,

Serapan Domestik Sawit Diprediksi Naik

JAKARTA – Serapan produk turunan kelapa sawit dari domestik dalam 2 tahun mendatang diyakini meningkat seiring dengan perluasan penerapan campuran bahan bakar nabati.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga memprediksi ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO) bulanan Indonesia tahun depan hanya berkisar 2 juta ton apabila mandatori campuran biodiesel sebanyak 30% (B30) dalam bahan bakar minyak jenis Solar jadi diterapkan oleh pemerintah.

Menurutnya, implementasi B30 akan meningkatkan konsumsi CPO, dimana 1 ton FAME (fatty acid methyl ester) untuk bahan biodiesel membutuhkan sekitar 1,12 ton CPO.

“Kuartal IV/2018 masih naik. Kira-kira ekspor kita itu masih di level 3 juta ton per bulan sepanjang periode itu. Cuma saya prediksi di tahun depan, kita ekspor harus kurangi juga. Kan [ada rencana implementasi) B30,” katanya, Kamis (18/10) malam.

Jika mandatori B30 jadi diterapkan, tambahnya, kebutuhan akan CPO domestik akan mencapai 9,2 juta ton, sedangkan pada 2018 kebutuhan CPO berkisar 5,1 juta ton.

Sahat memperkirakan produksi kelapa sawit pada 2019 mencapai 52,7 juta ton Produksi kelapa sawit pada 2019 diperkirakan mencapai 52,7 juta ton yang terdiri dari 48,2 juta ton CPO dan 4,6 juta crude palm kernel oil.

Konsumsi domestik untuk minyak sawit sepanjang Januari-Agustus 2018 mencapai 8,3 juta ton. yang terdiri dari 48,2 juta ton CPO dan 4,6 juta crude palm kernel oil.

Selain itu. dia bahkan memperkirakan bahwa pada 2020, serapan sawit dalam negeri semakin tinggi lagi.

“Saya perhitungkan 2020 di mana sawit akan kita pakai jadi biohidrokarbon [untuk] avtur, bensin, dan green diesel di luar FAME. [Penggunaan] itu akan short [memangkas) kira-kira 16 juta ton ekspor,” jelasnya.

Seiring dengan meningkatnya serapan CPO untuk biodiesel juga pemanfaatan bahan bakar nabati dalam negeri, Sahat mengimbau agar seluruh pemangku kepentingan bisa duduk bersama guna membahas skema logistik yang tepat.

“Jadi, pemakaian sawit akan banyak dan yang penting jadi perhatian kita adalah penambahan kapal-kapal transportasi untuk mendistribusikan biodiesel ini ke tempat titik pencampuran Pertamina. Itu yang paling krusial dan saya kira [pada] Desember [hal ini) perlu dibicarakan antara para pihak,” kata Sahat.

Adapun harga CPO pada kuartal pertama tahun depan dia perkirakan akan mencapai USSSOO per ton untuk fee on board (FoB) Dumai dari saat ini di level USS480.

Berdasarkan data dari Gabungan Pengusaha Kelapa sawit Indonesia (Gapki), konsumsi domestik untuk minyak sawit sepanjang Januari-Agustus 2018 mencapai 8,3 juta ton. Tahun lalu, serapan domestik minyak sawit mencapai kisaran 11 juta ton. Sebelumnya, Ketua Umum Dewan Minyak sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun mengatakan konsumsi CPO dalam negeri meningkat pada September karena adanya permintaan untuk biodiesel. Konsumsi dalam negeri bulan Agustus 1,1 juta ton pada September 1,15 juta ton,” katanya.

Derom mengatakan stok minyak sawit juga meningkat jadi 4,8 juta ton pada September dari 4,5 juta ton pada Agustus karena puncak produksi tandan buah segar terjadi pada September.

HARGA NAIK

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Gabungan Pengusaha Kelapa sawit Indonesia (GAPKI) Togar Sitanggang memperkirakan harga sawit diharapkan bisa mencapai US$540 per ton (FoB) pada akhir tahun dengan catatan stok minyak nabati lain sama-sama mengalami penurunan.

Salah satu faktor pendukung prediksi ini adalah permintaan dari India yang kembali berangsur normal ke level 500.000 ton-600.000 ton.

“Jadi kalau soybean [kedelai] itu bisa turun stok levelnya, mudah-mudahan harga sawit bisa bergerak seperti yang saya bilang tadi [US$540 per ton],” katanya, Kamis (18/10).

Saat ini, menurutnya harga sawit berada di rentang US$510 perton-USS520 per ton dan menurutnya harga ini tidak akan jatuh lebih dalam.

Pasalnya, implementasi B20 dinilai mampu menjadi penyangga harga, begitu pula dengan distribusinya yang dinilai semakin baik.

Kendati demikian, harga sawit juga tidak akan bergerak Iebih tinggi lagi. Pasalnya, belum ada gebrakan baru saat ini yang berpotensi untuk meningkatkan serapan secara signifikan.

“Biodiesel, kalau boleh dibilang Oktober ini lebih lancar. Kita juga sudah mengerti, sudah tahu kira-kira jadwal kapalnya seperti apa karena sudah menjadi rutinitas. Pencapaiannya bisa lebih baik dari September. Ini kan semua demand-demand yang bisa membawa stok level untuk lebih baik lagi,” tambahnya.

Sepanjang September, dia memprediksi bahwa realisasi serapan biodiesel akan mencapai 70% atau sekitar 400.000 kilo liter.

Adapun untuk Oktober tahun ini, dia memprediksi serapan biodiesel bisa mencapai 430.000 kiloliter-450.000 kiloliter.

 

Sumber: Bisnis Indonesia

,

Dampak Program B30, Ekspor Sawit Bisa Menurun Tahun 2019

Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) memperkirakan akan terjadi penurunan jumlah ekspor kelapa sawit pada tahun 2019, menyusul pemberlakuan aturan B30. Pasalnya, aturan yang juga disebut mandatory perluasan biodiesel 30 persen tersebut secara efektif baru akan menyerap lebih bayak produk keluaran perkebunan sawit yang ada di tanah air.

”Namun  untuk periode Oktober ini hingga akhir tahun, ekspor sawit masih berada di level rata-rata 3 juta ton per bulan. Angka ini setara dengan proyeksi pertumbuhan ekspor sawit, di luar kebutuhan FAME, sebesar 7,4% per tahun,”ungkap Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga, di Jakarta Kamis (18/10/2018)

“Tapi karena menurut kita keadaan ekonomi yang berkembang tidak kondusif jadi kita prediksi pertumbuhan ekspor 4% tahun 2019 karena memenuhi kebutuhan B30 tahun 2019,” lanjutnya.

 

GIMNI dan lembaga serta asosiasi dan pemamgku kepentingan terkait sendiri sudah juga mengetahui bahwa dalam  roadmap yang disusun pemerintah, pada tahun 2019 akan terjadi peningkatan kewajiban bauran dari B20 menjadi B30 yang itu praktis meningkatkan pasokan buah kelapa sawit sebagai bahan baku utama.

Untuk diketahui juga, sebelumnya Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia memperkirakan bila B30 terealisasi, maka konsumsi sawit bisa mencapai 9 juta kilo liter dan menyebabkan penghematan devisa US$21 juta per hari.

Sahat juga memproyeksikan pada tahun 2020, porsi ekspor bakal lebih kecil lagi bila pemerintah dan industri menepati komitmen avtur dan green diesel sehingga berpotensi menyebabkan ekspor CPO pada tahun tersebut akan turun hingga 16 juta ton. Tak hanya itu, Sahat melihat kondisi politik dunia, terutama Eropa, yang tidak bersahabat dengan minyak sawit membuat Indonesia sebaiknya fokus pada negara-negara lain saja.

Misalnya pada China, India dan pasar baru Afrika yang masih terbuka dan tidak mempermasalahkan maupun merumitkan perdagangan sawit. “Jadi kita lihat siapa negara yang tidak suka sawit, kurangi dari situ, dan kalau ke pasar yang companion akan tetap kita suplai, yang bikin ribut tidak usah,” jelasnya.

 

Sumber: Breakingnews.co.id

,

GIMNI: Ekspor Sawit Tahun Depan Berpotensi Turun Demi Penuhi B30

JAKARTA. Ekspor minyak sawit pada tahun 2019 diperkirakan bakal berkurang karena diserap untuk penggunaan dalam negeri karena menyambut mandatori perluasan biodiesel 30 alias B30 yang diperkirakan akan efektif tahun depan.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menyatakan untuk periode Oktober ini hingga akhir tahun, ekspor sawit masih berada di level rata-rata 3 juta ton per bulan. Angka ini setara dengan proyeksi pertumbuhan ekspor sawit, di luar kebutuhan FAME, sebesar 7,4% per tahun.

“Tapi karena menurut kita keadaan ekonomi yang berkembang tidak kondusif jadi kita prediksi pertumbuhan ekspor 4% tahun 2019 karena memenuhi kebutuhan B30 tahun 2019,” kata Sahat, Kamis (18/10).

Memang, dalam roadmap yang disusun pemerintah pada tahun 2019 akan terjadi peningkatan kewajiban bauran dari B20 menjadi B30.

Asal tahu sebelumnya Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia memperkirakan bila B30 terealisasi, maka konsumsi sawit bisa mencapai 9 juta kilo liter dan menyebabkan penghematan devisa US$21 juta per hari.

Tak hanya itu, Sahat melihat kondisi politik dunia, terutama Eropa, yang tidak bersahabat dengan minyak sawit membuat Indonesia sebaiknya fokus pada negara-negara lain saja.

Misalnya pada China, India dan pasar baru Afrika yang masih terbuka dan tidak mempermasalahkan maupun merumitkan perdagangan sawit.

“Jadi kita lihat siapa negara yang tidak suka sawit, kurangi dari situ, dan kalau ke pasar yang companion akan tetap kita suplai, yang bikin ribut tidak usah,” jelasnya.

 

Sumber: Kontan.co.id

,

Gapki: Penyaluran Biodiesel Oktober Bisa Capai 450.000 Kilo Liter

JAKARTA. Penyerapan minyak kelapa sawit untuk kebutuhan mandatori perluasan biodiesel 20% (B20) pada Oktober ini diperkirakan bisa mencapai 450.000 kilo liter.

Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Togar Sitanggang menyampaikan kinerja penyaluran komponen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan penyaluran biodiesel Oktober akan lebih baik dari sebelumnya dan bisa mencapai 430.000-450.000 kilo liter.

“Masalah logistik, kita diminta dengan window waktu yang sempit, karena window sempit maka juggling harus besar besaran,” jelas Togar, Kamis (18/10).

Ia melanjutkan, pencapaian September diperkirakan telah mencapai 70% dari target penyaluran FAME untuk biodiesel Public Service Obligatory (PSO) dan Non-PSO. Angka tersebut setara 350.000 metrik ton atau 400.000 kiloliter biodiesel.

Adapun seharusnya Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU BBN) dan Badan Usaha Bahan Bakar Minyak (BU BBM) sudah melakukan penyempurnaan sejak teken regulasi dan penyaluran akan makin lancar.

Menanggapi isu perkapalan tersebut, Wakil Ketua Dewan Masyarakat Sawit Indonesia (DMSI) Sahat Sinaga menyampaikan distribusi perkapalan memang harus di atur. Pasalnya setelah mandatori B20 tersebut, industri biofuel segera mencari kapal hingga berebut.

“Ini yang harusnya duduk antara produsen FAME dengan Pertamina bagaimana mengatur perkapalan ini agar tidak terjadi congestion,” kata Sahat.

 

Sumber: Kontan.co.id

,

Kementerian Teknis Didesak Proaktif Percepat Program B31

Pemerintah harus proaktif memastikan mesin-mesin penggerak industri dapat menggunakan solar dari minyak bumi yang dicampurkan fatty acid methyl esters (FAME) dari minyak sawit menjadi biodiesel kadar 30% (B30) tepat waktu.

“Presiden Joko Widodo sudah menyatakan komitmennya untuk mempercepat program B30,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat M Sinaga, dalam keterangan tertulisnya awal pekan ini.

Kementerian teknis, menurut Sahat, harus mempercepat kinerja mereka sehingga penghiliran dapat berhasil dengan baik meski standar acuan mesin yang mengacu kepada Amerika Serikat belum ada.

“Dengan penghiliran CPO menjadi bahan bakar, maka akan mengurangi impor. Meningkatkan nilai tawar minyak sawit, yang paling langka di republik ini adalah kebersamaan,” papar dia.

Sahat menilai, pemerintah membutuhkan koordinasi yang kuat agar anugerah minyak sawit yang sangat banyak yang diproduksi di negeri ini mendatangkan manfaat.

“Model bisnis mengubah CPO menjadi bahan bakar ini akan membuat industri hilir bergairah yang pada akhirnya menjaga harga buah sawit di tingkat petani stabil dan menjauh dari titik yang merugikan,” tutur Sahat.

Sumber: Borneonews.co.id

,

Pemerintah Harus Proaktif

JAKARTA – Pemerintah harus proaktif memastikan mesin-mesin penggerak industri dapat menggunakan solar dari minyak bumi yang dicampurkan fatty acid methyl esters (FAME) dari minyak sawit menjadi biodisel kadar 30% (B30) tepat waktu. Pemerintah menargetkan mandatori ini pada 2020.

Sahat M. Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menuturkan, Presiden Joko Widodo sudah menyatakan komitmennya untuk mempercepat program B30. Untuk itu, kementerian teknis harus mempercepat kinerja mereka sehingga penghiliran dapat berhasil dengan baik meski standar acuan mesin yang mengacu kepada Amerika Serikat belum ada.

“Dengan penghiliran CPO (menjadi bahan bakar) maka akan mengurangi impor. Meningkatkan nilai tawar minyak sawit. Yang paling langka di Republik ini adalah kebersamaan,” kata Sahat di Medan, pekan lalu.

Dia menuturkan pemerintah membutuhkan koordinasi yang kuat agar anugerah minyak sawit yang sangat banyak yang diproduksi di negeri ini mendatangkan manfaat.

Kepala Pusat Sistem Penerapan Standar Badan Standardisasi Nasional (BSN) Wahyu Purbowasito menyebutkan, bagi pihaknya terdapat dua komponen utama sebelum sebuah produk dapat diterapkan dalam sistem standardisasi nasional.

“Yang diuji adalah mutu, kemudian performa. Selama tidak merusak mesin, itu bisa dipakai,” katanya.

Wahyu menuturkan ada atau tidaknya standar B30 di Amerika Serikat, tidak menjadi acuan di Indonesia. Pasalnya untuk kepentingan nasional, maka Indonesia dapat mengeluarkan acuannya sendiri.

“[Standar] kita yang menentukan apalagi bahannya banyak di kita. Selama (pemerintah) punya jaminan [penerapan B30 tidak merusak lingkungan dan memberikan kinerja yang baik] itu [perapan wajib B30] bisa dilakukan. Kenapa tidak,” katanya.

Wahyu menambahkan untuk itu dibutuhkan tindakan proaktif dari kementerian teknis, agar penerapan B30 secara luas dapat diterima dan dijalankan oleh pelaku usaha. Mesin-mesin yang ada tidak mengalami penurunan kinerja.

Edy Sutopo, Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian mengatakan dalam membangun industri hilir agar CPO dapat segera dimanfaatkan sebagai bahan bakar, pihaknya berkomitmen untuk mendukung percepatan penggunaan.

Selain itu, model bisnis mengubah CPO menjadi bahan bakar ini akan membuat industri hilir bergairah yang pada akhirnya menjaga harga buah sawit di tingkat petani stabil dan menjauh dari titik yang merugikan.

 

Sumber: Bisnis Indonesia

,

Raksasa Sawit Sulit Tambah Lahan Lagi

JAKARTA. Ekspansi perusahaan sawit di Indonesia terancam. Ini menyusul keluarnya instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghentikan sementara (moratorium) izin perkebunan kelapa sawit.

Lewat Instruksi Presiden (Inpres) No 8/ 2018 tentang Penundaan dan Evaluasi Perizinan Perkebunan Kelapa sawit serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit, kebijakan ini berlaku 19 September 2018.

Bagi pebisnis besar, moratorium ini tak jadi soal. Pasa-nya, perusahaan raksasa sawit sudah memiliki lahan yang superluas. Berdasarkan riset KONTAN, dari sekian banyak perusahaan sawit yang sudah beroperasi di Indonesia, nama perusahaan besar seperti Group Wilmar International, Sinar Mas Group melalui Golden Agri Resources (GAR), dan PT Astra Agro Lestari Tbk berada di urutan teratas pemimpin industri sawit di Tanah Air maupun di dunia.

Berdasarkan Laporan Keuangan Semester I 2018 di Bursa Efek Singapura, semisal, total aset GAR mencapai US$ 8,48 miliar. Induk usaha PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk ini juga mencatatkan pendapatan US$ 3,67 miliar, naik 3,3% dari periode sama 2017. GAR memiliki luas lahan perkebunan 788.907 hektare (ha), jumlah ini sudah termasuk kebin plasma.

Adapun Wilmar International Group, tercatat sebagai perusahaan pengolahan minyak sawit terbesar dunia. Wilmar telah memasarkan produknya ke lebih dari 50 negara. Wilmar Group memiliki lebih dari 450 pabrik dan jaringan distribusi di seluruh China, India, Indonesia dan negara-negara lainnya.

Di Indonesia, Wilmar Group lewat PT WilmarNabati Indonesia memiliki lahan perkebunan sawit 210.000 ha, sudah tertanam 155.000 ha. Kebun sawit Wilmar ini di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Sementara produksi CPO mencapai 3 juta metrik ton per tahun. Targetnya 2019 bisa tembus 3,2 juta metrik ton.

Komisaris Wilmar Group Master Parulian Tumanggor mengatakan Wilmar tak lagi ekspansi lahan pada tahun 2019 karena adanya moratorium. “Tapi kami memiliki perkebunan inti rakyat (PIR) yang luasnya sekitar 40.000, “ujarnya kepada KONTAN, Minggu (14/10)

Melalui PIR ini, Wilmar bisa mendapatakan pasokan tambahan untuk memproduksi CPO dan turunnya melalui pola pengembangan perkebunan rakyat di wilayan lahan bukaan baru.

Sementara PTAstra Agro Lestari memiliki aset Rp 26,83 triliun berdasarkan laporan keuangan semester I 2018. Anak usaha Astra International ini membukukan pendapatan Rp 9,02 triliun pada paruh pertama 2018 lalu dengan laba komprehensif Rp 902,6 miliar.

Ekspansi terhambat

Selain mereka, ada terdapat perusahaan sawit besar lainnya seperti Minamas Plantation Group, dan Salim Group. Perusahaan-perusahaan ini memiliki produksi dan aset besar di industri ini.

Sahat Sinaga, Wakil Ketua Umum Dewan Minyak sawit Indonesia (DMSI) mengatakan kebijakan moratorium perluasan kebun sawit menghambat ekspansi perusahaan sawit di Indonesia. Maka perusahaan ini hanya bisa meningkatkan produksi dengan menggantikan tanaman lama dengan tanaman baru yang produksinya lebih tinggi.

Ia menyebut, kita butuh regulasi yang mendukung pengembangan industri sawit. Yakni Undang-Undang (UU) yang mengatur perkebunan sawit tidak bisa dikonversi dengan tanaman lain. Bila hal ini tercapai, kata dia, niscaya perusahan-perusahaan sawit bakal berkembang pesat di Indonesia. “Perusahaan sawit tidak perlu diajari meningkatkan aset, yang mereka butuh dukungan pemerintah,”ucapnya.

 

Sumber: Harian Kontan

,

Industri Kelapa Sawit Jalankan Strategi Untuk Meningkatkan Aset

JAKARTA. Di tengah moratorium perluasan lahan sawit yang dilakukan oleh pemerintah, perusahaan-perusahaan kelapa sawit sudah mulai mengembangkan asetnya dengan tujuan meningkatkan produktifitas kelapa sawit.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menjelaskan, perusahaan kelapa sawit sudah melakukan sejumlah strategi dalam mengembangkan asetnya. Selain menambah luas lahan perkebunan, perusahaan juga menanam bibit unggul untuk area-area yang belum tertanam kelapa sawit.

Selain itu, “Perusahaan sawit juga tengah berupaya memperbaiki produktifitas dengan mengganti aset-aset tanaman kelapa sawit yang sudah tidak produktif dengan yang produktif, memperbaiki efisiensi seperti pemupukan, serta memperbaiki infrastruktur jalan-jalan supaya lebih bagus,” lanjutnya kepada Kontan.co.id, Sabtu (13/10).

Menurut Sahat, satu hal yang perlu dikembangkan mengenai kelapa sawit adalah membuat peraturan di mana kebun-kebun kelapa sawit tidak boleh dialihfungsikan ke tanaman lain.

Sementara itu, dia juga mengakui, perkembangan industri kelapa sawit Tanah Air juga menemui sejumlah kendala. Misalnya saja, produk kelapa sawit tengah menghadapi tekanan global berupa kampanye negatif terhadap ekspor minyak kelapa sawit dan turunannya.

“Kalau Eropa tidak mau impor kelapa sawit dari Indonesia, kita tidak usah ekspor lagi. Kita bisa mengolahnya karena sekarang kebutuhan domestik juga sudah mulai besar dan bisa digunakan untuk meningkatkan ketahanan energi nasional. Kita bisa mengolahnya untuk bahan bakar, menguasi teknologinya, dan tentu sustainable tetap menjadi patokan kita,” lanjutnya.

 

Sumber: Kontan.co.id

,

Pasar Wangi, Nutri Palma Kembangkan Red Virgin palm oil

Produsen terus mengembangkan industri hilir produk minyak kelapa sawit. Program hilirisasi, produk minyak sawit mentah atau Crude palm oil (CPO) ini bisa meningkatkan nilai tambah. Pengembangan produk turunan CPO ini antara lain biodiesel hinngga red virgin palm oil.

Salah satu perusahaan yang mengembangkan red virgin palm oil adalah PT Nutri Palma Nabati. Menurut Direktur PT Nutri Palma Nabati Darmono Taniwiryono bilang, pihaknya mengembangkan produk minyak red virgin palm oil dengan merek Salmira..

PT Nutri Palma Nabati mengemas produk ini dalam bentuk saset agar bisa menjual langsung ke ritel. Darmono mengklaim nutrisi yang terkandung dalam red virgin palm oil dapat membantu pemerintah mengurangi masalah stunting, atau hambatan pertumbuhan pada anak.

Memang, saat ini volume produksi red virgin palm oildi Nutri Palma masih kecil. Pabrik pengolahan minyak sawit baru baru mengolah 250 kilogram (kg) Tandan Buah Segar (TBS) perjam. Padahal normalnya, rata-rata kapasitas pabrik pengolahan CPO 60 ton hingga 90 ton perjam.

“Produksi kami masih kecil, dalam satu bulan baru mampu mengolah sekitar 10 ton saja. Pada tahun ini, kami targetkan dapat mengolah 76,8 ton dengan hitungan operasional mesin mencapai 8 jam per hari operasi,” ujarnya, di Medan, Senin (8/10).

Sejauh ini, Nutri Palma masih mengandalkan pasokan TBS dari kebun sendiri seluas 500 hektare. Rencananya mereka akan melakukan ekspansi kebun di Sumatra Utara.

Pemilihan Sumatra Utara karena merupakan wilayah penghasil sawit terbesar kedua di Indonesia setelah Riau. “Kami ekspansi ke kawasan Sei Mangke untuk meningkatkan produksi,” katanya.

Saham M Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) juga melihat tren industri untuk mengembangkan industri hilir minyak sawit. Produk hilir ini diantaranya untuk makanan dan perawatan wajah dan tubuh, hingga bahan bakar.

Ia menyebut di bisnis hilir CPO untuk bahan bakar, sudah menghasilkan green diesel, green gasoline dan green avtur. Karena itu, ia berharap pengembangan bisnis ini mendapat dukungan pemerintah.

 

Sumber: Harian Kontan

,

GIMNI Desak Pemerintah Percepat Hilirisasi Industri Sawit

Pemerintah diharapkan mempercepat pengembangan industri hilir sawit, khususnya produk bahan bakar cair berbasis minyak kelapa sawit, yang diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp815 triliun hingga Rp840 triliun sampai dengan 2025.

“Sawit dapat dikembangkan menjadi empat varian produk yakni bahan makanan, bahan bakar, produk kimia, dan bahan bakar,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat M. Sinaga, dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Selasa (9/10/2018).

Untuk bahan bakar, penghiliran minyak sawit di dalam negeri sudah dapat menghasilkan green diesel (Cetane Number 80), green gasoline (Ron 96-98), dan green avtur (dengan titik beku -37 derajat celcius dan -60 derajat celcius.

“Dengan harga minyak US$70 maka industri hilir sudah bisa memproduksi memiliki nilai keekonomian,” papar Sahat.

Green diesel dikenal juga dengan solar. Bahan bakar ini banyak digunakan oleh mesin industri, alat transportasi umum, dan pertambangan.

Sedangkan gasolin lebih dikenal dengan nama bensin dan banyak digunakan oleh kendaraan pribadi.

Sementara itu, avtur merupakan bahan bakar untuk pesawat. Produk ini membutuhkan titik beku jauh di bawah nol agar pesawat tidak mati ketika terbang di ketinggian.

Sahat menambahkan, dengan teknologi yang ada saat ini, dari 1 ton crude palm oil (CPO) dapat dihasilkan 5,24 hingga 5,96 barel setara bahan bakar cair. Skala uji coba produksi akan dimulai pada akhir kuartal IV tahun ini untuk gasolin, sedangkan avtur akan mulai diproduksi pada awal 2019.

“Indonesia diperkirakan membutuhkan 104,2 juta kiloliter bahan bakar cair pada 2025. Pada tahun ini, penggunaan bahan bakar secara nasional berkisar 75,7 juta kiloliter, kami estimasi dengan 27% menggunakan campuran bahan bakar cair berbasis sawit, akan ada tambahan permintaan 26,9 juta CPO untuk bahan baku,” ujar Sahat.

Dengan kondisi ini, peningkatan produksi CPO pada 2025 diperkirakan mencapai 72 juta ton dapat terserap karena 60% dari produksi minyak sawit saat itu akan dikonsumsi di dalam negeri.

Minyak sawit untuk bahan bakar ini juga akan mengakhiri ketidakpastian penyerapan produksi minyak sawit dan turunannya di pasar utama, seperti India dan Uni Eropa.

Sumber: Borneonews.co.id