,

Industri Hilir Kelapa Sawit Terus Dikembangkan Untuk Kesehatan dan Kecantikan

Industri hilir kelapa sawit saat ini kian bertumbuh. Berbagai hasil produk turunan dari sawit pun berhasil dipasarkan baik untuk kesehatan dan kecantikan. Menurut Darmono Taniwiryono, Direktur PT Nutri Palma Nabati, sejauh ini produk yang dikembangkan adalah minyak red virgin palm oil.

“Yang kami kembangkan di PT Nutri Palma Nabati adalah red virgin palm oil yang dikemas dengan nama minyak Salmira. Kami juga produksi saset untuk dikonsumsi langsung,” kata Darmono, Senin (8/10).

Darmono menyebut, pengembangan industri hilir berupa red virgin palm oil ini memiliki banyak keunggulan terutama dalam mengatasi stunting (gizi buruk). Ini karena kandungan minyak red virgin palm oil mengandung komposisi omega 3, omega 6 dan omega 9 dan vitamin yang terkandung dalam sawit.

“Formulasinya yang sudah kami buat dengan omega 3 yang lebih tinggi sehingga nanti komposisi omega 3, omega 6 dan omega 9 seimbang bagus untuk kesehatan,” kata Darmono.

Alumni Institut Pertanian Bogor ini menyebut bahwa berdasarkan penelitiannya, satu dari tiga balita yang mengalami stunting dapat diatasi dengan mengkonsumsi red virgin palm oil. Menurutnya butuh 300.000 hektare sawit untuk memperbaiki kondisi stunting di Indonesia.

Minyak sawit ini pun dapat digunakan untuk perawatan wajah, rambut, dan juga pengobatan kulit yang mengalami bekas luka ataupun luka bakar. “Produk kami juga ada untuk perawatan wajah, perawatan rambut, dan menyamarkan bekas luka. Itu komposisinya dengan tambahan vitamin A dan Vitamin E. Kalau ibu-ibu memang susah menerima bahwa minyak bisa digunakan sebagai bahan kecantikan, karena ini akan oily atau berminyak. Padahal aplikasi minyak ini hanya 10 sampai 15 menit saja,” tegasnya.

Dari kunjungan KONTAN ke Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), terlihat bahwa pengembangan sawit tidak terbatas pada minyak, namun juga perawatan wajah (cream) yang mampu mengatasi keriput dan noda hitam di wajah. Selain itu beberapa produk dari sawit yang saat ini mulai dipasarkan, antara lain sabun, lilin, lotion, minyak goreng, mentega, roti, biscuit dan masih banyak lagi.

“Permasalahannya di Indonesia, apapun yang warnanya putih jernih itu adalah bagus. Minyak juga begitu, yang warnanya putih dinilai lebih bagus bagus padahal itu menyimpang dari alam. Justru yang berwarna itu yang lebih kaya,” tegasnya.

Lebih rinci, dalam setahunnya rata-rata produksi sawit PT Nutri Palma Nabati masih sangat kecil dengan olahannya 250 kg tandan buah segar per jam, sedangkan normalnya pabrik sawit besar adalah 60 ton sampai 90 ton per jam.

Pabrik Nutri Palma ini beroperasi sejak 2016. “Kami masih kecil, dalam satu bulan kami mampu mengolah tidak sampai 10 ton, untuk target tahunan kami 76,8 ton dengan hitungan 8 jam per hari operasi,” rincinya.

Nutri Palma memiliki luas kebun sawit 500 hektare di Bogor, Jawa Barat. Darmono mengatakan, pihaknya akan ekspansi kebun rencananya akan ekspansi ke Sumatra Utara.

“Produksi terbesar sawit itu Riau kedua Sumut. Ada 4 juta ton per tahun di Sumatra Utara. Kalau di Riau ada 7 juta ton per tahun,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga.

 

Sumber: Kontan.co.id

,

Bahan Bakar Sawit Butuh Dukungan

MEDAN – Pemerintah diharapkan mempercepat pengembangan industri hilir sawit, khususnya produk bahan bakar cair berbasis minyak kelapa sawit yang diperkirakan membutuhkan investasi Rp8 15 triliun- Rp840 triliun hingga 2025.

Sahat M. Sinaga, Direktur Eksekutif Cabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), menuturkan sawit dapat dikembangkan menjadi empat varian produk yakni bahan makanan, bahan bakar, produk kimia, dan bahan bakar.

Untuk bahan bakar, penghiliran minyak sawit di dalam negeri sudah dapat menghasilkan green diesel (Cetane Number 80), green gasoline (Ron 96-98), dan green avtur (dengan titik beku37 derajat celcius dan -60 derajat celcius.

“Dengan harga minyak US$70 maka kami [industri hilir) sudah bisa memproduksi [memiliki nilai keekonomian],” kata Sahat, Senin (8/10).

Green diesel dikenal juga dengan solar. Bahan bakar ini banyak digunakan oleh mesin industri, alat transportasi umum, dan pertambangan. Gasolin lebih dikenal dengan nama bensin dan banyak digunakan oleh kendaraan pribadi.

Sementara itu, avtur merupakan bahan bakar untuk pesawat. Produk ini membutuhkan titik beku jauh di bawah nol agar pesawat tidak mati ketika terbang di ketinggian.

Sahat menuturkan, dengan teknologi yang ada saat ini, dari 1 ton crude palm ad (CPO) dapat dihasilkan 524 – 5,96 barel setara bahan bakar cair. Skala uji coba produksi akan dimulai pada akhir kuartal IV/2018 untuk gasolin, sedangkan avtur akan mulai diproduksi pada awal 2019.

Indonesia diperkirakan membutuhkan 104,2 juta kiloliter bahan bakar cair pada 2025. Pada tahun ini, penggunaan bahan bakar secara nasional berkisar 75,7 juta kiloliter.

“Kami estimasi dengan 27% menggunakan campuran bahan bakar cair berbasis sawit, akan ada tambahan permintaan 26,9 juta CPO untuk bahan baku,” katanya.

Dengan kondisi ini, peningkatan produksi CPO pada 2025 diperkirakan mencapai 72 juta ton dapat terserap karena 60% dari produksi minyak sawit saat itu akan dikonsumsi di dalam negeri.

Minyaksawituntuk bahan bakar ini juga akan mengakhiri ketidakpastian penyerapan produksi minyak sawit dan turunannya di pasar utama seperti India dan Uni Eropa. “Kita akan menjadi pemboros terbesar, kalau tidak dipakai [kombinasikan bahan bakar cair berbasis minyaksawitini],” kata Sahat.

Dengan tingkat pemakain diesel, bensin, dan avtur sebesar 41%, 49%, dan 10% dari total bahan bakar nasional, GIMNI meyakini pemerintah dapat menghemat US$45,7 miliar dari pengalihan impor bahan baku fosil ke bahan bakar berbasis sawit.

Nilai penghematan ini diperkirakan mencapai US$157,2 miliar pada 2030. “Pertanyaannya apakah kebijakan pemerintah menjadikan sawit ini mati atau akan tetap dihidupkan,” katanya.

Sahat menilai, saat ini kampanye negatif terhadap sawit sangat gencar. Pada saat yang sama, beberapa kebijakan ekonomi yang menekan industri juga diambil oleh sejumlah negara.

Dia mencontohkan, India sebagai konsumen terbesar menerapkan bea masuk 54% untuk produk hilir dan 34% pada CPO. Sejumlah tekanan lain juga dihadapi oleh produk sawit termasuk ancaman penghentian penggunaan biosolar di negara-negara Eropa berbahan sawit.

Frisda R. Panjaitan, Peneliti pada Pusat Penelitian Kelapa sawit (PPKS) Medan, menuturkan pada dasarnya, apapun yang dapat diproduksi dari olahan minyak bumi dapat dihasilkan juga oleh minyak sawit.

Saat ini, dia tengah mengembangkan bioplastik berbasis minyak dan biomassa sawit Dia menuturkan, produk plastik dari sawi tini lebih aman untuk lingkungan. PPKS Medan menyebutkan kebutuhan bioplastik dunia akan meningkat dari 1,7 juta ton pada 2014 menjadi 7,8 juta ton pada 2019.

Adapun, potensi konsumsi plastik di Indonesia mencapai 4 juta ton per tahun dengan 50% bahan baku didatangkan melalui impor.

DIKELOLA NEGARA

Sahat mengatakan, untuk mewujudkan bahan bakar berbasis minyak sawit ini, negara harus tampil sebagai pengelola. Perkebunan rakyat dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dijadikan basis produksi bahan baku.

Gabungan produksi kebun rakyat dan PTPN akan mencukupi kebutuhan bahan baku yang dibutuhkan untuk memproduksi-bahan bakar cair berbasis sawit Sementara itu, pihak swasta bergerak di produk hilir seperti bahan kimia ataupun produk bahan pangan.

“Dengan pola ini, harga bahan bakar tidak dapat dipermainkan, karena kalau diserahkan pada swasta sepenuhnya, harga akan rentan dan berfluktuasi,” katanya.

Edy Sutopo, Direktur Industri Hasil Hutan Perkebunan Kementerian Perindustrian, menuturkan tengah mendorong industry hilir sawit agar berkembang lebih luas. Menjadikan minyak sawit menjadi bahan bakar adalah salah satu upaya yang harus dipercepat.

“Ada 32 juta jiwa yang bergantung hidupnya terhadap sawit.sawit juga menjadi penyumbang ekspor terbesar,” katanya.

Dengan besarnya jumlah penduduk yang bergantung dan pentingnya produk sawit terhadap ekonomi nasional, pihaknya akan mengundang lebih banyak investasi untuk dengan menawarkan dukungan insentif fiskal bagi industri ini.

 

Sumber: Bisnis Indonesia

,

Industri Hilir Perkebunan Domestik Terus Diperluas

 

MEDAN. Industri hilir atau pengolahan sejauh ini terus mengejar ketinggalan dibanding negara tetangga.

Kasubdit Industri Hasil Perkebunan Non Pangan Kementerian Perindustrian Lila Harsah Bachtiar, menyebut, hingga tahun 2015 pertumbuhan industri hilir sudah mencapai 154 jenis.

Sayangnya hingga 2018 ia masih belum memastikan jumlah industri hilir yang ada, namun ini diyakini pasti bertambah.

“Pada tahun 2010 kita punya 54 jenis industri hilir, 2015 kita punya 154 jenis produk hilir sedangkan Malaysia ada 200. Yang penting kita sudah mengejar ketertinggalan,” kata Lila saat ditemui di Grand Dhika Dr Mansyur Medan, Senin (8/10).

 

Menurut Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga, dalam industri hilir terdapat tiga sektor antara lain RFM (Refine, Fraksionasi dan Modifikasi), oleochemical, dan biodiesel yang semuanya sudah dikembangkan.

“Sudah jalan, kelompok RFM itu seperti margarin, minyak goreng, sortening, speciality fat. Untuk oleochemical ada fetty acid dan fetty alcohol,” ungkap Sahat.

Sahat menyebutkan bahwa jumlah industri hilir sangatlah banyak, misalkan saja Biodiesel yang memiliki kapasitas produksi hampir 12 juta kilo liter per tahun atau untuk tahun 2018 diprediksi jumlah produksi mencapai 4,2 juta ton.

“Industri hilir itu banyak, untuk biodiesel paling nanti PSO dan non PSO di 2019 itu kira-kira 5,6 juta ton, jadi masih dibawah kapasitas. Sedangkan di tahun 2018 ini diprediksi 4,2 juta ton,” ujar Sahat.

Lebih lanjut dikatakan bahwa industri hulu dan hilir rata-rata menyumbang pajak 23% dari total pajak nasional dan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 12,8 triliun untuk sawit.

Oleh sebab itu, perlu dibangun kemandirian di sektor hilir dimana produk hilir lebih diminati pasar, ini berdasarkan prediksi penurunan ekspor Crude Palm Oil (CPO) di tahun 2018 ini.

“Ke depannya perlu memelihara hubungan yang baik dengan konsumen. Ekspor CPO Tahun 2017 adalah 8,2 juta ton, pada 2018 diprediksi 6,8 juta ton. Karena apa? orang di luar negeri itu lebih suka produk hilir,” ungkap Sahat.

Demand yang berasal dari produk hilir ini kemudian diharapkan dapat mendorong kemandirian dalam hilirisasi seperti pangan, oil chemical dan perluasan biodiesel.

“Hilirisasi perlu didorong untuk mendukung produk sawit yang memiliki marketbesar,” tegasnya.

Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan, Edy Sutopo menjelaskan hingga akhir tahun ini ada beberapa industri hilir yang akan diresmikan. Beberapa industri hilir tersebut antara lain hilir sawit, hilir kayu dan hilir selulosa.

“Yang jelas di Riau (Kerinci) ada kertas. Yang di Sumatera Selatan, di PT. OKI. kertas tisu dengan kapasitas 500 ribu ton per tahun. Oil chemical di Dumai, Wilmar yang di Gresik,” ungkap Edy.

 

Sumber: Kontan.co.id

,

Berapa Penghematan Pemerintah Jika CPO Jadi Bahan Bakar? Ini Hitungannya

 

Pemerintah diharapkan mempercepat pengembangan industri hilir sawit, khususnya produk bahan bakar cair berbasis minyak sawit yang diperkirakan membutuhkan investasi Rp815 triliun hingga Rp840 triliun hingga 2025.

Sahat M. Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menuturkan sawit dapat dikembangkan menjadi empat varian produk yakni bahan makanan, bahan bakar, produk kimia, dan bahan bakar.

Untuk bahan bakar, hilirisasi minyak sawit di dalam negeri sudah dapat menghasilkan green diesel (Cetane Number 80), green gasoline (Ron 96-98), dan green avtur (dengan titik beku -37 derajat celcius dan -60 derajat celcius.

“Dengan harga minyak US$70 maka kami [industri hilir] sudah bisa memproduksi [memiliki nilai keekonomisan],” kata Sahat, Senin (8/10).

Green diesel dikenal juga dengan solar. Bahan bakar ini banyak digunakan oleh mesin industri, alat transportasi umum, dan pertambangan. Gasoline lebih dikenal dengan nama besin dan banyak digunakan oleh kendaraan pribadi.

Sementara itu, avtur merupakan bahan bakar untuk pesawat. Produk ini membutuhkan titik beku jauh di bawah nol agar pesawat tidak mati ketika terbang di ketinggian.

Sahat menuturkan, dengan teknologi yang ada saat ini, dari 1 ton crude palm oil (CPO) dapat dihasilkan 5,24 – 5,96 barel setara bahan bakar cair. Skala uji coba produksi akan dimulai pada akhir kuartal IV/2018 untuk gasoline, sedangkan avtur akan mulai diproduksi pada awal 2019.

Indonesia diperkirakan membutuhkan 104,2 juta kiloliter bahan bakar cair pada 2025. Pada tahun ini, penggunaan bahan bakar secara nasional berkisar 75,7 juta kiloliter.

“Kami estimasi dengan 27% menggunakan campuran bahan bakar cair berbasis sawit, akan ada tambahan permintaan 26,9 juta CPO untuk bahan baku,” katanya.

Dengan kondisi ini, peningkatan produksi CPO pada 2025 diperkirakan mencapai 72 juta ton dapat terserap karena 60% dari produksi minyak sawit saat itu akan dikonsumsi di dalam negeri.

Minyak sawit untuk bahan bakar ini juga akan mengakhiri ketidakpastian penyerapan produksi minyak sawit dan turunannya di pasar utama seperti India dan Uni Eropa. “Kita akan menjadi pemboros terbesar, kalau tidak dipakai [kombinasikan bahan bakar cair berbasis minyak sawit ini],” kata Sahat.

Dengan tingkat pemakain diesel, bensin, dan avtur sebesar 41%, 49%, dan 10% dari total bahan bakar nasional, GIMNI meyakini pemerintah dapat menghemat US$45,7 miliar dolar dari pengalihan impor bahan baku fosil.

Nilai penghematan ini diperkirakan mencapai US$157,2 miliar pada 2030. “Pertanyaannya apakah kebijakan pemerintah menjadikan sawit ini mati atau akan tetap dihidupkan,” katanya.

 

Sumber: Bisnis.com

,

Kebijakan Eropa berlakukan ILUC akan kurangi ekspor biodiesel sebanyak 2,3 juta ton

JAKARTA. Terkait dengan kebijakan Eropa memberlakukan Indirect Land Use Change (ILUC), dinilai akan berdampak pada berkurangnya ekspor biodiesel sebanyak 2,3 juta ton tahun depan. Saat ini, komisi Eropa memberikan tenggat waktu hingga Februari 2019 untuk menyusun kriteria ILUC.

Melalui penyusunan kriteria ILUC tersebut, akan disusun kategori penggunaan lahan tidak langsung yang berisiko rendah (low risk) atau tinggi (high risk), di dalam kebijakan renewable energy directive II (RED II).

Sahat Sinaga, Wakil Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) menilai tidak ada standar aturan ILUC dan hanya Negara Eropa yang menggunakan aturan ini sebagai kriteria untuk komoditi sawit.

“Sedangkan ILUC itu standarnya apa ? enggak ada. Cuma dia secara kualitatif disebutkan bahwa ILUC itu harus diterapkan untuk Crude Palm Oil (CPO). Lalu di Eropa apa yang akan dipakainya, kenapa ini hanya dikenakan untuk CPO saja. Itukan seolah-olah diskriminatif,” ungkapnya.

Sahat menyebut bahwa kriteria high risk dan low risk ini bersifat kualitatifa dan hanya dilakukan untuk menolak biodiesel Indonesia di Eropa.

Lebih rinci dijelaskan bahwa Eropa menggunakan CPO sebanyak 4,3 ton per tahun, atau 2,2 ton adalah berupa biodiesel. Jika itu tidak dibeli jadi jumlah ekspor CPO hanya 2,1 ton per tahun dan menurun.

“Pasti ada dampaknya bahwa Eropa tidak akan menggunakan CPO kita lagi yang volumenya mencapai 4,5 juta ton. Selanjutnya ekspor akan ditiadakan untuk Eropa karena pemberlakuan ILUC ini tidak memperbolehkan,” ungkapnya.

 

Sumber: Kontan.co.id

,

Eropa Batasi ekspor CPO, DMSI: Masih Ada Pangsa Pasar Negara Lain

JAKARTA. Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) menilai kesepakatan Uni Eropa dalam Renewable Energy Directive II (RED II) terkait minyak nabati terlalu menggunakan referensi dari Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Saat ini, komisi Eropa memberikan tenggat waktu hingga Februari 2019 untuk menyusun kriteria ILUC.

Melalui penyusunan kriteria ILUC tersebut, akan disusun kategori penggunaan lahan tidak langsung yang berisiko rendah (low risk) atau tinggi (high risk), di dalam kebijakan renewable energy directive II (RED II).

Sahat Sinaga, Wakil Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) menyebutkan bahwa tidak perlu ada yang dikhawatirkan jika kebijakan ini diberlakukan. Ia menyebut bahwa sejauh ini pangsa pasar CPO bukan hanya Eropa saja.

“Tapi kenapa Indonesia harus khawatir? Pasar kita kan ada di Afrika Timur,” katanya saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (2/10).

Menurut Sahat, sentiment dari Eropa yang memiliki sifat kolonialisme masih ada. Bahkan Sahat menilai Eropa takut dengan adanya ekspor CPO dapat membuat minyak nabati berbasis rapeseed akan terkalahkan dengan ekspor CPO Indonesia.

“Tidak usah khawatir, Eropa bilang itu silahkan saja, Kenapa kita harus ribut? Jangan Eropa berpikir hanya pasar itu dia (Eropa). Dia bikin kebijakan macam-macam itu karena khawatir kalau produk mereka seperti rapeseed oil tidak laku, jadi di bikin aturan-aturan itu,” ungkapnya.

 

Sumber: Kontan.co.id

,

Kemendag Percepat Peralihan Minyak Goreng Curah ke Kemasan

Jakarta – Kementerian Perdagangan mempercepat peralihan minyak goreng curah ke kemasan dengan memfasilitasi produsen  atau pengemas minyak berbahan baku sawit yang belum memiliki merek dagang, dengan menggunakan merek Minyakita.

“Merek ini telah dimiliki Kemendag dan telah terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia sejak 2009,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahya Widayanti di Jakarta, disalin dari Antara.

Tjahya menyampaikan prosedur penggunaan merek adalah dengan mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag. Langkah lainnya adalah Kemendag akan mendorong produsen minyak goreng untuk dapat bersinergi dengan pelaku usaha mikro dalam rangka mempercepat penyediaan sarana pengemasan. “Sebagai contoh penyediaan anjungan minyak goreng higienis otomatis (AMHO) yang baru saja diproduksi PT pindad,” ungkapnya.

Kebijakan minyak goreng wajib kemasan diatur melalui Permendag No 09/M-DAG/PER/2-/2016 tentang Perubahan Kedua Atas Permendag Nomor 80/M-DAG/PER/-10/2014 tentang Minyak Goreng Wajib Kemasan yang mewajibkan penjualan minyak goreng harus i .100–akan kemari. dan tidak boleh lagi dalam bentuk curah.

Kebijakan minyak goreng wajib kemasan ini juga untuk mendukung SNI minyak gorengsawityang akan diberlakukan wajib oleh Kementerian Perindustrian pada 31 Desember 2018. Namun, Tjahya menambahkan pemberlakuan kebijakan ini dievaluasi kembali karena adanya permintaan dari produsen yang menyampaikan bahwa jumlah industri pengemasan minyak goreng nasional masih terbatas.

Selain itu, pelaku usaha memerlukan waktu untuk menumbuhkan industri pengemas di daerah. Saat ini, Kemendag melakukan apaya mewajibkan produsen untuk memproduksi minyak goreng kemasan sederhana sebesar 20 persen dari total produksi minyak goreng nasional dan dijual dengan harga Rpl 1.000 per liter. “Hal ini untuk memberikan kesempatan kepada pelaku usaha mempersiapkan sarana dan prasarana pengemasan dalam rangka kewajiban kemas pada tahun 2020,” katanya.

Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) mendukung penggunaan mesjn Anjungan Minyak Goreng Higienis Otomatis (AMH-o) yang diproduksi PT Pindad untuk mengedarkan minyak curah yang menggunakan kemasan sederhana. “Kami mendukung mesin itu untuk diterapkan, karena banyak membantu efisiensi dari produsen penghasil minyak goreng/kata Direktur Eksekutif Gimni Sahat Sinaga.

Menurut Sahat, efisiensi bisa dimaksilkan karena kemasan pillow pack untuk minyak 1/2 liter dan 1/4 liter akan berisiko jika diproduksi di dalam pabrik, mengingat mesin yang digunakan memproduksi 800 kemasan per jam.

“Kalau dikemas pakai mesin itu akan bocor dia. Selain itu, setelah dikemas harus dimasukkan ke dalam box. Nah, dengan box itu, kontainaer yang seharusnya bisamengjrim 10 ton minyak, jadi hanya bisa 6 ton misalnya, karena ruangnya terpakai oleh box. Jadi mahal,” papar Sahat

Sehingga, dengan adanya mesin AMH-o, pengemasan minyak secara sederhana bisa dilakukan ditingkat pengecer, di mana produsen minyak akan memfasilitasi agar pengecer memiliki mesin tersebut berikut plastik kemasannya.

Nantinya, mesin tersebut akan dilengkapi dengan nama produsen minyak dan sistem pemosisi global yang akan mengukur jumlah minyak yang keluar dari mesin itu sendiri. “Dengan sistem pengukuran itu akan lebih mudah mengetahui berapa minyak yang terjual dari keseluruhan minyak yang didistribusikan ke pengecer. Jadi kontrolnya lebih mudah,” ujar Sahat

Kelebih anlainnya, lanjut Sahat, bagi konsumen yang membawa wadah sendiri saat membeli minyak goreng, maka akan mendapatkan uang pengembalian sebesar Rp700 per liter dari harga minyak Rpl 1.000 per liter. “Karena harga 11.000 per liter itu sudah termasuk kemasan. Makanya kalau bawa wadah sendiri dikembalikan Rp700 per liter atau Rp300 per 1/2 liter,” jelas Sahat.

Keuntungan bagi konsumen, Sahat menambahkan, tingkat higienitas dari minyak goreng tersebut akan lebih terjamin, sehingga kesehatan masyarakat pun diharapkan menjadi lebih baik.

AMH-o merupakan solusi atas terbitnya Peraturan yang mewajibkan peredaran minyak goreng curah menggunakan kantong kemasan.

 

Sumber: Harian Ekonomi Neraca

,

Bertemu Dirut BPDP-KS, Masyarakat Biohidrokarbon Tampilkan Potensi Bahan Bakar Berbasis Sawit

Masyarakat Biohidrokarbon Indonesia (MBI) menjelaskan peluang teknologi pengolahan minyak sawit dan minyak kernel dengan katalis untuk menghasilkan bahan bakar transportasi. Hal ini diungkapkan saat bertemu dengan Dono Boestami, Dirut Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit, Rabu (19 September 2018).

Sahat Sinaga, salah satu pencetus berdirinya Masyarakat Biohidrokarbon Indonesia, menjelaskan tujuan pertemuan dengan BPDP-KS untuk memberikan informasi peranan teknologi pengolahan minyak sawit dan minyak kernel dengan katalis. Teknologi ini telah dikembangkan peneliti Teknik Kimia Institut Teknik Bandung (ITB) yang mampu untuk menghasilkan greendiesel, biogasoline (semacam bensin) dan bioavtur berkualitas tinggi.

“Sementara itu, untuk menuju ke pengolahan ke tingkat komersial ( industri ), perlu pengembangan bertahap melalui demo pemakaian PO (Palm Oil) dan PKO (Palm Kernel Oil) dengan co-processing di kilang Pertamina berskala besar,” kata Sahat.

Sebagai informasi, Masyarakat Biohidrokarbon Indonesia terdiri dari peneliti, praktisi kilang minyak bumi, dan teknisi yang sudah berpengalaman di industri hulu dan hilir sawit.

Dalam pengembangan biohidrokarbon ini, kata Sahat Sinaga, BPDP-KS akan membantu pendanaan dalam hal pengadaan PO dan PKO untuk kebutuhan ujicoba. Sedangkan, Pertamina mempersiapkan peralatan dan teknisi ITB mengembangkan proses kondisi dari operasi ini.

Diharapkan kegiatan ini mulai berjalan pada 2019. Kemudian tahun 2020 dapat memulai pengolahan sawit menjadi biohidrokarbon.

Sahat mengatakan pemakaian biohidrokarbon mampu dan menghemat pembelian bahan bakar fosil sebesar US$ 31 juta/hari atau setara US$ 11,3 miliar/tahun). Lalu tahun-tahun berikutnya bisa menghemat devisa negara lebih baik lagi.

Hadir dalam pertemuan ini yaitu Dono Boestami (Dirut BPDP-KS),Catur Ariyanto Widodo  (Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan dan Manajemen Risiko BPDPKS). Serta anggota MBI antara lain Dr.Ir. Andreas W, Prof.Dr.Ir.Subagjo, Dr.Ir Nanang Untung, Sahat M.Sinaga, Dr.Ir.Tatang Hernas, dan Sapto Tranggono.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

,

Era Serba Mesin, Kini Ada “ATM” Minyak Goreng Curah

Tak hanya uang saja yang bisa diambil melalui mesin ATM. Kini, pembeli juga bisa mendapatkan minyak goreng melalui mesin Anjungan Minyak Goreng Higienis Otomatis (AMH-O).

Hal yang membanggakan, mesin ini hasil produksi dalam negeri loh, yaitu PT Pindad.

1. Industri mendukung penggunaan mesin AMH-O karena maksimalkan efisiensi

Era Serba Mesin, Kini Ada ATM Minyak Goreng CurahANTARA FOTO

Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mendukung penggunaan mesin AMH-O, yang diproduksi PT Pindad untuk mendistribusikan minyak curah dengan kemasan sederhana.

“Karena banyak membantu efisiensi dari produsen penghasil minyak goreng,” kata Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga, seperti dikutip dari situs Antara, Kamis (20/9).

Lebih lanjut dia menjelaskan, kemasan pillow pack untuk minyak 1/2 liter dan 1/4 liter akan berisiko jika diproduksi di dalam pabrik, mengingat mesin yang digunakan memproduksi 800 kemasan per jam.

“Kalau dikemas pakai mesin itu akan bocor. Selain itu, setelah dikemas harus dimasukkan ke dalam boks. Nah, dengan boks itu, kontainaer yang seharusnya bisa mengirim 10 ton minyak, Jadi, hanya bisa 6 ton, misalnya, karena ruangnya terpakai oleh boks. Jadi, mahal,” papar Sahat.

Oleh karena itu, dengan mesin anjungan minyak goreng tersebut, efisiensi bisa dimaksimalkan.

2. Mesin akan dilengkapi dengan nama produsen minyak

Era Serba Mesin, Kini Ada ATM Minyak Goreng Curahilustrasi minyak goreng (Pixabay)
LANJUTKAN MEMBACA ARTIKEL DI BAWAH

Dengan mesin AMH-O, pengemasan minyak secara sederhana bisa dilakukan di tingkat pengecer, di mana produsen minyak akan memfasilitasi agar pengecer memiliki mesin tersebut berikut plastik kemasannya.

Nantinya, mesin tersebut akan dilengkapi dengan nama produsen minyak dan sistem pemosisi global yang akan mengukur jumlah minyak yang keluar dari mesin itu sendiri.

“Dengan sistem pengukuran itu akan lebih mudah mengetahui berapa minyak yang terjual dari keseluruhan minyak yang didistribusikan ke pengecer. Jadi kontrolnya lebih mudah,” ujarnya.

3. Yang paling penting, ada cashback jika…

Era Serba Mesin, Kini Ada ATM Minyak Goreng CurahKoin rupiah (Pixabay)

Kelebihan lainnya, lanjut Sahat, bagi konsumen yang membawa wadah sendiri saat membeli minyak goreng, maka akan mendapatkan uang pengembalian (cashback) sebesar Rp700 per liter dari harga minyak Rp11.000 per liter.

“Karena harga Rp11.000 per liter itu sudah termasuk kemasan. Makanya, kalau bawa wadah sendiri dikembalikan Rp700 per liter atau Rp300 per 1/2 liter,” jelas Sahat.

Keuntungan bagi konsumen, Sahat menambahkan, tingkat higienitas dari minyak goreng tersebut akan lebih terjamin, sehingga kesehatan masyarakat pun diharapkan menjadi lebih baik.

AMH-O merupakan solusi atas terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 9/MDAG/PER/2/2016 yang mewajibkan peredaran minyak goreng curah menggunakan kantong kemasan sederhana untuk mengganti peredaran minyak curah saat ini.

 

Sumber: Idntimes.com

,

Pelaku Industri Dukung Penggunaan Anjungan Minyak Goreng

Jakarta – Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mendukung penggunaan mesin Anjungan Minyak Goreng Higienis Otomatis (AMH-O), yang diproduksi PT Pindad untuk mendistribusikan minyak curah dengan kemasan sederhana.

“Kami mendukung mesin itu untuk diterapkan, karena banyak membantu efisiensi dari produsen penghasil minyak goreng,” kata Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, efisiensi bisa dimaksimalkan karena kemasan pillow pack untuk minyak 1/2 liter dan 1/4 liter akan berisiko jika diproduksi di dalam pabrik, mengingat mesin yang digunakan memproduksi 800 kemasan per jam.

“Kalau dikemas pakai mesin itu akan bocor. Selain itu, setelah dikemas harus dimasukkan ke dalam boks. Nah, dengan boks itu, kontainer yang seharusnya bisa mengirim 10 ton minyak, jadi, hanya bisa 6 ton misalnya, karena ruangnya terpakai oleh boks. Jadi, mahal,” papar Sahat.

Sehingga, dengan mesin AMH-O, pengemasan minyak secara sederhana bisa dilakukan di tingkat pengecer, di mana produsen minyak akan memfasilitasi agar pengecer memiliki mesin tersebut berikut plastik kemasannya.

Nantinya, mesin tersebut akan dilengkapi dengan nama produsen minyak dan sistem pemosisi global yang akan mengukur jumlah minyak yang keluar dari mesin itu sendiri.

“Dengan sistem pengukuran itu akan lebih mudah mengetahui berapa minyak yang terjual dari keseluruhan minyak yang didistribusikan ke pengecer. Jadi kontrolnya lebih mudah,” ujarnya.

Kelebihan lainnya, lanjut Sahat, bagi konsumen yang membawa wadah sendiri saat membeli minyak goreng, maka akan mendapatkan uang pengembalian sebesar Rp700 per liter dari harga minyak Rp11.000 per liter.

“Karena harga Rp11.000 per liter itu sudah termasuk kemasan. Makanya, kalau bawa wadah sendiri dikembalikan Rp700 per liter atau Rp300 per 1/2 liter,” jelas Sahat.

Keuntungan bagi konsumen, Sahat menambahkan, tingkat higienitas dari minyak goreng tersebut akan lebih terjamin, sehingga kesehatan masyarakat pun diharapkan menjadi lebih baik.

AMH-O merupakan solusi atas terbitnya Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 9/MDAG/PER/2/2016 yang mewajibkan peredaran minyak goreng curah menggunakan kantong kemasan sederhana untuk mengganti peredaran minyak curah saat ini. (antara/ans)

 

Sumber: Kurva.co.id