Gapki Tepis Perkebunan Sawit Mempekerjakan Anak-Anak

 

 

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menepis isu yang mengatakan perkebunan kelapa sawit mempekerjakan anak-anak sebagai tenaga kerja.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono menegaskan baik di perkebunan sawit maupun perusahaan perkebunan memperkerjakan anak-anak selain melanggar hukum juga sangat tidak mungkin.

“Perusahan perkebunan kelapa sawit tidak mungkin memperkerjakan anak di bawah umur,” tegasnya saat menghadiri dialog nasional bertajuk “Palm Oil Multi-Stakeholder National Diaologue: Towards decent work for all in Indonesia’s palm oil sector” di Pullman Hotel, Jakarta, Selasa (10/10).

Lebih lanjut Ia menjelaskan, jenis pekerjaan di kebun sawit berada di luar kemampuan anak-anak. Untuk permanen Tandan Buah Segar (TBS), misalnya, selain memerlukan keahlian latihan khusus, untuk mengangkat alat panen TBS yang begitu berat hampir tidak mungkin dilakukan anak-anak. Belum lagi mengangkat TBS dengan berat 10-15 kg per tandan. Jadi, sangat tidak mungkin dilakukan anak-anak.

“Selain itu, tata kelola perusahaan juga tidak memungkinkan penggunaan tenaga kerja anak-anak karena salah satu syarat untuk tenaga kerja perusahaan adalah tenaga kerja dewasa yang memiliki kartu tanda penduduk,” tambahnya.

Joko pun tidak menepis bila terkadang dijumpai anak-anak bekerja di perkebunan kelapa sawit. Namun, ia memastikan bahwa itu sudah atas persetujuan orang tua mereka.  “Itu merupakan permintaan orang tua atau anak sendiri untuk membantu orang tuanya. Dan itu  pun biasanya pekerjaan ringan,” ungkapnya.

Dari pantauan Warta Ekonomi, acara dialog ini turut pula dihadiri Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PPK dan K3), Kementerian Ketenagakerjaan, Sugeng Priyanto, Direktur ILO di Indonesia, Michiko Miyamoto serta stakeholder kelapa sawit.

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id

DMSI Gagas Hari Sawit Indonesia

 

 

MEDAN – Dewan Minyak Sawit Indonesia tengah mencari tanggal yang tepat untuk dipilih sebagai Hari Sawit Indonesia, guna mendorong dan meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap tanaman komoditas yang memiliki nilai strategis itu.

Dewan Minyak Sawit Indonesia tengah mencari masukan dari pemerintah dan stakeholders lainnya terkait dengan gagasan Hari Sawit Indonesia ini.

Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun mengatakan gagasan untuk mencari tanggal yang tepat untuk dipilih sebagai Hari Sawit Indonesia ini telah dibahas oleh pengurus sejak enam bulan yang lalu.

“Kita lihat sawit memiliki peranan yang cukup besar dalam perekonomian. Lalu peran sawit bagi petani juga besar. Karena itu, kami berpendapat ini perlu [Hari Sawit Indonesia] untuk mendorong dan menggelorakan Sawit di Tanah Air” kata Derom Bangun kepada sejumlah media di Medan, Senin (9/10).

Menurut Derom, pengurus DMSI bekerja sama dengan (Pusat Penelitian Kelapa Sawit) PPKS untuk mencari tanggal yang tepat.

Berdasarkan data pustaka yang diarsip sejak masa sebelum kemerdekaan di PPKS, lanjut Derom, tanggal penanaman pohon kelapa sawit komersial yang pertama adalah tangga] 18 November 1911 di Pulu

Raja, Kabupaten Asahan, Sumut, dengan modal sebesar 500 franc

Tanggal yang ditemukan itu telah dibahas pengurus DMSI bersama Direktur PPKS di Jakarta Jumat pekan lalu. Perkebunan di Pulu Raja ini (sekitar 220 km dari Medan) berlanjut sampai sekarang dan saat ini mink PTPN IV. Pada waktu yang hampir bersamaan, juga dilakukan penanaman pohon sawit di Sungai Liput,” tegas Derom.

Dia menegaskan berdasarkan arsip pustaka dan penelitian oleh PPKS tersebut, pihaknya meyakini 18 November adalah tanggal yang paling tepat untuk dipilih sebagai Hari Sawit Indonesia.

Kendati demikian, lanjut Derom, pihaknya juga tidak ingin gegabah sehingga mencari masukan data lain mengenai tanggal yang tepat. Saat ini, DMSI tengah berkirim surat kepada 12 instansi dan swasta untuk menggali masukan dan data lain.

Ke-12 instansi dan swasta tersebut adalah Kementerian Pertanian, Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan Asosiasi Anggota DMSI. Selain itu, PT. Perkebunan Nusantara (Holding), PT. Socfindo, PT. Tolan Tiga Indonesia, Rektor IPB, Rektor Universitas Sumatra Utara, Rektor Universitas Gajah Mada dan Kepala LIPI.

siti munawaroh

 

Sumber : Bisnis Indonesia

Eropa Janji Pelajari Dampak Sawit Indonesia

 

 

Belgia: Demi menyukseskan rencana kerja sama di bidang ekonomi antara Indonesia dan Uni Eropa (IEU-CEPA), Komisi Uni Eropa berjanji untuk mengakhiri diskriminasi produk sawit asal Indonesia.

Hal itu ditegaskan Wakil Presiden Jusuf Kalla seusai menggelar pertemuan tertutup dengan Wakil Presiden Komisi Eropa Andrus Ansip di GEdung Berlaymont, Dewan Eropa, hari ini.

“Tadi kita bicarakan kepentingan Indonesia dalam rangka mencapai CEPA, antara lain masalah-masalah yang sejak bertahun-tahun terjadi, seperti (boikot) sawit (dari Indonesia). Bagaimana penyelesaiannya, karena kita eksportir terbesar,” ujar JK di The Hotel, Bruselss, Belgia, Senin 9 Oktober 2017.

“Mereka setuju untuk membikin studi tentang (sawit Indonesia), sama-sama mempelajari agar tidak terjadi diskriminasi (demi tercapainya) sustainability,” lanjut Wapres.

Sebelumnya, Parlemen Uni Eropa mengeluarkan resolusi yang menyatakan sawit Indonesia erat dengan isu pelanggaran HAM, korupsi, pekerja anak, dan penghilangan hak masyarakat adat.

Lebih jauh JK mengatakan Indonesia tidak khawatir tertinggal dari Vietnam. Tetangga di Asia Tenggara itu telah lebih dahulu mencapai kesepakatan kerja sama di bidang ekonomi dengan Uni Eropa.

“Tentu kita akan mempelajari juga bersama-sama. Vietnam itu mengambil Trans Pasific Partnership sebagai benchmarknya. Kita juga tentu dapat mengambil benchmark yang sudah disetujui Indonesia dengan Tiongkok, dengan Jepang, dengan yang lain. Itu tadi yang dibicarakan,” tutur JK.

JK menambahkan, Indonesia juga sepakat terkait perkembangan e commerce dan e government. “Bagaimana bersama kita kembangkan e commerce dan e goverment,” urainya.
(SAW)

 

Sumber: Metrotvnews.com

Dibantu PPKS, DMSI Usulkan Hari Sawit Nasional 18 November

 

Medan. Dengan dibantu secara penuh oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) yang dipimpin oleh Ir Derom Bangun selaku Ketua Umum mengusulkan 18 November sebagai Hari Sawit Nasional kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dasar dari pengusulan Hari Sawit Nasional ini terdiri dari sejumlah aspek, baik aspek historis, filosofis, maupun ekonomis.

Hal itu disampaikan Derom Bangun kepada sejumlah wartawan di Medan, Senin (9/10/2017). Saat itu Derom Bangun didampingi Sekretaris DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Asmar Arsjad, Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumatera Utara Timbas Prasad Ginting, dan tiga peneliti senior PPKS yang mewakili Direktur Utama PPKS Dr Ir Hasril Hasan Siregar, yakni Dr Edy Sigit Sutanta (Kepala Bidang Penelitian), Dr Donald Siahaan (Ketua Kelompom Peeliti, Pengolahan Hasil dan MUtu), serta Dr Suroso Rahutomo (Ketua Tim Percepatan Oil Palm Science Techno Park/OSTP).

Kata Derom, secara historis benih sawit memang awalnya dibawa dari benua Afrika ke Bogor pada tahun 1848. Pihaknya tidak menjadikan 10 Desember yang saat ini dikenal sebagai Hari Perkebunan menjadi Hari Sawit Nasional karena sejatinya 10 Desember itu adalah praktek dari nasionalisasi banyak perkebunan swasta asing pasca kemerdekaan oleh Presiden Soekarno di awal kemerdekaan.

Namun akhirnya pihaknya memilih untuk mengambil upaya komersialisasi sawit untuk pertama kali di era kolonialisme Belanda sebagai bahan dasar Hari Sawit Nasional. Diketahui bahwa upaya komersialisasi perkebunan sawit pertama kali dilakukan pada tanggal 18 November 1911 di Perkebunan Pulo Raja, Asahan, yang kini menjadi bagian dari PTPN IV.

Kemudian secara filosofis, Derom menyebutkan Hari Sawit Nasional dibutuhkan karena sejumlah tanaman perkebunan lainnya sudah memiliki hari jadi tersendiri, seperti Hari Kopi Nasional yang bahkan diresmikan oleh Presiden Jokowi beberapa waktu lalu. Pihaknya juga ingin jika Hari Sawit Nasional bisa diwujudkan, ada kecintaan segenap elemen masyarakat Indonesia terhadap sawit.

Secara ekonomis, Derom mengatakan kelapa sawit telah banyak memberikan sumbangsih bagi perekonomian nasional.Bahkan, minyak sawit mampu memberikan devisa bagi bagi hingga miliaran Dolar AS.

“Kami berharap Hari sawit Nasional bisa dirayakan di tahun ini. 18 November memang belum fix, itu merupakan usulan DMSI yang dibantu oleh PPKS. Namun kami telah menyampaikan permohonan terkait Hari Sawit Nasional kepada sejumalh pihak terkait untuk dimintai pertimbangan mengenai hal ini,” tegas Derom Bangun.

Pihak terkait yang ia maksud yakni Kementerian Pertanian, Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, sejumlah asosiasi anggota DMSI, PTPN (Holding), PT Socfindo, PT Tolan Tiga Indonesia, Rektor IPB (Institut Pertanian Bogor), Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) Profesor Runtung Sitepu, Rektor UGM (Universitas Gajah Mada) Profesor Panut Mulyono, dan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).

 

Sumber: Medanbisnisdaily.com

Menperin Puas dengan Kontribusi Sektor Hilir Kelapa Sawit

 

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengaku cukup puas dengan kontribusi sektor hilir kelapa sawit dalam beberapa tahun terakhir.

“Hingga akhir 2016, nilai industri kelapa sawit dan turunannya telah mencapai US$20 milyar,” katanya di Jakarta, Senin (9/10).

Di samping itu, lanjut Menperin, sebanyak 60% ekspor berbasis kelapa sawit kini terdiri dari sektor hilirnya. Kondisi ini lebih baik dibanding lima tahun lalu yang hanya 30% dari total seluruh ekspor kelapa sawit.

“Ini cukup bagus karena kami bisa menciptakan nilai tambah dari komoditas unggulan. Kami harap, pohon industri dari kelapa sawit ini bisa lebih banyak lagi,” papar Airlangga.

Kementerian Perindustrian mencatat, nilai ekspor nilai ekspor produk hilir kelapa sawit pada akhir 2010 tercatat US$7,2 milyar. Angka ini kemudian naik signifikan 118,05% ke angka US$15,7 milyar di akhir tahun lalu.

Sumber: Gatra.com

Pemanfaatan Lahan Kian Optimal

Lahan sela kebun kelapa sawit umur 0-3 tahun memang bisa ditanami tanaman semusim jenis apa saja yang sesuai di dataran menengah ke dataran rendah atau 0-700 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Di Kabupaten Langkat, lahan sela sawit banyak ditanami tanaman semangka dan jagung. Sedangkan di Deliserdang banyak ditanami jagung. Ada juga yang ditanami tanaman obat-obatan seperti kunyit, temu lawak, dan lainnya.

Di Langkat, terutama daerah Namu Ukur, lahan sela kebun kelapa sawit muda kategori tanaman belum menghasilkan (TBM), banyak digunakan untuk budidaya tanaman bengkuang.

�Tentu saja, tanaman sela ini bisa mengoptimalkan pemanfaatan lahan (bagi perkebunan rakyat sangat diperlukan) guna mengisi kekosongan produksi kelapa sawit di masa TBM,� sebut pengamat pertanian Sumut Prof Abdul Rauf ketika dihubungi MedanBisnis, belum lama ini.

Tanaman sela kata dia, juga dapat mengefisienkan pemeliharaan tanaman seperti pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit tumbuhan (HPT).

Pemeliharaan untuk tanaman sela sudah sekaligus pemeliharaan untuk tanaman utama (kelapa sawitnya). Lebih khusus, kehadiran tanaman sela juga menambah biomassa tanah.

Apalagi bila tanaman sela-nya dari golongan leguminosa (tanaman kacangan, seperti kacang tanah, kacang kedelai, kacang hijau dan sebagainya) yang dapat menambah kesuburan tanah. Karena akarnya bersimbiosis dengan bakteri Rizhobium yang dapat memdiksasi Nitrogen udara dan menambah Nitrogen tanah.

Nitrogen merupakan unsur hara makro dan esensial diperlukan oleh semua jenis tanaman. Biomassa tanah dapat mempertahankan dan meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah. Kadar bahan organik tanah yang subur dan sehat harus dipertahankan sebanyak 3-5%.

�Tentunya, kehadiran tanaman sela dapat membantu mempertahankan kadar bahan organik tanah tersebut melalui sumbangan biomassanya,� ujar Rauf yang merupakan Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian USU itu.

Kebaikan lainnya kata dia, adalah dapat mempertahankan dan meningkatkan ketahanan pangan (menstabilkan politik pangan).

Paling penting juga, tanaman sela dapat menjadi inang bagi hama dan penyakit tanaman. Karena dengan adanya tanaman sela, hama dan penyakit yang dapat menyerang tanaman utama (kelapa sawit) akan terdistribusi ke tanaman sela, sehingga intensitas serangannya, baik di tanaman utama maupun tanaman sela menjadi rendah. (elvidaris simamora)

Harga Tandan Buah Segar Sawit di Kaltim, Naik

 

SAMARINDA – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Timur pada Oktober 2017 kembali mengalami kenaikan, sehingga kondisi ini menjadi kabar menggembirakan bagi pekebun sekaligus menjadikan petani semakin giat.

“Untuk TBS yang dipanen dari kelapa sawit umur 10 tahun ke atas, misalnya, pada bulan Agustus lalu masih seharga Rp1.506,22 per kilogram (kg), namun dalam dua bulan terakhir terus mengalami kenaikan,” ujar Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kaltim, Ujang Rachmad di Samarinda, Minggu (8/10/2017).

Dari harga TBS bulan Agustus tersebut, kemudian pada September mengalami kenaikan menjadi Rp1.588,30 per kg, selanjutnya pada Oktober ini tim penetapan harga kembali memutuskan bahwa harga TBS naik menjadi Rp1.696,58 per kg.

Didampingi Mohammad Yusuf, selaku Kepala Bidang Usaha, Ujang melanjutkan bahwa tren kenaikan dalam dua bulan terakhir terjadi, karena mengikuti harga minyak dunia yang juga mengalami kenaikan.

Sedangkan rincian penetapan harga TBS pada Oktober 2017 per usia panen pohon kelapa sawit adalah, untuk TBS dari kelapa sawit umur tiga tahun ditetapkan seharga Rp1.494,58 per kg, umur empat tahun Rp1.594,57 per kg, dan umur lima tahun seharga Rp1.603,60 per kg.

Kemudian TBS yang dipanen dari kelapa sawit umur enam tahun ditetapkan seharga Rp1.620,73 per kg, umur tujuh tahun Rp1.630,43 per kg, umur delapan tahun Rp1.642,73 per kg, dan yang dipanen dari kelapa sawit umur sembilan tahun ditetapkan seharga Rp1.676,85 per kg.

Sementara untuk harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) tertimbang dikenakan sebesar Rp7.903,63 per kg, mengalami kenaikan Rp292,64 ketimbang bulan sebelumnya yang seharga Rp7.610,99 per kg.

“Sedangkan untuk harga kernel atau inti sawit rerata tertimbang yang sama, ditetapkan seharga Rp5.538,91 dengan Indeks K sebesar 84,61 persen. Harga kernel juga mengalami kenaikan jika dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar Rp4.943,48 per kg,” katanya. (Ant)

Sumber: Cendananews.com

Harga CPO Terkerek Naik

 

JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) berhasil meraih penguatannya kembali pada perdagangan hari keempat berturut-turut, Jumat (6/10/2017) lalu.

Kontrak berjangka CPO untuk Desember 2017, kontrak teraktif di Bursa Malaysia, naik 0,07% atau 2 poin ke posisi RM 2.722 per ton pada siang. Kendati harga CPO sempat tergelincir ke zona merah ketika dibuka dengan pelemahan 0,37% atau 10 poin di level RM 2.710/ton, setelah pada perdagangan Kamis (5/10) berakhir menguat 0,18% di posisi RM 2.720/ton.

Menurut Gnanasekar Thiagarajan, kepala strategi perdagangan dan lindung nilai di Kaleesuwari Intercontinental, minyak sawit kembali terangkat oleh survei yang mengindikasikan bahwa peningkatan jumlah persediaan tidak terlalu mengkhawatirkan.

“Faktor penting yang telah mempengaruhi pasar secara positif adalah survei yang mengindikasikan bahwa jumlah persediaan tidak naik sebanyak yang pasar khawatirkan selama musim produksi yang tinggi,” ujar Thiagarajan, seperti dikutip dari Bloomberg.

Jumlah persediaan minyak sawit Malaysia diperkirakan naik 3,1% (m-o-m) menjadi 2 juta ton pada September, sedangkan tingkat ekspor naik 8,1% (m-o-m) menjadi 1,61 juta ton.

“Begitu musim festival mereda dari India, tingkat permintaan secara keseluruhan bisa berkurang saat musim dingin mendekat dan minyak sawit cenderung memadat,” tandasnya. (T3)

 

Sumber: Infosawit.com

Harga CPO Melesat di Kuartal Tiga

 

JAKARTA. Sepanjang kuartal ketiga tahun ini, harga minyak sawit mentah atawa crude palm oil (CPO) naik signifikan. Di periode Juli-September 2017, harga CPO kontrak pengiriman Desember 2017 di Malaysia Derivative Exchange melonjak 9,02% jadi RM 2.695 per metrik ton.

Keperkasaan harga CPO terjadi setelah ekspor CPO Indonesia dan Malaysia meningkat. Kenaikan ekspor ini mengindikasikan permintaan tengah menguat Research Analyst Asia Tradepoint Futures Deddy Yusuf Siregar menyebut, survei Bloomberg menunjukkan estimasi atau perkiraan ekspor CPO Indonesia di Agustus naik 1,9% menjadi 2,45 juta ton. Ekspor CPO dari Malaysia pun melonjak.

Permintaan CPO terutama datang dari China dan India. “Saat itu permintaan sedang tinggi menjelang golden week di China,” ujar Agus, kemarin.

Produksi mulai naik

Di lain pihak, produksi CPO di Malaysia ternyata belum kembali normal. Agus Chandra, Analis Monex Investindo Futures menuturkan, industri CPO Malaysia masih dalam masa pemulihan setelah terkena dampak Badai El Nino pada tahun lalu. Pelemahan ringgit terhadap dolar AS juga jadi sentimen positif yang membuat harga CPO di kuartal III menguat.

Menurut Deddy, penguatan harga CPO masih akan berlanjut. Permintaan dari India kembali membludak jelang hari raya Diwali. Karena itu, ia optimistis harga CPO dapat mencapai level krusialnya di RM 2.900 per metrik ton.

Hanya saja, jika harga sudah mencapai level tertinggi, maka harga rawan koreksi. Deddy pun tidak memungkiri di akhir tahun juga akan ada banyak aksi profit taking. “Memang rawan, tapi kalau harga berhasil ditembus di level tersebut, maka bukan tidak mungkin harga bisa berlanjut ke RM 3.000-RM 3.200 per metrik ton di akhir tahun,” kata Deddy menganalisa.

Tapi, bersamaan dengan peningkatan permintaan, stok minyak sawit Malaysia pada minggu ketiga bulan September diprediksi menyentuh angka tertinggi sejak Februari 2016. Survei Bloomberg menunjukkan, persediaan CPO akan naik 3,1% mehjadi 2 juta metrik ton dibanding Agustus. Angka tersebut akan menjadi level tertinggi dalam 19 bulan dan mencerminkan kenaikan 29% dibanding periode sama tahun lalu.

Survei juga menunjukkan produksi minyak sawit Malaysia naik 1,1% jadi 1,83 juta ton, sementara ekspor menanjak 8,1% menjadi 1,61 juta ton, atau tertinggi sejak Agustus 2016. Malaysian palm oil Board (MPOB) akan merilis data resmi pada 10 Oktober. . Agus menambahkan, pergerakan CPO juga bakal terimbas harga minyak kedelai. Pasalnya, komoditas tersebut merupakan kompetitor bagi CPO. “Jika minyak kedelai naik, CPO ikut naik karena harganya saling bersaing,” terang Agus.

Ia pun memprediksi harga CPO masih bisa menguat dan bergerak di kisaran RM 2.700-RM 2.800 per metrik ton pada akhir tahun ini.

Nathania Zevwied Pessak/Dimas Andi Shadewo

 

Sumber: Harian Kontan

Sawit Sumbang Laba PTPN III

 

SURABAYA – Peningkatan produktivitas komoditas kelapa sawit menjadi salah satu penyumbang laba bersih PT Perkebunan Nusantara IFI atau PTPN Holding yang mencapai Rp478 miliar selama Januari-Agustus 2017.

Nilai tersebut melonjak 130% dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun lalu. PTPN Holding mencatat pada Januari- Agustus 2016, perseroan sempat mengalami kerugian sebesar Rpl ,57 triliun.

Tahun ini, keuntungan yang diperoleh selama 8 bulan pertama didapat dari peningkatan penjualan, perbaikan produktivitas komoditas tanaman, serta efisiensi di segala lini usaha.

Direktur Utama Perkebunan Holding Nusantara Dasuki Amsir dalam keterangan resminya menjelaskan penjualan perseroan selama Januari-Agustus tahun ini tercatat sebesar Rp21,16 triliun atau meningkat 9% dibandingkan periode sama tahun lalu yaitu sebesar Rpl9,5 triliun.

“Selain itu, produktivitas komoditas kelapa sawit juga meningkat sebesar 18% dibandingkan dengan tahun lalu. Sejak 2016, program transformasi yang dijalankan perseroan sudah on track. Kami optimis perbaikan kinerja terus berlanjut sampai akhir tahun ini,” jelas Dasuki, Kamis (5/10).

Dasuki menjelaskan sejak awal tahun ini, tren kenaikan laba bersih konsisten terjadi setiap bulan. Hal tersebut ditopang oleh peningkatan kinerja anak usaha Holding Perkebunan Nusantara. Menurutnya, program transformasi PTPN akan terus dapat memperbaiki kinerja perseroan secara menyeluruh.

Bermodalkan kenaikan .laba tersebut, Dasuki mengaku optimistis dapat memenuhi target yang sudah dituangkan perseroan ke dalam RKAP 2017 yaitu sebesar Rp650 miliar sepanjang tahun ini. “Dengan tetap menerapkan strategi corporate turnaround, kami optimistis target tahun ini tercapai,” katanya.

Holding Perkebunan Nusantara merupakan induk usaha dari PTPN I sampai PTPN XIV yang dibentuk berdasarkan PP No.72/2014. Sebanyak 90% saham PTPN I sampai PTPN XIV dimiliki oleh Holding Perkebunan Nusantara dan sisanya 10% dimiliki pemerintah.

Holding Perkebunan Nusantara memiliki cakupan usaha berupa budidaya tanaman, produksi, perdagangan, pengembangan usaha bidang perkebunan, agrowisata, agrobisnis, agroindustri, agroforestry, dan usaha lainnya dengan total aset hingga April 2017 sekitar Rpll3 triliun.

Komoditas yang dikelola di atas lahan 1,18 juta hektar adalah kelapa sawit, karet, gula, teh, kopi, kakao, tembakau, aneka kayuan, buah-buahan, dan aneka tanaman lainnya. Adapun, komoditas sawit merupakan penopang utama pendapatan perseroan.

Bisnis mencatat PTPN Holding baru dapat menikmati pundi laba bersih dalam dua tahun terakhir. Setelah kerugian sempat mencapai Rp613 miliar pada 2015 lalu, perseroan akhirnya mulai mencatatkan untung pada Januari 2017.

Selain itu, Dasuki menyebut perseroan terus melakukan upaya efisiensi untuk mengantisipasi penurunan harga komoditas yang bisa sewaktu-waktu terjadi.

(Dara Aziliya)

 

Sumber: Bisnis Indonesia