,

Gapki: Penyaluran Biodiesel Oktober Bisa Capai 450.000 Kilo Liter

JAKARTA. Penyerapan minyak kelapa sawit untuk kebutuhan mandatori perluasan biodiesel 20% (B20) pada Oktober ini diperkirakan bisa mencapai 450.000 kilo liter.

Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Togar Sitanggang menyampaikan kinerja penyaluran komponen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan penyaluran biodiesel Oktober akan lebih baik dari sebelumnya dan bisa mencapai 430.000-450.000 kilo liter.

“Masalah logistik, kita diminta dengan window waktu yang sempit, karena window sempit maka juggling harus besar besaran,” jelas Togar, Kamis (18/10).

Ia melanjutkan, pencapaian September diperkirakan telah mencapai 70% dari target penyaluran FAME untuk biodiesel Public Service Obligatory (PSO) dan Non-PSO. Angka tersebut setara 350.000 metrik ton atau 400.000 kiloliter biodiesel.

Adapun seharusnya Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU BBN) dan Badan Usaha Bahan Bakar Minyak (BU BBM) sudah melakukan penyempurnaan sejak teken regulasi dan penyaluran akan makin lancar.

Menanggapi isu perkapalan tersebut, Wakil Ketua Dewan Masyarakat Sawit Indonesia (DMSI) Sahat Sinaga menyampaikan distribusi perkapalan memang harus di atur. Pasalnya setelah mandatori B20 tersebut, industri biofuel segera mencari kapal hingga berebut.

“Ini yang harusnya duduk antara produsen FAME dengan Pertamina bagaimana mengatur perkapalan ini agar tidak terjadi congestion,” kata Sahat.

 

Sumber: Kontan.co.id

,

Kementerian Teknis Didesak Proaktif Percepat Program B31

Pemerintah harus proaktif memastikan mesin-mesin penggerak industri dapat menggunakan solar dari minyak bumi yang dicampurkan fatty acid methyl esters (FAME) dari minyak sawit menjadi biodiesel kadar 30% (B30) tepat waktu.

“Presiden Joko Widodo sudah menyatakan komitmennya untuk mempercepat program B30,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat M Sinaga, dalam keterangan tertulisnya awal pekan ini.

Kementerian teknis, menurut Sahat, harus mempercepat kinerja mereka sehingga penghiliran dapat berhasil dengan baik meski standar acuan mesin yang mengacu kepada Amerika Serikat belum ada.

“Dengan penghiliran CPO menjadi bahan bakar, maka akan mengurangi impor. Meningkatkan nilai tawar minyak sawit, yang paling langka di republik ini adalah kebersamaan,” papar dia.

Sahat menilai, pemerintah membutuhkan koordinasi yang kuat agar anugerah minyak sawit yang sangat banyak yang diproduksi di negeri ini mendatangkan manfaat.

“Model bisnis mengubah CPO menjadi bahan bakar ini akan membuat industri hilir bergairah yang pada akhirnya menjaga harga buah sawit di tingkat petani stabil dan menjauh dari titik yang merugikan,” tutur Sahat.

Sumber: Borneonews.co.id

,

Pemerintah Harus Proaktif

JAKARTA – Pemerintah harus proaktif memastikan mesin-mesin penggerak industri dapat menggunakan solar dari minyak bumi yang dicampurkan fatty acid methyl esters (FAME) dari minyak sawit menjadi biodisel kadar 30% (B30) tepat waktu. Pemerintah menargetkan mandatori ini pada 2020.

Sahat M. Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menuturkan, Presiden Joko Widodo sudah menyatakan komitmennya untuk mempercepat program B30. Untuk itu, kementerian teknis harus mempercepat kinerja mereka sehingga penghiliran dapat berhasil dengan baik meski standar acuan mesin yang mengacu kepada Amerika Serikat belum ada.

“Dengan penghiliran CPO (menjadi bahan bakar) maka akan mengurangi impor. Meningkatkan nilai tawar minyak sawit. Yang paling langka di Republik ini adalah kebersamaan,” kata Sahat di Medan, pekan lalu.

Dia menuturkan pemerintah membutuhkan koordinasi yang kuat agar anugerah minyak sawit yang sangat banyak yang diproduksi di negeri ini mendatangkan manfaat.

Kepala Pusat Sistem Penerapan Standar Badan Standardisasi Nasional (BSN) Wahyu Purbowasito menyebutkan, bagi pihaknya terdapat dua komponen utama sebelum sebuah produk dapat diterapkan dalam sistem standardisasi nasional.

“Yang diuji adalah mutu, kemudian performa. Selama tidak merusak mesin, itu bisa dipakai,” katanya.

Wahyu menuturkan ada atau tidaknya standar B30 di Amerika Serikat, tidak menjadi acuan di Indonesia. Pasalnya untuk kepentingan nasional, maka Indonesia dapat mengeluarkan acuannya sendiri.

“[Standar] kita yang menentukan apalagi bahannya banyak di kita. Selama (pemerintah) punya jaminan [penerapan B30 tidak merusak lingkungan dan memberikan kinerja yang baik] itu [perapan wajib B30] bisa dilakukan. Kenapa tidak,” katanya.

Wahyu menambahkan untuk itu dibutuhkan tindakan proaktif dari kementerian teknis, agar penerapan B30 secara luas dapat diterima dan dijalankan oleh pelaku usaha. Mesin-mesin yang ada tidak mengalami penurunan kinerja.

Edy Sutopo, Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian mengatakan dalam membangun industri hilir agar CPO dapat segera dimanfaatkan sebagai bahan bakar, pihaknya berkomitmen untuk mendukung percepatan penggunaan.

Selain itu, model bisnis mengubah CPO menjadi bahan bakar ini akan membuat industri hilir bergairah yang pada akhirnya menjaga harga buah sawit di tingkat petani stabil dan menjauh dari titik yang merugikan.

 

Sumber: Bisnis Indonesia

,

Raksasa Sawit Sulit Tambah Lahan Lagi

JAKARTA. Ekspansi perusahaan sawit di Indonesia terancam. Ini menyusul keluarnya instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghentikan sementara (moratorium) izin perkebunan kelapa sawit.

Lewat Instruksi Presiden (Inpres) No 8/ 2018 tentang Penundaan dan Evaluasi Perizinan Perkebunan Kelapa sawit serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit, kebijakan ini berlaku 19 September 2018.

Bagi pebisnis besar, moratorium ini tak jadi soal. Pasa-nya, perusahaan raksasa sawit sudah memiliki lahan yang superluas. Berdasarkan riset KONTAN, dari sekian banyak perusahaan sawit yang sudah beroperasi di Indonesia, nama perusahaan besar seperti Group Wilmar International, Sinar Mas Group melalui Golden Agri Resources (GAR), dan PT Astra Agro Lestari Tbk berada di urutan teratas pemimpin industri sawit di Tanah Air maupun di dunia.

Berdasarkan Laporan Keuangan Semester I 2018 di Bursa Efek Singapura, semisal, total aset GAR mencapai US$ 8,48 miliar. Induk usaha PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk ini juga mencatatkan pendapatan US$ 3,67 miliar, naik 3,3% dari periode sama 2017. GAR memiliki luas lahan perkebunan 788.907 hektare (ha), jumlah ini sudah termasuk kebin plasma.

Adapun Wilmar International Group, tercatat sebagai perusahaan pengolahan minyak sawit terbesar dunia. Wilmar telah memasarkan produknya ke lebih dari 50 negara. Wilmar Group memiliki lebih dari 450 pabrik dan jaringan distribusi di seluruh China, India, Indonesia dan negara-negara lainnya.

Di Indonesia, Wilmar Group lewat PT WilmarNabati Indonesia memiliki lahan perkebunan sawit 210.000 ha, sudah tertanam 155.000 ha. Kebun sawit Wilmar ini di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Sementara produksi CPO mencapai 3 juta metrik ton per tahun. Targetnya 2019 bisa tembus 3,2 juta metrik ton.

Komisaris Wilmar Group Master Parulian Tumanggor mengatakan Wilmar tak lagi ekspansi lahan pada tahun 2019 karena adanya moratorium. “Tapi kami memiliki perkebunan inti rakyat (PIR) yang luasnya sekitar 40.000, “ujarnya kepada KONTAN, Minggu (14/10)

Melalui PIR ini, Wilmar bisa mendapatakan pasokan tambahan untuk memproduksi CPO dan turunnya melalui pola pengembangan perkebunan rakyat di wilayan lahan bukaan baru.

Sementara PTAstra Agro Lestari memiliki aset Rp 26,83 triliun berdasarkan laporan keuangan semester I 2018. Anak usaha Astra International ini membukukan pendapatan Rp 9,02 triliun pada paruh pertama 2018 lalu dengan laba komprehensif Rp 902,6 miliar.

Ekspansi terhambat

Selain mereka, ada terdapat perusahaan sawit besar lainnya seperti Minamas Plantation Group, dan Salim Group. Perusahaan-perusahaan ini memiliki produksi dan aset besar di industri ini.

Sahat Sinaga, Wakil Ketua Umum Dewan Minyak sawit Indonesia (DMSI) mengatakan kebijakan moratorium perluasan kebun sawit menghambat ekspansi perusahaan sawit di Indonesia. Maka perusahaan ini hanya bisa meningkatkan produksi dengan menggantikan tanaman lama dengan tanaman baru yang produksinya lebih tinggi.

Ia menyebut, kita butuh regulasi yang mendukung pengembangan industri sawit. Yakni Undang-Undang (UU) yang mengatur perkebunan sawit tidak bisa dikonversi dengan tanaman lain. Bila hal ini tercapai, kata dia, niscaya perusahan-perusahaan sawit bakal berkembang pesat di Indonesia. “Perusahaan sawit tidak perlu diajari meningkatkan aset, yang mereka butuh dukungan pemerintah,”ucapnya.

 

Sumber: Harian Kontan

,

Industri Kelapa Sawit Jalankan Strategi Untuk Meningkatkan Aset

JAKARTA. Di tengah moratorium perluasan lahan sawit yang dilakukan oleh pemerintah, perusahaan-perusahaan kelapa sawit sudah mulai mengembangkan asetnya dengan tujuan meningkatkan produktifitas kelapa sawit.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menjelaskan, perusahaan kelapa sawit sudah melakukan sejumlah strategi dalam mengembangkan asetnya. Selain menambah luas lahan perkebunan, perusahaan juga menanam bibit unggul untuk area-area yang belum tertanam kelapa sawit.

Selain itu, “Perusahaan sawit juga tengah berupaya memperbaiki produktifitas dengan mengganti aset-aset tanaman kelapa sawit yang sudah tidak produktif dengan yang produktif, memperbaiki efisiensi seperti pemupukan, serta memperbaiki infrastruktur jalan-jalan supaya lebih bagus,” lanjutnya kepada Kontan.co.id, Sabtu (13/10).

Menurut Sahat, satu hal yang perlu dikembangkan mengenai kelapa sawit adalah membuat peraturan di mana kebun-kebun kelapa sawit tidak boleh dialihfungsikan ke tanaman lain.

Sementara itu, dia juga mengakui, perkembangan industri kelapa sawit Tanah Air juga menemui sejumlah kendala. Misalnya saja, produk kelapa sawit tengah menghadapi tekanan global berupa kampanye negatif terhadap ekspor minyak kelapa sawit dan turunannya.

“Kalau Eropa tidak mau impor kelapa sawit dari Indonesia, kita tidak usah ekspor lagi. Kita bisa mengolahnya karena sekarang kebutuhan domestik juga sudah mulai besar dan bisa digunakan untuk meningkatkan ketahanan energi nasional. Kita bisa mengolahnya untuk bahan bakar, menguasi teknologinya, dan tentu sustainable tetap menjadi patokan kita,” lanjutnya.

 

Sumber: Kontan.co.id

,

Pasar Wangi, Nutri Palma Kembangkan Red Virgin palm oil

Produsen terus mengembangkan industri hilir produk minyak kelapa sawit. Program hilirisasi, produk minyak sawit mentah atau Crude palm oil (CPO) ini bisa meningkatkan nilai tambah. Pengembangan produk turunan CPO ini antara lain biodiesel hinngga red virgin palm oil.

Salah satu perusahaan yang mengembangkan red virgin palm oil adalah PT Nutri Palma Nabati. Menurut Direktur PT Nutri Palma Nabati Darmono Taniwiryono bilang, pihaknya mengembangkan produk minyak red virgin palm oil dengan merek Salmira..

PT Nutri Palma Nabati mengemas produk ini dalam bentuk saset agar bisa menjual langsung ke ritel. Darmono mengklaim nutrisi yang terkandung dalam red virgin palm oil dapat membantu pemerintah mengurangi masalah stunting, atau hambatan pertumbuhan pada anak.

Memang, saat ini volume produksi red virgin palm oildi Nutri Palma masih kecil. Pabrik pengolahan minyak sawit baru baru mengolah 250 kilogram (kg) Tandan Buah Segar (TBS) perjam. Padahal normalnya, rata-rata kapasitas pabrik pengolahan CPO 60 ton hingga 90 ton perjam.

“Produksi kami masih kecil, dalam satu bulan baru mampu mengolah sekitar 10 ton saja. Pada tahun ini, kami targetkan dapat mengolah 76,8 ton dengan hitungan operasional mesin mencapai 8 jam per hari operasi,” ujarnya, di Medan, Senin (8/10).

Sejauh ini, Nutri Palma masih mengandalkan pasokan TBS dari kebun sendiri seluas 500 hektare. Rencananya mereka akan melakukan ekspansi kebun di Sumatra Utara.

Pemilihan Sumatra Utara karena merupakan wilayah penghasil sawit terbesar kedua di Indonesia setelah Riau. “Kami ekspansi ke kawasan Sei Mangke untuk meningkatkan produksi,” katanya.

Saham M Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) juga melihat tren industri untuk mengembangkan industri hilir minyak sawit. Produk hilir ini diantaranya untuk makanan dan perawatan wajah dan tubuh, hingga bahan bakar.

Ia menyebut di bisnis hilir CPO untuk bahan bakar, sudah menghasilkan green diesel, green gasoline dan green avtur. Karena itu, ia berharap pengembangan bisnis ini mendapat dukungan pemerintah.

 

Sumber: Harian Kontan

,

GIMNI Desak Pemerintah Percepat Hilirisasi Industri Sawit

Pemerintah diharapkan mempercepat pengembangan industri hilir sawit, khususnya produk bahan bakar cair berbasis minyak kelapa sawit, yang diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp815 triliun hingga Rp840 triliun sampai dengan 2025.

“Sawit dapat dikembangkan menjadi empat varian produk yakni bahan makanan, bahan bakar, produk kimia, dan bahan bakar,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat M. Sinaga, dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Selasa (9/10/2018).

Untuk bahan bakar, penghiliran minyak sawit di dalam negeri sudah dapat menghasilkan green diesel (Cetane Number 80), green gasoline (Ron 96-98), dan green avtur (dengan titik beku -37 derajat celcius dan -60 derajat celcius.

“Dengan harga minyak US$70 maka industri hilir sudah bisa memproduksi memiliki nilai keekonomian,” papar Sahat.

Green diesel dikenal juga dengan solar. Bahan bakar ini banyak digunakan oleh mesin industri, alat transportasi umum, dan pertambangan.

Sedangkan gasolin lebih dikenal dengan nama bensin dan banyak digunakan oleh kendaraan pribadi.

Sementara itu, avtur merupakan bahan bakar untuk pesawat. Produk ini membutuhkan titik beku jauh di bawah nol agar pesawat tidak mati ketika terbang di ketinggian.

Sahat menambahkan, dengan teknologi yang ada saat ini, dari 1 ton crude palm oil (CPO) dapat dihasilkan 5,24 hingga 5,96 barel setara bahan bakar cair. Skala uji coba produksi akan dimulai pada akhir kuartal IV tahun ini untuk gasolin, sedangkan avtur akan mulai diproduksi pada awal 2019.

“Indonesia diperkirakan membutuhkan 104,2 juta kiloliter bahan bakar cair pada 2025. Pada tahun ini, penggunaan bahan bakar secara nasional berkisar 75,7 juta kiloliter, kami estimasi dengan 27% menggunakan campuran bahan bakar cair berbasis sawit, akan ada tambahan permintaan 26,9 juta CPO untuk bahan baku,” ujar Sahat.

Dengan kondisi ini, peningkatan produksi CPO pada 2025 diperkirakan mencapai 72 juta ton dapat terserap karena 60% dari produksi minyak sawit saat itu akan dikonsumsi di dalam negeri.

Minyak sawit untuk bahan bakar ini juga akan mengakhiri ketidakpastian penyerapan produksi minyak sawit dan turunannya di pasar utama, seperti India dan Uni Eropa.

Sumber: Borneonews.co.id

,

Industri Hilir Kelapa Sawit Terus Dikembangkan Untuk Kesehatan dan Kecantikan

Industri hilir kelapa sawit saat ini kian bertumbuh. Berbagai hasil produk turunan dari sawit pun berhasil dipasarkan baik untuk kesehatan dan kecantikan. Menurut Darmono Taniwiryono, Direktur PT Nutri Palma Nabati, sejauh ini produk yang dikembangkan adalah minyak red virgin palm oil.

“Yang kami kembangkan di PT Nutri Palma Nabati adalah red virgin palm oil yang dikemas dengan nama minyak Salmira. Kami juga produksi saset untuk dikonsumsi langsung,” kata Darmono, Senin (8/10).

Darmono menyebut, pengembangan industri hilir berupa red virgin palm oil ini memiliki banyak keunggulan terutama dalam mengatasi stunting (gizi buruk). Ini karena kandungan minyak red virgin palm oil mengandung komposisi omega 3, omega 6 dan omega 9 dan vitamin yang terkandung dalam sawit.

“Formulasinya yang sudah kami buat dengan omega 3 yang lebih tinggi sehingga nanti komposisi omega 3, omega 6 dan omega 9 seimbang bagus untuk kesehatan,” kata Darmono.

Alumni Institut Pertanian Bogor ini menyebut bahwa berdasarkan penelitiannya, satu dari tiga balita yang mengalami stunting dapat diatasi dengan mengkonsumsi red virgin palm oil. Menurutnya butuh 300.000 hektare sawit untuk memperbaiki kondisi stunting di Indonesia.

Minyak sawit ini pun dapat digunakan untuk perawatan wajah, rambut, dan juga pengobatan kulit yang mengalami bekas luka ataupun luka bakar. “Produk kami juga ada untuk perawatan wajah, perawatan rambut, dan menyamarkan bekas luka. Itu komposisinya dengan tambahan vitamin A dan Vitamin E. Kalau ibu-ibu memang susah menerima bahwa minyak bisa digunakan sebagai bahan kecantikan, karena ini akan oily atau berminyak. Padahal aplikasi minyak ini hanya 10 sampai 15 menit saja,” tegasnya.

Dari kunjungan KONTAN ke Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), terlihat bahwa pengembangan sawit tidak terbatas pada minyak, namun juga perawatan wajah (cream) yang mampu mengatasi keriput dan noda hitam di wajah. Selain itu beberapa produk dari sawit yang saat ini mulai dipasarkan, antara lain sabun, lilin, lotion, minyak goreng, mentega, roti, biscuit dan masih banyak lagi.

“Permasalahannya di Indonesia, apapun yang warnanya putih jernih itu adalah bagus. Minyak juga begitu, yang warnanya putih dinilai lebih bagus bagus padahal itu menyimpang dari alam. Justru yang berwarna itu yang lebih kaya,” tegasnya.

Lebih rinci, dalam setahunnya rata-rata produksi sawit PT Nutri Palma Nabati masih sangat kecil dengan olahannya 250 kg tandan buah segar per jam, sedangkan normalnya pabrik sawit besar adalah 60 ton sampai 90 ton per jam.

Pabrik Nutri Palma ini beroperasi sejak 2016. “Kami masih kecil, dalam satu bulan kami mampu mengolah tidak sampai 10 ton, untuk target tahunan kami 76,8 ton dengan hitungan 8 jam per hari operasi,” rincinya.

Nutri Palma memiliki luas kebun sawit 500 hektare di Bogor, Jawa Barat. Darmono mengatakan, pihaknya akan ekspansi kebun rencananya akan ekspansi ke Sumatra Utara.

“Produksi terbesar sawit itu Riau kedua Sumut. Ada 4 juta ton per tahun di Sumatra Utara. Kalau di Riau ada 7 juta ton per tahun,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga.

 

Sumber: Kontan.co.id

,

Bahan Bakar Sawit Butuh Dukungan

MEDAN – Pemerintah diharapkan mempercepat pengembangan industri hilir sawit, khususnya produk bahan bakar cair berbasis minyak kelapa sawit yang diperkirakan membutuhkan investasi Rp8 15 triliun- Rp840 triliun hingga 2025.

Sahat M. Sinaga, Direktur Eksekutif Cabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), menuturkan sawit dapat dikembangkan menjadi empat varian produk yakni bahan makanan, bahan bakar, produk kimia, dan bahan bakar.

Untuk bahan bakar, penghiliran minyak sawit di dalam negeri sudah dapat menghasilkan green diesel (Cetane Number 80), green gasoline (Ron 96-98), dan green avtur (dengan titik beku37 derajat celcius dan -60 derajat celcius.

“Dengan harga minyak US$70 maka kami [industri hilir) sudah bisa memproduksi [memiliki nilai keekonomian],” kata Sahat, Senin (8/10).

Green diesel dikenal juga dengan solar. Bahan bakar ini banyak digunakan oleh mesin industri, alat transportasi umum, dan pertambangan. Gasolin lebih dikenal dengan nama bensin dan banyak digunakan oleh kendaraan pribadi.

Sementara itu, avtur merupakan bahan bakar untuk pesawat. Produk ini membutuhkan titik beku jauh di bawah nol agar pesawat tidak mati ketika terbang di ketinggian.

Sahat menuturkan, dengan teknologi yang ada saat ini, dari 1 ton crude palm ad (CPO) dapat dihasilkan 524 – 5,96 barel setara bahan bakar cair. Skala uji coba produksi akan dimulai pada akhir kuartal IV/2018 untuk gasolin, sedangkan avtur akan mulai diproduksi pada awal 2019.

Indonesia diperkirakan membutuhkan 104,2 juta kiloliter bahan bakar cair pada 2025. Pada tahun ini, penggunaan bahan bakar secara nasional berkisar 75,7 juta kiloliter.

“Kami estimasi dengan 27% menggunakan campuran bahan bakar cair berbasis sawit, akan ada tambahan permintaan 26,9 juta CPO untuk bahan baku,” katanya.

Dengan kondisi ini, peningkatan produksi CPO pada 2025 diperkirakan mencapai 72 juta ton dapat terserap karena 60% dari produksi minyak sawit saat itu akan dikonsumsi di dalam negeri.

Minyaksawituntuk bahan bakar ini juga akan mengakhiri ketidakpastian penyerapan produksi minyak sawit dan turunannya di pasar utama seperti India dan Uni Eropa. “Kita akan menjadi pemboros terbesar, kalau tidak dipakai [kombinasikan bahan bakar cair berbasis minyaksawitini],” kata Sahat.

Dengan tingkat pemakain diesel, bensin, dan avtur sebesar 41%, 49%, dan 10% dari total bahan bakar nasional, GIMNI meyakini pemerintah dapat menghemat US$45,7 miliar dari pengalihan impor bahan baku fosil ke bahan bakar berbasis sawit.

Nilai penghematan ini diperkirakan mencapai US$157,2 miliar pada 2030. “Pertanyaannya apakah kebijakan pemerintah menjadikan sawit ini mati atau akan tetap dihidupkan,” katanya.

Sahat menilai, saat ini kampanye negatif terhadap sawit sangat gencar. Pada saat yang sama, beberapa kebijakan ekonomi yang menekan industri juga diambil oleh sejumlah negara.

Dia mencontohkan, India sebagai konsumen terbesar menerapkan bea masuk 54% untuk produk hilir dan 34% pada CPO. Sejumlah tekanan lain juga dihadapi oleh produk sawit termasuk ancaman penghentian penggunaan biosolar di negara-negara Eropa berbahan sawit.

Frisda R. Panjaitan, Peneliti pada Pusat Penelitian Kelapa sawit (PPKS) Medan, menuturkan pada dasarnya, apapun yang dapat diproduksi dari olahan minyak bumi dapat dihasilkan juga oleh minyak sawit.

Saat ini, dia tengah mengembangkan bioplastik berbasis minyak dan biomassa sawit Dia menuturkan, produk plastik dari sawi tini lebih aman untuk lingkungan. PPKS Medan menyebutkan kebutuhan bioplastik dunia akan meningkat dari 1,7 juta ton pada 2014 menjadi 7,8 juta ton pada 2019.

Adapun, potensi konsumsi plastik di Indonesia mencapai 4 juta ton per tahun dengan 50% bahan baku didatangkan melalui impor.

DIKELOLA NEGARA

Sahat mengatakan, untuk mewujudkan bahan bakar berbasis minyak sawit ini, negara harus tampil sebagai pengelola. Perkebunan rakyat dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dijadikan basis produksi bahan baku.

Gabungan produksi kebun rakyat dan PTPN akan mencukupi kebutuhan bahan baku yang dibutuhkan untuk memproduksi-bahan bakar cair berbasis sawit Sementara itu, pihak swasta bergerak di produk hilir seperti bahan kimia ataupun produk bahan pangan.

“Dengan pola ini, harga bahan bakar tidak dapat dipermainkan, karena kalau diserahkan pada swasta sepenuhnya, harga akan rentan dan berfluktuasi,” katanya.

Edy Sutopo, Direktur Industri Hasil Hutan Perkebunan Kementerian Perindustrian, menuturkan tengah mendorong industry hilir sawit agar berkembang lebih luas. Menjadikan minyak sawit menjadi bahan bakar adalah salah satu upaya yang harus dipercepat.

“Ada 32 juta jiwa yang bergantung hidupnya terhadap sawit.sawit juga menjadi penyumbang ekspor terbesar,” katanya.

Dengan besarnya jumlah penduduk yang bergantung dan pentingnya produk sawit terhadap ekonomi nasional, pihaknya akan mengundang lebih banyak investasi untuk dengan menawarkan dukungan insentif fiskal bagi industri ini.

 

Sumber: Bisnis Indonesia

,

Industri Hilir Perkebunan Domestik Terus Diperluas

 

MEDAN. Industri hilir atau pengolahan sejauh ini terus mengejar ketinggalan dibanding negara tetangga.

Kasubdit Industri Hasil Perkebunan Non Pangan Kementerian Perindustrian Lila Harsah Bachtiar, menyebut, hingga tahun 2015 pertumbuhan industri hilir sudah mencapai 154 jenis.

Sayangnya hingga 2018 ia masih belum memastikan jumlah industri hilir yang ada, namun ini diyakini pasti bertambah.

“Pada tahun 2010 kita punya 54 jenis industri hilir, 2015 kita punya 154 jenis produk hilir sedangkan Malaysia ada 200. Yang penting kita sudah mengejar ketertinggalan,” kata Lila saat ditemui di Grand Dhika Dr Mansyur Medan, Senin (8/10).

 

Menurut Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga, dalam industri hilir terdapat tiga sektor antara lain RFM (Refine, Fraksionasi dan Modifikasi), oleochemical, dan biodiesel yang semuanya sudah dikembangkan.

“Sudah jalan, kelompok RFM itu seperti margarin, minyak goreng, sortening, speciality fat. Untuk oleochemical ada fetty acid dan fetty alcohol,” ungkap Sahat.

Sahat menyebutkan bahwa jumlah industri hilir sangatlah banyak, misalkan saja Biodiesel yang memiliki kapasitas produksi hampir 12 juta kilo liter per tahun atau untuk tahun 2018 diprediksi jumlah produksi mencapai 4,2 juta ton.

“Industri hilir itu banyak, untuk biodiesel paling nanti PSO dan non PSO di 2019 itu kira-kira 5,6 juta ton, jadi masih dibawah kapasitas. Sedangkan di tahun 2018 ini diprediksi 4,2 juta ton,” ujar Sahat.

Lebih lanjut dikatakan bahwa industri hulu dan hilir rata-rata menyumbang pajak 23% dari total pajak nasional dan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 12,8 triliun untuk sawit.

Oleh sebab itu, perlu dibangun kemandirian di sektor hilir dimana produk hilir lebih diminati pasar, ini berdasarkan prediksi penurunan ekspor Crude Palm Oil (CPO) di tahun 2018 ini.

“Ke depannya perlu memelihara hubungan yang baik dengan konsumen. Ekspor CPO Tahun 2017 adalah 8,2 juta ton, pada 2018 diprediksi 6,8 juta ton. Karena apa? orang di luar negeri itu lebih suka produk hilir,” ungkap Sahat.

Demand yang berasal dari produk hilir ini kemudian diharapkan dapat mendorong kemandirian dalam hilirisasi seperti pangan, oil chemical dan perluasan biodiesel.

“Hilirisasi perlu didorong untuk mendukung produk sawit yang memiliki marketbesar,” tegasnya.

Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan, Edy Sutopo menjelaskan hingga akhir tahun ini ada beberapa industri hilir yang akan diresmikan. Beberapa industri hilir tersebut antara lain hilir sawit, hilir kayu dan hilir selulosa.

“Yang jelas di Riau (Kerinci) ada kertas. Yang di Sumatera Selatan, di PT. OKI. kertas tisu dengan kapasitas 500 ribu ton per tahun. Oil chemical di Dumai, Wilmar yang di Gresik,” ungkap Edy.

 

Sumber: Kontan.co.id