Biodiesel Indonesia Dihambat Amerika, Menteri Perdagangan RI Siapkan Langkah Hukum

Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita, meminta pemerintah Amerika Serikat untuk mempertimbangkan kembali putusan final bea masuk imbalan (countervailing duty) atas produk biodiesel Indonesia yang masuk ke Negeri Paman Sam itu. Pasalnya, putusan Departemen  Perdagangan dinilai bersifat overprotektif.

Pada 9 November 2017 lalu, United States Department of Commerce (USDOC) mengumumkan putusan final bea masuk imbalan produk biodiesel impor dari Indonesia dan Argentina.

“Pemerintah Indonesia meminta Pemerintah AS untuk mempertimbangkan kembali putusan ini dan menghargai hubungan baik kedua negara dalam semangat perdagangan bebas dan adil. Indonesia tidak segan-segan mengajukan gugatan melalui mahkamah AS maupun melalui jalur Dispute Settlement Body WTO,” tegas Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dalam rilisnya.

Putusan final Bea Masuk Imbalan untuk Indonesia tersebut lebih rendah dari putusan sementara USDOC yang dikeluarkan pada bulan Agustus 2017 yang berkisar antara 41,06% – 68,28%.

Menanggapi perkembangan ini, Pemerintah Indonesia tetap menganggap bahwa putusan USDOC merupakan putusan yang sewenang-wenang dan overprotektif.

Pemerintah Indonesia berketetapan memperjuangkan dibebaskannya Indonesia dari tuduhan subsidi. Saat ini United States International Trade Commission (USITC) sedang menyelidiki ada atau tidaknya kerugian di industri dalam negeri AS akibat biodiesel impor.

Jika USITC memutuskan terdapat kerugian, maka USDOC akan menginstruksikan Customs and Border Protection AS untuk meneruskan pemungutan deposit dana sesuai dengan tingkat bea masuk yang ditetapkan. Namun bila USITC menyatakan bahwa tidak terdapat kerugian karena biodiesel impor, maka investigasi harus dihentikan. Putusan final USITC dijadwalkan akan keluar pada tanggal 21 Desember 2017.

“Apabila dalam putusan akhir nantinya terbukti bahwa putusan maupun metodologi penghitungan yang digunakan AS tidak konsisten dengan aturan WTO-Subsidy and Countervailing Measures Agreement, maka Pemerintah Indonesia akan mempertimbangkan untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap seluruh impor Indonesia yang berasal dari AS,” pungkas Mendag Enggar.

Pada tahun 2016, ekspor biodiesel Indonesia ke pasar AS tercatat sebesar USD 255,56 juta. Nilai ini menyumbang 89,19% dari total ekspor biodiesel Indonesia ke seluruh dunia. Namun karena adanya tuduhan ini pada tahun 2017, ekspor biodiesel Indonesia ke pasar AS sama sekali terhenti.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

,

Produsen Wajib Pasok Domestik

 

Produsen minyak goreng diwajibkan memasok 20% dari total keseluruhan produksi ke pasar domestik dalam bentuk kemasan sederhana untuk menjaga ketersediaan komoditas tersebut.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menjelaskan seluruh pabrik minyak goreng wajib memproduksi minyak goreng kemasan sederhana. Angka yang diajukan oleh asosiasi untuk kewajiban pasok domestik yakni sebanyak 20%.

Dengan demikian, Mendag mengatakan total 20% dari produksi para produsen minyak goreng wajib dijadikan kemasan sederhana. Bentuk kemasan yang disediakan bisa beragam mulai dari kemasan 1 liter, 1/2 liter, 1/4 liter.

Harga masing-masing kemasan, sambungnya, yakni Rp 11.000 untuk kemasan 1 liter, Rp6.000 untuk kemasan 1/2 liter, dan Rp3.250 untuk kemasan 1/4 liter. Toko modem juga diwajibkan menyediakan minyak goreng kemasan sederhana.

“Distribusi sudah memiliki daftar sehingga lebih mudah dalam memonitor,” ujarnya saat rapat persiapan akhir tahun dengan para produsen minyak di Kementerian Perdagangan, Kamis (16/11) sore.

PASOKAN AKHIR TAHUN

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengatakan langkah yang ditempuh untuk menghadapi akhir tahun sama yang dilakukan dengan persiapan Ramadan dan Lebaran 2017. Artinya, produsen minyak goreng diminta untuk menggelontorkan pasokan ke pasaran.

“Saya kira konsepnya akan sama dengan menghadapi Lebaran di Juni lalu, banjiri pasar dengan minyak goreng curah dan kontrol harga melalui kemasan sederhana di outlet ritel modern,” ujarnya.

GIMNI mencatat pemakaian minyak goreng curah pada hari biasa sebanyak 270.000 ton-280.000 ton. Sementara itu, volume penggunaan industri makanan sebesar 75.000 ton-85.000 ton, sedangkan penggunaan minyak goreng premium yang biasa dijual melalui pasar modern sebesar 70.000 ton-80.000 ton.

Di sisi lain, Sahat mengungkapkan saat ini industri minyak goreng dalam negeri tidak berada dalam kondisi kondusif. Pasalnya, beberapa produsen terpaksa harus menggulung tikar.

“[Kondisi ndak kondusif] apabila produsen itu berkapasitas produksi rendah atau kurang dari 600 ton per hari dan juga tidak memiliki kebun sawit.”

Ekspor minyak goreng produsen RI sulit bersaing dengan pebisnis asal Malaysia. Kondisi tersebut disebabkan adanya potongan dana pungutan ekspor.

Besaran dana pungutan, sambungnya, sebesar US$30 per metrik ton (mt) untuk produk refined, bleached, deodorised (RBD) serta US$20/mt untuk produk minyak goreng kemasan dengan volume kurang dari 25 kilogram. Menurutnya, saat ini para produsen masih meminta penurunan besaran biaya pungutan.

“Produsen yang itu tadi mengambu sikap tiarap sampai ada perubahan dana pungutan rnigor kemasan menjadi US$0 dan RBD turun dari US$30 menjadi US$2,” imbuhnya.

Gabungan Pengusaha Kelapa sawit Indonesia (Gapki) mencatat keseluruhan konsumsi domestik CPO pada 2016 yakni 11,06 juta ton. Pada kuartal I 2017, jumlah konsumsi CPO domestik sebanyak 2,73 juta ton.

Produksi minyak sawit di dalam negeri diprediksi Gapki dapat menembus 35 juta ton pada 2017. Pada Maret 2017, tercatat adanya kenaikan produksi sebesar 10% dari produksi bulan sebelumya 2,6 juta ton menjadi 2,9 juta ton.

 

Sumber: Bisnis Indonesia

Hingga September 2017, Permintaan Produk Sawit Masih Dalam Tren Positif

 

Jakarta – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan, permintaan produk minyak sawit dari negara tujuan ekspor masih mencatatkan pertumbuhan hingga September tahun ini dengan kenaikan permintaan dari Timur Tengah sebesar 26%, Pakistan 9%, dan Uni Eropa 1%.

“Secara keseluruhan, kinerja ekspor minyak sawit masih berada dalam tren positif dengan total volume 2,76 juta ton,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gapki, Togar Sitanggang, kepada pers di Jakarta, Jumat (17/11/2017).

Kinerja ekspor minyak sawit, tidak termasuk biodiesel dan oleochemical pada September 2017 yang mengalami penurunan 7,5% secara month to month. Namun, angka tersebut masih tinggi apabila dibandingkan dengan tren ekspor sepanjang 2017.

Di sisi lain, menipisnya stok minyak sawit Indonesia dan Malaysia mengerek harga di pasar global. Selama September 2017, harga harian komoditas itu bergerak di kisaran US$687,60 hingga US$760 per metrik ton dengan harga rata-rata US$724,9 per metrik ton.

Harga rata-rata selama September 2017 naik 7% dibandingkan bulan sebelumnya senilai US$676 per metrik ton.

“Ini menunjukkan bahwa pasar minyak sawit masih terus bergeliat karena kurangnya pasokan dari minyak nabati lainnya di pasar global. Diperkirakan permintaan pasar akan terus meningkat seiring masih rendahnya produksi kedelai di Amerika Selatan khususnya Brasil, karena kawasan itu masih terpengaruh kondisi cuaca yang mengganggu hasil panen,” papar Togar.

Sementara itu, produk minyak sawit domestik mencapai puncak tertinggi pada September 2017 sebesar 4 juta ton.

 

Sumber: Industry.co.id

Dana Insentif Biodiesel Periode Januari-Oktober Rp5,7 Triliun

 

JAKARTA – Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS) menyatakan kebutuhan dana untuk insentif program biodiesel pada periode lima (Januari-Oktober) tahun ini mencapai Rp5,7 triliun.

Dana tersebut untuk memberikan insentif pembelian biodiesel sebesar 1.407.778 kilo liter (kl). “Rata-rata besaran insentif dana biodiesel selama Januari- Oktober 2017 sebesar Rp4.054 per liter,” ujar Direktur Utama BPDB KS Dono Boestami dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, kemarin.

Dana tersebut akan bertambah mengingat lembaga pengumpul dana bea keluar minyak sawit ini juga siap mengucurkan dana insentif untuk bauran solar dengan biodiesel ini pada periode November 2017 – April 2018.

“Prinsipnya kami siap menyalurkan dana untuk pembiayaan selisih kurang Harga Indeks Pasar (HIP) minyak solar dengan HIP Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis biodiesel pada periode tersebut. Saat ini Perjanjian Pembiayaan BBN jenis Biodiesel antara BPDP KS dengan Produsen Biodiesel masih dalam proses penyelesaian untuk ditandatangani para pihak,” kata Dono Boestami.

Berdasarkan keputusan Menteri ESDM Nomor 3756 K/10/MEM/2017 tentang Penetapan Badan Usaha (BU) BBN Jenis Biodiesel dan Alokasi Besaran Volumenya untuk Pengadaan BBN Jenis Biodiesel pada Pertamina dan PT. AKR Corporindo Tbk periode November 2017 – April 2018, Menurut Dono, terdapat 20 produsen atau badan usaha BBN jenis biodiesel yang ditetapkan untuk menyalurkan biodiesel ke Pertamina dan delapan di antaranya menyalurkan ke PT AKR Corporindo Tbk.

Total volume alokasi penyaluran BBN jenis biodiesel dari 20 produsen tersebut sebesar 1.407.778 kl dengan rincian sekitar 1.383.778 kl untuk Pertamina dan 24.000 kl untuk PT AKR Corporindo.

Besaran volume tersebut ditetapkan berdasarkan kebutuhan solar nasional pada periode tersebut. Sektor yang mendapatkan pendanaan mencakup sektor Jenis BBM Tertentu (JBT)/PSO dan pembangkit listrik PLN.

 

Sumber: Okezone.com

Awal 2018, CPO Cenderung Menguat

 

JAKARTA – Harga CPO diproyeksikan menguat pada kuartal I/2018 lantaran faktor terganggunya produksi akibat La Nina dan menguatnya permintaan dari negara importir tradisional.

Pada penutupan perdagangan Kamis (16/11), harga CPO menguat 8 poin atau 0,29% menjadi 2.721 ringgit atau setara US$651,68 per ton. Secara year to date (ytd), harga melemah 16,25%.

Pada penangangan sebelumnya, harga CPO melemah 5 hari berturut-turut, meninggalkan level 2.800 ringgit menuju 2.700 ringgit dengan ditutup pada level 2.713 ringgit per ton.

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, harga CPO pada kuartal 1/2018 akan mengalami kenaikan hingga mencapai level 2.800 ringgit per ton, mengalami kenaikan setelah pada kuartal IV/2017 berada pada level 2.650 per ton.

Ibrahim menuturkan, musim hujan sejak bulan ini menjadi sentimen positif yang mendorong kenaikan harga CPO pada kuartal 1/2018 mendatang. Pasalnya, produksi CPO berisiko menurun lantaran panen tandan buah segar (TBS) terganggu dan transportasi tersendat.

“Kondisi terganggunya produksi CPO karena musim dingin akan mengangkat harga CPO. Itu terutama terjadi di Indonesia dan Malaysia sebagai dua produsen terbesar dunia,” kata Ibrahim ketika dihubungi Bisnis, Kamis (16/11).

Sebagai informasi, Indonesia dan Malaysia menyumbang 85% produksi minyak sawit dunia dan 91,2% pasar ekspor dunia. Berdasarkan data Bank Dunia, produksi CPO Indonesia pada musim 2016/2017 mencapai 34 juta ton dan Malaysia 18,86 juta ton.

Ibrahim menambahkan cadangan sawit juga akan berkurang karena adanya peremajaan tanaman sawit. Pasalnya, tanaman sawit muda baru memasuki masa panen saat berumur 4-5 tahun. Proses replanting tersebut, dinilai sebagai faktor yang berisiko mengurangi produksi CPO pada kuartal pertama tahun depan.

Dilansir Bloomberg, salah satu perusahaan yang memproduksi minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia, PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III) memperkirakan produksi kelapa sawit mencapai 2,1 juta ton pada tahun depan. Jumlah tersebut cenderung stagnan dibandingkan dengan perkiraan produksi tahun ini sebesar 2,1-2,2 juta ton.

Selain kedua faktor tersebut, sentimen lain datang dari komoditas substitusi CPO, yaitu minyak kedelai. Saat harga minyak kedelai menguat, harga CPO berpeluang naik. Namun, pelaku pasar cenderung memilih CPO saat harga minyak kedelai melambung.

Dari segi permintaan, Ibrahim memaparkan Dewan Negara Penghasil Minyak sawit (Council ofpalm oil Producing Countries/CPOP) kemungkinan akan mulai mengimplementasikan kerja sama produksi minyak sawit untuk bahan bakar pesawat jet pada 2018.

Produk avtur dengan campuran CPO itu dinilai mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dan ramah lingkungan. Negara Panda disebut-sebut sebagai negara tujuan untuk memasarkan produk anyar tersebut.

“Jika ini terealisasi, akan mengangkat harga CPO pada 2018 mendatang,” kata Ibrahim.

PERMINTAAN NAIK

Di samping itu, permintaan dari importir tradisional seperti China, India, dan Jepang masih tetap tinggi ditambah negara-negara Timur Tengah yang cenderung menggunakan minyak goreng yang terbuat dari minyak kelapa sawit.

“Hal yang wajar pada kuartal 1/2018 nanti harga CPO akan menguat hingga ke level 2.800 ringgit. Sebab, pasokan menipis seiring dengan permintaan yang kuat. Sementara itu, pada akhir tahun ini harga bisa mencapai 2.650 ringgit,” kata Ibrahim menambahkan.

Senada, analis perkebunan dan properti MJJJF Research Alan Lim menyampaikan, volume produksi minyak kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia akan berkurang lantaran dampak cuaca dan fenomena La Nina. Gejala alam ini dapat menyebabkan hujan lebat dan banjir.

La Nina adalah kondisi turunnya suhu permukaan air laut di Samudera Pasifik. Gejala tersebut cenderung membawa cuaca basah, termasuk ke Indonesia dan Malaysia yang menyumbang 86% total produksi CPO global.

Pusat Prediksi Iklim AS menyebutkan ada kemungkinan gejala La Nina yang lemah dapat berlangsung pada Desember 2017-Februari 2018. Probabilitas terjadinya fenomena tersebut sudah mencapai 67%.

 

Sumber: Bisnis Indonesia

BPDP SAWIT SIAP SALURKAN RP 5,7 TRILIUN UNTUK PEMBIAYAAN BIODIESEL

 

JAKARTA – Dengan telah ditetapkannya Badan Usaha Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel oleh Menteri ESDM sesuai keputusan Menteri ESDM nomor 3756 K/10/MEM/2017, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) saat ini masih memproses kelengkapan administrasi untuk penandatanganan Perjanjian Pembiayaan Pengadaan Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel Periode Nopember 2017 – April 2018, sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri ESDM nomor 26 tahun 2016 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel dalam Kerangka Pembiayaan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit.

“Kami hari ini mengumumkan bahwa setelah penetapan BU BBN dan alokasi besaran volume biodiesel untuk periode Periode Nopember 2017 – April 2018, prinsipnya kami siap menyalurkan dana untuk  pembiayaan selisih kurang Harga Indeks Pasar (HIP) minyak solar dengan HIP BBN jenis Biodiesel pada periode tersebut. Saat ini Perjanjian Pembiayaan Bahan Bakar Nabati jenis Biodiesel antara BPDP KS dengan Produsen Biodiesel masih dalam proses penyelesaian untuk ditandatangi para pihak” Jelas Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS), Dono Boestami dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Kamis (16/11/2017).

Lebih lanjut tutur Dono Boestami, Perjanjian Pembiayaan ini merupakan bentuk konsistensi Pemerintah untuk mendukung pembangunan industri sawit yang berkelanjutan sekaligus mendorong peningkatan diversifikasi energi. Dengan rata-rata besaran insentif dana biodiesel selama tahun 2017 (Jan s.d. Oktober) sebesar Rp.  4.054,- /liter, diperkirakan kebutuhan dana untuk alokasi besaran volume periode 5 sebesar 1.407.778 KL, adalah sebesar Rp 5,7 triliun.

Dikatakan Dono,  dengan penyaluran kali ini, BPDP-KS bersama dengan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan Dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah melakukan berbagai upaya penyempurnaan tatakelola untuk memastikan proses penyaluran Dana Perkebunan Kelapa Sawit lebih baik di masa yang akan datang. “Konsekuensi dari penyempurnaan tatakelola ini dan permasalahan rutin terkait kegiatan akhir tahun anggaran, menyebabkan pembayaran dana kali ini sedikit mengalami keterlambatan, tetapi secara keseluruhan diharapkan tidak mempengaruhi proses penyediaan biodiesel,” tandas Dono Boestami. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Stop Diskriminasi Industri Minyak Sawit

 

Industri minyak sawit merupakan industri strategis dalam perekonomian Indonesia baik saat ini maupun masa depan.

Strategis, karena kontribusi industri minyak sawit cukup besar baik dalam skala ekspor non-migas, penciptaan kesempatan kerja, pembangunan daerah pedesaan dan pengurangan kemiskinan.

Mengutip Menteri Perindustrian Airlangga Hartato (Februari 2017), secara keseluruhan, diperkirakan sekitar 16-20 juta orang mengandalkan penghidupan dari bisnis kelapa sawit hulu-hilir yang tersebar di 190 kabupaten di Indonesia.

Industri minyak sawit merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar kepada negara dengan nilai Rp 250 triliun setiap tahunnya.

Sayangnya, kampanye negatif terhadap industri minyak sawit yang berlangsung sejak Indonesia mulai mengembangkan pola Perkebunan Inti Rakyat Kepala Sawit di awal tahun 1980-an sampai kini masih terjadi.

Bahkan telah melebar pada aspek ekonomi, sosial dan lingkungan khususnya terkait dengan perhatian masyarakat global.

Skenario-skenario baru dibangun untuk menghentikan pertumbuhan bahkan menghancurkan industri minyak sawit.

Strategi kampanye yang ditempuh juga kian terstruktur, sistematis dan massif.

Karena itu, diperlukan edukasi kepada publik untuk mengoreksi pandangan-pandangan yang telanjur keliru di masyarakat tentang industri minyak sawit.

Sumber: Pontianak.tribunnews.com

UBAH LIMBAH SAWIT DAN SINGKONG JADI PAKAN

 

BONTANG – Limbah sawit dan singkong seakan menjadi sampah yang tak berguna. Namun tidak di tangan  Kelompok Tani Rantau Pulung, Kecamatan Rantau Pulung. Mereka menyulap limbah tersebut untuk menjadi pakan ternak.

Dikatakan Sekdes Manunggal Jaya,  Giyoto,  pemerintah desa tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Pasalnya ini merupakan potensi yang sangat besar. Agar tak hanya dikelola oleh desa, pihaknya mengadakan Bimbingan Teknik (Bimtek) kepada masyarakat khususnya kelompok tani. “Kami buatkan pelatihan. Karena ini sangat diharapkan oleh kelompok tani. Selain menambah pengetahuan juga sebagai solusi pengadaan pakan untuk hewan ternak. Kami juga mengharapkan dapat terus berjalan,” ujar Goyoto seprti dilansir Bontangpost.

Bintek  yang digelar di Desa Manunggal Jaya ini terselenggara berkat kerjasama. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Kaltim dengan Pemerintah Desa manunggal jaya Kecamatan Rantau Pulung serta Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Ranpul dan Penyuluh pertanian lapangan (PPL) Desa Manunggal Jaya.

Dikesempatan yang sama PPL Desa Manunggal Jaya Agustinah menjelaskan Bintek kali ini adalah pemanfaatan limbah sawit dan ubi kayu sebagai ransum pakan ternak. Pertama disampai teori kemudian langsung praktek. Diawali limbah pelepah sawit dan ubi dicacah ke dalam mesin pencacah atau chopper. Hasil limbah tersebut menjadi serpihan kecil dan halus seperti serbuk yang bisa dijadikan sebagai pakan ternak.

“Peserta berasal dari kelompok tani ternak seluruh Kecamatan Ranpul, kurang lebih  ada 10 kelompok yang hadir,” katanya. (T3)

 

Sumber: Infosawit.com

Gandeng Koperasi Plasma, Gapki Gelar Pelatihan Mekanisme Penetapan Harga TBS Sawit

 

BANJARMASIN – Tingkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) di bidang industri kelapa sawit Kalimantan Selatan (Kalsel), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kalsel gelar Pelatihan Mekanisme Penetapan Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit.

Pelatihan yang digelar bekerjasama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) dan Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalsel ini diselenggarakan di Hotel Mercure, Kamis (15/11/2017).

Diikuti sekitar 40 peserta yang merupakan para anggota Koperasi Plasma se Kalsel, berbagai materi diberikan terkait mekanisme penentuan harga TBS.

Pelatihan ini dinilai strategis, karena selama ini masih cukup banyak petani plasma kelapa sawit yang menyuplai hasil perkebunannya ke perusahaan pengolah kelapa sawit belum paham tentang perhitungan ini.

Beberapa komponen penentu mulai biaya pengolahan, biaya pemasaran, biaya penyusutan dan yang lainnya dijelaskan dalam pelatihan ini.

Komponen inilah yang digunakan untuk mendapatkan nilai indeks K. Indeks K nantinya digunakan untuk perhitungan pembagian keuntungan antara petani dan perusahaan.

Dijelaskan Kepala Bidang Kemitraan Gapki Kalsel Yuzjiari Sedar, melalui pelatihan ini diharapkan para petani plasma mengerti bentuk mekanisme penentuan harga TBS mulai dari komponen yang digunakan hingga alur penghitungan.

“Tujuannya tentu tingkatkan transparansi antara tiga mitra yaitu pemerintah, pengusaha dan para petani. Sehingga tidak ada lagi rasa saling curiga,” kata Yuzjiari.

 

Sumber: Banjarmasin.tribunnews.com

Mahasiswa UGM Sukses Olah Limbah Sawit Jadi Hidrogen

 

Limbah sawit cair dari 1599 perusahaan di Indonesia selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, potensi besar dimiliki limbah tersebut salah satunya sebagai sumber bahan bakar energi terbarukan.

Fakta inilah yang mencoba diurai mahasiswa UGM yang tergabung dalam tim Green Energy. Para mahasiswa ini berusaha memanfaatkan limbah sawit cair untuk diolah menjadi gas hidrogen.

Salah satu anggota Green Energy UGM, Cahaya Prautama kepada wartawan Rabu (15/11/2017) mengungkap pemanfaatan mikroba endemik yang terdapat di sekitar area industri sawit. Mikroba tersebut menurut Cahaya digunakan sebagai bahan fermentasi yang hasilnya menjadi gas hidrogen.

Gas hidrogen yang dihasilkan melalui proses fermentasi tersebut menurut Cahaya bisa dipanen menggunakan Gas Chromatography untuk proses pemisahan gas hidrogen dengan gas lain. “Kami telah melakukan ujicoba di lab selama enam bulan dan didapatkan bahwa daya bakarnya 2.75 kali lebih besar dibandingkan minyak bumi atau hidrokarbon,” sambung mahasiswa Departemen Mikrobiologi, Fakultas Pertanian ini.

Sedikitnya ada sekitar 1.599 perusahaan sawit yang ada di Indonesia. Namun begitu limbah sawit cair berupa Palm Oil Mill Effluent (POME) belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal sekitar 27 % dari total limbah tersebut potensial untuk dijadikan sebagai bahan bakar energi terbarukan.

Enam orang Mahasiswa UGM yang tergabung dalam Tim Green Energy mencoba memanfaatkan limbah sawit cair ini untuk diolah menjadi gas hidrogen. Dengan memanfaatkan mikroba endemik yang ada di sekitar areal industri sawit, mereka berhasil mengolah limbah tersebut menjadi hidrogen melalui proses fermentasi.

“Kita menggunakan mikrobia yang potensial mengolah limbah sait ini menjadi Hidrogen,” kata Cahaya Prautama salah satu anggota tim saat menyampaikan hasil penelitin kepada wartawan di Kampus UGM, Rabu (15/11/2017).

Salah satu anggota tim Fano Alfian, menambahkan ia bersama dengan rekan-rekannya tengah mendirikan perusahaan startup untuk pengembangan lebih lanjut. Para mahasiswa ini berencana menawarkan penelitian pada perusahaan industri sawit untuk menganalisis produksi gas hidrogen dari pabrik sawit.

“Tapi tidak menutup kemungkinan kita pun akan membangun sebuah industri kecil untuk produksi hidrogen. Namun ini masih rencana kedepan menunggu mana yang lebih baik,” ungkap mahasiswa Teknik Industri angkatan 2014 ini.

Hasil karya mahasiswa UGM ini mendapatkan penghargaan juara pertama kategori riset unggulan berbasis kewirausahaan Universitas Teuku Umar Awards (UTU Awards) 2017. Penyerahan penghargaan dilaksanakan 11 November lalu di Meulaboh Aceh Barat. (Fxh)

Sumber: Krjogja.com