Harga Tandan Sawit Naik 7%

Harga tandan buah segar (TBS) Kelapa Sawit di Kalimantan Barat (Kalbar) berdasarkan indeks dan harga produksi pekebun periode I Januari 2020 rata-rata mencapai Rp 1.784 per kilogram (kg). Harga yang ada apabila dibandingkan dengan periode sebelumnya berarti mengalami kenaikan hingga 7,94%.

Kepala Dinas Perkebunan Kalbar Heronimus Hero di Pontianak, Kamis (23/1), mengatakan, harga TBS sawit per kg untuk umur tiga tahun saat ini Rp 1.403,39, umur empat tahun Rp 1.502,17, umur lima tahun Rp 1.607,36, umur enam tahun Rp 1.657,82, umur tujuh tahun Rp 1.717,59, umur delapan tahun Rp 1.772,80, dan umur sembilan tahun Rp 1.803,25.

Sedangkan harga TBS untuk umur 10-20 tahun Rp 1.880,60 per kg, umur 21 tahun Rp 1.846,24, umur 22 tahun Rp 1.837, 45, untuk umur 23 tahun Rpl.792,06, umur 24 tahun Rp 1.729,73, dan umur 25 tahun Rp 1.671,25. “Kita melihat dan bersyukur harga TBS yang ditetapkan dua kali dalam sebulan di Kalbar ini mengalami tren kenaikan, sehingga hal itu tentu akan menjadi angin segar bagi petani sawit maupun perusahaan sawit,” jelas dia.

Hero menambahkan, faktor kenaikan harga TBS sawit karena harga minyak sawit mentah (CPO) dan kernel sawit (PKO) kian membaik. “Harga CPO dan PKO tentu dipengaruhi harga pasar internasional,1\’ jelas dia. Kenaikan harga TBS sawit juga tidak lepas dari dampak penerapan B30 oleh pemerintah yang mendongkrak penyerapan CPO di dalam negeri. Harga meningkat akan berkorelasi terhadap tingkat kesejahteraan petard. “Semoga kondisi ini stabil dan terus meningkat harap dia,” jelas Hero seperti dilansir Antara.

Sebelumnya, Ketua Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kalbar Mukhlis Bentara menyebutkan bahwa kenaikan harga sawit karena adanya sentimen positif terhadap kebijakan B30. “Kemudian sejak akhir 2019 dan memasuki awal 2020 produksi minyak sawit mentah menurun dan dari sisi harga mampu mendongkrak harga sawit,” kata dia.

Harga TBS sawit di Sumatera Selatan (Sumsel) juga tembus Rp 2.022,29 per kg pada pekan ini atau meningkat jika dibandingkan penetapan harga sebelumnya Rp 1.873,00 per kg. Kenaikan harga terjadi pada TBS sawit umur 10-20 tahun, yang berdasarkan penetapan periode II tanggal 17 Januari 2020 terjadi kenaikan Rp 149,29 per kg jika dibandingkan periode sebelumnya.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia

Luhut Kenalkan Inisiatif Dukung Sawit Berkelanjutan di Indonesia

Ini saya pikir sangat penting bagi kami, kami memiliki 14 juta hektare lahan sawit, 41 persen dimiliki oleh petani sawit skala kecil, ini juga bagian dari SDG’s. Sebagian besar kelapa sawit ini berada di daerah pedesaan, di Kalimantan, Sulawesi dan b

Jakarta (ANTARA) – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengenalkan Inisiatif Nomor Merah Putih, yakni program untuk mendukung petani kelapa sawit mandiri skala kecil yang berkelanjutan di seluruh Indonesia, dalam rangkaian World Economic Forum (WEF) 2020 di Davos, Swiss.

“Ini saya pikir sangat penting bagi kami, kami memiliki 14 juta hektare lahan sawit, 41 persen dimiliki oleh petani sawit skala kecil, ini juga bagian dari SDG’s. Sebagian besar kelapa sawit ini berada di daerah pedesaan, di Kalimantan, Sulawesi dan beberapa lainnya di Papua. Pemerintah akan selalu melindungi para petani sawit terutama yang skala kecil,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.

Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar dunia. Selain itu, dari industri kelapa sawit, Indonesia bisa mengurangi tingkat kemiskinan.

“Dari 41 persen yang dimiliki oleh petani kecil, saya kira itu mengurangi angka kemiskinan di Indonesia, dan itu karena kelapa sawit. Ketika minyak sawit turun dua tahun lalu, itu juga membawa masalah pada petani kelapa sawit skala kecil,” tambahnya.

Karena itu melalui Inisiatif Nomor Merah Putih ini pula, Luhut menyatakan akan terus menerapkan diplomasi perdagangan yang “agresif”, tetapi dengan tetap mengedepankan dialog dan yang tidak kalah penting adalah prinsip berkesinambungan dalam sektor kelapa sawit.

Perkebunan kelapa sawit harus tetap memperhatikan aspek lingkungan agar menghasilkan pertumbuhan yang berkelanjutan, beragam upaya telah dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia, diantaranya dengan jalan moratorium dan penanaman kembali dan menumbuhkan plasma-plasma hingga mencapai 5-6 ton per hektare.

“Dan satu hal penting, setiap kebijakan yang kami keluarkan tidak akan mengorbankan lingkungan, pemerintah Indonesia tidak akan membuat kebijakan yang merusak lingkungan untuk generasi mendatang dan para cucu-cucu kita semua,” tegasnya.

 

Sumber: Antaranews.com

Di Davos Luhut Pamer RI Punya Program Sawit Berkelanjutan

 

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memamerkan program Inisiatif Nomer Merah Putih dalam rangkaian World Economic Forum (WEF) 2020, yang diadakan di Davos, Swiss.

Inisiatif Nomor Merah Putih sendiri adalah suatu program untuk mendukung petani kelapa sawit mandiri skala kecil, yang berkelanjutan di seluruh Indonesia.

“Ini saya pikir sangat penting bagi kami, kami memiliki 14 juta hektar lahan sawit, 41% dimiliki oleh petani sawit skala kecil, ini juga bagian dari SDG’s, sebagian besar kelapa sawit ini berada di daerah pedesaan, di Kalimantan, Sulawesi dan beberapa lainnya di Papua. Pemerintah akan selalu melindungi para petani sawit terutama yang skala kecil,” ujar Luhut, lewat keterangannya Kamis (23/20/2020).

Indonesia menurut Luhut merupakan produsen kelapa sawit terbesar. Selain itu dari industri kelapa sawit, Indonesia bisa mengurangi tingkat kemiskinan.

“Dari 41% yang dimiliki oleh petani kecil, saya kira itu mengurangi angka kemiskinan di Indonesia, dan itu karena kelapa sawit. Ketika minyak sawit turun dua tahun lalu, itu juga membawa masalah pada petani kelapa sawit skala kecil,” kata Luhut.

Melalui Inisiatif Nomor Merah Putih ini, Luhut menyatakan akan terus menerapkan diplomasi perdagangan yang agresif, tetapi dengan tetap mengedepankan dialog. Tidak kalah penting adalah prinsip suistainability atau berkelanjutan dalam sektor kelapa sawit.

“Perkebunan kelapa sawit harus tetap memperhatikan aspek lingkungan agar menghasilkan petumbuhan yang berkelanjutan. Beragam upaya telah dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia, diantaranya dengan jalan moratorium dan penanaman kembali dan menumbuhkan plasma-plasma hingga mencapai 5-6 ton per hektar,” kata Luhut.

Luhut menegaskan kebijakan pemerintah tidak akan mengorbankan lingkungan. Pemerintah Indonesia tidak akan merusak lingkungan untuk generasi mendakang.

“Satu hal penting, setiap kebijakan yang kami keluarkan tidak akan mengorbankan lingkungan, pemerintah Indonesia tidak akan membuat kebijakan yang merusak lingkungan untuk generasi mendatang dan para cucu-cucu kita semua,” tegas Luhut.

Luhut juga menjelaskan kebijakan ekonomi pemerintah Indonesia, antara lain dengan perubahan dari berbasis komoditas menjadi berbasis nilai tambah.

“Sejak lima atau enam tahun yang lalu, kami mengubah ekonomi kami dari komoditas menjadi berbasis nilai tambah dan membuat Indonesia berbeda,” kata Luhut.

Dia menegaskan bahwa pemerintah pun memiliki 79 hukum yang diharmonisasi dengan omnibus law untuk memudahkan investor masuk ke Indonesia.

“Dan sekarang sedang melakukan apa yang disebut omnibus law, untuk menyelaraskan peraturan kita, kita memiliki 79 hukum untuk diharmonisasikan. Kami akan memudahkan investor untuk berinvestasi di Indonesia. Karena itu saya pikir Indonesia sangat kompetitif dan terbuka kepada para Investor,” jelas Luhut.

 

Sumber: Detik.com

Mentan Syahrul & Menteri Teresa Bellanova Bahas Ekspor Sawit di Italia

Indonesia dan Italia sepakat melakukan penguatan kerjasama dan promosi pertanian. Hal ini menjadi bagian MOU antara Kementerian Pertanian RI dengan Kementerian Pertanian, Pangan, dan Kehutanan Republik Italia.

Dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, belum lama ini, pertemuan antara Mentan Syahrul Yasin Limpo (SYL) dan Menteri Teresa Bellanova membahas sejumlah isu bilateral, terutama terkait peningkatan nilai perdagangan dan investasi di bidang pertanian antara kedua negara.

Mentan SYL menjelaskan keunggulan komoditas pertanian Indonesia, seperti sawit, karet, buah tropis, teh dan rempah-rempah. Dirinya juga mengundang investasi Italia di sektor pertanian dan peternakan di Indonesia. SYL bahkan memastikan, bahwa sektor pertanian Indonesia telah menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) dan dikelola secara sustainable.

Secara khusus, Kedua Menteri membahas ekspor sawit Indonesia. Produk sawit diketahui digunakan dalam industri makanan dan sebagai bahan bio-diesel di Italia. Menurut data ekspor sawit Indonesia ke Italia adalah sebesar US$ 570,2 juta, atau 29,7% dari total ekspor Indonesia ke Italia  (sebesar US$ 1,92 Milyar) dan 79,7% dari total ekspor pertanian Indonesia ke Italia (sebesar US$ 715,6 juta).

Sementara dituturkan Menteri Bellanova, dirinya dapat menerima penjelasan bahwa perkebunan kelapa sawit berperan dalam membuka lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Duta Besar RI untuk Italia, Esti Andayani, menilai penandatangan MoU tersebut akan semakin memperkuat hubungan kedua negara dan dapat mendorong pembangunan sektor pertanian di Indonesia.

Menurutnya, MoU tersebut akan mempermudah pelaksanaan pertukaran informasi pertanian, pelatihan untuk peningkatan kapasitas serta penyelenggaraan joint research oleh lembaga penelitian pertanian di kedua negara.

Indonesia dan Italia memiliki hubungan yang telah terjalin sejak 1959, dan baru saja merayakan 70 tahun hubungan diplomatik pada 2019. Italia adalah mitra dagang terbesar ke-3 bagi Indonesia di antara negara-negara Uni Eropa. Dalam periode Januari-November 2019, nilai perdagangan kedua negara mencapai US$ 3,17 Miliar. 

 

Sumber: Infosawit.com

Tak Hanya Dongkrak Harga CPO, Biodiesel Sawit Juga Atasi Defisit Neraca Pedagangan

 

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan, Kasan Muhri mengungkapkan, penerapan kebijakan wajib campuran biodiesel 30% ke minyak solar tidak hanya melepas ketergantungan terhadap impor minyak mentah berbasis fosil, tetapi juga sebagai upaya mengatasi defisit neraca perdagangan.

Apalagi masalah utama terjadinya defisit neraca perdagangan lantaran melojaknya nilai impor bahan bakar berbasis fosil. Dengan adanya kebijakan B30 harapannya ketergantungan impor bahan bakar bisa dikurangi. “Impor solar bisa kita kurangi,” kataya disela-sela acara uji coba B30 di Wisma Balitsa di Bandung, yang dihadiri InfoSAWIT.

Faktanya tak hanya terkait neraca perdagangan, kebijakan wajib B30 juga sebagai upaya untuk mendongkrak harga minyak sawit yang saat ini masih melandai.”Program ini tidak hanya terkait melepaskan ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil, melainkan juga untuk mengangkat harga buah sawit ditingkat petani,” tandas dia.

 

Sumber: Infosawit.com

Sawit Masih Memikat

Petani sawit mandiri mulai semringah. Harga tandan buah segar (TBS) sawit naik dari Rp 1.000 menjadi Rp 1.400 per kilogram. Namun di sisi lain, petani di Kabupaten Tanahlaut mengeluhkan kondisi trek di kebun kelapa sawit mereka. Hal itu terjadi karena bunga sebelumnya gagal jadi buah, akibat musim kemarau panjang. Alhasil penurunan produksi sangat signifikan.

“Iya turun sekali. 50 persen. Biasanya kalau normal dari 15 hektare lahan panen bisa sampai 20 ton. Sekarang cuma sekitar 10 ton.” ujar Bardl, satu petani sawit mandiri di Desa Sungai Riam. Kecamatan Pelaihari. Selasa (21/1). Jadilah harga sawit yang mulai naik tak begitu dirasakan oleh petani sawit mandiri.

Walau begitu, perkebunan sawit masih menarik karena minim perawatan dibanding komoditas lain. “Tidak ada rencana mau ganti komoditas karena sawit lebih mudah dalam hal perawatan.” ucap Bardi yang berkebun sawit sejak 2003. Dia pun berharap pemerintah bisa mempertahankan harga jual TBS sawit per kilogram yang sudah di atas Rp 1.000.

Zainal Abidin, petani sawit mandiri lainnya di Pelaihari juga mengeluhkan musim trek sawit. Penurunan produksi buah terangnya sampai 30 persen. Kondisi itu membuat penghasilan buruh angkut menjadi menurun. “Buahnya kan sedikit jadi penghasilan mereka juga jadi sedikit.” tuturnya.

Dibandingkan produk buah turun tetapi harga naik. Zainal lebih memilih produksi buah tinggi meski harga turun. “Sawit kan setu-run-turunnya harga paling Rp 800. masih ada untungnya meski sedikit.” kata dia. Zainal berharap komoditas sawit tak lagi menjadi prioritas di Tanahlaut. Pasalnya jika semua petani memilih sawit, maka produksinya akan berlebih.

Petani sawit mandiri Kecamatan Tambang Ulang. H Sahyuti. mengatakan, di tengah musim trek, hasil perkebunan sawit diakuinya masih menjanjikan. Menurut dia. di saat merosotnya produksi TBS. petani masih mendapatkan untung meskipun sedikit. Sementara jika harga bertahan di kisaran Rp 1.000 per kilogram dengan produksi sawit yang naik, maka petani sawit mandiri akan lebih baik lagi. “Alhamdulillah masih ada hitungannya, walaupun sedikit. Itu pun kami jualnya ke pengepul juga.” beber dia. Kebun sawit diakuinya minim perawatan dan menghasilkan hingga dua kali dalam sebulan. “Jadi belum ada niat ganti komoditas.” tambahnya.

 

Sumber: Banjarmasin Post

RI Ingin Tingkatkan Ekspor Sawit ke Italia

 

JAKARTA- Indonesia dan Italia berkomitmen untuk memperkuat kerja sama dan promosi pertanian, salah satunya ekspor minyak sawit. Produk sawit digunakan dalam industri makanan dan sebagai ba-han biodiesel di Italia, sedangkan ekspor sawit Indonesia ke Italia mencapai US$ 570 juta atau sekitar 29% dari total ekspor Indonesia ke Italia setiap tahunnya.

Komitmen Indonesia dan Italia itu ditandai penandatanganan nota kesepakatan (MoU) antara Kementerian Pertanian RI dengan Kementerian Pertanian, Pangan, dan Kehutanan Republik Italia di Roma pada 20 Januari 2020. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) berkunjung ke Roma, Italia, dalam rangka kunjungan kerja dan membidik kerja sama pertanian. Kerja sama yang diinginkan adalah budidaya, mekanisme pertanian, pengelolaan sumber daya air, pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM).

SYL bersama Menteri Pertanian, Pangan, dan Kehutanan Italia Teresa Bellanova juga membahas isu bilateral terutama terkait peningkatan nilai perdagangan dan investasi bidang pertanian. Keunggulan komoditas pertanian Indonesia seperti karet, sawit, buah tropis, teh dan rempah rempah sudah tidak diragukan lagi dan Italia bisa memanfaatkan potensinya. SYL juga mengundang investasi Italia di sektor pertanian dan peternakan di Indonesia. “Produk Indonesia sudah memenuhi standar Uni Eropa (UE) sehingga bisa masuk ke pasar Eropa,” ujar SYL dalam keterangannya.

SYL juga menegaskan bahwa sektor pertanian Indonesia telah menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) dan dikelola dengan berkelanjutan. Kedua menteri juga membahas ekspor sawit Indonesia, perlu diketahui produk sawit digunakan dalam industri makanan dan sebagai bahan biodiesel di Italia. Menurut data, ekspor sawit Indonesia ke Italia mencapai US$ 570 juta atau 29% dari total ekspor Indonesia ke Italia. Menteri Bellanova mengatakan pihaknya menerima penjelasan bahwa perkebunan sawit berperan dalam membuka lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan.

Duta Besar Indonesia untuk Italia Esti Andayani menuturkan, penandatanganan MoU akan semakin memperkuat hubungan kedua negara dan dapat mendorong pembangunan sektor pertanian Indonesia. MoU tersebut akan mempermudah pelaksanaan dan pertukaran informasi pertanian, pelatihan untuk peningkatan kapasitas serta penyelenggaraan joint research. Indonesia da Italia sudah menjalin hubungan bilateral sejak 1959 dan merayakan 70 tahun hubungan diplomatik pada 2019. Italia adalah mitra dagang terbesar ketiga bagi Indonesia di antara negara negara UE, selama periode Januari-November 2019 nilai perdagangan kedua negara mencapai US$ 3,17 miliar.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia

,

Tiga Pabrik IVO akan Dibangun di Teknopolitan Pelalawan

Tiga pabrik Industrial Vegetable Oil  (IVO) akan dibangun di Kawasan Teknopolitan Kecamatan Langgam Kabupaten Pelalawan. Pabrik  IVO ini akan mengubah minyak sawit industri menjadi bahan bakar terbarukan yang lebih berorientasi kerakyatan dan lebih unggul dalam aspek tekno ekonomi. Rencana industri akan dibangun setelah mendapatkan dana hibah sebesar USD 110 juta dari Lembaga Donor Millenium Chalenge Corporation (MCC) Amerika Serikat. Paling lambat 2023 pabrik ini telah bisa beroperasi di Pelalawan.

‘’Kedepan ini kita siap membangun tiga pabrik IVO di zona kawasan Teknopolitan Pelalawan. Paling lambat 2023 pabrik ini telah bisa beroperasi,’’ kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat M Sinaga.

Hal ini dikatakannya saat Kemenperin RI bersama Pemerintah Kabupaten Pelalawan menaja Focus Group Discussion “Pembangunan Pilot Plant Industrial Vegetable Oil Dikawasan Teknopolitan Pelalawan” di gedung Kampus ST2P, kawasan Teknopolitan, Langgam Kabupatenn Pelalawan Riau, Selasa (21/1/2020).

Tidak tanggung-tanggung untuk membangun tiga pabrik besar itu akan menggunanakan dana sebesar USD 110 juta. ‘’Dengan nilai investasi USD 110 juta  yang  merupakan hibah dari Lembaga Donor Millenium Chalenge Corporation (MCC) Amerika Serikat maka tiga pabrik itu akan kita bangun,’’ ujarnya.

‘’Nantinya tiga pabrikan ini akan bisa memproduksi minyak nabati industri (IVO) masing-masing 20 ton/jam,’’ imbuh Sahat M Sinaga optimis sambil menyebutkan kegiatan tersebut guna menopang pembangunan industrialisasi hilir kelapa sawit di Kabupaten Pelalawan.

Kesempatan yang sama Bupati Pelalawan HM Harris mengatakan, bahwa posisi strategis sumber daya alam (SDA) yang melimpah mendorong Kabupaten Pelalawan berkembang menjadi tujuan hidup banyak orang. Perkembangan ini tentunya diikuti dengan semakin kompleksnya permasalahan pembangunan. Dengan adanya permasalahan tersebut, pihaknya mencetuskan tujuh program strategis untuk mengatasi lima indikator pembangunan.

Kata Bupati, untuk meningkatkan daya saing daerah dan potensi unggul  khas daerah, maka telah memprioritaskan empat kawasan pembangunan unggulan yakni pembangunan kawasan sains dan teknologi (kawasan teknopolitan atau techno Park), pengembangan kawasan wisata bono, pengembangan kawasan sentra pertanian padi, pembangunan kawasan pelabuhan Sokoi.

‘’Kawasan Teknopolitan Pelalawan tempat kita berdiri saat ini, dengan luas lahan yang sudah disiapkan berkisar kurang lebih 3.754 hektare,’’ terangnya.

HM Harris juga mengatakan, bahwa sebagai produk unggulan nasional, komunitas kelapa sawit memberikan kontribusi yang besar terhadap devisa negara, PDRB, dan PDB serta menjadi pengungkit perekonomian daerah. Saat ini perkebunan sawit di Kabupaten Pelalawan  menyumbang 38 persen bagi PDRB Kabupaten dengan luas kebun secara keseluruhan 393.000 hektare atau 40 persen, diantaranya dikelola oleh petani sawit swadaya.

Masih menurut Bupati, pada tahun 2019, Kabupaten Pelalawan sudah menjalin kerjasama dengan  Institute Teknologi Bandung (ITB), perihal pengembangan industri hilirisasi sawit di Kawasan Teknopolitan Pelalawan untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

‘’Perlu disampaikan, bilamana ITB telah mengembangkan teknologi katalis merah putih untuk mengubah minyak sawit industri (Industrial Vegetable Oil atau IVO) menjadi bahan bakar terbarukan yang lebih berorientasi kerakyatan dan lebih unggul dalam aspek teknoekonomi,’’ bebernya.

Sehubungan dengan program tersebut Pemerintah Daerah terus melakukan berbagai langkah-langkah yang dianggap perlu penyedia, terutama dalam hal penyediaan bahan baku minyak nabati industri (IVO) melalui kerjasama dengan beberapa koperasi petani sawit swadaya yang berlokasi dikawasan Tekno Park dan penyediaan lokasi pabrik IVO di zona kawasan Teknopolitan Pelalawan.

‘’Program ini merupakan upaya strategis Tekno Park Pelalawan terlibat langsung dalam upaya dan kebijakan nasional dalam pemanfaatan minyak sawit untuk bahan bakar terbarukan yang diharapkan mampu mendorong pengembangan industri hilir kelapa sawit serta pemberdayaan petani sawit swadaya. Program ini sangat kita perlukan, bilamana untuk kemajuan daerah. Untuk itu, saya berharap dukungan dari Pemerintah Pusat demi mewujudkan pembangunan kawasan Teknopolitan Pelalawan,’’ ungkap Bupati.

Direktorat Jenderal Industri Agro, Kemenperin RI Ir Abdur Rochim yang juga hadir pada agenda tersebut menambahkan bahwa pada prinsipnya kedepan masyarakat petani kelapa sawit tidak lagi tergantung kepada perusahaan besar.

Apalagi saat ini konsen pemerintah pusat akan implementasi program biodiesel 30 persen (B30). Bahkan  Presiden meminta kepada PT Pertamina (Persero) untuk memacu BBM sejenis dengan kandungan nabati dan solar. Alasannya, jika BBM biodiesel ditingkatkan, maka akan mengurangi defisit neraca perdagangan Indonesia.

Kemudian sambungnya, Pemerintah juga telah berencana meningkatkan penggunaan bahan bakar biodiesel hingga B100 di masa depan. Melalui Kementerian ESDM, 2019 telah dilakukan persiapan menuju B30, yang terdiri atas uji jalan, pengujian kereta api, alat berat, alutsista, dan lainnya, serta penerbitan SNI Biodiesel (revisi SNI ) tahun 2015.

 

Sumber: Riaupotenza.com

Perkuat Kerja Sama Pertanian SYL Sambangi Mentan Italia

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) bertemu Menteri Pertanian Italia Teresa Bellanova untuk memperkuat kerja sama antara Indonesia dan Italia dalam bidang pertanian.

“Kerja sama ini dalam budi daya, mekanisasi pertanian, pengelolaan sumber daya air, pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan kapasitas SDM,” kata Syahrul dalam pertemuan bilateral melalui keterangan resminya, kemarin.

Dalam pertemuan itu, Syahrul Yasin Limpo dan Teresa Bellanova membahas sejumlah isu bilateral, terutama soal peningkatan nilai perdagangan dan investasi di bidang pertanian di antara kedua negara.

Syahrul menjelaskan keunggulan komoditas pertanian Indonesia, seperti kelapa sawit, karet, buah-buahan tropis, teh, dan rempah-rempah. Ia pun mengundang investor Italia di sektor pertanian dan peternakan ke Indonesia.

“Saya sampaikan kepada Menteri Bellanova, produk Indonesia.telah memenuhi standar Uni Eropa di bidang kesehatan dan phytosanitary SPS sehingga dapat diekspor ke pasar Eropa,” kata Syahrul.

Ia juga menekankan sektor pertanian Indonesia telah menerapkan good agricultural practices (GAP) dan dikelola secara berkelanjutan.

Secara khusus, kedua menteri juga membahas ekspor sawit Indonesia. Produk kelapa sawit diketahui telah digunakan dalam industri makanan dan sebagai bahan bakar biodiesel di Italia.

Menurut data 2018, ekspor produk kelapa sawit Indonesia ke Italia ialah sebesar US$570,2 juta atau 29,7% dari total keseluruhan ekspor Indonesia ke Italia (sebesar US$1,92 miliar) dan 79,7% dari total ekspor pertanian Indonesia ke Italia yang sebesar US$715,6 juta.

Di kesempatan itu, Menteri Pertanian Italia Teresa Bellanova mengatakan pihaknya dapat menerima . penjelasan bahwa perkebunan sawit berperan dalam membuka lapangan , kerja dan pengentasan masyarakat dari kemiskinan di Indonesia.

Duta Besar RI untuk Italia Esti Andayani menilai penandatangan nota kesepahaman tersebut akan makin memperkuat hubungan kedua negara dan dapat mendorong pembangunan sektor pertanian di Indonesia.

Menurut dia, MoU tersebut akan mempermudah pelaksanaan pertukaran informasi pertanian, pelatihan untuk peningkatan kapasitas, serta penyelenggaraan joint research oleh lemhaga penelitian pertanian di kedua negara.

Indonesia dan Italia memiliki hubungan yang telah terjalin sejak 1959 dan baru saja merayakan 70 tahun hubungan diplomatik pada 2019.

 

Sumber: Media Indonesia

Harga Sawit Melejit, Petani Bergairah

 

Para petani Kelapa Sawit di Provinsi Jambi semakin bergairah setelah harga tandan buah segar (TBS) sawit membaik kembali. “Saat ini saya meningkalkan perawatan, pembersihan dan pemupukan kebun sawit saya karena harga TBS sawit terus naik. Selama ini saya kurang merawat kebun sawit saya karena harga TBS selalu rendah. Hasil panen sawit tidak bisa menutupi biaya panen, perawatan apalagi pemupukan sawit akibat harga TBS sawit yang selalu merosot beberapa tahun ini,” kata petani sawit swadaya.

Meslan Saragih (56), petani sawit di Jambi mengatakan, harga TBS sawit di tingkat petani di Muarojambi, mencapai Rp 1.900/kg meningkat tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu hanya Rp 600/kg. “Selama 10 tahun terakhir, harga di tingkat petani hanya Rp 900/kg. Sedangkan harga Rp 1.900/kg adalah tertinggi di tingkat pedagang,” katanya gembira.

Kadis Perkebunan Provinsi Jambi Agusrizal mengatakan, sejak awal tahun ini, harga TBS sawit di Jambi naik secara signifikan. Berdasarkan hasil Tim Perumus Harga TBS sawit Provinsi Jambi pekan lalu, harga TBS sawit periode 17-23 Januari naik antara 1,1% hingga 1,25%.

 

Sumber: Suara Pembaruan