Peningkatan Produktivitas Sawit Harus Jadi Gerakan Nasional

 

JAKARTA – Ketua Umum Gabungan pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyatakan bahwa peningkatan produktivitas kelapa sawit harus menjadi gerakan nasional yang melibatkan perusahaan skala besar maupun perkebunan rakyat. Perkebunan sawit rakyat adalah bagian penting perkelapasawitan nasional, karena itu dalam upaya meningkatkan produktivitas maka kebun rakyat harus dilibatkan.

Joko Supriyono mengatakan, kerja sama antara petani dengan perusahaan besar sawit yang baik akan menjamin keberlanjutan sektor penyumbang devisa terbesar tersebut Di sisi lain, pertumbuhan perkebunan sawit rakyat semakin signifikan. “Karena itu, program peningkatan produktivitas kelapa sawit tidak boleh melupakan petani. Kerja sama erat antar perusahaan skala berat dan petani diperlukan untuk memajukan sektor sawit nasional,” kata dia dalam keterangan tertulis jelang pelaksanaan IPOC 2017, Selasa (31/10).

Karena itu, konferensi sawit Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2017 yang akan digelar di Bali pada 1-3 November 2017 mengangkat tema Growth through Productivity, Partnership with Smallholders. Lebih dari 1.500 pelaku di mata rantai industri kelapa sawit dari 23 negara dijadwalkan bakal hadir.

Chairperson IPOC 2017 Mona Suryaari mengatakan, tema tersebut dipilih untuk mendapatkan wawasan tentang pengelolaan perkebunan kelapa sawit di masa mendatang. Sesuai dengan tuntutan global yang semakin memperhatikan isu-isu berkelanjutan, terutama hubungan antara perusahaan dengan petani. “Sudah banyak diakui,industri kelapa sawit nasional makin membuktikan peran dan sumbangsihnya bagi perekonomian Indonesia. Khususnya, perannya dalam upaya pengurangan angka kemiskinan. Kendati demikian, program peningkatan produktivitas dan daya saing merupakan sebuah keniscayaan. Jika tidak, minyak sawit Indonesia akan berat menghadapi persaingan global,” kata Joko.

Joko mengatakan, upaya peningkatan produktivitas mencakup strategi dan mekanisme agar pengelolaan perkebunan sawit semakin efektif dan efisien sehingga mendongkrak daya saing. “Meski persaingan minyak nabati dunia di masa depan semakin ketat dan dinamis, saya optimistis tantangan itu dapat dilalui dengan baik, terutama dengan kerja sama yang erat antara perusahaan skala besar dan perkebunan rakyat” kata Joko.

Dia menambahkan, persaingan ketat terutama dengan minyak kedelai. Apalagi, Amerika Serikat (AS) akan keras (secara ketat) memproteksi minyak nabati di dalam negerinya dari gempuran minyak sawit.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia

Peran Perkebunan Sawit Rakyat Semakin Menguat

 

JAKARTA – Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan, perkebunan sawit rakyat menjadi bagian penting dalam sektor kelapa sawit nasional. Karena itu, dalam upaya meningkatkan produktivitas, kebun rakyat harus dilibatkan.

Kerja sama antara petani dengan perusahaan besar sawit yang baik akan menjamin keberlanjutan sektor sawit. “Pertumbuhan perkebunan sawit rakyat semakin signifikan. Karena itu, program peningkatan produktivitas kelapa sawit tidak boleh melupakan petani,” kata Joko dalam keterangan persnya, Jakarta, Rabu (31/10/2017).

Dia menuturkan, perlu kerja sama erat yang melibatkan perusahaan skala besar maupun petani sawit rakyat. “Hanya dengan kerja sama yang baik antara perusahaan dan petani, sektor sawit nasional akan semakin maju,” imbuhnya.

Sementara, terkait hal tersebut, IPOC 2017 yang akan digelar di Bali pada 1-3 November 2017, mengangkat tema Growth through Productivity: Partnership with Smallholders.

Joko mengatakan, sudah banyak diakui bahwa industri kelapa sawit nasional makin membuktikan peran dan sumbangsihnya bagi perekonomian Indonesia, khususnya pengurangan kemiskinan. Namun, program peningkatan produktivitas dan daya saing merupakan keniscayaan.

“Jika tidak, minyak sawit Indonesia akan berat menghadapi persaingan global,” ucap dia.

Joko mengingatkan, dalam peningkatan produktivitas tentu terkandung strategi dan mekanisme agar pengelolaan perkebunan kelapa sawit semakin efektif dan efisien, sehingga daya saing ikut terdongkrak.

Meski persaingan minyak nabati dunia di masa mendatang semakin ketat dan dinamis, pihaknya optimistis bahwa tantangan tersebut dapat dilalui dengan baik. Terutama, sepanjang terjalin kerja sama yang erat antara perusahaan skala besar dan perkebunan rakyat.

“Karena itu, pentingnya peningkatan produktivitas kelapa sawit harus menjadi gerakan nasional yang melibatkan perusahaan skala besar maupun perkebunan rakyat,” katanya.

Sumber: Sindonews.com

Kenaikan Ekspor Berpotensi Angkat Harga CPO

 

JAKARTA. Rilis data ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia yang tumbuh di bulan Oktober ini di yakini masih mampu menjadi sentimen positif bagi pergerakan komoditas ini ke depan. Meski hari ini (31/10) harga CPO tengah terkoreksi setelah menyentuh level tertingginya sejak Januari 2017.

Faisyal, Analis PT Monex Investindo Futures mengatakan, walaupun harga CPO hari ini (31/10) dibuka lebih rendah dari hari sebelumnya (30/10) yakni di level 2.829 ringgit per ton, harga CPO bisa menguat hari ini karena laporan ekspor Malaysia.

Pelemahan harga CPO terjadi karena investor melakukan aksi ambil untung setelah harganya menembus level RM 2.839 per ton. Secara fundamental harga CPO masih berpotensi melanjutkan penguatan. Intertek Testing Services melaporkan tingkat ekspor minyak sawit Malaysia naik 2,5% di Oktober menjadi 1.406.706 ton dari September 1.372.990 ton.

“Untuk bulan Oktober, produksi diperkirakan akan naik namun lebih rendah dari perkiraan,” ujarnya dalam rilis kepada Kontan.co.id, Selasa (31/10).

Di bulan September kemarin produksi CPO Malaysia sudah tercatat turun 1,7% dibandingkan bulan sebelumnya. Produksi menipis karena lebih sedikitnya hari kerja.

Satu-satunya yang membayangi penguatan CPO hanya tinggal valuasi mata uang Ringgit. Mengutip Bloomberg, Selasa (31/10), Ringgit terlihat melemah 0,18% ke level 4,2302. Posisi ringgit yang lebih kuat dapat membuat harga minyak sawit menjadi lebih mahal untuk pemilik mata uang lainnya.

Asal tahu saja mengacu Bloomberg, Selasa (31/10) pukul 16.49 WIB harga minyak sawit kontrak pengiriman Januari 2018 tercatat melemah ke level RM 2.814 per ton. Padahal sehari sebelumnya harganya sempat menyentuh level tertinggi sejak Januari pada harga RM 2.839 per ton.

 

Sumber: Kontan.co.id

 

Produksi TBS Sawit Petani Padang Lawas Meningkat 50%

Palas. Produksi tandan buah segar (TBS) sawit sejumlah petani sawit di Kabupaten Padang Lawas (Palas), Provinsi Sumatra Utara meningkat hingga 50%. Sedangkan harga jual TBS sawit di tingkat petani berkisar Rp 1.300-Rp 1.320/Kg.

H Idaham Butar-butar, petani sawit di Kecamatan Barumun, Selasa (31/10/2017) mengungkapkan, rasa syukurnya karena hasil panen TBS sawitnya dalam putaran minggu ini meningkat dari hasil panen putaran sebelumnya.

“Alhamdulillah, hasil panen putaran minggu ini naik 50%. Dari seluas 2,5 hektare kebun sawit saya, saat ini hasil panennya dapat 3,7 ton. Sebelumnya hanya sebanyak 2 ton,” sebutnya.

Diakuinya, hasil panen kebun sawitnya sebelumnya menurun karena dipengaruhi faktor musim kemarau.

“Untuk harga jual TBS sawit di lapangan, saat ini, berkisar Rp 1.300 sampai Rp 1.320 per kilonya,” ujarnya.

Sail, satu pemasok TBS sawit di Kecamatan Hutaraja Tinggi mengakui, dalam dua minggu terakhir pasokan buah sawit dari masyarakat meningkat.

“Biasanya dalam sehari kami bisa kumpulkan 30 ton TBS sawit dari masyarakat untuk di pasok ke PKS PTPN 4 Sosa. Tapi, dalam minggu ini pasokannya meningkat jadi 40 hingga 45 ton per hari,” ucapnya.

Sedangkan AG Daulay, satu pemasok TBS sawit di Kecamatan Sosa menyebutkan, pasokan TBS sawit di tempatnya masih normal, yakni 100 ton perhari.

“Kalau pasokan TBS sawit di sini masih standard, bang. Rata-rata 100 ton sehari. Memang, saat ini sedang banyak-banyaknya hasil panen TBS sawit.

Mungkin, karena harga papan TBS sawit di PKS ini rendah, pengumpul TBS sawit menjualnya ke PKS yang harga papannya lebih tinggi,” ujarnya.

Berikut Harga Papan TBS Sawit di Sejumlah PKS di Palas, Selasa (31/10/2017):

-PTPN 4 Sosa

Buah super Rp 1.570/Kg

Buah besar Rp 1.550/Kg

-PKS PT MSB

Buah utama Rp 1.600/Kg

Buah masyarakat Rp 1.400/Kg.

-PMKS PT KAS

Buah sawit besar Rp 1.525/Kg

Buah kecil Rp 1.325/Kg

-PKS Mananti

Buah super Rp 1.580/Kg

Buah besar Rp 1.600/Kg

Presiden Jokowi: Replanting Dimulai Sumatera Berlanjut Daerah Lain

 

 

Program peremajaan atau replanting perkebunan kelapa sawit rakyat resmi dimulai. Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.  Kegiatan menjadi program pertama pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) untuk memperbaiki tanaman rakyat berusia tua.

Presiden meresmikan peremajaan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Musi Banyuasin dengan luas lahan sekitar 4.400 hektare (ha). Pada peresmian ini, Jokowi melakukan penanaman bibit kelapa sawit sebagai simbol bahwa replanting sawit telah dimulai.

Turut hadir pada acara tersebut, antara lain, Darmin Nasution Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Andi Amran Sulaiman Menteri Pertanian, Joko Supriyono Ketua Umum GAPKI, BPDP Kelapa Sawit, pengurus Apkasindo, sejumlah pengusaha, petani sawit dan pemerintah daerah lainnya.

Dalam sambutannya, Jokowi menegaskan bahwa program replanting kebun kelapa sawit rakyat, sepenuhnya didanai oleh pemerintah. Hal ini sebagai upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan petani sawit di Indonesia.

“Jadi kita akan meremajakannya, dan kita akan tanggung biayanya,” kata Jokowi di Desa  Panca Tunggal, Kabupaten, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Jumat lalu.

Presiden Jokowi berharap, program replanting dapat meningkatkan produksi kelapa sawit petani yang masih rendah sekitar 2 ton minyak sawit (CPO) per hektare, karena sudah tua dan rusak. Untuk itu,  peremajaan perkebunan kelapa sawit menjadi sesuatu mendesak dan perlu dilakukan. Salah satu caranya, dengan pemerintah memberikan bibit berkualitas dengan produktivitas CPO hingga 8 ton per hektare.

Untuk tahun ini, peremajaan perkebunan kelapa sawit masih fokus di  Sumatera. Namun, tidak menutup kemungkinan program peremajaan ini juga akan berlanjut ke Kalimantan pada tahun depan. “Kita mulai dari Sumatera Selatan dulu. Bulan depan saya dorong masuk ke Sumatera Utara, bulan depannya lagi masuk ke Jambi, masuk ke Riau. Tahun depan baru akan saya dorong masuk ke Kalimantan,” tambahnya.

Saat ini, pemerintah masih fokus untuk menjalankan program peremajaan perkebunan kelapa sawit. Setelah peremajaan kebun kelapa sawit berhasil, kata dia, akan dilanjutkan pada peremajaan perkebunan karet, kopi, kakao, dan pala. Rata-rata tanaman itu telah berusia tua sekitar 15-25 tahun, sehingga perlu segera diremajakan agar produksinya meningkat.

Sementara itu tanah yang semula masuk lahan hutan kini telah beralih menjadi lahan rakyat melalui pembagian sertifikat. Presiden kemudian memberikan sertifikat tanah kepada 1.300 petani kelapa sawit, yang lahannya masuk kawasan hutan.

Menanggapi hal tersebut, Joko Supriyono Ketua GAPKI menyambut baik berjalannya program replanting tahun ini. Joko  Supriyono memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan penanaman perdana replanting sawit rakyat karena menunjukkan bukti Pemerintah RI di bawah Presiden Jokowi  mendukung penuh industri kelapa sawit nasional. Ini juga sebagai bukti bahwa pemerintah telah menempatkan industri kelapa sawit sebagai industri strategis yang telah terbukti dan tetap akan menjadi andalan ekonomi nasional.

“Baik untuk mengurangi kemiskinan, memperbaiki pemerataan pendapatan, dan perekonomian Indonesia secara umum seperti menjadi sumber pendapatan devisa negara,”kata  Joko Supriyono.

Ditemui secara terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebutkan, apabila petani dapat memproduksi 8 ton CPO per ha, maka akan menghasilkan 32 ton tandan buah segar (TBS) per ha. “Harga akan dijaga lebih baik. Jadi bisa berharap petani bisa lebih sejahtera,” kata Darmin.

Selain peremajaan kelapa sawit, menurutnya, pemerintah juga akan mendorong sertifikasi ISPO untuk seluruh perkebunan sawit rakyat. Dengan sertifikasi ini, produk kelapa sawit Indonesia bisa diterima di pasar internasional karena terbukti menjalankan sistem perkebunan berkelanjutan.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

Top! Produksi Sawit Indonesia Kuasai Setengah Produksi Sawit Dunia

 

JAKARTA – Perkebunan sawit Indonesia memproduksi minyak kelapa sawit sebanyak 33,4 juta ton per tahun. Dengan hasil tersebut, maka Indonesia dapat menguasai setengah dari produksi minyak kelapa sawit di dunia.

Menteri Perencanaan Pembangunan (PPN) atau Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, total lahan perkebunan kelapa sawit seluas 11,3 juta ha, yang terdiri dari perkebunan sawit rakyat seluas 4,6 juta ha, kemudian perkebunan besar swasta 6 juta ha, dan perkebunan besar negara 750rb ha.

Dengan luas tersebut, total seluruh perkebunan sawit adalah 60% dari perkebunan nasional.

“Dengan jumlah sebesar itu, Indonesia menjadi negara produsen sawit terbesar di dunia, dengan total nilai ekspor tahun 2016 Rp240 triliun, yang sudah melebihi ekspor migas,” ujarnya di Mercantile Club, Jakarta, Senin (30/10/2017).

Bambang melanjutkan, meskipun dalam kondisi yang sangat baik, namun industri kelapa sawit menghadapi berbagai permasalahan, salah satunya adalah produktivitas perkebunan rakyat yang relatif  rendah.

Dalam satu tahun, perkebunan kelapa sawit milik rakyat, hanya menghasilkan 2-3 juta ton per ha. Produksi ini jauh di bawah swasta, yang menghasilkan 5-6 juta ton per tahun.

“Ini terjadi karena tanaman sudah tua, dan ketika menanam bibit kurang berkualitas,” kata dia.

Akibatnya, lanjut Bambang, terjadi ketimpangan pada petani sawit. Dia menilai, perlu perbaikan pada ketimpangan ini, lantaran industri kelapa sawit menyerap tenaga kerja yang cukup besar, sehingga berperan penting pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

 

Sumber: Okezone.com

Saatnya Inovasi Sawit

 

Sumatra Utara ialah produsen sawit terbesar kedua setelah Riau. Kini hasil inovasi sawit dikembangkan lebih luas.

Dalam focus group discussion yang dilaksanakan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Provinsi Sumatra Utara belum lama ini, empat hal disepakati.

Keempat hal itu ialah pengembangan institusi pengorganisasian, penguatan kelembagaan tim koordinasi Sistem Inovasi Daerah (Sida), pengembangan SDM, sarana dan prasarana, serta pola manajemen dan membangun jaringan.

Semua ini dilakukan untuk membangun penguatan produktivitas kelapasawityang ada di Sumatra Utara. Selama ini Sumatra Utara memiliki Pusat Penelitian Kelapa sawit (PPKS) yang sudah berdiri sejak 1916. Namun, potensi-potensi riset yang telah dilakukan PPKS selama 101 tahun ini belum seluruhnya dimanfaatkan industri di sekitarnya.

Untuk menghilirkan hasil-hasil itu, Balitbang Sumatra Utara menjadikan PPKS sebagai mitra teknis. “Sesuai dengan amanat Kemenristekdikti kepada kita, kita pilih PPKS untuk menjadi mitra teknis mewujudkan inovasi-inovasi berbasis kemasyarakatan,” kata Kepala Balitbang Sumut, Effendy Pohan.

Saat ditemui secara terpisah, Direktur PPKS, Hasril Hasan Siregar, menjelaskan sejak 2010 lalu PPKS sudah menjadi Pusat Unggulan Iptek di bidang kelapa sawit. “Dalam perkembangannya, kami ingin nilai lebih sehingga Direktorat Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kemenristek dan Dikti yang dipimpin Pak Kemal Prihat-man menunjuk PPKS sebagai Oil Palm Science Techno Park (OPSTP) atau taman sains kepala sawit. Jadi iptek yang dihasilkan para peneliti di PPKS ingin lebih diberdayakan dan diimplementasikan agar lebih bermanfaat bagi masyarakat. Iptek ingin dikonektifkan kepada komunitas,” ujar Hasril saat ditemui Media Indonesia di ruang kerjanya, akhir pekan lalu.

Produk riset

Selama ini hasil riset yang dihasilkan PPKS sudah diaplikasikan ke perusahaan-perusahaan negara serta perkebunan masyarakat petani sawit, dalam bentuk jasa dan rekomendasi bersifat komersial. “Produk riset bahan tanaman ini kita pakai untuk membiayai riset-riset serta operasional PPKS sebagai swakelola dan self-financing,” ujar Hasril.

Produk riset bahan tanaman mampu menghasilkan uang sehingga PPKS bisa tetap eksis selama satu abad. Selama ini lembaga tersebut tidak dibiayai APBN atau APBD. Kekuatan di bidang iptek itulah sumber daya manusia yang lengkap. Tenaga peneliti berjumlah 56, pendidikan S-3 16 orang, master 23 orang, dan sisanya S-l.

OPSTP ialah satu-satunya milik Indonesia. PPKS yang kini digarap menjadi STP khusus kelapasawitini memiliki banyak program. Hasril menyebutkan salah satu programnya ialah kewirausahaan dengan menggandeng UKM-UKM.

Semua produk riset yang dihasilkan OPSTP ini dihilirkan kepada UKM-UKM di wilayah Sumatra Utara. “Yang sudah berjalan saat ini teknologi industri coklat berbasis sawit. Lilin berbasis sawit, sabun dan komestik berbasis sawit. Bahkan ada pula roti berbasis sawit,” jelas Hasril. (N-3)

Puji Santoso

 

Sumber: Media Indonesia

,

Wakil Ketum DMSI Minta Kemitraan Inti-Plasma Tidak Dilanjutkan

 

Program kemitraan inti-plasma sawit dinilai tidak lagi sesuai perkembangan jaman. Banyak kelemahan dari pola kerjasama kemitraan ini lantaran petani dijadikan mitra yang lemah dan pasif (sleeping partner).

“Dalam perjalanannya, sistem inti-plasma menyimpan banyak kekurangan. Karena itu tidak perlu dilanjutkan ,” kata Sahat Sinaga, Wakil Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), dalam perbincangan beberapa waktu lalu.

Kekurangan yang pertama, kata Sahat, manajemen kebun plasma yang bermitra dengan inti sangat beragam status pengelolaannya. Ada yang bersifat individu dan ada pula di bawah pengelolaan berkelompok seperti Koperasi atau GAKOPTAN. Tetapi, banyak pengurus koperasi adalah petani. Disinilah terjadi problem salah urus yang menimbulkan kepentingan pribadi sehingga merugikan petani plasma lainnya.

Kedua, lemahnya pengetahuan Good Agriculture Practice (GAP) yang dimiliki petani plasma. Karena, selama program kemitraan untuk pengelolaan kebun berada di bawah kendali perusahaan (inti) seperti pemilihan bibit, pupuk, dan panen.

Kelemahan yang ketiga mengenai posisi tawar petani yang lemah di hadapan perusahaan. Seringkali ditemukan kualitas buah sawit dari kebun petani ditentukan sepihak oleh perusahana begitu pula harga pembelian buah.

Keempat, petani plasma tidak mengetahui perhitungan biaya produksi.
Kelima, kurangnya perencanaan jangka panjang petani plasma. Petani termasuk koperasi tidak mendapatkan penyuluhan oleh perusahaan dalam hal pengelolaan kebun sawit supaya efektif. Sebagai contoh upaya peningkatan produktivitas tanaman dan pola penyisihan dana untuk program replanting.

Sahat menegaskan dengan pertimbangan banyaknya kelemahan tadi, sebaiknya pemerintah tidak perlu lagi melanjutkan kemitraan inti-plasma. Efek dari pola kemitraan ini membuat petani bergantung kepada perusahaan dan lemah posisi tawar mereka. “Persoalan lambatnya program replanting petani di era pemerintahan Jokowi akibat minimnya perusahaan yang siap mendukung pendanaan.”

Solusi yang ditawarkan adalah membangun kemandirian petani dari aspek budidaya dan ekonomi melalui proses pelembagaan. Sahat berpendapat koperasi merupakan badan usaha yang tepat sebagai penanggung jawab kredit (credible). Pengembangan kebun sawit petani adalah mengelola kebun itu secara korporasi (estate) dan bukan individu seperti bercocok tanam cabe atau hortikultura lainnya.

Oleh karena itu, Sahat mengusulkan pola kemitraan-inti digantikan dengan skema koperasi. Untuk membentuk koperasi yang kuat sebaiknua dikelola oleh profesional seperti halnya perusahaan Inti dan bila petani yang bernaung di dalam koperasi itu, maka mereka berkerja sebagai workers di perkebunan.

Sahat mengusulkan Wadah koperasi dapat dikelola lebih professional sehingga menghindari kepentingan pribadi yang masuk di dalam koperasi. Syarat menjadi pengurus koperasi antara lain tidak punya kebun sawit.

Nantinya, luas kebun sawit yang dikelola koperasi antara 1.200-1.800 hektare atau setara 500 – 1.200 kepala keluarga untuk mencapai economic size. Para petani dapat ikut mengelola kebun secara langsung untuk pemeliharaan kebun dan pemanenan dibawah arahan dan instruksi dari pengurus Koperasi.

Dengan peranan besar kepada koperasi ini akan memperkuat aspek kelembagaan ekonomi rakyat dan penguatan kapasitas mereka. Menurut Sahat, petani akan belajar bagaimana caranya meningkatkan produktivitas tanaman, pengalokasian biaya perencanaan keuangannya . “Untuk membuat koperasi ini mandiri dan sukses, pemerintah dawepat menggandeng institusi pendidikan perkebunan untuk menjalankan pilot project di beberapa Kabupaten sebagai rujukan bagi petani lain,”jelasnya.

Sahat meragukan peningkatan kemampuan petani apabila konsep inti-plasma tetap dipertahankan. Indonesia bisa belajar dari Malaysia yang sukses membangun perusahaan berbasis kepemilikan petani bernama FELDA.

Perusahaan Malaysia tersebut yang telah berdiri semenjak 30 tahun lalu, sekaran menjadi pemain besar di industri sawit dunia. “Indonesia bisa meniru Malaysia yang memberikan keleluasaan dan kemudahan bagi petani dalam membangun korporasi. Syaratnya, berikan kepercayaan dan kesempatan kepada petani kita,”pungkasnya.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

Minyak Kelapa Sawit Indonesia Laku Keras di Pakistan

Minyak kelapa sawit Indonesia semakin dicari pebisnis Pakistan, kata konsul jenderal Indonesia di Karachi, dalam keterangan pers, Sabtu.

Itu dibuktikan dalam partisipasi Indonesia di Pakistan International Trade Fair (PITF) 2017, PT Wira Yudha, yang jadi salah satu peserta menandatangani nota kesepahaman dengan Fahad Enterprises untuk pembelian awal minyak kelapa sawit sebesar 15.000 ton bernilai 10,2 juta dolar Amerika Serikat.

“Kami mengusung program pemerintah, meningkatkan perdagangan dan investasi di Indonesia. Dalam kaitan itu, kami memfasilitasi pengusaha Indonesia yang akan berbisnis dengan pengusaha Pakistan. Penandatanganan MoU ini langkah awal yang positif bagi kedua perusahaan untuk menjajaki lebih lanjut peluang kerja sama ke depan”, kata Konsul Jenderal Indonesia di Karachi, Dempo A Yuddie.

Komisaris PT Wira Yudha, Herfyan Danal, menandatangani MoU dengan mitranya, Abdul Wahab, pemimpin Fahad Enterprises, di Paviliun Indonesia, Sabtu. Penandatanganan disaksikan Yuddie dan Presiden Korangi Association of Trade and Industry, Tariq Malik.

Fahad Enterprises, sebagaimana keterangan diperoleh di Jakarta, Sabtu, anggota Waheed Group of Companies, yang dalam berbagai kesempatan telah menyatakan kepada Konsulat Jenderal Indonesia di Karachi, ingin berinvestasi minyak kelapa sawit di Indonesia.

Danal menyampaikan, penandatanganan nota kesepahaman itu membuktikan produk agrikultur Indonesia sangat diminati di Pakistan.

“Semakin banyak pebisnis Pakistan yang berbisnis langsung tanpa perantara dengan pebisnis Indonesia, hal tersebut seharusnya dapat menginspirasi pengusaha Indonesia lainnya untuk menjajaki kemungkinan berbisnis dengan Pakistan,” ujar dia.

Pakistan salah satu importir terbesar minyak kelapa sawit dari Indonesia. Total nilai ekspor minyak kelapa sawit Indonesia ke Pakistan pada tahun 2016 adalah  1,8 miliar dolar Amerika Serikat dari total nilai ekspor ke Pakistan sebesar 2,2 miliar dolar Amerika Serikat.

Gapprindo Dorong Produksi Biodiesel dari Kelapa Sawit

 

Makassar- Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (Gapprindo) Sulsel mendorong produksi Biodiesel dari kelapa sawit, karena dinilai ekonomis dan merupakan energi baru terbarukan (renewable).

“Kelapa sawit memiliki banyak manfaat, tidak hanya dibuat minyak goreng tetapi juga diproduksi untuk kebutuhan bahan bakar Biodiesel,” kata Ketua Gapprindo Sulsel Sulaiman H Andi Loeloe di Makassar, Kamis (26/10/2017)

Menurut dia, program pemerintah untuk mendorong penggunaan energi baru terbarukan seperti kelapa sawit yang merupakan bahan dasar biodiesel bercampur solar atau B20 dapat mendorong kenaikan ekspor biodiesel, setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi.

Kelapa sawit merupakan pemasok devisa terbesar di dunia. Khusus di Indonesia kelapa sawit menjadi produsen komoditi ekspor.

“Khusus di Sulsel jumlah perkebunan kelapa sawit berkembang hingga mencapai 80 persen area dengan 32.000 plasma mandiri,” kata Sulaiman kepada awak media.

Dia mengatakan, untuk penjualan kelapa sawit dapat melalui lelang komuditi yang dilakukan oleh Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN).

Sementara harga kelapa sawit ditentukan oleh Tim Penetapan Indeks SK yang pada September 2017 tecatat Rp1.270 per kilogram (kg). Harga tersebut berbeda jauh dibandingkan penjualan kelapa sawit diSumatra yang mencapai Rp1.800 per kg.

“Salah satu penyebabnya, karena rendemen produksi sawit di daerah ini rendah dibandingkan Sumatera, selain itu disebabkan karena menggunakan bibit bukan unggulan,” kata Sulaiman.

Keunggulan tanaman kelapa sawit dibandingkan tanaman perkebunan lainnya, karena dapat dinikmati hasilnya hingga 20 tahun dalam satu kali penanaman.

“Akan tetapi petani saat ini kurang konsisten dalam memilih komoditi yang mengakibatkan banyak petani yang berpaling dari kelapa sawit, pindah ke komoditi lainnya,” ujarnya.

 

Sumber: Industry.co.id