,

Bertemu Dirut BPDP-KS, Masyarakat Biohidrokarbon Tampilkan Potensi Bahan Bakar Berbasis Sawit

Masyarakat Biohidrokarbon Indonesia (MBI) menjelaskan peluang teknologi pengolahan minyak sawit dan minyak kernel dengan katalis untuk menghasilkan bahan bakar transportasi. Hal ini diungkapkan saat bertemu dengan Dono Boestami, Dirut Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit, Rabu (19 September 2018).

Sahat Sinaga, salah satu pencetus berdirinya Masyarakat Biohidrokarbon Indonesia, menjelaskan tujuan pertemuan dengan BPDP-KS untuk memberikan informasi peranan teknologi pengolahan minyak sawit dan minyak kernel dengan katalis. Teknologi ini telah dikembangkan peneliti Teknik Kimia Institut Teknik Bandung (ITB) yang mampu untuk menghasilkan greendiesel, biogasoline (semacam bensin) dan bioavtur berkualitas tinggi.

“Sementara itu, untuk menuju ke pengolahan ke tingkat komersial ( industri ), perlu pengembangan bertahap melalui demo pemakaian PO (Palm Oil) dan PKO (Palm Kernel Oil) dengan co-processing di kilang Pertamina berskala besar,” kata Sahat.

Sebagai informasi, Masyarakat Biohidrokarbon Indonesia terdiri dari peneliti, praktisi kilang minyak bumi, dan teknisi yang sudah berpengalaman di industri hulu dan hilir sawit.

Dalam pengembangan biohidrokarbon ini, kata Sahat Sinaga, BPDP-KS akan membantu pendanaan dalam hal pengadaan PO dan PKO untuk kebutuhan ujicoba. Sedangkan, Pertamina mempersiapkan peralatan dan teknisi ITB mengembangkan proses kondisi dari operasi ini.

Diharapkan kegiatan ini mulai berjalan pada 2019. Kemudian tahun 2020 dapat memulai pengolahan sawit menjadi biohidrokarbon.

Sahat mengatakan pemakaian biohidrokarbon mampu dan menghemat pembelian bahan bakar fosil sebesar US$ 31 juta/hari atau setara US$ 11,3 miliar/tahun). Lalu tahun-tahun berikutnya bisa menghemat devisa negara lebih baik lagi.

Hadir dalam pertemuan ini yaitu Dono Boestami (Dirut BPDP-KS),Catur Ariyanto Widodo  (Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan dan Manajemen Risiko BPDPKS). Serta anggota MBI antara lain Dr.Ir. Andreas W, Prof.Dr.Ir.Subagjo, Dr.Ir Nanang Untung, Sahat M.Sinaga, Dr.Ir.Tatang Hernas, dan Sapto Tranggono.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

,

Era Serba Mesin, Kini Ada “ATM” Minyak Goreng Curah

Tak hanya uang saja yang bisa diambil melalui mesin ATM. Kini, pembeli juga bisa mendapatkan minyak goreng melalui mesin Anjungan Minyak Goreng Higienis Otomatis (AMH-O).

Hal yang membanggakan, mesin ini hasil produksi dalam negeri loh, yaitu PT Pindad.

1. Industri mendukung penggunaan mesin AMH-O karena maksimalkan efisiensi

Era Serba Mesin, Kini Ada ATM Minyak Goreng CurahANTARA FOTO

Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mendukung penggunaan mesin AMH-O, yang diproduksi PT Pindad untuk mendistribusikan minyak curah dengan kemasan sederhana.

“Karena banyak membantu efisiensi dari produsen penghasil minyak goreng,” kata Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga, seperti dikutip dari situs Antara, Kamis (20/9).

Lebih lanjut dia menjelaskan, kemasan pillow pack untuk minyak 1/2 liter dan 1/4 liter akan berisiko jika diproduksi di dalam pabrik, mengingat mesin yang digunakan memproduksi 800 kemasan per jam.

“Kalau dikemas pakai mesin itu akan bocor. Selain itu, setelah dikemas harus dimasukkan ke dalam boks. Nah, dengan boks itu, kontainaer yang seharusnya bisa mengirim 10 ton minyak, Jadi, hanya bisa 6 ton, misalnya, karena ruangnya terpakai oleh boks. Jadi, mahal,” papar Sahat.

Oleh karena itu, dengan mesin anjungan minyak goreng tersebut, efisiensi bisa dimaksimalkan.

2. Mesin akan dilengkapi dengan nama produsen minyak

Era Serba Mesin, Kini Ada ATM Minyak Goreng Curahilustrasi minyak goreng (Pixabay)
LANJUTKAN MEMBACA ARTIKEL DI BAWAH

Dengan mesin AMH-O, pengemasan minyak secara sederhana bisa dilakukan di tingkat pengecer, di mana produsen minyak akan memfasilitasi agar pengecer memiliki mesin tersebut berikut plastik kemasannya.

Nantinya, mesin tersebut akan dilengkapi dengan nama produsen minyak dan sistem pemosisi global yang akan mengukur jumlah minyak yang keluar dari mesin itu sendiri.

“Dengan sistem pengukuran itu akan lebih mudah mengetahui berapa minyak yang terjual dari keseluruhan minyak yang didistribusikan ke pengecer. Jadi kontrolnya lebih mudah,” ujarnya.

3. Yang paling penting, ada cashback jika…

Era Serba Mesin, Kini Ada ATM Minyak Goreng CurahKoin rupiah (Pixabay)

Kelebihan lainnya, lanjut Sahat, bagi konsumen yang membawa wadah sendiri saat membeli minyak goreng, maka akan mendapatkan uang pengembalian (cashback) sebesar Rp700 per liter dari harga minyak Rp11.000 per liter.

“Karena harga Rp11.000 per liter itu sudah termasuk kemasan. Makanya, kalau bawa wadah sendiri dikembalikan Rp700 per liter atau Rp300 per 1/2 liter,” jelas Sahat.

Keuntungan bagi konsumen, Sahat menambahkan, tingkat higienitas dari minyak goreng tersebut akan lebih terjamin, sehingga kesehatan masyarakat pun diharapkan menjadi lebih baik.

AMH-O merupakan solusi atas terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 9/MDAG/PER/2/2016 yang mewajibkan peredaran minyak goreng curah menggunakan kantong kemasan sederhana untuk mengganti peredaran minyak curah saat ini.

 

Sumber: Idntimes.com

,

Pelaku Industri Dukung Penggunaan Anjungan Minyak Goreng

Jakarta – Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mendukung penggunaan mesin Anjungan Minyak Goreng Higienis Otomatis (AMH-O), yang diproduksi PT Pindad untuk mendistribusikan minyak curah dengan kemasan sederhana.

“Kami mendukung mesin itu untuk diterapkan, karena banyak membantu efisiensi dari produsen penghasil minyak goreng,” kata Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, efisiensi bisa dimaksimalkan karena kemasan pillow pack untuk minyak 1/2 liter dan 1/4 liter akan berisiko jika diproduksi di dalam pabrik, mengingat mesin yang digunakan memproduksi 800 kemasan per jam.

“Kalau dikemas pakai mesin itu akan bocor. Selain itu, setelah dikemas harus dimasukkan ke dalam boks. Nah, dengan boks itu, kontainer yang seharusnya bisa mengirim 10 ton minyak, jadi, hanya bisa 6 ton misalnya, karena ruangnya terpakai oleh boks. Jadi, mahal,” papar Sahat.

Sehingga, dengan mesin AMH-O, pengemasan minyak secara sederhana bisa dilakukan di tingkat pengecer, di mana produsen minyak akan memfasilitasi agar pengecer memiliki mesin tersebut berikut plastik kemasannya.

Nantinya, mesin tersebut akan dilengkapi dengan nama produsen minyak dan sistem pemosisi global yang akan mengukur jumlah minyak yang keluar dari mesin itu sendiri.

“Dengan sistem pengukuran itu akan lebih mudah mengetahui berapa minyak yang terjual dari keseluruhan minyak yang didistribusikan ke pengecer. Jadi kontrolnya lebih mudah,” ujarnya.

Kelebihan lainnya, lanjut Sahat, bagi konsumen yang membawa wadah sendiri saat membeli minyak goreng, maka akan mendapatkan uang pengembalian sebesar Rp700 per liter dari harga minyak Rp11.000 per liter.

“Karena harga Rp11.000 per liter itu sudah termasuk kemasan. Makanya, kalau bawa wadah sendiri dikembalikan Rp700 per liter atau Rp300 per 1/2 liter,” jelas Sahat.

Keuntungan bagi konsumen, Sahat menambahkan, tingkat higienitas dari minyak goreng tersebut akan lebih terjamin, sehingga kesehatan masyarakat pun diharapkan menjadi lebih baik.

AMH-O merupakan solusi atas terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 9/MDAG/PER/2/2016 yang mewajibkan peredaran minyak goreng curah menggunakan kantong kemasan sederhana untuk mengganti peredaran minyak curah saat ini. (antara/ans)

 

Sumber: Kurva.co.id

,

Lebih Efisien, Pelaku Industri Dukung Penggunaan Anjungan Minyak Goreng Higienis

Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mendukung penggunaan mesin Anjungan Minyak Goreng Higienis Otomatis (AMH-O), yang diproduksi PT Pindad untuk mendistribusikan minyak curah dengan kemasan sederhana.

“Kami mendukung mesin itu untuk diterapkan, karena banyak membantu efisiensi dari produsen penghasil minyak goreng,” kata Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga saat dihubungi di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, efisiensi bisa dimaksimalkan karena kemasan pillow pack untuk minyak 1/2 liter dan 1/4 liter akan berisiko jika diproduksi di dalam pabrik, mengingat mesin yang digunakan memproduksi 800 kemasan per jam.

“Kalau dikemas pakai mesin itu akan bocor. Selain itu, setelah dikemas harus dimasukkan ke dalam boks. Nah, dengan boks itu, kontainaer yang seharusnya bisa mengirim 10 ton minyak, Jadi, hanya bisa 6 ton misalnya, karena ruangnya terpakai oleh boks. Jadi, mahal,” papar Sahat.

Sehingga, dengan mesin AMH-O, pengemasan minyak secara sederhana bisa dilakukan di tingkat pengecer, di mana produsen minyak akan memfasilitasi agar pengecer memiliki mesin tersebut berikut plastik kemasannya.

Nantinya, mesin tersebut akan dilengkapi dengan nama produsen minyak dan sistem pemosisi global yang akan mengukur jumlah minyak yang keluar dari mesin itu sendiri.

“Dengan sistem pengukuran itu akan lebih mudah mengetahui berapa minyak yang terjual dari keseluruhan minyak yang didistribusikan ke pengecer. Jadi kontrolnya lebih mudah,” ujarnya.

Kelebihan lainnya, lanjut Sahat, bagi konsumen yang membawa wadah sendiri saat membeli minyak goreng, maka akan mendapatkan uang pengembalian sebesar Rp700 per liter dari harga minyak Rp11.000 per liter.

“Karena harga Rp11.000 per liter itu sudah termasuk kemasan. Makanya, kalau bawa wadah sendiri dikembalikan Rp700 per liter atau Rp300 per 1/2 liter,” jelas Sahat.

Keuntungan bagi konsumen, Sahat menambahkan, tingkat higienitas dari minyak goreng tersebut akan lebih terjamin, sehingga kesehatan masyarakat pun diharapkan menjadi lebih baik.

AMH-O merupakan solusi atas terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 9/MDAG/PER/2/2016 yang mewajibkan peredaran minyak goreng curah menggunakan kantong kemasan sederhana untuk mengganti peredaran minyak curah saat ini.

 

Sumber: Antaranews.com

,

Kemendag Percepat Peralihan Minyak Goreng Kemasan

 

Kementerian Perdagangan memper­cepat peralihan minyak goreng curah ke kemasan dengan memfasilitasi produsen atau pengemas minyak berbahan baku sawit yang belum memiliki merek dagang, dengan meng­gunakan merek Minyakita.

“Merek ini telah dimiliki Ke­men­­dag dan telah terdaftar di Ke­mente­rian Hukum dan Hak Azasi Manusia sejak 2009,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Ne­geri Kemen­terian Perdagangan Tjah­ya Wida­yan­­­ti melalui pesan aplikasi yang di­terima di Jakarta, Kamis.

Tjahya menyampaikan prosedur peng­gunaan merek adalah dengan mengajukan permohonan kepada Di­rektur Jenderal Perdagangan Da­lam Negeri Kemendag.

Langkah lainnya adalah Kemen­dag akan mendorong produsen min­yak goreng untuk dapat ber­sinergi dengan pelaku usaha mikro dalam rangka mempercepat penye­dia­an sarana pengemasan.

“Sebagai contoh penyediaan an­jungan minyak goreng higienis oto­matis (AMHO) yang baru saja dipro­duksi PT pindad,” ungkap­nya.

Kebijakan minyak goreng wajib ke­masan diatur melalui Permendag Nomor 09/M-DAG/PER/2/2016 tentang Peru­bahan Kedua Atas Per­mendag Nomor 80/M-DAG/PER/10/2014 tentang Minyak Goreng Wa­jib Kemasan yang mewajibkan penjualan minyak goreng harus me­ng­guna­kan kemasan dan tidak bo­leh lagi dalam bentuk curah.

Kebijakan minyak goreng wajib ke­masan ini juga untuk mendukung SNI minyak goreng sawit yang akan diber­lakukan wajib oleh Kemen­terian Perin­dustrian pada 31 Desem­ber 2018.

Namun, Tjahya menambahkan pember­lakuan kebijakan ini dieva­luasi kembali karena adanya permin­taan dari produsen yang menyam­paikan bahwa jumlah industri penge­masan minyak goreng nasional ma­sih terbatas.

Selain itu, pelaku usaha memer­lukan waktu untuk menumbuhkan industri pengemas di daerah.

Saat ini, Kemendag melakukan upaya mewajibkan produsen untuk memproduksi minyak goreng kema­san sederhana sebesar 20 persen dari total produksi minyak goreng na­sional dan dijual dengan harga Rp11.000 per liter.

“Hal ini untuk memberikan ke­sem­patan kepada pelaku usaha mempersiapkan sarana dan prasara­na pengemasan dalam rangka ke­wajiban kemas pada tahun 2020,” katanya.

GIMNI Mendukung

Sementara itu, Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mendukung penggunaan mesin AMHO yang diproduksi PT Pindad untuk menge­darkan minyak curah yang menggunakan kemasan se­der­hana.

“Kami mendukung mesin itu un­tuk diterapkan, karena banyak mem­­bantu efisiensi dari produsen peng­hasil minyak goreng,” kata Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga saat dihubungi di Jakarta, Kamis.

Menurut Sahat, efisiensi bisa di­mak­simalkan karena kemasan ‘pillow pack’ untuk minyak 1/2 liter dan 1/4 liter akan berisiko jika diproduksi di dalam pabrik, mengingat mesin yang digunakan mem­pro­duksi 800 kemasan per jam.

“Kalau dikemas pakai mesin itu akan bocor dia. Selain itu, setelah dikemas harus dimasukkan ke dalam box. Nah, dengan box itu, kontainer yang seharusnya bisa mengirim 10 ton minyak, jadi hanya bisa enam ton misalnya, karena ruangnya ter­pakai oleh box. Jadi mahal,” papar Sahat.

Sehingga, dengan adanya mesin AMHO, pengemasan minyak secara sederhana bisa dilakukan ditingkat pengecer, di mana produsen minyak akan memfasilitasi agar pengecer memiliki mesin tersebut berikut plas­tik kemasannya.

Nantinya, mesin tersebut akan di­leng­kapi dengan nama produsen min­yak dan sistem pemosisi global yang akan mengukur jumlah minyak yang keluar dari mesin itu sendiri.

“Dengan sistem pengukuran itu akan lebih mudah mengetahui berapa minyak yang terjual dari keseluruhan minyak yang didistribusikan ke pengecer. Jadi kontrol­nya lebih mu­dah,” ujar Sahat.

Kelebihan lainnya, lanjut Sahat, bagi konsumen yang membawa wa­dah sendiri saat membeli minyak goreng, maka akan mendapatkan uang pengembalian sebesar Rp700 per liter dari harga minyak Rp11.000 per liter.

“Karena harga 11.000 per liter itu sudah termasuk kemasan. Makanya kalau bawa wadah sendiri dikemba­likan Rp700 per liter atau Rp300 per 1/2 liter,” jelas Sahat.

Keuntungan bagi konsumen, Sa­hat me­nambahkan, tingkat hi­gieni­tas dari minyak goreng tersebut akan lebih terjamin, se­hingga ke­sehatan masyarakat pun diha­rapkan menjadi lebih baik. (Ant)

Sumber; Analisadaily.com

,

Tahun ini, 20% minyak goreng curah sudah dijual dalam bentuk kemasan

JAKARTA. Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) memperkirakan, hingga akhir tahun ini, 20% minyak goreng curah sudah diproduksi dan dijual dalam bentuk kemasan sederhana.

Direktur Eksekutif Gimni Sahat Sinaga menjelaskan, total pasar minyak goreng di Indonesia pada 2018 berkisar 4,6 juta ton. Dari jumlah itu, minyak goreng dalam bentuk kemasan yang dijual di retail sebesar 1,1 juta ton hingga 1,2 juta ton, dan minyak goreng yang dijual dalam bentuk curah sebesar 3,4 juta ton.

Sahat mengakui, pertumbuhan minyak goreng kemasan masih lambat. Mengingat di 2020 mendatang, pemerintah sudah mewajibkan produsen minyak goreng untuk menjual produknya dalam bentuk kemasan. “Tidak begitu cepat pertumbuhannya karena memang sampai sekarang masih bisa menjual minyak goreng curah,” tutur Sahat kepada Kontan.co.id, Sabtu (15/9).

Meski begitu, Sahat mengaku industri sudah siap mengikuti kewajiban minyak goreng wajib kemasan ini. Menurutnya, banyak produsen minyak goreng yang sudah memiliki mesin pengemasnya. “Sekarang produsen sudah mempersiapkan mesinnya. Tetapi saya perkirakan di Juni atau Juli tahun depan semuanya akan sibuk membeli mesin pengemas,” tutur Sahat.

Adanya peluncuran Filling Machine Anjungan Minyak Goreng Hygienist Otomatis (AMH-o) oleh PT Pindad (Persero) bersama PT Rekayasa Engineering pun dianggap sebagai salah satu terobosan untuk mencapai kebijakan minyak goreng wajib kemasan.

Dengan mesin pengemas AMH-o ini, Sahat berpendapat, akan bisa mengurangi biaya transportasi dari pabrik ke pengecer, meminimalisasi penggunaan plastik, menjamin minyak goreng yang higienis dan harga jualnya sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) atau sebesar Rp 11.000 per liter.

“Jadi nanti di kemasannya itu tertera harganya. Bila  1 liter seharga Rp 11.000 per liter, ada yang 1/4 liter dan juga dalam setengah liter. Semua harganya sesuai HET,” tambah Sahat.

Sahat menjelaskan, pabrik-pabrik minyak goreng memang kebanyak masih memproduksi minyak goreng kemasan dalam ukuran 1 liter. Pasalnya, bila pabrik memproduksi minyak goreng dalam kemasan 1/4 atau setengah liter, maka akan banyak minyak goreng yang terbuang.

“Kalau pabrik itu kan kecepatannya tinggi, kalau di bawah 1 liter itu banyak yang waste dan tidak efisien. Jadi produsen sangat terbantu dengan adanya mesin AMH-o ini,” tambah Sahat.

Sahat mengatakan, salah satu upaya untuk bisa mempercepat minyak goreng kemasan ini adalah membebaskan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk minyak goreng kemasan. Dengan begitu, produsen akan berlomba-lomba memproduksi minyak goreng kemasan.

Sahat menambahkan, di tahun depan, produksi minyak goreng akan meningkat menjadi 4,7 juta ton, dimana pasar minyak goreng curah meningkat menjadi 3,5 juta ton.

Di lain sisi, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemdag) Tjahja Widayanti mengatakan kebijakan minyak goreng wajib kemasan ini akan tetap berjalan sesuai rencana atau ditetapkan pada 2020. “Sampai sekarang masih sesuai target,” tutur Tjahja.

 

Sumber: Kontan.co.id

,

Mendag Minta Distribusi Mesin Pengemas Pindad Libatkan Swasta

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita meminta Anjungan Minyak Goreng Hygienist Otomatis (AMH-o) atau mesin pengemas minyak goreng produksi PT Pindad (Persero) didistribusikan melalui perusahaan swasta. Pelibatan  perusahaan swasta menjadi distributor itu bertujuan untuk menghindari adanya monopoli pemasaran.

“Jaringan swasta lebih luas sehingga masyarakat bisa langsung merasakan manfaatnya,” katanya usai peluncuran  AMH-o  di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (15/9).

Dia mengungkapkan mesin pengemas minyak goreng AMH-o milik Pindad juga akan lebih cepat dan memiliki jangkauan lebih luas jika proses distribusinya melibatkan pihak swasta. Sebab,  mesin pengemas itu ditargetkan bisa dipakai oleh perusahaan swasta yang biasanya juga sudah memiliki jaringan untuk ditempatkan pada pasar tradisional dan toko kelontong.

Enggar berharap pengusaha swasta segera melakukan komitmen untuk penyebaran AMH-o supaya aturan untuk kewajiban minyak goreng dalam kemasan sederhana bisa berjalan. “Sehingga mesin ini bisa masuk ke warung dengan harga terjangkau,” ujarnya.

Meski tak diatur dalam regulasi khusus, namun Enggar juga meminta agar pengusaha minyak goreng mengupayakan bantuan pembiayaan agar pemilik warung bisa memiliki mesin dengan sistem cicilan selama setahun.

Smeentara itu, Direktur Utama Pindad Abraham Mose mengungapkan harga jual AMH-o bisa mencapai Rp 7,5 juta sampai Rp 8,5 juta per unit. Namun, pihaknya akan mengupayakan agar mesin ini harganya bisa lebih terjangkau bagi pengguna.

“Kami masih hitung harganya, tapi akan kami coba tekan,” kata Abraham.

 

Dia menjelaskan, dari total harga jual, biaya produksinya hanya sebesar 70% dari harga jual dengan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN)-nya juga mencapai 65%.Sehingga, perusahaannya masih mendapat keuntungan yang cukup besar.

Untuk tahap awal, Abraham menyebut AMH-o baru diuji coba dengan memproduksi 20 unit mesin per hari. Ke depan, kapasitas produksi Pindad akan meningkat mencapai 100 unit per hari. Dia pun menghitung potensi investasi untuk memproduksi mesin ini  bisa mencapai 1,49 triliun dengan produksinya mencapai 2.259 unit.

Terkait pemasarannya, perusahaan saat ini diketahi telah meneken kontrak dengan tiga perusahaan minyak goreng sebagai distributor melalui Letter of Intention (LoI). Ketiga perusahaan itu adalah PT Tunas Baru Lampung Tbk, PT Asianagro Agung Jaya, dan PT Wilmar Nabati Indonesia.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengungkapkan pelaku usaha akan menggunakan skema Corporate Social Responsibility (CSR) untuk membantu penyebaran mesin. Sehingga, produsen minyak goreng siap untuk kerja sama distribusi dengan Pindad.

“Ini menjadi jawaban terhadap regulasi pemerintah untuk menjual minyak goreng kemasan,” ujar Sahat.

Menurut catatan GIMNI, produksi minyak goreng nasional tahun ini diperkirakan mencapai 3,5 juta kiloliter, yang mana, 40% dari total produksi dijual secara eceran/curah. Sehingga AMH-o nantinya akan mengakomodir sebanyak 1,4 juta liter minyak goreng curah yang beredar di pasaran. Adapun 60% atau 2,1 miliar liter sisanya akan diproduksi dengan jenis kemasan premium.

 

Sumber: Katadata.co.id

,

54 Ribu Mesin Pengemas Pindad Siap Dipesan Pengusaha Minyak Goreng

Pengusaha dari Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) berencana membeli 54 ribu unit mesin pengemasan minyak goreng milik PT Pindad.

minyak goreng
ilustrasi produk minyak goreng dalam kemasan.
Diversifikasi produksi PT Pindad (Persero) dari pembuat senjata ke sektor produksi mesin pengemasan minyak goreng memperoleh tanggapan positif dari sejumlah pelaku usaha.  Pada tahap awal produksi mesin tersebut, Pindad bakal mendapat order pembelian sebanyak 54 ribu unit Anjungan Minyak Goreng Hygienist Otomatis (AMH-o)  dari anggota Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) bakal menyerap sebanyak 54 ribu unit Anjungan Minyak Goreng Hygienist Otomatis (AMH-o).

Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga menyatakan mesin pengemasan AMH-o akan mengakomodir 40% dari total  produksi minyak goreng dalam negeri sebesar 3,5 juta kiloliter. “Konsekuensi positifnya, tidak ada lagi minyak goreng curah yang tak jelas asalnya,” kata Sahat, Kamis (30/8) lalu.

Dia menjelaskan,  mesin pengemasan Pindad bakal dijual seharga Rp 8,5 juta per unit. Harga ini jauh lebih murah dibanding mesin pengemas konvensional yang harganya bisa mencapai Rp 600 juta per unit. Pengemasnya juga bisa memuat logo perusahaan penyuplai langsung ke dalam kemasan.

Selain itu, Sahat juga menutukan keunggulan lain mesin Pindad yakni ada pada kapasitasnya yang besar atau mencapai sekitar 50 kemasan per jam. Sedangkan untuk mesin pengemas konvensional tak bisa digunakan untuk mesin pengisi minyak goreng berukuran di bawah 1 liter. Sebab, kapasitas produksi saat pengemasan berpotensi berkurang hingga 3%.

Tak hanya itu, faktor kebersihan dalam pengemasan akan lebih terjamin dengan mesin  pengemas Pindad dengan potensi penghematan limbah plastik sebanyak 70 ribu ton per tahun. Sebab, konsumen bisa mendapatkan potongan harga dengan membawa kantong plastik sendiri.

Pedagang juga bisa mendapat peningkatan keuntungan dari Rp 300 per liter menjadi Rp 700 per liter. Sehingga, pedagangmasih mampu menjual minyak goreng kemasan dalam batas Harga Eceran Tertinggi Rp 11 ribu per liter.

“Pengusaha senang karena pajaknya makin jelas dalam penggunaan kemasan yang sesuai aturan pemerintah,” kata Sahat.

Adapun mesin pengisi minyak goreng kemasan rencananya akan diluncurkan pada Sabtu 15 September mendatang. Produksi dan penjualan AMH-o ini akan dilakukan bersama PT Rekayasa Engineering yang merupakan anak perusahaan PT Rekayasa Industri.

Direktur Utama Pindad, Abraham Mose, menyatakan AMH-o merupakan upaya pemenuhan kebutuhan mesin pengemas minyak goreng dengan kemasan sederhana untuk pasar nasional. “Kami menghasilkan produk yang bisa membantu pemerintah dengan anjungan minyak higienis dan banyak keuntungannya, terutama untuk masyarakat,” kata Abraham.

Dia menjelaskan, rancangan mesin bertujuan untuk menjaga kebersihan minyak goreng eceran dan mengurangi pemakaian kantong plastik. Selain itu, penggunaan mesin pengemas bakal meningkatkan keuntungan pedagang eceran.

Abraham mengatakan, sinergi ini juga dapat membantu pemerintah untuk menjangkau masyarakat. Penandatanganan perjanjian kerja sama dilaksanakan 16 Agustus 2018 lalu di Kantor Pusat Pindad Bandung.

Dia mengungkapkan AMH-o akan memenuhi Peraturan Menteri Perdagangan nomor 9/MDAG/PER/2/2016 yang mewajibkan peredaran minyak goreng curah menggunakan kantong kemasan sederhana. Mekanisme pengisian melalui filling oil system yang terdiri dari pompa, pipa flexible, katup solenoid, dan flow meter.

Sistem kerja AMH-o dengan penyaluran minyak goreng dalam jeriken ukuran 18 atau 25 liter sesuai dengan merek dagang produsen ke kantong kemasan. Nantinya, operator bakal mengemas minyak goreng dalam variasi ukuran 0,25 liter, 0,5 liter, sampai 1 liter.

Operasional AMH-o dikendalikan oleh sebuah microcomputer guna memastikan akurasi pengukuran. Microcomputer yang tertanam pada AMH-o merupakan sebuah papan layar elektronik yang dilengkapi beberapa tombol yang mudah untuk dioperasikan (user friendly). “Seluruh komponen dalam AMH-o telah memenuhi standar nilai makanan,” ujar Abraham.

Selain itu, AMH-o dilengkapi dengan modul Global Positioning System (GPS). Sehingga, produsen minyak goreng dapat memonitor lokasi unit AMH-o dan volume penjualan minyak goreng secara harian, mingguan, atau bulanan.

Sumber: Katadata.co.id

,

Permintaan CPO Semester Kedua 2018 Diprediksi 7 Juta Ton

Permintaan minyak sawit mentah (CPO) hingga akhir tahun 2018 mendatang diprediksi mencapai 7 juta ton. Peningkatan permintaan ini terkait dengan penerapan program B20 atau bahan bakar campuran minyak sawit sebenayak 20% yang dimulai awal September ini.

“Ini berdasarkan hitungan konservatif selama semester kedua 2018 saja,” kata Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) di Jakarta pekan ini. Target 7 juta ton ini dapat tercapai jika penerapan program B20 berlangsung agresif.

Penerapan probram B20 sudah dilakukan yang mencakup public service obligation (PSO)dan non public service obligation (non-PSO). Jumlah permintaan ini tentu lebih tinggi dibandingkan sebelum ada program B20 yang diprediksi hanya 6,7 juta ton.

Menurut Sahat, dengan aturan B20 di sektor kendaran non-PSO (public service obligation), ada potensi serapan CPO per September hingga akhir tahun nanti mencapai 1 juta ton. Sehingga jika ditambah serapan dari sektor PSO, dalam empat bulan ke depan konsumsi CPO akan menjadi 2,4 juta ton.

Sahat melanjutkan, kenaikan permintaan ini juga akan berpengaruh ke produksi CPO ditingkat petani. Di awal tahun, pihaknya mengestimasi produksi CPO mencapai 42 juta ton, kini perkiraannya mencapai 43,9 juta ton hingga akhir tahun.

 

Sumber: Nasionalisme.co

,

Pindad Siap Luncurkan Panser Berbahan Bakar Biodiesel

Sebagai produsen alat berat dan peralatan tempur untuk militer, PT Pindad tidak ketinggalan memanfaatkan biodiesel untuk bahan bakar produk yang dibuatnya. Dalam waktu dekat, PT Pindad akan meluncurkan alat berat dan panser yang sudah memakai bahan bakar campuran minyak nabati hingga 50%.

“Sekitar pertengahan bulan ini diluncurkan,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga di Kementerian Perindustrian di Jakarta pekan lalu. PT Pindad juga akan mengkonversi semua bahan bakar produknya dengan biodiesel.

Menurut Sahat, Pindad akan luncurkan B50 untuk seluruh mobil panser dan alat berat akan dikonversi menggunakan bahan bakar campuran minyak sawit hingga 50%. Proyek ini inisiasi bersama antara Kementerian Perdagangan yang berupaya menekan impor alat berat dan persenjataan, sekaligus meningkatkan potensi produk yang bisa dieskpor.

Salah satu produk Pindad yang sudah diekspor adalah panser Anoa (Medium Personnel Carrier). Dengan kemampuan memakai bahan bakar biodiesel yang lebih banyak kandungan minyak nabati, ekspor Anoa diharapkan bisa lebih tinggi.

Sahat mengatakan melalui pengembangan teknologi ini bahan bakar biodiesel akan semakin diterima berbagai lini industri. Persepsi bahwa biodiesel tidak cocok untuk mesin selama ini secara perlahan dapat dipangkas. “Sebenarnya tidak ada masalah dalam penggunaan biodiesel di mesin,” kata Sahat.

 

Sumber: Nasionalisme.co