,

Minyak Goreng Indonesia Laris dalam Festival Moskow

Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) yang menjadi salah satu partisipan dalam Festival Indonesia di Moskow, Rusia, menyatakan minyak goreng asal Indonesia laris dibeli oleh pengunjung.

Direktur Eksekutif Gimni Sahat Sinaga mengatakan minyak nabati dari kelapa sawit tersebut diminati oleh warga Rusia, yang umumnya dari kalangan rumah tangga. Namun begitu, mereka kesulitan untuk membeli minyak goreng sawit ini di pasar retail Rusia.

“Mereka bilang ini rasanya enak. Mereka tanya di mana kami bisa beli minyak ini karena di supermarket tidak ada. Baru saya mengetahui itu ternyata tidak ada promosi minyak sawit ini dijual di market,” kata Sahat di sela-sela kegiatan Festival Indonesia di Taman Krasnaya Presnya Moskow, sebagaimana disalin dari laman Antara.

Sahat menyebutkan bahwa volume ekspor CPO Indonesia ke Rusia pada 2018 sebesar 800.000 ton. Jumlah tersebut memenuhi kebutuhan CPO di Rusia sebesar 74,4 persen, sedangkan sisanya dipasok dari Malaysia.

Namun, ekspor sebesar 800.000 ton tersebut ternyata hanya untuk kebutuhan industri, yakni konveksioneri, margarin, sabun dan kosmetik. Sementara itu untuk konsumsi rumah tangga seperti minyak goreng, CPO Indonesia masih belum masuk ke pasar retail.

Dalam Festival Indonesia di Moskow tersebut, warga Rusia terlihat antusias untuk melihat berbagai produk dari kelapa sawit, mulai dari minyak goreng, margarin, hingga minyak salmira (red virgin palm oil). “Minyak sawit sedikit lebih enak daripada sunflower (minyak bunga matahari,” kata Olga, salah satu warga Rusia yang mengunjungi gerai produk CPO Indonesia.

Pada acara tersebut, minyak goreng sawit habis terjual pada hari kedua festival yang diselenggarakan pada 1-4 Agustus 2019 di Taman Krasnaya Presnya Moskow tersebut. Setidaknya 96 botol minyak goreng laris manis di acara tersebut dengan harga jual 150 rubel (Rp33.000) untuk volume 1 liter. Padahal, biasanya minyak goreng tersebut hanya dijual Rp10.000 di Indonesia. Sementara itu, minyak salmira dijual seharga 1.000 rubel (Rp240.000) per kotak.

Penyelenggaraan Festival Indonesia yang digelar pada 2-4 Agustus 2019 di Moskow Rusia, turut memamerkan berbagai produk kuliner dan kerajinan tangan dari berbagai daerah di Indonesia yang diharapkan dapat memperluas pasar komoditas nasional.

Duta Besar Indonesia untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus, Wahid Supriyadi mengatakan ada 177 gerai yang memamerkan keunggulan komoditas dari masing-masing daerah.

“Festival Indonesia ini dihadiri oleh 1.000 peserta dari Indonesia dan 177 booth dari berbagai daerah. Acara ini mempromosikan kedua negara, baik Indonesia di Rusia, dan Rusia di Indonesia,” kata Dubes Wahid.

Dubes Wahid menjelaskan festival yang sudah digelar keempat kalinya sejak 2016 ini secara nyata telah meningkatkan kunjungan wisatawan Indonesia dan Rusia. Menurut data Kementerian Pariwisata RI, wisatawan Rusia yang berkunjung ke Indonesia tumbuh signifikan, yakni dari sekitar 68.000 pengunjung pada 2016, menjadi 125.000 pengunjung pada 2018. Sementara itu, wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Rusia tercatat dari 5.000 orang pada 2016 menjadi 31.000 orang pada 2018.

Dari pantauan di Taman Krasnaya Presnya, gerai Provinsi Aceh menjadi salah satu yang tidak pernah sepi pengunjung. Gerai Provinsi Aceh menjual komoditas unggulannya, yakni Kopi Gayo jenis Arabika dengan harga bervariasi mulai dari 600 rubel (Rp130.343) hingga 800 rubel (Rp173.791).

Selain itu, produk cokelat kopi juga tidak kalah laris karena harganya yang terjangkau, yakni dijual dengan harga 50 rubel atau sekitar Rp10.800 per batang.

Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, Teuku Satria Wira, mengungkapkan bahwa selama ini pangsa pasar Kopi Gayo belum bisa menembus pasar Rusia. Oleh karena itu, hadirnya festival ini diharapkan menjadi ajang untuk memperluas pasar ekspor.

“Saat ini kami rata-rata pangsa pasarnya masih di sekitar Eropa Barat, umumnya Jerman. Dengan kegiatan ini, kami harap Kopi Gayo menjadi daya tarik karena cuacanya yang dingin, serta aroma kopinya yang pekat,” kata Wira.

Pergelaran busana tenun Baduy yang dirancang Nike Akhsaniyati Kholisoh menjadi bagian akhir Festival Indonesia di Moskow. Dalam gelaran tersebut, Nike memilih koleksi busana muslim dengan menampilkan kain tenun warisan leluhur yang ditenun para perempuan suku Baduy di pedalaman Banten Selatan. Kain hasil tenunan asal Baduy yang berbahan tebal dan hangat itu cocok untuk suhu di Moskow.

Sumber: Neraca.co.id

,

Minyak Goreng Indonesia Laris dalam Festival Moskow

Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) yang menjadi salah satu partisipan dalam Festival Indonesia di Moskow, Rusia, menyatakan minyak goreng asal Indonesia laris dibeli oleh pengunjung.

Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga mengatakan minyak nabati dari Kelapa Sawit tersebut diminati oleh warga Rusia, yang umumnya dari kalangan rumah tangga. Namun begitu, mereka kesulitan untuk membeli minyak goreng sawit ini di pasar retail Rusia.

“Mereka bilang ini rasanya enak. Mereka tanya di mana kami bisa beli minyakini karena di super market tidak ada. Baru saya mengetahui itu ternyata tidak ada promosi minyak sawit ini dijual di market,” kata Sahat di sela-sela kegiatan Festival Indonesia di Taman Krasnaya Presnya Moskow, sebagaimana disalin dari laman Antara.

Sahat menyebutkan bahwa volume ekspor CPO Indonesia ke Rusia pada 2018 sebesar 800.000 ton. Jumlah tersebut memenuhi kebutuhan CPO di Rusia sebesar 74,4 persen, sedangkan sisanya dipasok dari Malaysia.

Namun, ekspor sebesar 800.000 ton tersebut ternyata hanya untuk kebutuhan industri, yakni konveksioneri, margarin, sabun dan kosmetik. Sementara itu untuk konsumsi rumah tangga seperti minyak goreng, CPO Indonesia masih belum masuk ke pasar retail.

Dalam Festival Indonesia di Moskow tersebut, warga Rusia terlihat antusias untuk melihat berbagai produk dari kelapa sawit, mulai dari minyak goreng, margarin, hingga minyak salmira (red virgin palm oil). “Minyak sawit sedikit lebih enak daripada sunflower (minyak bunga matahari,” kata Olga, salah satu warga Rusia yang mengunjungi gerai produk CPO Indonesia.

Pada acara tersebut, minyak goreng sawit habis terjual pada hari kedua festival yang diselenggarakan pada 1-4 Agustus 2019 di Taman Krasnaya Presnya Moskow tersebut. Setidaknya 96 botol minyak goreng laris manis di acara tersebut dengan harga jual 150 rubel (Rp33.000) untuk volume 1 liter. Padahal, biasanya minyak goreng tersebut hanya dijual Rp 10.000 di Indonesia. Sementara itu, minyak salmira dijual seharga 1.000 rubel (Rp240.000) per kotak.

Penyelenggaraan Festival lndonesia yang digelar pada 2-4 Agustus 2019 di Moskow Rusia, turut memamerkan berbagai produk kuliner dan kerajinan tangan dari berbagai daerah di Indonesia yang diharapkan dapat memperluas pasar komoditas nasional.

Duta Besar Indonesia untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus, Wahid Supriyadi mengatakan ada 177 gerai yang memamerkan keunggulan komoditas dari masing-masing daerah.

“Festival Indonesia ini dihadiri oleh .1.000 peserta dari Indonesia dan 177 booth dari berbagai daerah. Acara ini mempromosikan kedua negara, baik Indonesia di Rusia, dan Rusia di Indonesia,” kata Dubes Wahid.

Dubes Wahid menjelaskan festival yang sudah digelar keempat kalinya sejak 2016 ini secara nyata telah meningkatkan kunjungan wisatawan Indonesia dan Rusia. Menurut data Kementerian Pariwisata RJ, wisatawan Rusia yang berkunjung ke Indonesia tumbuh signifikan, yakni dari sekitar 68.000 pengunjung pada 2016, menjadi 125.000 pengunjung pada 2018. Sementara itu, wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Rusia tercatat dari 5.000 orang pada 2016 menjadi 31.000 orang pada 2018.

Dari pantauan di Taman Krasnaya Presnya, gerai Provinsi Aceh menjadi salah satu yang tidak pernah sepi pengunjung. Gerai Provinsi Aceh menjual komoditas unggulannya, yakni Kopi Gayo jenis Arabika dengan harga bervariasi mulai dari 600 rubel (Rp 130.343) hingga 800 rubel (Rpl73.791).

Selain itu, produk cokelat kopi juga tidak kalah laris karena harganya yang terjangkau, yakni dijual dengan harga 50 rubel atau sekitar Rp 10.800 per batang.

Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, Teuku Satria Wira, mengungkapkan bahwa selama ini pangsa pasar Kopi Gayo belum bisa menembus pasar Rusia. Oleh karena itu, hadirnya festival ini diharapkan menjadi ajang untuk memperluas pasar ekspor.

“Saat ini kami rata-rata pangsa pasarnya masih di sekitar Eropa Barat, umumnya Jerman. Dengan kegiatan ini, kami harap Kopi Gayo menjadi daya tarik karena cuacanya yang dingin, serta aroma kopinya yang pekat,” kata Wira.

Pergelaran busana tenun Baduy yang dirancang Nike Akhsaniyati Kholisoh menjadi bagian akhir Festival Indonesia di Moskow.

Dalam gelaran tersebut, Nike memilih koleksi busana muslim dengan menampilkan kain tenun warisan leluhur yang ditenun para perempuan suku Baduy di pedalaman Banten Selatan. Kain hasil tenunan asal Baduy yang berbahan tebal dan hangat itu cocok untuk suhu di Moskow.

Sumber: Harian Ekonomi Neraca

,

Festival Indonesia Moskow

 

Terima kasih atas partisipasi GIMNI & BPDP mewakili sawit indonesia dalam kegiatan Indonesia – Russia business forum dan Festival Indonesia Moskow 2019.
Maju terus sawit indonesia 👏👏🙏🏻

 

 

Ucapan terimakasih dari Event Organizer -bu Helga Kumontoy

,

Rusia Berencana Naikkan Tarif Pajak CPO Indonesia 20 Persen – Perdagangan Komoditas

Pemerintah Rusia berencana menaikkan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) untuk komoditas minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang masuk dari Indonesia sebesar 20 persen, dari sebelumnya 10 persen.

Duta Besar Indonesia untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus, Wahid Supriyadi, mengaku kenaikan pajak ini dipicu oleh adanya kesalahpahaman terkait minyak sawit yang dianggap tidak sehat. Oleh karena itu, Indonesia harus berupaya untuk menegosiasikan rencana kebijakan ini dengan Pemerintah Rusia.

“Kami bisa membuktikan bahwa minyak sawit itu aman dan sehat dikonsumsi. Saya pikir ini langkah yang sedikit diskriminatif. Kami harus menegosiasikan dengan Pemerintah Rusia,” kata Dubes Wahid pada rangkaian kegiatan Forum Bisnis Indonesia-Rusia di Moskow, Sabtu (3/8), sebagaimana disalin dari laman Antara.

Dubes Wahid berharap dengan rencana kedatangan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Indonesia, kenaikan tarif pajak ini dapat dibatalkan dan lebih pada strategi meningkatkan perdagangan minyak sawit itu sendiri.

Dalam kesempatan sama, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat Sinaga membenarkan bahwa wacana kenaikan tarif pajak ini sudah diketahui oleh kalangan pengusaha. “Kenaikan tarif pajak 20 persen ini harus segera dilobi oleh Pemerintah Indonesia ke Rusia, apa justifikasi dari kenaikan tersebut,” kata Sahat.

Ia berharap Presiden Joko Widodo dapat menegosiasikan hal itu saat Presiden Vladimir Putin melakukan kunjungan kerja tingkat tinggi ke Indonesia yang dijadwalkan pada tahun ini. Hal itu berkaca pada dua tahun lalu saat pemerintah melobi Rusia terkait rencana kenaikan level peroxide hingga 1 persen. Namun rencana tersebut akhirnya dapat dibatalkan setelah negosiasi kedua negara.

Meski demikian, Sahat mengaku kalangan pengusaha tidak terlalu khawatir dengan rencana kebijakan ini, apalagi Rusia cukup besar mengimpor CPO Indonesia sebesar 1 juta ton dengan nilai perdagangan mencapai 10 miliar dolar AS pada 2018. CPO Indonesia mampu memenuhi 74 persen kebutuhan konsumsi negara tersebut.

Jika kenaikan PPN 20 persen resmi diberlakukan, harga CPO di Rusia akan berada di kisaran 810 dolar AS per ton, atau lebih rendah dari harga minyak nabati jenis rapeseed sebesar 820 dolar AS per ton. “Mereka pola makannya sudah agak berubah, sudah mulai menggoreng, minyak sawit adalah yang paling cocok karena temperatur kita lebih stabil,” katanya.

Wakil ketua kamar dagang Uni Eropa (Eurocham) di Indonesia, Wichard Von Harrach, mengatakan pencekalan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil CPO) di Eropa harusnya dijawab pelaku industri dengan pembuktian kalau usaha sawit tidak merusak lingkungan. “Ini marketing individu kepada individu. Pencekalan itu soal selera pasar,” ujar Wichard.

Wichard mengerti kalau minyak kelapa sawit sangat penting bagi Indonesia. “Kami juga paham adanya ketidakberlangsungan usaha merupakan kunci dari pemain industri minyak kelapa sawit. Minyak kelapa sawit juga penting untuk produk Eropa,” ujarnya.

Menurut dia , citra minyak kelapa sawit harus dikomunikasikan kepada konsumen di Uni Eropa. Menurut Wichard, pelaku industri kelapa sawit harus bisa menjelaskan kepada konsumen eropa tentang apa yang mereka lakukan terhadap keberlangsungan lingkungan hidup.

“Tidak bisa memaksa pemerintah di Eropa kalau orangnya harus pakai produk kamu. Kami tahu minyak kelapa sawit itu produk fantastis. Tapi kami harus melindungi lingkungan untuk anak-anak kita,” ujar Wichard.

Wichard mengatakan efek dari keberlangsungan lingkungan akan membawa konsumen Eropa kembali membeli produk minyak kelapa sawit Indonesia. Pada 2018, nilai ekspor dan impor Indonesia ke Uni Eropa masing-masing sebesar USD17,1 miliar dan USD14,1 miliar. Adapun total perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa mencapai USD 31,2 miliar atau meningkat 8,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2017 (YoY).

Uni Eropa pun tercatat merupakan tujuan ekspor dan asal impor nonmigas terbesar ke-3 bagi Indonesia. Ekspor Indonesia ke Uni Eropa meningkat 4,59 persen dengan neraca perdagangan surplus bagi Indonesia selama kurun waktu lima tahun terakhir. Sementara nilai investasi Uni Eropa di Indonesia tercatat senilai USD3,2 miliar pada 2017.

Wichard menuturkan momentum pertumbuhan terebut perlu dijaga agar berkelanjutan. Pasalnya, Indonesia dihadapkan dengan tantangan persaingan dengan negara seperti Vietnam dan Thailand yang saat ini lebih agresif menghadirkan investasi dari UE.

Sumber: Neraca.co.id

,

Rusia akan Naikkan Pajak CPO RI Jadi 20%

Pemerintah Rusia berencana menaikkan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) untuk komoditas minyak kelapa sawit (crude palm oil/ CPO) yang masuk dari Indonesia sebesar 20% dari sebelumnya 10%. Kenaikan pajak tersebut dipicu oleh adanya kesalahpahaman terkait minyak sawit yang dianggap tidak sehat.

Oleh karena itu, Indonesia harus berupaya untuk menegosiasikan rencana kebijakan ini dengan Pemerintah Rusia.

Duta Besar Indonesia untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus Wahid Supriyadi mengaku kenaikan pajak ini dipicu oleh adanya kesalahpahaman terkait minyak sawit yang dianggap tidak sehat.

“Kami bisa membuktikan bahwa minyak sawit itu aman dan sehat dikonsumsi. Saya pikir ini langkah yang sedikit diskriminatif. Kami harus menegosiasikan dengan Pemerintah Rusia,” kata Dubes Wahid pada rangkaian kegiatan Forum Bisnis Indonesia-Rusia di Moskow, Sabtu (3/8).

Seperti dilansir Antara, Dubes Wahid Supriyadi mengharapkan dengan rencana kedatangan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Indonesia maka kenaikan tarif pajak itu dapat dibatalkan dan lebih pada strategi meningkatkan perdagangan minyak sawit itu sendiri.

Sahat Sinaga, direktur eksekutif GIMNI. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
Sahat Sinaga, direktur eksekutif GIMNI. Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Dalam kesempatan sama, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga membenarkan bahwa wacana kenaikan tarif pajak ini sudah diketahui oleh kalangan pengusaha. “Kenaikan tarif pajak 20% ini harus segera dilobi oleh Pemerintah Indonesia ke Rusia, apa justifikasi dari kenaikan tersebut,” kata Sahat.

Sahat berharap Presiden Joko Widodo dapat menegosiasikan hal itu saat Presiden Vladimir Putin melakukan kunjungan kerja tingkat tinggi ke Indonesia yang dijadwalkan pada tahun ini. Hal itu berkaca pada dua tahun lalu saat pemerintah melobi Rusia terkait rencana kenaikan level peroxide hingga 1%, namun rencana tersebut akhirnya dapat dibatalkan setelah negosiasi kedua negara.

Meski demikian, Sahat Sinaga mengaku kalangan pengusaha tidak terlalu khawatir dengan rencana kebijakan ini, apalagi Rusia cukup besar mengimpor CPO Indonesia sebesar 1 juta ton dengan nilai perdagangan mencapai US$ 10 miliar pada 2018. CPO Indonesia mampu memenuhi 74% kebutuhan konsumsi negara tersebut.

Jika kenaikan PPN 20% resmi diberlakukan maka harga CPO di Rusia akan berada di kisaran US$ 810 per ton, atau lebih rendah dari harga minyak nabati jenis rapeseed sebesar US$ 820 per ton.

“Mereka pola makannya sudah agak berubah, sudah mulai menggoreng, minyak sawit adalah yang paling cocok karena temperatur kita lebih stabil,” kata Sahat.

 

Sumber: Investor.id

,

Kemendag Siap Fasilitasi Akses Pasar CPO Indonesia ke Rusia

Kementerian Perdagangan siap memfasilitasi pembukaan pasar ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya melalui kerja sama dagang maupun ekonomi komprehensif dengan Rusia.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Karyanto Suprih menyebutkna, Kemendag sedang berupaya menjajaki pasar ekspor Rusia dengan cara menggelar pakta kerja sama melalui Eurasian Economic Union (EAEU).

“Kami sudah melakukan penjajakan awal untuk melakukan kerja sama dengan EAEU, di mana didalamnya terdapat Rusia. Harapan kami, dengan adanya kerja sama dengan EAEU, pasar ekspor Indonesia akan makin terbuka, salah satunya untuk produk CPO,” jelasnya ketika dihubungi Bisnis.com, Senin (8/5/2019).

Selain mengupayakan adanya pakta kerja sama tersebut, Pemerintah Indonesia berupaya melakukan pendekatan secara bilateral dengan pemerintah Rusia agar produk Indonesia dapat masuk ke negara tersebut.

Dia mengakui, produk ekspor Indonesia seperti produk perikanan, makanan dan minuman serta CPO cukup diminati oleh konsumen Rusia. Hal itu, menurutnya akan memberikan peluang bagi RI untuk mendongkrak kinerja ekspornya.

Di sisi lain, ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal menyebutkan, Rusia merupakan pasar yang menjanjikan untuk produk CPO RI.

Terlebih, lanjutnya, Rusia tidak bergabung dengan Uni Eropa yang saat ini gencar melakukan pembatasan impor dan kampanye negatif terhadap CPO. Hal itu membuat, peluang RI untuk memaksimalkan pasar negara tersebut masih sangat terbuka.

“Hampir sama dengan Afrika, Rusia dan negara-negara Eropa Timur lain memilki potensi yang menjanjikan bagi produk ekspor kita. Pembukaan kerja sama dagang dengan negara-negara itu sangat penting untuk mengurangi hambatan dagang berupa tarif yang relatif tinggi,” ujarnya.

Sebelumnya, pengusaha berharap pemerintah melakukan perjanjian dagang dengan Rusia untuk memperluas ceruk pasar di negara tirai besi tersebut.

Dalam Festival Indonesia – Moscow 2019 terungkap fakta bahwa ekspor CPO dari Indonesia ke Rusia sebesar 800.000 ton/tahun rupanya tidak digunakan untuk konsumsi rumah tangga. Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat Sinaga mengatakan selama ini penggunaan hanya sebatas konveksioneri.

Sahat pun baru mengetahui fakta tersebut ketika minyak goreng sawit yang dibawa ludes terjual oleh para pengunjung. Warga lokal bahkan bertanya lokasi supermarket agar bisa membeli produk tersebut.

“Industri disini ternyata tidak promosi minyak ini dijual di market. Jadi ekspor kita yang kemari dipakai oleh industri untuk konveksioneri, speciality fat, margarin, sabun tapi tidak dijual ritel,” kata Sahad kepada Bisnis.com di Moskwa, Minggu (5/7/2019).

Padahal, Sahad menilai Rusia bisa menjadi ceruk pasar tambahan untuk devisa dengan mengekspor CPO bagi keperluan rumah tangga. Saat ini pemakaian CPO di negara tirai besi tersebut sebesar 1,1 juta ton per tahun dimana 74,5% dipasok dari Indonesia dan sisanya dari Malaysia dan Belanda.

Dengan tambahan konsumsi pasar ritel, Sahad optimistis ekspor bisa naik sekutar 200.000 ton – 300.000 ton menjadi 1,1 juta ton khusus dari Indonesia. Hal ini bisa terlaksana apabila kedua belah pemerintah melakukan perjanjian dagang.

“Ini yang mulai harus kita terobos. Caranya adalah goverment to goverment. Pemerintah sini selalu bilang minyak sawit jelek sehingga industri ritel takut membeli. Jadi pemerintah harus approach. Pemerintah sini mau ritel mau,” katanya.

Menurutnya setelah pemerintah akan dilanjutkan pertemuan antar industri.

“G2G sekalian dengan preferences tarif agreement [PTA]. Kita bisa mendahului malaysia supaya dapat pasar baru untuk ritel. Selama festival 1 liter bisa kita jual Rp36.000, di Indonesia Rp10.000. Mereka rasa ini enak,” sebutnya. Harga itu pun lebih rendah daripada minyak sun flower yang dibanderol Rp22.000 per 0,6 liter.

Setidaknya, lanjut Sahad, G2G akan memakan waktu delapan bulan sehingga baru tahun depan industri bisa mengekspor minyak sawit untuk ritel.Selain itu, GIMNi juga telah melakukan perjanjian riset dengan peneliti setempat untuk melawan kampanye negatif.

“Jadi mereka akam membuat klinik tes dengan oramg bagaimana pengaruh minyak sawit ketika dimakan. Kami akan danai. Riset company disini sudah kami pilih. Kemudian riset itu nanti akan kami publikasikan sebagai informasi disini,” katanya. Sahad optimistis hasilnya akan kelihatan delapan bulan lagi bisa tidaknya masuk ke pasar ritel Rusia.

 

Sumber: Bisnis.com

,

Pasar Ritel CPO Kurang Digarap

Pelaku industri kelapa sawit meminta agar pemerintah mendorong ekspor produk hasil olahan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) ke pasar ritel di Rusia, melalui kerja sama perdagangan antar pemerintah.

Dalam Festival Indonesia – Moscow 2019 terungkap bahwa ekspor produk CPO dari Indonesia ke Rusia yang mencapai 800.000 ton/tahun tidak digunakan untuk konsumsi rumah tangga.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat Sinaga mengatakan selama ini penggunaan hanya sebatas untuk industri konfeksioneri.

“Industri di sini ternyata tidak promosi minyak ini dijual di pasar. Jadi ekspor kita yang kemari dipakai oleh industri untuk konfeksioneri, speciality fat, margarin, sabun tapi tidak dijual ritel,” katanya. Minggu (5/7).

Dia menilai Rusia bisa menjadi ceruk pasar tambahan untuk devisa dengan mengekspor CPO bagi keperluan rumah tangga. Saat ini, pemakaian CPO di Rusia tersebut sebesar 1,1 juta ton per tahun yang 74,5% di antaranya dipasok dari Indonesia dan sisanya dari Malaysia dan Belanda.

Dengan tambahan konsumsi pasar ritel, Sahad optimistis ekspor bisa naik sekitar 200.000 ton-300.000 ton menjadi 1,1 juta ton khusus dari Indonesia. Hal ini bisa terlaksana apabila kedua belah pemerintah melakukan perjanjian dagang.

“Ini yang mulai harus kita terobos. Caranya adalah goverment to goierment. Pemerintah sini selalu bilang minyak sawit jelek sehingga industri ritel takut membeli,” katanya.

Setidaknya, lanjut Sahat, G2G akan memakan waktu 8 bulan sehingga baru tahun depan industri bisa mengekspor minyak sawit untuk ritel. Selain itu, Gimni juga telah melakukan perjanjian riset dengan peneliti setempat untuk melawan kampanye negatif.

Kementerian Perdagangan mengatakan siap memfasili tasi pembukaan pasar ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya melalui kerja sama dagang maupun ekonomi komprehensif dengan Rusia.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Karyanto Suprih menyebutkan, Ke-mendag sedang berupaya menjajaki pasar ekspor Rusia dengan cara menggelar pakta kerja sama melalui Eurasian Economic Union (EAEU).

“Kami sudah melakukan penjajakan awal untuk melakukan kerja sama dengan EAEU, di mana di dalamnya terdapat Rusia. Harapan kami,, dengan adanya kerja sama dengan EAEU, pasar ekspor Indonesia makin terbuka, salah satunya untuk produk CPO,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (8/5).

Selain mengupayakan pakta kerja sama tersebut, pemerintah Indonesia juga berupaya melakukan pendekatan secara bilateral dengan pemerintah Rusia agar produk Indonesia dapat masuk ke negara tersebut.

Dia mengakui, produk ekspor Indonesia seperti perikanan, makanan dan minuman serta CPO cukup diminati oleh konsumen Rusia. Hal itu, menurutnya, akan memberikan peluang bagi RI untuk mendongkrak kinerja ekspornya.

Di sisi lain, ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal menyebutkan, Rusia merupakan pasar yang menjanjikan untuk produk CPO RI. Terlebih, lanjutnya, Rusia tidak bergabung dengan Uni Eropa yang saat ini gencar melakukan pembatasan impor dan kampanye negatif terhadap CPO. Hal itu membuat, peluang RI untuk memaksimalkan pasar negara tersebut masih sangat terbuka.

“Hampir sama dengan Afrika, Rusia dan negara Eropa Timur lain memilki potensi yang menjanjikan bagi produk ekspor kita. Pembukaan kerja sama dagang dengan negara-negara itu sangat penting untuk mengurangi hambatan dagang berupa tarif yang tinggi.”

 

Sumber: Bisnis Indonesia

,

Festival Moscow

Booth Palm Oil di Taman Krasnaya Presnya dan seksligus lokasi Festival Wonderful Indonesia Moscow 2-4 Agustus 2019, dilunjungi kurang lebih 135 000 pengunjung

 

 

Booth cookimg demo dengan memakai minyak goreng sawit, dam hidangkan nasi goreng, russian pan-cake dan french fries.

Kunjungan.hari Minggu ini luar biasa….setelah coba gorengan french-fries dan nasi goreng pakai minyak goreng “Madina” , ” Rose-brand” dan ” Harumas”, mereka borong semua minyak goreng yang dalam kemasan….
Luar biasa, mereka minta tahun depan supaya produk hilir sawit lainnya di perkenalkan juga.

 

 

Minyak goreng sawit yang didisplay di Festival Moscow hampir ludes habis di borong pengunjung.

Yang 1 liter terjual 150 rubel = Rp 36.000 dan yng kemasan 2 ltr = 250 rubel.= Rp 60.000.
Kalau begini…jual minyak goreng sawit di Moscow saja ya.

Brand yang kita bawa ” Harum as” dan ” Rose-brand”….Bravo…
Para pengunjung minta di beritahu..di Super-market mana.mereka bisa beli migor sawit dalam kemasan.. Sawit sdh 4 kali ikut Festival sejenis di Moscow dan baru mengetahui minyak goreng sawit rupanya ^ secara tdk resmi dilarang beredar di retail market.

Jadi sawit yng di ekspor ke Russia itu.semua dipakai oleh Industri untuk confectionary, baking, margarine dan industri susu.

Delegasi sawit Indonesia ..nerpose didalam ruang demo penggprengan.

 

 

Berdialog langsung dgn pengunjung…tentang bagaimana kesan pengunjung terhadap sawit ?
Meskipun belum pernah melihat pohonnya ,menganggap bahwa sawit itu adalah jelek.

,

Forum On Indonesian Palm Oil

Memberikan.paparan tentang

1. Manufacturing Practices Refined and Modified Palm Oul and it’s Fraction
2. Perhal mitigasi kontsminants 3 MCPDE & GE
3. Pengmbangan Pelaksanan ISPO di Indonesia.

 

,

Pelaku Industri Waswas

RUU SDA mencakup 15 bab dengan 78 Pasal, dengan penekanan pada larangan pengusahaan air yang mengganggu dan meniadakan hak rakyat, kewajiban negara dalam memenuhi/ menjamin hak rakyat atas kebutuhan air, hingga pemberian izin terhadap swasta dengan syarat ketat.

Bagi sebagian besar industri, air adalah salah satu hajat hidupnya. Di industri tekstil, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mencatat penggunaan air sebagai bahan baku dalam produksi kain jadi mencapai 62,7 mular liter per tahun.

Diperkirakan, pabrikan kain perlu mengucurkan Rp31,3 miliar untuk mengelola air. “Pemerintah harus hati-hati. Jangan sampai [RUU] mematikan industri,” ujar Sekretaris Jenderal API Ernovian G. Ismy, Rabu (24/7).

Menurutnya, permasalahan RUU SDA berasal dari generalisasi penggunaan air. Semestinya, peruntukan air dipisahkan antara sektor publik dan sektor industri. Selain itu, adanya pasal penyisihan 10% laba yang dimasukkan ke bank garasi untuk konservasi air yang menyulitkan industri kain untuk berkembang.

Padahal, sektor tekstil telah sepakat membangun industri kain lokal. Sebelumnya industri garmen memilih bergantung pada kain impor sehingga hasil benang lokal tidak terserap di industri kain yang terdesak produk impor.

Namun, jika pasal-pasal pada RUU SDA itu menghambat industri kain maka industri garmen kembali bergantung pada kain impor. “Kalau masalah air dihajar lagi, ya makin kurang [produksi kain]. Akhirnya [industri garmen) mengimpor [kain] lagi.”

Ernovian menyarankan agar pengelolaan air bersih dan izin pengelolaan air industri diterbitkan oleh pemerintah. Sebab, BUMN atau BUMD dikhawatirkan menetapkan margin pada pengelolaan air. Alhasil, biayanya pun bertambah.

Ketua Umum Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menyampaikan, aturan yang multitafsir dapat menciptakan premanisme pada industri. Akhirnya, minyak nabati tidak kompetitif di pasar global.

Sahat mengimbau para legislator dan pemangku kepentingan agar mencari perbandingan peraturan serupa di negara lain.

Air juga menjadi bahan baku pada dua sektor minyak nabati, yakni pengolahan tandan buah segar menjadi minyak sawit mentah (CPO), dan penurunan asam lemak bebas pada penyulingan industri oleokimia dan pengolahan biodiesel.

Asosiasi Perusahaan Air Dalam Kemasan (Aspadin) menyoroti penyamaan air pipa dan air minum dalam kemasan (AMDK) yang dinilai kekeliruan jika tujuannya menghadirkan ketersediaan air minum bagi masyarakat.

“Pasalnya, harus ada tambahan 1-2 triliun liter air minum untuk memenuhi ketersediaan air minum, sedangkan industri AMDK hanya menyerap 30 miliar liter per tahun,” ujar Ketua Umum Aspadin Rachmat Hidayat.

Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pada 2012 menunjukkan air yang dikonsumsi oleh rumah tangga adalah 6,4 triliun liter per tahun. Adapun, industri AMDK hanya menggunakan 0,06% atau 18 miliar liter air dari total kebutuhan industri 27,7 triliun liter per tahun.

“Di negara-negara yang [ideologinya] ekstrem kiri itu pakai swasta [pemenuhan air bersihnya]. AMDK kan produk lifestyle. Masa cebok pakai ini [AMDK] juga,” ujarnya, Selasa (23/7).

Rachmat mengingatkan, pelolosan beleid tersebut akan membunuh industri AMDK lantaran ada pasal yang menyebutkan bahwa izin pengelolaan air tidak diterbitkan lagi. Selain itu, industri AMDK juga akan dinasionalisasi mengingat industri pengusaha air harus bekerja sama dengan pemerintah.

Menurutnya, aksi nasionalisasi industri AMDK akan memberikan citra buruk bagi pemerintah di mata internasional. Selain itu, pelolosan beleid ini akan membuat investasi hengkang. Pasalnya, pilihan industri AMDK pascapenerbitan aturan tersebut hanya dua, mati atau dinasionalisasi.

Aspadin pun telah menyiapkan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai cara terakhir jika RUU SDA diundangkan. Pada tahap awal, asosiasi akan mengomunikasikan peraturan ke publik, dan melepas sebagian besar
tenaga kerja.

Saat ini, industri AMDK menyerap sekitar 40.000 orang tenaga kerja dengan pertumbuhan produksi 10% per tahun. Tahun ini, volume produksi diproyeksi tumbuh 8%-10% menjadi 33 miliar liter.

Utilisasi pabrik AMDK saat ini di kisaran 80%-100%. Nilai jual produk AMDK yang masih rendah membuat mesin harus terus bekerja untuk memenuhi skala keekonomiannya.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengusulkan setidaknya ada tujuh pasal pada RUU SDA yang harus diubah, yakni pasal 1, pasal 46 huruf e dan f, pasal 32, pasal 47 b dan f, pasal 70, pasal 51, dan pasal 63.

Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani mengatakan, pemerintah perlu memberikan masukan kepada para legislator, dan harus memberikan pemahaman bahwa tidak ada negara yang menetapkan aturan penyisihan laba 10% untuk konservasi air.

Menurutnya, pemerintah harus bergerak sebelum RUU tersebut diundangkan. Alasannya, asosiasi tidak yakin gugatan ke MK berbuah positif lantaran timbulnya masalah ini berawal dari keputusan MK yang kurang komprehensif.

“Itu menjadi suatu hal yang kami khawatirkan. Kalau tadi yang diusulkan [perubahan pasal] diabaikan, concern kami semua itu akan memiliki dampak kepastian berinvestasi.”

Selain itu, draf RUU tersebut tidak sejalan dengan visi Presiden untuk memangkas aturan penghambat investasi. Sebab, rancangan aturan baru itu menakutkan investor.

Anggota Panitia Kerja DPR untuk RUU SDA Bambang Haryo mengatakan bahwa panitia kerja (panja) masih perlu melakukan pembahasan lebih lanjut, karena belum ada mufakat terkait dengan pemanfaatan SDA untuk industri. Suara panja masih terbelah.

 

Sumber: Bisnis Indonesia