-KS).

Ketua Forum Komunikasi Produsen Benih Kelapa sawit Indonesia (FKPBKSl) Dwi Asmono menyatakan, sumber benih siap memenuhi kebutuhan benih untuk program peremajaan kebun rakyat yang diperkirakan mencapai 27 juta batang. “Setiap tahun potensi produksi kebun sumber benih bisa mencapai 120 juta kecambah, sehingga untuk memenuhi kebutuhan benih 27 juta bukanlah hal yang sulit. Apalagi saat ini Indonesia telah memiliki 15 produsen benih,” katanya.

Selama ini, lanjut Dwi yang juga Direktur Riset and Development PT. Sampoerna Agro, TBk itu, sebagian besar produsen benih memasarkan benih dalam bentuk kecambah. Namun jika dibutuhkan, produsen benih beserta mitranya melalui kegiatan waralaba siap melakukan penangkaran.

 

Sumber: Harian Ekonomi Neraca

Pendapatan Petani Sawit Mendongkrak Kesejahteran

 

 

Petani-petani sawit telah memiliki pendapatan per kapita lebih yang lebih ti nggi dari garis kemiskinan pedesaan. Pada tahun 2016 misalnya, garis kemiskinan adalah sekitar Rp. 4 juta/kapita/tahun. Pendapatan petani sawit (per 2 hektar dengan rata-rata angota keluarga 4 orang) telah mencapai Rp. 10,5 juta/kapita/tahun atau RP. 42 juta /keluarga/2 hektar /tahun. Pendapatan petani sawit bukan hanya sudah jauh di atas garis kemiskinan  baik di desa maupun di kota, tetapi juga ber tumbuh cepat makin menjauh dari garis kemiskinan. Pendapatan petani sawit baik plasma maupun swadaya meningkat sekitar 2 kali lipat  dalam priode 2009-2016.

Selain itu, pendapatan petani sawit tersebut bersifat berkelanjutan (sustainability income). Pendapatan petani sawit bukan dari kegiatan pertanian musiman seperti petani tanaman pangan yang pendapatanya dapat berfluktuasi setiap musim. Pendapatan petani sawit relatif stabil bahkan cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya umur kebun sawit dan relatif terjamin samapai 250 tahun (replanting). Dengan sumber dan pola pendapatan petani yang demikian akan menjamin angota keluargannya khususnya biaya pendidikan anak-anak petani.

Sumber : Mitos vs Fakta, PASPI 2017

 

Sumber: Sawitindonesia.com

 

12 Februari 2018, Presiden Jokowi Resmikan Peremajaan Sawit 12 Ribu Ha Di Riau

 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dijadwalkan meresmikan kegiatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) seluas 12 ribu hektare di Riau pada 12 Februari 2018. Informasi ini merujuk Surat Menteri Koordinator Perekonomian Bernomor S.72/M.Ekon/2/2018 perihal Penanaman Perdana Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di Kabupaten Rokan Hulu, Riau.

 

Dalam surat yang ditujukan kepada Presiden RI Joko Widodo, dijelaskan bahwa agenda penanaman perdana PSR bertempat di Riau sebagai penghasil sawit terluas di Indonesia. Berdasarkan data 2016, luas perkebunan sawit di Riau mencapai 2,3 juta hektare atau 20,16% dari luasan perkebunan sawit nasional. Produksi CPO mencapai 7,76 juta ton atau 23,37% dari produksi CPO nasional.

Point berikutnya disebutkan bahwa Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bersama Kementerian Pertanian dan BPDP-KS telah melakukan koordinasi dengak Gubernur Riau untuk persiapan penanaman perdana PSR di Riau dengan hasil sebagai berikut:

a. Rencana PSR di Riau seluas 30.000 hektare dan tahap awal untuk tahun 2018 seluas 12.000 hektare.

b. Penanaman perdana diusulkan akan berlangsung pada 12 Februari 2018 di Desa Intan Makmur, Kecamatan Kunto Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu, Riau

c. Kegiatan ini akan dihadiri 3.000 pekebun, 150 pejabat pemerintah pusat, 200 pejabat pemerintah daerah, pengusaha sawit, perbankan, serta pemangku kepentingan lain dengan agenda: pemberian bantuan dana peremajaan sawit rakyat, pemberian benih tanaman tumpang sari, penyerahan sertifikat lahan, dan penanaman benih sawit secara simbolis oleh Presiden RI.

d. Total biaya indikatif peremajaan sawit sekitar Rp 68 juta per hektare. Dari total biaya tersebut sekitar Rp 25 juta per hektare bersumber dari BPDP-KS yang disalurkan melalui perbankan yang ditunjuk. Dana hibah dari BPDP KS disalurkan melalui rekening koperasi dan kelompok tani setelah ada progres pekerjaan PSR di lapangan.

e. Pelaksanaan pekerjaan PSR dimulai setelah ada penumbangan kelapa sawit secara serempak. Benih sawit yang digunakan adalah benih bersertifikasi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku di Kementerian Pertanian. Selama proses persiapan lahan, akan dilakukan kegiatan pemberdayaan pekebun melalui pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) dan ISPO sehingga pada panen TM1 dan TM2 kebun rakyat yang diremajakan sudah bersertifikat ISPO.

Tembusan surat ini ditujukan kepada sejumlah kementerian terkait antara lain Setkab, Menteri Setneg, Menteri Pertanian, Menteri ATR/BPN, Menteri Dalam Negeri, Menteri LHK, Menteri Koperasi dan UKM, Gubernur Riau, dan Dirut BPDP-KS.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

Pasar Benih Sawit Tumbuh Subur

 

JAKARTA. Kementerian Pertanian (Kemtan) menetapkan target peremajaan (replanting) kelapa sawit pada tahun ini seluas 185.000 hektare (ha). Program pemerintah ini diyakini akan membawa angin segar bagi produsen benih sawit. Maklum, program peremajaan kebun akan menaikkan permintaan benih sawit.

Forum Komunikasi Produsen Benih Kelapa sawit Indonesia (FKPBKSI) menilai program tersebut merupakan kabar positif bagi produsen benih kelapa sawit. Ketua FKPBKSI Dwi Asmono mengatakan, Badan Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa sawi t(BPDP-KS) menargetkan peremajaan 185.000 ha. Alhasil, kebutuhan benih sawit diperkirakan mencapai 27 juta butir kecambah.

Dia menambahkan, produsen benih kelapa sawit dalam negeri siap memenuhi kebutuhan sebanyak itu. Dari 15 produsen benih sawit yang ada saat ini, memiliki total kapasitas produksi mencapai sekitar 120 juta kecambah per tahun.

Selama ini sebagian besar produsen benih kelapa sawit itu memasarkannya sudah dalam bentuk kecambah. “Namun jika dibutuhkan, produsen benih dan mitranya melalui waralaba akan menangkarkan benih untuk menyiapkan bibit yang dibutuhkan,” katanya Senin (5/2).

Ketua Perkumpulan Penangkar Benih Tanaman Perkebunan Indonesia (PPBTPI) Badaruddin Sabang Puang juga menilai positif program replanting kebun sawit. Saat ini penangkar bibit kelapa sawit yang mayoritas bermitra dengan Pusat Penelitian Kelapa sawit (PPKS) Medan sudah memiliki bibit siap tanam.

“Ada 2 juta bibit yang telah disiapkan oleh penangkar di lapangan,” katanya.

Produksi meningkat

Salah satu perusahaan yang akan menikmati program peremajaan sawit adalah PT Bina sawit Makmur. Anak usaha PT Sampoerna Agro Tbk ini siap memasarkan produk untuk memenuhi kebutuhan benih sawit tahun ini. Head of Seed Commercial Sampoerna Agro, Tony Teh mengatakan, pihaknya memiliki benih sawit varietas seri Sriwijaya dengan rendemen minyak sawit sekitar 26,2% atau 7,5 ton per ha.

Varietas ini diklaim memiliki ketahanan terhadap penyakit CroiiH disease dan Fusarium dan cukup toleran terhadap kekeringan. “Jadi wajar bila kita mengklaim Indonesia sebagai surga benih sawit karena banyaknya varietas unggul yang dihasilkan produsen benih kelapa sawit nasional. Sehingga konsumen memiliki banyak pilihan,” ujar Tony. Tahun lalu produksi benih Sampoerna mencapai sekitar 7 juta kecambah.

Dengan program peremajaan tanaman kelapa sawit, kenaikan produksi sawit Indonesia akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan. Dengan produksi yang lebih tinggi ekspor minyak sawit atau CPO diharapkan akan akan tetap menjadi penyumbang devisa terbesar Indonesia. Pada tahun 2017, devisa dari ekspor CPO mencapai USS 11,84 miliar atau naik 26% dari 2016.

Guru besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin memprediksi dalam 10 tahun mendatang, volume dan nilai ekspor sawit dan produk turunnya terus meningkat. Namun, “Pemerintah tetap harus terus melakukan diplomasi dagang. Kalau tidak, potensi devisa yang sangat besar ini bisa saja sirna. Karena ini merupakan salah satu hambatan dagang, tarif barrier” katanya.

Untuk meningkatkan ekspor sawit, pengamat ekonomi dari Indef Bhima Yudhistira meminta agar pemerintah mencari pasar baru. “Jangan terpaku pada pasar tradisional yang mencapai 70%,” katanya. Menurutnya pasar potensial baru produk sawit Indonesia antara lain Pakistan, Eropa Timur, Afrika Selatan, Afrika Utara.

 

Sumber: Harian Kontan

Sawit Diperkirakan Penyumbang Devisa Terbesar Hingga 10 Tahun Lagi

 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus USD11,84 miliar pada 2017. Kontribusi terbesar berasal dari ekspor produk minyak sawit dan turunannya sebagaimana dibukukan pada 2016.

“Saya tidak terlalu kaget dengan angka-angka itu, karena sawit itu nilai ekspornya berbanding lurus dengan produksi, apalagi harga rata-ratanya juga meningkat. Dan tren kenaikan ekspor ini di 2018 masih akan terjadi karena cuaca juga mendukung,” kata Bustanul Arifin, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung, pada pekan lalu.

Bustanul Arifin memprediksi hingga 10 tahun mendatang, volume dan nilai ekspor minyak sawit dan produk turunannya masih akan terus meningkat.

Pada 2017, nilai ekspor sawit dan produk turunannya (tidak termasuk oleokimia dan biodiesel)  melonjak 26% menjadi US$ 22,97 miliar daripada tahun sebelumnya berjumlah US$18,22 miliar. Apalagi harga rata-rata minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di 2017 meningkat dibandingkan 2016. Diketahui, harga rata-rata CPO di 2017 tercatat USD714,3 per metrik ton atau meningkat 2% dibandingkan harga rata-rata 2016 di angka USD700,4 per metrik ton.

Supaya dapat meningkatkan nilai ekspor, dikatakan Bustanul, sebaiknya pelaku usaha dan pemerintah dapat menyelesaikan persoalan sustainability atau keberlanjutan yang masih akan menjadi kendala.

“Ini harus diselesaikan. Pemerintah harus terus melakukan diplomasi dagang. Kalau tidak, potensi devisa yang sangat besar ini bisa saja sirna. Karena ini merupakan salah satu hambatan dagang, tariff barrier,” katanya.

Selain itu, pemerintah harus gencar membuka pasar-pasar ekspor baru. Misalnya saja negara-negara di Afrika Tengah, Afrika Selatan, negara pecahan Rusia, negara-negara di timur tengah. “Itu semua prospektif,” katanya.

Namun demikian, Bustanul juga mengingatkan agar pasar-pasar tujuan ekspor tradisional seperti Eropa Barat, AS, Jepang, India, Pakistan, China jangan ditinggalkan. “Kita harus cerdas dan cerdik dalam mengembangkan pasar baru yang potensial, tapi jangan sampai lengah dengan meninggalkan pasar tradisional. Sebab kalau lengah, peluang itu akan hilang.”

Berbagai upaya menghambat pertumbuhan industri sawit akan terus dilancarkan karena persaingan dagang minyak nabati yang semakin ketat. “Dalam kondisi ini, pemerintah harus lebih jeli dalam melihat permasalahan dan tidak mengeluarkan regulasi-regulasi yang justru menghambat perkembangan industri sawit yang notabene merupakan mesin penghasil devisa terbesar dalam menyokong perekonomian nasional,” tutur Bustanul.

 

Sumber: Sawitindonesia.com