,

Pabrikan Minyak Nabati Terapkan Protokol Cegah Covid-19

 

JAKARTA – Produsen minyak nabati yang tergabung dalam Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengikuti arahan pemerintah terkait protokol kesehatan dalam kegiatan operasional industri selama pandemi virus corona baru atau Covid-19.

Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga menjelaskan anggotanya mematuhi arahan Kementerian Perindustrian yang mengeluarkan Surat Edaran Menteri Perindustrian Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Operasional Pabrik Dalam Masa Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Disease 2019.

Surat edaran itu memuat pedoman bagi pelaku industri dalam menjalankan kegiatan usahanya selama masa kedaruratan kesehatan masyarakat Covid-19.

“Anggota GIMNI juga mengikuti surat edaran Kemenperin yang telah menerbitkan skema pengajuan dispensasi mobilitas logistik industri,” katanya melalui keterangan tertulis, di Jakarta, Kamis (23/4/2020).

Untuk memperlancar arus barang, petugas logistik pabrikan akan dilengkapi surat keterangan berbarcode sehingga dapat diperiksa aparat berwajib. “Dengan surat edaran Kemenperin ini, harapan kami tidak ada rintangan pergerakan logistik barang. Demikian pula terkait pasokan CPO dari perkebunan sawit juga lancar.”

Menurut dia, dengan tetapnya anggota GIMNI berproduksi minyak goreng, sabun dan hand sanitizer yang menjadi kebutuhan primer di masa Covid-19 ini, tidak terjadi kekosongan pasokan.

Menurut Sahat, barang berkategori primer ini tetap tersedia di pasar tradisional dan modern sehingga masyarakat diharapkan tetap tenang selama kebijakan bekerja di rumah atau work from home (WFH), termasuk masyarakat yang akan menjalankan ibadah puasa dan saat memasuki Hari Raya Idulfitri nanti.

Selain itu, anggota GIMNI juga mengikuti imbauan Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Suhanto dan Dirjen Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim, supaya membantu masyarakat di tengah sulitnya perekonomian sebagai imbas COVID-19.

Sahat menuturkan anggota GIMNI telah mendistribusikan bantuan di berbagai daerah baik berupa sembako, produk kebersihan, dan alat kesehatan kepada masyarakat sekitar dan rumah sakit.

Sebanyak 15 perusahaan dan group anggota GIMNI, katanya, telah memberikan bantuan di 18 provinsi.

Berikut 15 perusahaan anggota GIMNI

1. Wilmar Group
2. Musim Mas Group
3. APICAL
4. Permata Hijau Group
5. Sungai Budi Group
6. Incasi Raya Group
7. PT Victorindo Alam Lestari
8. PT Sari Dumai Sejati
9. PT Satu
10. PT Guntung Indaman Nusa
11. PT Globalindo Alam Perkasa
12. PT Sime Darby Oils
13. PT Best
14. Cargill Indonesia
15 PT Bintang Tenera

 

Sumber: Bisnis.com

,

Produsen minyak nabati patuhi aturan Kemenperin selama COVID-19

Jakarta (ANTARA) – Produsen minyak nabati yang tergabung dalam Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengikuti arahan pemerintah terkait protokol kesehatan dalam kegiatan operasional industri selama pandemi virus corona baru atau COVID-19.

Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga di Jakarta, Kamis, menjelaskan anggotanya mematuhi arahan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang mengeluarkan Surat Edaran Menteri Perindustrian Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Operasional Pabrik Dalam Masa Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Disease 2019.

Surat edaran itu memuat pedoman bagi pelaku industri dalam menjalankan kegiatan usahanya selama masa kedaruratan kesehatan masyarakat COVID-19.

“Anggota GIMNI juga mengikuti surat edaran Kemenperin yang telah menerbitkan skema pengajuan dispensasi mobilitas logistik industri,” katanya melalui keterangan tertulis.

Untuk memperlancar arus barang, petugas logistik pabrikan akan dilengkapi surat keterangan yang dilengkapi barcode sehingga dapat diperiksa aparat berwajib.

“Dengan surat edaran Kemenperin ini, harapan kami tidak ada rintangan terhadap pergerakan logistik barang. Demikian pula halnya terkait pasokan CPO dari perkebunan sawit juga lancar,” katanya.

Menurut dia, dengan tetapnya anggota GIMNI berproduksi minyak goreng, sabun dan hand sanitizer yang menjadi kebutuhan primer di masa COVID-19 ini, tidak terjadi kekosongan pasokan.

Menurut Sahat, barang berkategori primer ini tetap tersedia di pasar tradisional dan modern sehingga masyarakat diharapkan tetap tenang selama kebijakan bekerja di rumah atau Work From Home (WFH), termasuk masyarakat yang akan menjalankan ibadah puasa dan saat memasuki Hari Raya Idul Fitri nanti.

Selain itu, anggota GIMNI juga mengikuti imbauan Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Suhanto dan Dirjen Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim, supaya membantu masyarakat di tengah sulitnya perekonomian sebagai imbas COVID-19.

Sahat menuturkan anggota GIMNI telah mendistribusikan bantuan di berbagai daerah baik berupa sembako, produk kebersihan, dan alat kesehatan kepada masyarakat sekitar dan rumah sakit.

Sebanyak 15 perusahaan dan group anggota GIMNI antara lain Wilmar Group, Musim Mas Group, APICAL, Permata Hijau Group, Sungai Budi Group, Incasi Raya Group, PT Victorindo Alam Lestari, PT Sari Dumai Sejati, PT Satu, PT Guntung Indaman, Nusa, PT Globalindo Alam Perkasa, PT Sime Darby Oils, PT Best, Cargill Indonesia, dan PT Bintang Tenera telah memberikan bantuan di 18 provinsi.

 

Sumber: Antaranews.com

 

,

GIMNI Jalankan Protokol Pencegahan Covid-19 dalam Kegiatan Operasional

JAKARTA, investor.id – Produsen Minyak Nabati yang tergabung dalam Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengikuti arahan pemerintah terkait protokol kesehatan dalam kegiatan operasionalnya.

Sebagian anggota GIMNI  yang bergerak di bidang produksi pangan, minyak goreng, produksi sabun dan hand sanitizer tetap melakukan aktivitasnya dan setiap anggota GIMNI  berpegang kepada Sistem Informasi Industri Nasional (Siinas) agar produksi tetap berjalan dan kebutuhan pokok masyarakat tetap terjaga.

Direktur Eksekutif GIMNI  Sahat Sinaga menjelaskan bahwa anggotanya mematuhi aturan dan arahan Kementerian Perindustrian dimana Kementerian Perindustrian sudah mengeluarkan surat edaran Menteri Perindustrian Nomor 4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Operasional Pabrik Dalam Masa Kedaruratan Kesehatan Masyarakat akibat Corona.Surat Edaran ini menjadi pedoman bagi pelaku industri dalam menjalankan kegiatan usahanya selama masa pandemi Covid-19.

Selain itu, anggota GIMNI  juga mengikuti surat edaran Kemenperin yang telah menerbitkan skema pengajuan dispensasi mobilitas logistik industri, untuk memperlancar arus barang, petugas logistik pabrikan akan dilengkapi surat keterangan dengan barcode sehingga dapat diperiksa aparat berwajib, tujuannya arus pergerakan barang pabrikan lancar.

“Dengan beredarnya surat edaran ini, kami berharap tidak ada hambatan terhadap pergerakan logistik barang dan tentunya pasokan CPO dari perkebunan sawit juga lancar,sehingga produksi anggota GIMNI  tetap berproduksi di masa pandemi,” ujar dia kepada Investor Daily, di Jakarta, Kamis (23/4).

Sahat mengatakan barang berkategori primer ini tetap tersedia di pasar tradisional dan pasar modern dengan begitu masyarakat tetap tenang selama kebijakan bekerja di rumah atau work from home.

Bahwa protokol kesehatan pencegahan Covid-19 telah diterapkan di seluruh pabrik anggota GIMNI  jadi semua karyawan wajib memakai masker dan pemeriksaan secara rutin suhu badan pekerja sebelum melakukan pekerjaan.

Dalam rangka mempercepat penanganan Covid-19, anggota GIMNI  selalu berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2020 tentang pembatasan sosial berskala besar dan juga berpegang pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 tahun 2020 terkait dengan Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar.

Anggota GIMNI  juga mengikuti imbauan Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Suhanto dan Dirjen Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim agar membantu masyarakat di tengah sulitnya ekonomi akibat Covid-19.

Seluruh anggota GIMNI  telah mendistribusikan bantuan di berbagai daerah baik berupa sembako, produk kebersihan dan alat kesehatan.

Terdapat 15 perusahaan dari group anggota Gimni yang telah memberikan bantuan di 18 provinsi diantaranya Wilmar Group, Musim Mas Group, Apical, Permata Hijau Group, Sungai Budi Group, Incasi Raya Group, PT Victorindo Alam Lestari, PT Sari Dumai Sejati, PT Satu, PT Guntung Indaman Nusa, PT Globalindo Alam Perkasa, PT Sime Darby Oils, PT Best, Cargill Indonesia dan PT Bintang Tenera.

 

Sumber: Investor.id

,

GIMNI sebut anggotanya patuhi protokol kesehatan & distribusikan bantuan cegah corona

JAKARTA. Produsen minyak nabati yang tergabung dalam Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengikuti arahan pemerintah terkait protocol Kesehatan dalam kegiatan operasional.

Sebagian besar anggota GIMNI bergerak di bidang produksi pangan, minyak goreng, dan terkait produksi sabun serta hand sanitizer, tetap melakukan aktivitasnya. Untuk itu, anggota GIMNI tetap berpegang kepada Sistim Informasi Industri Nasional (SIINAS) supaya produksi tetap berjalan supaya kebutuhan bahan pokok masyarakat tetap terjaga.

Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif GIMNI mengatakan, bahwa anggotanya mematuhi arahan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI perin mengeluarkan Surat Edaran Menteri Perindustrian Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Operasional Pabrik Dalam Masa Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus Disease 2019.

Surat edaran ini memuat pedoman bagi pelaku industri dalam menjalankan kegiatan usahanya selama masa kedaruratan kesehatan masyarakat Covid-19.

Selain itu, anggota GIMNI juga mengikuti surat edaran Kemenperin RI yang telah menerbitkan skema pengajuan dispensasi mobilitas logistik industri.

Untuk memperlancar arus barang, petugas logistik pabrikan akan dilengkapi surat keterangan yang dilengkapi barcode sehingga dapat diperiksa aparat berwajib. Tujuannya, arus pergerakan barang pabrikan tidak akan dilarang jika petugas logistik dilengkapi dengan surat tersebut.

“Dengan surat edaran Kemenperin ini, harapan kami tidak ada rintangan terhadap pergerakan logistik barang. Demikian pula halnya terkait pasokan CPO dari perkebunan sawit juga lancar.

Diharapkan dengan tetapnya anggota GIMNI  berproduksi minyak goreng, sabun dan hand sanitizer yang menjadi  kebutuhan primer di era Covid-19 ini, tidak terjadi kekosongan pasokan,” ujar Sahat dalam siaran pers, Kamis (23/4).

Menurut Sahat, barang berkategori primer ini tetap tersedia  di pasar tradisional juga  di pasar modern. Dengan begitu, masyarakat tetap tenang selama kebijakan bekerja di rumah atau Work From Home (WFH). Khususnya bagi masyarakat yang akan menjalankan ibadah puasa dan saat memasuki Hari Raya Idul Fitri nanti.

Terkait kegiatan operasional, dijelaskan Sahat, bahwa protokol kesehatan pencegahan Covid-19  telah diimplementasikan di seluruh pabrik anggota GIMNI. Jadi, semua karyawan wajib pakai  masker dan pemeriksaan rutin suhu badan pekerja sebelum melakukan pekerjaan.

Dalam rangka mempercepat penanganan Covid-19 ini, anggota industri GIMNI selalu mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 21/2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dan juga berpegang pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9/2020 yang terkait dengan Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar.

Selain itu, anggota GIMNI juga mengikuti himbauan  Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan RI, Suhanto  dan Dirjen Industri Agro Kemenperin RI, Abdul Rochim, supaya membantu masyarakat di tengah sulitnya perekonomian sebagai imbas Covid-19.

Sahat menuturkan anggota GIMNI telah mendistribusikan bantuan di berbagai daerah baik berupa sembako, produk kebersihan, dan alat kesehatan kepada masyarakat sekitar dan rumah sakit.

Adapun 15 perusahaan dan group anggota GIMNI yang telah memberikan bantuan di 18 provinsi antara lain Wilmar Group, Musim Mas Group, APICAL, Permata Hijau Group, Sungai Budi Group, Incasi Raya Group,  PT Victorindo Alam Lestari, PT Sari Dumai Sejati, PT Satu, PT Guntung Indaman, Nusa, PT Globalindo Alam Perkasa, PT Sime Darby Oils, PT Best, Cargill Indonesia, dan PT Bintang Tenera.

“Dalam waktu dekat, anggota GIMNI yang berlokasi di Marunda, Bekasi, Banten, Surabaya, dan Manado yang mempunyai fasilitas packing line kemasan sederhana akan menjalankan program social Covid-19,” ujar Sahat menutup pembicaraan.

Sumber: Kontan.co.id

,

Dampak Covid-19, Konsumsi Minyak Goreng Turun

Dampak Coronavirus (Covid-19), konsumsi minyak goreng mengalami penurunan. Hal ini dirasakan para pelaku industri minyak goreng dari dampak pandemic Covid-19 terhadap konsumsi masyarakat.

Hal ini diakui Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga. Dijelaskannya bahwa konsumsi minyak goreng masih normal sepanjang periode Januari-Maret 2020 karena aktivitas perekonomian dan daya beli masih berjalan normal. Tetapi, situasi berubah memasuki April 2020 ini. Konsumsi minyak goreng mulai melambat karena tertahannya daya beli masyarakat dan pembatasan aktivitas ekonomi.

Di awal tahun, GIMNI menghitung penjualan minyak goreng curah dan kemasan sekitar 4,4 juta ton sepanjang 2020. Namun, wabah pandemi Covid-19 mengakibatkan proyeksi berubah. Hingga akhir tahun diperkirakan, penjualan rerata 3,5 juta-3,6 juta ton.

Dirincinya, pada 2019,  volume penjualan produk minyak nabati seperti minyak goreng, margarin, shortening, dan lainnya mencapai 7,42 juta ton. “Dari Januari Sampai Maret 2020, konsumsi minyak goreng sekitar 290 ribu ton per bulan. Setelah wabah Corona produsen melaporkan lesunya penjualan. April 2020 penjualan minyak goreng diperkirakan turun menjadi 220 ribu ton per bulan,” kata Sahat.

Sementara itu memasuki Ramadhan dan Lebaran, permintaan minyak goreng tidak akan seperti tahun-tahun sebelumnya. Masyarakat mengurangi daya beli karena aktivitasnya dibatasi melalui berbagai kebijakan. Apalagi, bisnis industri hotel dan restoran sangat terpukul akibat wabah Covid-19.

 

Sumber: Egindo.co

,

Industri Minyak Goreng Bersedih, Ada Apa?

Industri pengolahan minyak kelapa sawit menjadi minyak goreng ikut merasakan dampak dari pandemi Covid-19 terhadap konsumsi masyarakat. Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, menjelaskan bahwa konsumsi minyak goreng di dalam negeri masih berjalan normal sepanjang kuartal I 2020.

Hal itu, lanjut Sahat, karena aktivitas perekonomian dan daya beli masyarakat yang masih berjalan normal. Namun, situasi tersebut berubah memasuki April 2020 seiring dengan makin ganasnya infeksi Covid-19 di Indonesia. Konsumsi minyak goreng mulai melambat akibat tertahannya daya beli masyarakat dan pembatasan aktivitas ekonomi.

Data GIMNI mencatat, selama tahun 2019 volume penjualan produk minyak nabati seperti minyak goreng, margarin, shortening, dan lainnya mencapai 7,42 juta ton. Di awal tahun, GIMNI memproyeksikan penjualan minyak goreng curah dan kemasan sepanjang 2020 akan tercatat sebanyak 4,4 juta ton. Namun, mewabahnya pandemi Covid-19 di Indonesia sejak Maret lalu mengakibatkan proyeksi penjualan tersebut berubah menjadi 3,5 – 3,6 juta ton di akhir tahun 2020 mendatang.

Lebih lanjut Sahat menjelaskan, “Dari Januari sampai Maret, konsumsi minyak goreng sekitar 290 ribu ton per bulan. Setelah wabah corona ini, produsen melaporkan lesunya penjualan. April ini, penjualan minyak goreng diperkirakan turun menjadi 220 ribu ton per bulan.”

Meskipun sudah mendekati Ramadan dan Hari Raya Idulfitri, Sahat juga mengatakan bahwa permintaan minyak goreng di Indonesia pada tahun ini tidak akan sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Hal tersebut disebabkan menurunnya daya beli masyarakat karena aktivitas yang dibatasi melalui berbagai kebijakan. Ditambah lagi, bisnis industri hotel dan restoran sangat terpukul akibat infeksi Covid-19 ini. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) telah menghitung kerugian bisnis hotel dan restoran yang diperkirakan mencapai sekitar Rp21 triliun akibat penghentian operasional.

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id

,

Dampak Covid-19, Konsumsi Minyak Goreng Turun

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Pelaku industri minyak goreng merasakan dampak pandemic Covid-19 atau Corona terhadap konsumsi masyarakat. Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menjelaskan bahwa konsumsi minyak goreng masih normal sepanjang periode Januari-Maret 2020 karena aktivitas perekonomian dan daya beli masih berjalan normal. Tetapi, situasi berubah memasuki April ini. Konsumsi minyak goreng mulai melambat karena tertahannya daya beli masyarakat dan pembatasan aktivitas ekonomi.

Di awal tahun, GIMNI menghitung penjualan minyak goreng curah dan kemasan sekitar 4,4 juta ton sepanjang 2020. Namun, wabah pandemi Covid-19 mengakibatkan proyeksi berubah. Hingga akhir tahun diperkirakan, penjualan rerata 3,5 juta-3,6 juta ton. Pada 2019,  volume penjualan produk minyak nabati seperti minyak goreng, margarin, shortening, dan lainnya mencapai 7,42 juta ton.

“Dari Januari Sampai Maret, konsumsi minyak goreng sekitar 290 ribu ton per bulan. Setelah wabah Corona ini, produsen melaporkan lesunya penjualan. April ini, penjualan minyak goreng diperkirakan turun menjadi 220 ribu ton per bulan,” kata Sahat.

Memasuki Ramadhan dan Lebaran, dikatakan Sahat, permintaan minyak goreng tidak akan seperti tahun-tahun sebelumnya. Masyarakat mengurangi daya beli karena aktivitasnya dibatasi melalui berbagai kebijakan. Apalagi, bisnis industri hotel dan restoran sangat terpukul akibat wabah ini.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) telah menghitung kerugian bisnis hotel dan restoran diperkirakan sekitar Rp 21 triliun akibat penghentian operasional.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

,

Strategi Produsen Minyak Goreng Menghadapi Bencana Corona (Covid-19)

Minyak goreng FORTUNE produksi Wilmar group

JAKARTA. Para produsen minyak goreng nasional kemungkinan besar bakal putar haluan dengan lebih banyak memproduksi minyak goreng curah ketimbang minyak goreng kemasan. Dalam situasi tertekan efek wabah Covid-19 seperti saat ini, prinsip mereka adalah mengutamakan produk yang cepat diserap oleh pasar.

Adapun pelaku usaha masih bisa menjual minyak goreng curah hingga akhir 2021 mendatang. Kementerian Perdagangan (Kemdag) telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) 36/2020 tentang Minyak Goreng Sawit Wajib Kemasan pada 2 April 2020 lalu. Beleid itu merupakan perubahan dari Permendag 80/2014.

Asal tahu, perubahan aturan merupakan upaya penyelarasan aturan Kemdag dengan Kementerian Perindustrian (Kemperin). Aturan tersebut bertujuan menjawab tantangan lemahnya daya beli masyarakat di tengah pandemi virus korona. Masyarakat akan lebih banyak mengonsumsi minyak goreng curah dengan harga murah.

Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) yakin, produsen minyak goreng akan menyesuaikan dengan situasi pasar. “Mereka yang baru saja memasang mesin produksi pengemasan maka akan menghitung kembali dan lebih memilih menjual curah,” ungkap dia saat dihubungi KONTAN, Selasa (14/4).

Dalam kondisi seperti saat ini, pelaku usaha mesti mengambil keputusan strategis. Daripada hanya mengutamakan minyak goreng kemasan, lebih baik menambah porsi penjualan pada segmen minyak goreng curah. Toh, permintaan pasar lebih banyak pada segmen itu.

Target pelaku usaha adalah menjaga kelancaran arus kas. Meskipun, di sisi lain pelaku usaha harus rela mengantongi margin keuntungan yang lebih kecil dari segmen minyak goreng curah.

GIMNI memperkirakan, sejauh ini porsi penjualan minyak goreng curah sekitar 61% terhadap total konsumsi minyak goreng nasional. Pasar ritel tradisional menyerap 62%-63% dari total konsumsi minyak goreng curah tersebut. Mereka antara lain toko kelontong, pedagang pasar dan warung kecil.

Kemudahan pinjaman

Biarpun porsi minyak goreng curah masih mendominasi, bukan berarti volume terus tumbuh. Rata-rata penjualan minyak goreng curah selama Januari-Maret sekitar 295.000 ton pe bulan. Menginjak bulan ini, boleh jadi volume penjualannya bakal turun menjadi kurang lebih 270.000 ton per bulan.

Oleh karena itu GIMNI bakal mengkaji ulang target penjualan produk minyak nabati tahun 2020. Tahun lalu asosiasi itu mencatat, volume penjualan minyak nabati yang meliputi minyak goreng, margarin \’ dan produk lainnya mencapai 7,42 juta ton. Proyeksi awal pertumbuhan tahun ini sekitar 3%. Karena efek Covid-19, proyeksi pertumbuhan terkoreksi menjadi minimal sama dengan 2019.

Sembari tetap memaksimalkan usaha, GIMNI berharap ada relaksasi aturan pinjaman dari perbankan. Karena memasuki Lebaran, pelaku usaha harus membagikan Tunjangan Hari Raya (THR) yang otomatis menguras kas. Asosiasi mengusulkan agar industri dapat meminjam lebih besar dari pagu kredit sehingga tak pusing menunggu pembayaran dari pelanggan.

M. P. Tumanggor, Komisaris PT Wilmar Nabati Indonesia memahami keputusan pemerintah memundurkan implementasi minyak goreng wajib kemasan. “Karena daya beli masyarakat sedang turun,” tuturnya.

Namun Wilmar Nabati Indonesia menilai, Permendag 36/2020 tak akan terlalu berdampak signifikan terhadap bisnis yang digeluti. Pasalnya, pasar minyak goreng curah relatif stabil dan tidak terlalu banyak perubahan.

Selama ini,Wilmar Nabati Indonesia memproduksi minyak goreng kemasan merek Sarda, Sovia dan Fortune. Mereka adalah bagian dari Wilmar International Limited yang berkantor pusat di Singapura. Penjualan Wilmar International 2019 turun 4,15% year on year (yoy) menjadi US$ 42,64 miliar.

 

Sumber: Kontan.co.id

,

Ini Tanggapan GIMNI Soal Minyak Goreng Curah Masih Dapat Beredar Hingga Tahun Depan

Diundurnya peredaran minyak goreng curah hingga tahun 2021 ke depan menjadi upaya penyelarasan aturan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian. Selain itu lemahnya daya beli masyarakat di tengah pandemi ini menyebabkan minyak goreng curah akan lebih banyak dikonsumsi karena harganya murah.

Menurut Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) perpanjangan ini menyebabkan produsen melakukan beberapa penyesuaian. “Yang baru saja memasang mesin produksi pengemasan maka akan menghitung kembali, dan lebih memilih menjual curah,” terangnya kepada Kontan.co.id, Selasa (14/4).

Industri memaklumi perpanjangan izin ini karena impact pandemi bakal dirasakan kelas ekonomi bawah yang akan mencari alternatif konsumsi yang murah. Saat ini porsi penjualan minyak goreng curah diproyeksikan sekitar 61% dari total konsumsi minyak goreng nasional.

Sedangkan minyak goreng kemasan hanya berkisar 39% saja. “Curah banyak diserap ritel tradisional, yang mana penjualan minyak goreng 62%-63% nya diisi oleh toko kelontong, pasar dan warung-warung di segmen tersebut,” urai Sahat.

Dari segi margin keuntungan, penjualan minyak goreng curah jauh lebih rendah ketimbang jenis kemasan. Namun disituasi pandemi ini, penjualan produk kemasan dirasakan lebih lama ketimbang dengan penjualan minyak goreng curah, untuk itu produsen cenderung mengutamakan produk yang diserap cepat oleh pasar agar dapat mengantisipasi cashflow yang kembang kempis.

Meski penjualan curah laku, dari segi volume penjualan terjadi penurunan yang cukup signifikan. Sahat mengatakan, jika di awal tahun ini yakni bulan Januari-Maret rata-rata penjualan minyak goreng curah per bulannya mencapai 295 ribu ton, maka bulan April turun menjadi 270 ribu ton saja.

Oleh karena itu GIMNI bakal mengkaji ulang target penjualan produk minyak nabatinya di tahun 2020 ini. Di tahun lalu asosiasi mencatat volume penjualan produk minyak nabati yang meliputi minyak goreng, margarin dan lainnya mencapai 7,42 juta ton.

Proyeksi pertumbuhan awalnya untuk tahun ini sekitar 3%. Namun kata Sahat, karena situasi wabah memukul ekonomi, proyeksi pertumbuhan akan konservatif, paling tidak sama dengan perolehan tahun kemarin.

GIMNI berharap ada relaksasi aturan pinjaman dari perbankan, dimana memasuki lebaran perusahaan harus membagikan Tunjangan Hari Raya (THR) yang membebani kas di tengah pasar yang kurang baik. Asosiasi mengusulkan agar industri dapat meminjam lebih besar dari pagu kredit, sehingga tidak pusing menunggu pembayaran dari pelanggan terlebih dahulu.

MP Tumanggor, Komisaris PT Wilmar Nabati Indonesia mengatakan sangat memahami kebijakan pemerintah saat ini yang mengundurkan pemberlakuan larangan minyak curah. “Karena daya beli masyarakat sedang turun,” sebutnya kepada Kontan.co.id, Selasa (14/4).

Menurutnya pengunduran pemberlakuan larangan ini tak terlalu berdampak bagi bisnis produsen. Sebab pasar minyak curah relatif stabil dan tidak terlalu banyak perubahan.

 

Sumber: Kontan.co.id

,

Jelantah Melimpah, Tetapi Minim Aturan

 

Penggunaan jelantah untuk sektor konsumsi menunjukkan lemahnya pengawasan soal tata kelola minyak goreng bekas pakai tersebut. Produksi jelantah Indonesia diprediksi melimpah, berkisar 2-3 juta ton setahun. Namun, aturan soal tata niaga, lingkungan, dan kesehatan terkait penggunaan jelantah masih sangat minim.

Di tingkat nasional belum ada aturan spesifik yang menyebutkan jelantah sebagai limbah ataupun larangan penggunaannya untuk bahan baku konsumsi. Padahal, penggunaan jelantah untuk konsumsi berbahaya bagi kesehatan.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia Sahat Sinaga mengatakan, dalam setahun rata-rata konsumsi minyak goreng 5,2 juta ton. Dengan perkiraan susut 40-60 persen, jelantah yang dihasilkan diperkirakan 2-3 juta ton per tahun.

“Jumlahnya tak sedikit. Secara nasional, diperkirakan jelantah untuk konsumsi sekitar 20 persen dari minyak goreng yang beredar karena masih minimnya aturan,” katanya di Jakarta, pertengahan Februari lalu.

Dari tata niaga, kata Sahat, pengaturan perdagangannya belum ada sehingga siapa saja bisa membeli dari penghasil jelantah tanpa pengawasan, termasuk pemanfaatannya.

Dari sisi lingkungan, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rosa Vivien Ratnawati mengungkapkan, minyak goreng bekas tak termasuk limbah bahan berbahaya dan beracun (BS). Jelantah tidak pula termasuk dalam kategori sampah.

Kendati belum ada penyebutan spesifik, Rosa mengatakan, jelantah sebagai limbah ha-rus dikelola dan tidak boleh dibuang sembarangan karena mencemari lingkungan.

Risiko kanker

Dari sisi kesehatan, Direktur Kesehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Imran Agus Nurali mengatakan, sejumlah peraturan untuk melindungi keamanan produksi makanan sudah ada “Dalam peraturan tersebut memang tidak secara spesifik tertulis tentangjelantah, tetapi pemilihan bahan makanan harus aman,” kata Imran.

Kepala Center for South East Asia Food Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Institut Pertanian Bogor Nuri An- darwulan berpendapat, belum ada acuan teknis untuk menggunakan minyak goreng yang aman di Indonesia selain standar SNI. Padahal, di negara-negara lain sudah ada regulasi terkait ambang batas maksimal penggunaan, yaitu dengan mengukur total polar material (TPM) atau nilai total material larut air dalam minyak goreng. Makin sering digunakan, nilai TPM makin tinggi dan meningkatkan risiko kanker.

Peneliti minyak sawit Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Maxensius Tri Sambodo, menegaskan, penggunaan jelantah yang tepat seharusnya untuk biodiesel dan bukan digunakan kembali sebagai bahan baku industri makanan. “Jelantah itu untuk \’dimakan\’ mesin, bukan \’dimakan\’ manusia,” ujar Maxensius.

 

Sumber: Kompas