,

Penjualan Migor Kurang Licin

Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mencatat penjualan minyak goreng (migor) selama Ramadan dan Lebaran kurang licin. Sebab, saat ini masyarakat lebih senang keluar jalan-jalan dibandingkan makan-makan di rumah.

Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga mengatakan, pertumbuhan penjualan migor Ramadan dan Lebaran tahun ini diprediksi cuma tumbuh 4-5 persen saja. Angka ini seperti tahun sebelumnya.

“Angka ini turun dibandingkan 2015 ke bawah,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, belum lama ini.

Pada 2015 ke bawah, biasanya penjualan migor selama Ramadan dan Lebaran tumbuh 8-10 persen. Pasalnya, saat itu masyarakat lebih senang makan-makan selama Lebaran. Namun, hal itu berubah sejak 2015 ke atas.

Kondisi ini memperlihatkan jika tingkat perekonomian masyarakat sudah meningkat. “Sekarang trennya sudah berubah. Makan tidak menjadi prioritas lagi. Orang sudah tidak jor-joran lagi untuk membuat makanan Lebaran,” katanya.

Menurut Sahat, konsumsi migor selama Juni diprediksi mencapai 780 ribu ton. Ini didorong adanya momen Ramadan dan Lebaran. “Naiknya memang tidak tinggi cuma 4-5 persen. Tap.i lumayanlah,” paparnya.

Terkait dengan pasokan, dia menegaskan , tidak ada kendala. Pasokan migor di semua daerah lancar. Kelangkaan migor yang sempat terjadi di beberapa daerah juga sudah teratasi. “Samarinda dan Balikpapan sudah diatasi oleh grupWilmardan Astra.” paparnya.

Menurutnya, produk minyak goreng curah akan beralih kepada kemasan. Proses transisinya diperkirakan akan selesai pada 2019. “Nanti tahun 2020 tidak ada lagi minyak goreng yang dijual curah,” jelasnya.

Pada 2018. konsumsi minyak goreng domestik dikalkulasi mencapai 12,759 juta ton. lebih tinggi dari tahun lalu yang sebanyak 11.056 juta ton. Tahun ini, penggunaan minyak sawit untuk dalam negeri masih didominasi untuk pangan.

“Dengan rincian, sebanyak 8.414 juta ton untuk makanan dan specialty fats. Sementara itu, 845 ribu ton untuk oleochemical dan soap noodle. Lalu, 3.5 juta ton memenuhi kebutuhan biodiesel.” kata Sahat.

Dumping Eropa

Menurut Sahat, asosiasi sedang melakukan penyelidikan terkait adanya dugaan dumping oleh produsen minyak nabati asal Eropa yang dijual di Indonesia. Dumping berdampak pada penjualan migor dalam negeri.

“Kami sedang menyelidikinya dan mengumpulkan datanya.” ujarnya.

Dalam mengumpulkan data dumping, pihaknya tidak hanya menyelidiki penjualan 2017 saja, tapi dari 2014. Hal ini dilakukan biar datanya lebih valid.

“Kalau cuma diambil satu tahun kurang valid. Sekarang sudah mulai ada gambaran hasilnya,” paparnya.

Produsen yang diduga melakukan dumping, kata dia, berasal dari Spanyol. Perancis dan Italia. Dan, biasanya merupakan produk premium. “Kami juga masih selidiki apakah mereka impor langsung dalam bentuk botol atau bulk saja dan dikemas di sini.”” katanya.

Ditanya berapa kerugiannya. Sahat belum bisa membocorkannya karena masih dalam proses perhitungan. “Tinggal menghitung berapa populasinya kelas menengah atasnya. Karena mereka yang menggunakan minyak itu,” tuturnya..

Dengan penyelidikan dumping, kata dia, bukan berarti pihaknya menolak masuknya produk minyak nabati Eropa. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. “Kita tidak akan melarang total seperti Eropa melarang Crude palm oil (CPO) kita,” ujarnya.

Diajuga menegaskan, penyelidikan dumping tidak terkait dengan balas dendam. Pihaknya hanya ingin menciptakan perdagangan yang adil. “Kami sudah merasakannya dari lama. Kok pertumbuhan migor tidak seperti biasanya,” tukasnya.

Sebelumnya. Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan mengatakan. GIMNI masih melakukan eksaminasi atau penyelidikan apakah ada unsur dumping atau subsidi atas minyak nabati asal Eropa tersebut. Hingga saat ini. lanjut Oke, pihaknya akan menunggu pengaduan dari masyarakat, termasuk dari GIMNI.

Bilamana pengaduan diajukan, maka investigasi akan dilakukan oleh Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) berdasarkan pengaduan tersebut. “Jadi kita tunggu hasil eksaminasi GIMNI tersebut,” kata Oke.

 

Sumber: Rakyat Merdeka

,

Gapki Jajaki Peningkatan Ekspor ke Afrika

JAKARTA. Gabungan Pengusaha Kelapa sawit Indonesia (Gapki) sedang melakukan penjajakan pasar Afrika untuk penjualan minyak kelapa sawit (CPO) dan produk turunnya. Pasar yang tengah mereka incar Tunisia dan Maroko. Rencananya, Gapki mengunjungi kedua negara tersebut setelah Lebaran nanti.

Togar Sitanggang, Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan dan Keberlanjutan Gapki, mengatakan, negara-negara di Benua Afrika menjadi pasar menjanjikan untuk ekspor CPO dan produk turunnya. “Kami sedang kaji untuk mengekspor produk minyak sawit yang sudah diolah atau refined palm oil, seperti minyak goreng dalam bentuk kemasan dan jeriken,” ujarnya akhir pekan lalu.

Menurut Togar, potensi pasar CPO dan produk turunnya di Afrika saat ini masih cukup besar. Apalagi, dengan melihat populasi di benua hitam yang besar, kebutuhan terhadap minyak nabati juga besar. Bahkan, berdasarkan hasil riset Rabobank yang terbit Januari 2018 lalu, bakal terjadi peningkatan impor minyak nabati pada 2030 mendatang ke Afrika sebanyak 3,5 juta ton. Angka itu naik 33% dibandingkan dengan posisi saat ini sebanyak 10,6 juta ton impor minyak nabati.

Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang empat bulan pertama tahun ini, Indonesia melakukan ekspor produk olahan CPO senilai US$ 1,27 miliar. Jumlah ini melonjak signifikan, 77,8% dari periode sama tahun lalu dengan nilai US$ 714,4 juta.

Untuk menyukseskan ekspor produk turunan CPO ke Afrika tersebut, Gapki meminta pemerintah menurunkan dana pungutan ekspor minyak goreng dalam kemasan, agar bisa memacu pengiriman produk olahan itu ke Afrika. “Kami juga melobi dan sudah meminta dari lama, supaya pungutan untuk minyak goreng kemasan mestinya lebih rendah dari minyak bulk yang curah,” ungkap Togar.

Memang, Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GMNI), menambahkan, potensi pasar Afrika untuk industri minyak kelapa sawit dan produk turunannya masih sangat besar. Terlebih, untuk produk soft noodle dan produk turunan dari olein.

Soalnya, industri kelapa sawit di Afrika belum banyak terutama untuk produk soft noodle. “Mereka sangat memerlukannya juga untuk bahan-bahan kosmetik,” kata Sahat. Dia bilang, Afrika Selatan, Mozambik, Kenya, dan Maroko telah membuka pintu impor produk olahan minyak sawit asal Indonesia.

Tane Hadiyantono

 

Sumber : Harian Kontan

,

Pelaku Industri Siap Jalankan Mandatori Migor Kemasan

 

JAKARTA – Pelaku industri siap menjalankan kebijakan mandatori minyak goreng dalam kemasan (migor kemasan) yang berlaku efektif mulai 1 Januari 2020. Pelaku industri domestik saat ini dalam proses transisi dari proses produksi minyak goreng curah ke kemasan, di antaranya dengan melakukan pengadaan mesin pengemasan dan ruang penyimpanan yang lebih besar. Dengan mandatori migor kemasan maka nantinya tidak ada lagi migor curah, yang diduga tidak memenuhi kesehatan dan keamanan pangan, di pasaran.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengatakan, rencana proses peralihan atau transisi penggunaan migor curah ke kemasan sudah berlangsung sejak lama. Sesuai kesepakatan terakhir antara pemerintah dan pelaku industri migor domestik, proses transisi tersebut akan selesai pada 2019. “Proses transisi sedang berlangsung, dengan begitu pada 2020 sudah tidak akan ada lagi minyak goreng curah di pasaran,” kata Sahat saat berbuka puasa dengan media di Jakarta, pekan lalu.

Dalam peralihan dari minyak curah ke kemasan. Sahat mengakui akan adanya dampak terhadap harga komoditas tersebut Pasalnya, dibutuhkan tambahan biaya, mulai dari mesin untuk pengemasan, ruang penyimpanan yang lebih besar, termasuk kotak (kardus) kemasan luar, dalam proses tersebut. Apalagi, pemerintah menginstruksikan agar kemasan 250 gram juga tersedia di pasaran, padahal semakin kecil kemasan maka dibutuhkan biaya lebih besar. “Hanya saja, faktor penentu memang tetap harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Sebab, biaya kemasan hanya berdampak sekitar 10-15%,” kata Sahat

Sahat juga memperkirakan, dalam proses peralihan tersebut maka investasi pengemasan migor domestik akan lebih terpacu. Ini karena pada 2019 perusahaan akan sibuk membeli mesinfilling. “Dengan total volume 3,50 miliar kilogram minyak goreng curah yang dialihkan ke kemasan, katakanlah untuk 500 mililiter per kemasan berarti dibutuhkan setidaknya 1.850 unit mesin. Dengan harga sekitar Rp 600 juta per. unit mesin berarti bakal ada investasi triliunan rupiah,” kata Sahat Sinaga.

Dalam perkiraan GIMNI, tahun ini, konsumsi minyak goreng domestik mencapai 12,76 juta ton atau lebih tinggi dari tahun lalu yang sebanyak 11,06 juta ton. Peningkatan konsumsi minyak goreng tersebut sejalan dengan peningkatan penggunaan minyak sawit untuk dalam negeri pada 2018 yang masih didominasi untuk pangan. Rinciannya, sebanyak 8,41 juta ton minyak sawit untuk makanan dan specialty fats, 845 ribu ton untuk oleochemical dan soap noodle, serta 3,50 juta ton untuk memenuhi kebutuhan biodiesel.

Masih Menjanjikan

Sementara itu, industri minyak sawit nasional diyakini masih menjanjikan tahun ini, hal itu ditopang oleh permintaan yang masih tumbuh, baik dari dalam maupun luar negeri. Apalagi, industri hilir berbasis kelapa sawit di Indonesia juga diyakini saat ini mengalami pertumbuhan positif, terutama minyak nabati, oleokimia, dan biodiesel.

Sahat Sinaga mengatakan, terdapat sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan positif industri hilir sawit. Pertama, produk biodiesel tidak lagi dibebani tarif tinggi oleh Uni Eropa (UE). Kedua, diplomasi dagang pemerintahan Presiden Joko Widodo yang sangat aktif. Ketiga, tindakan retaliasi Amerika Serikat (AS) dengan sejumlah negara seperti Tiongkok, Meksiko maupun Uni Eropa. Keempat, menguatnya kurs mata uang AS. “Faktor inilah yang membawa angin segar bagi perdagangan sawit di pasar global,” kata Sahat.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) Rapolo Hutabarat memproyeksikan, ekspor produk oleokimia tahun ini mencapai 4,40 juta ton atau naik dari 2017 yang sebanyak 3,60 juta ton. Peningkatan ekspor ditopang tren kenaikan konsumsi global, terutama produk kosmestik, industri, ban, dan kebutuhan di sektor pengeboran minyak. “Ekspor juga semakin menarik karena ada investasi baru oleokimia,” ujar dia.

PT Energi Sejahtera Mas dan Unilever misalnya, kata dia, akan menopang pasokan industri oleokimia Indonesia ke pasar dunia. Nilai ekspor produk oleokimia mencapai US$ 3,30 miliar pada 2017. “Tahun ini, kami perkirakan nilai ekspor naik menjadi US$ 3,60 miliar. Sampai triwulan 1-2018 terpantau volume ekspor oleokimia sudah mencapai 1,10 juta ton, dengan nilai perdagangan US$ 915 juta,” kata Rapolo.

Di segmen biodiesel, Ketua Harian Asosiasi Produsen Bio-fuels Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menjelaskan, tahun ini pemakaian di dalam negeri dipredikai naik sekitar 500 ribu kiloliter (kl). Dengan syarat, penggunaan biodiesel nonsubsidi berjalan ditambah pemakaian biodiesel untuk bahan bakar kereta api dan di sektor pertambangan. “Jika konsumsi B20 oleh kereta api terealisasi, konsumsi domestik bisa tambah 200-500 ribu kiloliter (kl). Untuk ekspor diproyeksikan bisa mencapai 500 ribu kl ke Eropa hingga akhir tahun ini. Ada juga biodiesel yang dijual ke negara lain, tapi jumlahnya kecil,” kata Paulus.

Sementara itu, dia menambahkan, WTO memenangkan gugatan Indonesia terhadap kebijakan antidumping Uni Eropa. Hal ini juga membawa angin segar bagi Indonesia. “Komisioner Eropa mengirimkan sinyal tidak mendukung resolusi sawit yang diusulkan Parlemen Eropa. Itu sebabnya, sejumlah produsen biodiesel menjajaki pengiriman biodiesel ke Eropa, yang sempat terhenti beberapa tahun terakhir,” kata Paulus.

Oleh Damiana Simanjuntak

Sumber: Investor Daily Indonesia

,

Permintaan Terus Meningkat, Industri Hilir Sawit Tetap Menjanjikan

Jakarta- Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga mengatakan industri produk turunan sawit tetap menjanjikan karena ditopang kenaikan permintaan dari dalam dan luar negeri.

neraca

“Bahkan, saat ini industri hilir sawit tumbuh positif di tahun ini, baik untuk sektor minyak nabati, oleokimia, dan biodiesel,” ungkapnya saat acara silaturahmi bersama media dengan tiga asosiasi industri hilir sawit yaitu Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI), Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN), di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Lebih lanjut Sahat mengatakan ada sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan positif industri hilir yaitu produk biodiesel tidak lagi dibebani tarif tinggi oleh Uni Eropa, diplomasi dagang pemerintahan Joko Widodo yang sangat aktif, tindakan retaliasi USA dengan sejumlah negara seperti Tiongkok, Meksiko maupun Uni Eropa, dan menguatnya kurs mata uang Amerika Serikat. “Faktor inilah yang membawa angin segar bagi perdagangan sawit di pasar global,” kata Sahat.

Di tempat yang sama, Rapolo Hutabara, Ketua Umum APOLIN, memproyeksikan volume ekspor produk oleokimia tumbuh 22% menjadi 4,4 juta ton, dibandingkan tahun lalu berjumlah 3,6 juta ton. Peningkatan ekspor oleokimia ditopang tren kenaikan konsumsi global produk oleokimia di sektor kosmestik, industri, ban, dan pengeboran minyak.

Di dalam negeri, menurut Rapolo, kegiatan ekspor semakin menarik karena ada investasi baru oleokimia seperti PT Energi Sejahtera Mas dan Unilever. Seluruh faktor ini yang menopang pasokan industri oleokimia Indonesia ke pasar dunia. Nilai ekspor produk olekimia mencapai USS 3,3 miliar pada2017. “Tahun ini, kami perkirakan nilai ekspor naik menjadi 3,6 miliar dolar. Sampai triwulan pertama, volume ekspor oleokimia 1,1 juta ton dengan nilai perdagangan 915 juta dolar, “kata Rapolo.

Di segmen minyak goreng, produk minyak goreng curah akan beralih kepada kemasan. Sahat Sinaga memperkirakan proses transisi ini akan selesai pada 2019.” Nanti tahun 2020 tidak ada lagi minyak goreng yang dijual curah ,” jelasnya.

Pada 2018, konsumsi minyak goreng domestik dikalkulasi mencapai 12,75-9 juta ton, lebih tinggi dari tahun lalu yang sebanyak 11,056 juta ton. “Tahun ini, penggunaan minyak sawit untuk dalam negeri masih didominasi untuk pangan. Dengan rincian, sebanyak 8,414 juta ton untuk makanan dan specialty fats. Sementara itu, 845 ribu ton untuk oleochemical dan soap noodle. Lalu, 3,5 juta ton memenuhi kebutuhan biodiesel,” kata Sahat.

Paulus Tjakrawan, Ketua Harian APROBI, mengakui tahun tni pemakaian biodiesel di dalam negeri naik sekitar 500 ribu. Kenaikan ini dapat terealisasi asalkan penggunaan biodiesel non-subsidi dapat berjalan. Ditambah dengan pemakaian biodiesel untuk campuran bahan bakar kereta api dan alat berat pertambangan. “Jika konsumsi B-20 dipakai kereta api, maka konsumsi domestik bisa tambah sekitar 200 ribu sampai 500 ribu kiloliter, “ujar Paulus.

Angin segar lainnya adalah WTO memenangkan gugatan Indonesia terhadap kebijakan anti dumping Uni Eropa. Paulus juga menginformasikan bahwa Komisioner Eropa mengirimkan sinyal tidak mendukung resolusi sawit yang diusulkan Parlemen Eropa.

Itu sebabnya, sejumlah produsen biodiesel menjajaki pengiriman biodiesel ke Eropa, yang sempat terhenti beberapa tahun terakhir. “Diproyeksikan ekspor biodiesel Indonesia ke eropa mencapai 500 ribu kiloliter sampai akhir tahun ini. Walaupun, adapula biodiesel yang dijual ke negara lain, tapi jumlahnya kecil,”pungkas Paulus.

Sebelumnya, Wakil Ketua Comite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta mengatakan sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi untuk bisa mengembangkan industri hilir kelapa sawit untuk meningkatkan nilai tambah.

Saat ini, katanya, industri hilir kelapa sawit Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand. Hal ini tercermin dari rendahnya hak paten yang diajukan Indonesia di industri tersebut.

Berdasarkan data World Intellectual Property Organisation 2011, permohonan paten Indonesia tercatat hanya tiga, jauh di bawah Malaysia sebanyak 79 permohonan, Singapura sebanyak 34 permohonan, dan Thailand sebanyak tiga permohonan.

“Kalau Indonesia tidak hanya menjadi produsen tapi juga hilirisasi akan membuat surplus perdagangan,” katanya.

 

Sumber: Harian Ekonomi Neraca

,

RI Taklukkan Eropa

 

Komisi Eropa memutuskan tidak akan melanjutkan pembahasan pembatasan sawit untuk campuran biodiesel. Dengan begitu, produk sawit kita bisa masuk lagi ke Eropa. RI sukses taklukkan Negeri Benua Biru.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat Sinaga mengatakan. Komisi Eropa tidak akan melanjutkan pembatasan sawit untuk campuran biodiesel seperti yang diminta Parlemen Eropa. Ini artinya kita bisa ekspor lagi ke Eropa.

“Yang membuat usulan itu (pelarangan) adalah Parlemen Eropa. Dewan Eropa sendiri kurang sependapat,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Untuk diketahui. Parlemen Eropa akan menghapus penggunaan biodiesel dari minyak nabati pada 2030 dan dari minyak kelapa sawit pada 2021. Upaya itu akan diwujudkan rancangan Proposal Energi bertajuk Report on the Proposal for a Directive of the European Parliament and of the Council on the Promotion of the use of Energy from Renewable Spurces.

Menurut dia, di Eropa ada tiga pengambil keputusan. Yaitu, Parlemen Eropa, Komisi Eropa, dan Dewan Eropa. “Jadi mereka juga tidak satu suara. Bahkan, Komisi Eropa belum mempertimbangkan akan melanjutkan proposal tersebut,” katanya.

Pengusaha menyambut baik kabar tersebut. Menurut Sahat, hal ini memperlihatkan pemerintah jago melobi. “Untuk sawit memang tidak bisa dilakukan oleh swasta saja, tapi harus kerja sama dengan pemerintah,” ujarnya.

Dengan lampu hijau dari Eropa ini, kata dia, ekspor sawit ke Negeri Benua Biru akan kembali normal. Ekspor sawit RI ke Eropa pada April mencapai 100 ribuan ton. Sedangkan pada Maret hanya 35 ribu ton saja. “Januari-Februari nol. Karena dumping baru selesai Maret,” katanya.

Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan, tidak mudah melobi Eropa untuk menghentikan rencananya membatasi penggunaan sawit untuk campuran biodiesel. Bahkan, pemerintah harus melobi langsung ke Vatikan.

“Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan langsung turun ke Vatikan untuk bertemu Paus Fransiskus untuk menyampaikan surat dari Presiden Jokowi agar sawit kita bisa tetap masuk ke Eropa,” paparnya.

Vatikan pun akhirnya memutuskan untuk diadakan seminar membahas sawit. Selain dari Indonesia, pembicaranya berasal dari Nigeria dan Colombia. “Kunci lobi ada humanity dan peace,” ujarnya.

Menurut dia, dalam seminar tersebut diketahui jika sawit bisa meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan menciptakan perdamaian. Misalnya yang terjadi Columbia.

“Columbia dan pemberontak berhasil berdamai. Dan bekas pemberontak itu dikasih lahan sawit untuk perdamaian,” katanya.

Sebelumnya dalam konferensi internasional tentang pengentasan kemiskinan di Pontifical Urban University Vatikan di Roma. Selasa (15/5) lalu. Luhut mengatakan, perkebunan kelapa sawit telah menjadi instrumen yang efektif untuk mengentaskan kemiskinan. Indonesia dan Malaysia adalah dua negara yang telah membuktikan hal tersebut.

Di Indonesia ada 17 juta orang yang bekerja di sektor kelapa sawit, sedangkan di Malaysia sedikitnya 2 juta orang. Dari total 11,6 juta hektare perkebunan kelapa sawit Indonesia, 41 persen di antaranya adalah perkebunan rakyat.

Luhut mengatakan, sektor pertanian sangat penting dan menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Pada sub sektor pertanian, kelapa sawit merupakan penyumbang devisa ekspor terbesar yaitu sekitar 15.5 miliar Euro atau lebih dari Rp 250 triliun.

 

Sumber: Rakyat Merdeka

,

Potensi besar ekspor CPO dan turunannya ke Afrika

JAKARTA. Potensi pasar Afrika untuk industri produk minyak kelapa sawit dan turunannya dinilai sangat besar. Apalagi untuk produk soap noodle dan turunan olein.

“Potensinya besar karena industri sawit di Afrika belum banyak dan produk terutama soap noodle karena mereka sangat memerlukannya dan juga untuk bahan-bahan kosmetika,” jelas Ketua Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga saat dihubungi KONTAN, Minggu (3/6).

Sahat melanjutkan, sejumlah negara Afrika yang sudah membuka pasar untuk produk turunan CPO Indonesia adalah Afrika Selatan, Mozambik, Kenya, dan Maroko. Karena itu, rencana Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang bakal mendatangai Tunisia dan Maroko dalam waktu dekat, menurutnya bisa meningkatkan angka ekspor antar Indonesia dengan negara di Benua Hitam tersebut.

Apalagi menurut Sahat, pada sejumlah negara di Afrika, mi telah menjadi komoditas pangan yang sangat populer dimana konsumsi per kapita mencapai 8-12 kilogram. Kemudian bila perekonomian negaranya bagus, maka bisa naik hingga 22 kg per kapita.

Asal tahu, mengutip data Badan Pusat Statistik untuk ekspor mi dan mi instan dari Indonesia pada periode Januari hingga Maret 2018, volume ekspor pada periode tersebut mencapai 31,04 juta kilogram sedangkan nilainya sebesar US$ 52,19 juta. Angka ini naik cukup signifikan dibanding periode sama tahun lalu dimana untuk volume ekspor naik 18% dari 26,66 juta kg sedangkan nilainya naik 27% dari US$ 41,06 juta.

Sedangkan untuk minyak inti sawit olein, ekspor pada empat bulan pertama 2018 malah mengalami pengurangan nilai ekspor sebanyak 25,92% menjadi US$ 26,87 juta juta, namun volume pada periode tersebut naik 2,22% menjadi 24,02 juta kilogram.

Sekadar informasi, dalam setiap kemasan mi instan mengandung 20% minyak kelapa sawit yang memungkinkannya untuk segera matang setelah terkena air panas. Adapun hasil olahan olein kelapa sawit terkandung dalam berbagai produk kosmetik seperti shampoo, sabun, pasta gigi dan lipstik.

 

Sumber: Kontan.co.id

,

Industri Hilir Sawit Tetap Menjanjikan

 

Industri produk turunan sawit tetap menjanjikan karena ditopang kenaikan permintaan dari dalam dan luar negeri. Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menjelaskan industri hilir sawit tumbuh positif pada tahun ini baik untuk sektor minyak nabati, oleokimia, dan biodiesel.

Hal ini diungkapkannya dalam silaturahmi bersama media dengan tiga asosiasi industri hilir sawit yaitu Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI), Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN), di Jakarta, Kamis (31 Mei 2018).

Sahat mengatakan ada sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan positif industri hilir yaitu produk biodiesel tidak lagi dibebani tarif tinggi oleh Uni Eropa, diplomasi dagang pemerintahan Joko Widodo yang sangat aktif, tindakan retaliasi USA kepada sejumlah negara seperti Tiongkok, Meksiko maupun Uni Eropa, dan menguatnya kurs mata uang Amerika Serikat.

“Faktor inilah yang membawa angin segar bagi perdagangan sawit di pasar global,” kata Sahat.

Di tempat yang sama, Rapolo Hutabara, Ketua Umum APOLIN, memproyeksikan volume ekspor produk oleokimia tumbuh 22% menjadi 4,4 juta ton, dibandingkan tahun lalu berjumlah 3,6 juta ton. Peningkatan ekspor oleokimia ditopang tren kenaikan konsumsi global produk oleokimia di sektor kosmestik, industri, ban, dan pengeboran minyak.

Di dalam negeri, menurut Rapolo, kegiatan ekspor semakin menarik karena ada investasi baru oleokimia seperti PT Energi Sejahtera Mas dan Unilever. Seluruh faktor ini yang menopang pasokan industri oleokimia Indonesia ke pasar dunia. Nilai ekspor produk olekimia mencapai US$ 3,3 miliar pada 2017.

“Tahun ini, kami perkirakan nilai ekspor naik menjadi 3,6 miliar dolar. Sampai triwulan pertama, volume ekspor oleokimia 1,1 juta ton dengan nilai perdagangan 915 juta dolar,”kata Rapolo.

Di segmen minyak goreng, produk minyak goreng curah akan beralih kepada kemasan. Sahat Sinaga memperkirakan proses transisi ini akan selesai pada 2019. ” Nanti tahun 2020 tidak ada lagi minyak goreng yang dijual curah,”jelasnya.

Pada 2018, konsumsi minyak goreng domestik dikalkulasi mencapai 12,759 juta ton, lebih tinggi dari tahun lalu yang sebanyak 11,056 juta ton. “Tahun ini, penggunaan minyak sawit untuk dalam negeri masih didominasi untuk pangan. Dengan rincian, sebanyak 8,414 juta ton untuk makanan dan specialty fats. Sementara itu, 845 ribu ton untuk oleochemical dan soap noodle. Lalu, 3,5 juta ton memenuhi kebutuhan biodiesel,” kata Sahat.

Paulus Tjakrawan, Ketua Harian APROBI, mengakui tahun ini pemakaian biodiesel di dalam negeri naik sekitar 500 ribu. Kenaikan ini dapat terealisasi asalkan penggunaan biodiesel non-subsidi dapat berjalan. Ditambah dengan pemakaian biodiesel untuk campuran bahan bakar kereta api dan alat berat pertambangan.

“Jika konsumsi B-20 dipakai kereta api, maka konsumsi domestik bisa tambah sekitar 200 ribu sampai 500 ribu kiloliter,”ujar Paulus.

Angin segar lainnya adalah WTO memenangkan gugatan Indonesia terhadap kebijakan anti dumping Uni Eropa. Paulus juga menginformasikan bahwa Komisioener Eropa mengirimkan sinyal tidak mendukung resolusi sawit yang diusulkan Parlemen Eropa. Itu sebabnya, sejumlah produsen biodiesel menjajaki pengiriman biodiesel ke Eropa, yang sempat terhenti beberapa tahun terakhir.

“Diproyeksikan ekspor biodiesel Indonesia ke eropa mencapai 500 ribu kiloliter sampai akhir tahun ini. Walaupun, adapula biodiesel yang dijual ke negara lain, tapi jumlahnya kecil, ” pungkas Paulus.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

,

Industri Hilir Sawit Tumbuh Positif

JAKARTA – Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengungkapkan industri hilir sawit nasional mengalami pertumbuhan positif pada 2018 baik untuk sektor minyak nabati, oleokimia, maupun biodiesel.

Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga di Jakarta, Sabtu, mengatakan, ada sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan positif industri hilir yaitu produk biodiesel tidak lagi dibebani tarif tinggi oleh Uni Eropa, diplomasi dagang pemerintahan Joko Widodo yang sangat aktif, tindakan retaliasi AS dengan sejumlah negara seperti Tiongkok, Meksiko, maupun Uni Eropa, dan menguatnya kurs mata uang Amerika Serikat.

“Faktor inilah yang membawa angin segar bagi perdagangan sawit di pasar global,” kata Sahat dalam silaturahmi bersama media dengan tiga asosiasi industri hilir sawit yaitu Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI), Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN).

Sementara itu Ketua Umum APOLIN Rapolo Hutabarat, memproyeksikan volume ekspor produk oleokimia tumbuh 22 persen menjadi 4,4 juta ton, dibandingkan tahun lalu berjumlah 3,6 juta ton.

Peningkatan ekspor oleokimia ditopang tren kenaikan konsumsi global produk oleokimia di sektor kosmestik, industri, ban dan pengeboran minyak.

Di dalam negeri, menurut dia, kegiatan ekspor semakin menarik karena ada investasi baru oleokimia seperti PT Energi Sejahtera Mas dan Unilever.

Seluruh faktor ini yang menopang pasokan industri oleokimia Indonesia ke pasar dunia dengan nilai ekspor mencapai 3,3 miliar dolar AS pada 2017.

Tahun ini, tambahnya, diperkirakan nilai ekspor naik menjadi 3,6 miliar dolar sementara hingga triwulan pertama, volume ekspor oleokimia 1,1 juta ton dengan nilai perdagangan 915 juta dolar AS.

Untuk minyak goreng, menurut Sahat Sinaga, produk minyak goreng curah akan beralih kepada kemasan yang mana memperkirakan proses transisi ini akan selesai pada 2019.

“Nanti 2020 tidak ada lagi minyak goreng yang dijual curah,” ujarnya

Pada 2018, konsumsi minyak goreng domestik diperkirakan mencapai 12,759 juta ton, lebih tinggi dari tahun lalu yang sebanyak 11,056 juta ton

Tahun ini, lanjutnya, penggunaan minyak sawit untuk dalam negeri masih didominasi untuk pangan, dengan rincian, sebanyak 8,414 juta ton untuk makanan dan specialty fats. Sementara itu, 845 ribu ton untuk oleochemical dan soap noodle, lalu, 3,5 juta ton memenuhi kebutuhan biodiesel.

Menurut Paulus Tjakrawan, Ketua Harian APROBI, tahun ini pemakaian biodiesel di dalam negeri naik sekitar 500 ribu.

Kenaikan tersebut, lanjutnya, dapat terealisasi asalkan penggunaan biodiesel non-subsidi dapat berjalan, ditambah dengan pemakaian biodiesel untuk campuran bahan bakar kereta api dan alat berat pertambangan.

“Jika konsumsi B-20 dipakai kereta api, maka konsumsi domestik bisa tambah sekitar 200 ribu sampai 500 ribu kiloliter,”ujar Paulus.

Sementara itu, menurut Paulus, keputusan WTO yang memenangkan gugatan Indonesia terhadap kebijakan anti dumping Uni Eropa menjadi angin segar bagi industri sawit nasional.

Selain itu Komisioner Eropa mengirimkan sinyal tidak mendukung resolusi sawit yang diusulkan Parlemen Eropa, sehingga, sejumlah produsen biodiesel menjajaki pengiriman biodiesel ke Eropa, yang sempat terhenti beberapa tahun terakhir.

“Diproyeksikan ekspor biodiesel Indonesia ke eropa mencapai 500 ribu kiloliter sampai akhir tahun ini. Walaupun, adapula biodiesel yang dijual ke negara lain, tapi jumlahnya kecil,” ujarnya. (gir).

 

Sumber: Okezone.com

,

Industri Hilir Sawit Tumbuh Positif Tahun Ini

 

JAKARTA – Industri produk turunan sawit tetap menjanjikan karena ditopang kenaikan permintaan dari dalam dan luar negeri. Data menunjukkan industri hilir sawit untuk sektor minyak nabati, oleokimia, dan biodiesel tahun ini tumbuh positif.

Demikian dikemukakan Sahat Sinaga, direktur eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) dalam silaturahmi bersama media dengan tiga asosiasi industri hilir sawit yaitu Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi), Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) di Jakarta, Kamis (31/5).

Sahat mengatakan ada sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan positif industri hilir yaitu produk biodiesel tidak lagi dibebani tarif tinggi oleh Uni Eropa, diplomasi dagang pemerintahan Joko Widodo yang sangat aktif,  tindakan retaliasi USA  dengan sejumlah negara seperti Tiongkok, Meksiko maupun Uni Eropa, dan menguatnya kurs mata uang Amerika Serikat.

“Faktor inilah yang membawa angin segar bagi perdagangan sawit di pasar global,” kata Sahat.

Di tempat yang sama, Rapolo Hutabarat, ketua umum Apolin, memproyeksikan volume ekspor produk oleokimia tumbuh 22% menjadi 4,4 juta ton, dibandingkan tahun lalu berjumlah 3,6 juta ton. Peningkatan ekspor oleokimia ditopang tren kenaikan konsumsi global produk oleokimia di sektor kosmestik, industri, ban, dan pengeboran minyak.

Di dalam negeri, menurut Rapolo, kegiatan ekspor semakin menarik karena ada investasi baru  oleokimia seperti PT Energi Sejahtera Mas dan Unilever. Seluruh faktor ini yang menopang pasokan industri oleokimia Indonesia ke pasar dunia. Nilai ekspor produk olekimia mencapai US$ 3,3 miliar  pada 2017.

“Tahun ini, kami perkirakan nilai ekspor naik menjadi 3,6 miliar dolar. Sampai triwulan pertama, volume ekspor oleokimia 1,1 juta ton dengan nilai perdagangan 915 juta dolar,”kata Rapolo.

Di segmen minyak goreng, produk minyak goreng curah akan beralih kepada kemasan. Sahat Sinaga memperkirakan proses transisi ini akan selesai pada 2019. ” Nanti tahun 2020 tidak ada lagi minyak goreng yang dijual curah,”jelasnya.

Pada 2018, konsumsi minyak goreng domestik dikalkulasi mencapai 12,759 juta ton, lebih tinggi dari tahun lalu yang sebanyak 11,056 juta ton. “Tahun ini, penggunaan minyak sawit untuk dalam negeri masih didominasi untuk pangan. Dengan rincian, sebanyak 8,414 juta ton untuk makanan dan specialty fats. Sementara itu, 845 ribu ton untuk oleochemical dan soap noodle. Lalu, 3,5 juta ton memenuhi kebutuhan biodiesel,” kata Sahat.

Paulus Tjakrawan, Ketua Harian Aprobi, mengakui tahun ini pemakaian biodiesel di dalam negeri naik sekitar 500 ribu. Kenaikan ini dapat terealisasi asalkan penggunaan biodiesel non-subsidi dapat berjalan. Ditambah dengan pemakaian biodiesel untuk campuran bahan bakar kereta api dan alat berat pertambangan.

“Jika konsumsi B-20 dipakai kereta api, maka konsumsi domestik bisa tambah sekitar 200 ribu sampai 500 ribu kiloliter,”ujar Paulus.

Angin segar lainnya adalah WTO memenangkan gugatan Indonesia terhadap kebijakan anti dumping Uni Eropa. Paulus juga menginformasikan bahwa Komisioner Eropa mengirimkan sinyal tidak mendukung resolusi sawit  yang diusulkan Parlemen Eropa. Itu sebabnya, sejumlah produsen biodiesel menjajaki pengiriman biodiesel ke Eropa, yang sempat  terhenti beberapa tahun terakhir.

“Diproyeksikan ekspor biodiesel  Indonesia ke eropa mencapai 500 ribu kiloliter sampai akhir tahun ini. Walaupun, adapula  biodiesel yang dijual ke negara lain, tapi jumlahnya kecil, ” pungkas Paulus.

 

Sumber: Id.beritasatu.com

,

Produsen Minyak Nabati Eropa Diduga Lakukan Dumping

 

Gabungan ndustri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) membuat eksaminasi yang bertujuan mengetahui kebijakan dumping oleh produk minyak nabati kemasan atau bermerek asal Eropa. Kondisi ini berdampak buruk kepada industri minyak goreng di dalam negeri.

Dugaan dumping ditujukan kepada minyak nabati jenis soft oils dari Uni Eropa antara lain minyak kedelai, minyak kanola, minyak bunga matahari, minyak jagung, dan minyak rapak (rapeseed). Pasalnya minyak nabati tersebut produktivitasnya rendah sehingga memerlukan biaya produksi yang tinggi dan semestinya dijual dengan harga tinggi.

“GIMNI menduga keras harga soft oils yang diproduksi dengan biaya tinggi-sekali karena produktivitasnya rendah dan juga biaya pengolahannya tinggi. Semestinya saat masuk Indonesia juga menjadi mahal,” kata Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif GIMNI kepada sawitindonesia.com, Minggu (27 Mei 2018).

Sahat Sinaga menjelaskan ebagai pihak yang dirugikan, pihaknya akan melakukan pemeriksaan volume impor untuk minyak nabati secara umum.

Secara keseluruhan konsumsi minyak nabati rata-rata dari tahun 2014 sampai 2017, terutama di segmen pasar minyak goreng, shallow frying dan seasoning berada di level 14% per tahun. Yang menjadi perhatian GIMNI bahwa pemakaian minyak sawit bermerek untuk segmen pasar atas, hanya tumbuh berkisar 9% rata-rata per tahun.

Dalam kajian GIMNI, karakteristik dan pola makan masyarakat Indonesia adalah menggoreng, mulai dari pola menggoreng tumis-tumis ( shallow frying), menggoreng biasa dan deep frying ( umum dipakai untuk Fast Food ). Untuk jenis kriteria menggoreng, maka pemakaian soft oils adalah tidak cocok karena terbakar/menimbulkan api pada saat penggorengan).

Baru-baru ini informasi awal yang diperoleh GIMNI, volume import soft oils berkisar 68.000 – 70.000 ton setiap tahun. Padahal estimasi GIMNI untuk applikasi seasoning ( salad dressing dan tumis-tumis), dibutuhkan oleh Indonesia berkiasar 25.000 – 30.000 ton per tahun.

Berpijak dari data tadi, dikatakan Sahat, membuat GIMNI punya indikasi awal bahwa ada penetrasi pasar minyak yang seharusnya mahal sekali, menyusup ke segmen pasar penggorengan dengan harga yang rendah.

“Ada kemungkinan soft-oils tersebut di-hydrogenasi ( mengandung trans-fatty acids, yang sudah dilarang dimana-mana) tapi tetap dipakai oleh industri makanan cepat saji,”jelasnya.

Sahat menyebutkan GIMNI sedang melakukan eksaminasi untuk mengetahui apakah minyak soft oils ini masuk ke Indonesia dengan pola subsidi karena volume impor yang begitu besar telah berdampak pada penurunan perkembangan pasar minyak goreng (branding) sawit di dalam negeri.

Jika ada indikasi subsidi, dan dumping yang dijalankan produsen minyak nabati dari Eropa, maka GIMNI akan akan mengajukan pengaduan ke Kementerian Perdagangan dan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) untuk diteruskan ke masing-masing negara pengekspor soft oils yang diduga tadi.

Sementara itu, Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan mengatakan GIMNI masih melakukan eksaminasi atau penyelidikan apakah ada unsur dumping atau subsidi atas minyak nabati asal Eropa tersebut.

“Kami masih menunggu pengaduan dari masyarakat, termasuk dari GIMNI. Bilamana pengaduan diajukan, investigasi akan dilakukan KADI berdasarkan pengaduan tadi,”pungkas Oke.

 

Sumber: Sawitindonesia.com