,

Di Tengah Pandemi, Pengusaha Lirik Ekspor CPO Kemasan ke Afrika Timur

 

Pandemi Covid-19 turut berdampak ke kinerja industri sawit. Untuk mendorong ekspor di tengah pandemi corona, pengusaha mulai melirik potensi ekspor minyak sawit mentah (CPO) dalam kemasan ke pasar Afrika Timur. “Ekspor terbatas tapi harus pandai dalam melihat pasar yang akan ditempuh. Shifting saja ke Afrika Timur,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga dalam diskusi online, Senin (16/6).

Sahat mengatakan, Afrika Timur yang terdiri dari 8 negara saat ini memiliki populasi penduduk hampir 380 juta orang,  sehingga kebutuhannya besar.

Namun, pelabuhan Afrika Timur tidak memiliki tangki besar untuk menampung CPO. Oleh sebab itu, Afrika Timur memilih menerima produk CPO dalam betuk kemasan di bawah 25 kilogram Sahat menjelaskan, pasar dunia memiliki 14 jenis minyak nabati. Hingga tahun ini, produksi minyak nabati diperkirakan mencapai 213 juta ton, yang mana 38% di antaranya merupakan sawit dan kernel.  Di sisi lain,  pasar nabati di dunia terus meningkat 7,3 juta ton setiap tahun. Dengan demikian, Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan ekspor CPO dalam bentuk kemasan.

Wakil Ketua Umum GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) Togar Sitanggang menambahkan, sampai saat ini Indonesia  belum mengekspor CPO dalam bentuk  kemasan atau jerigen. Adapun ekspor CPO saat ini masih dipasarkan dalam bentuk curah dengan tangki kontainer.

Pengemasan minyak saat ini lebih banyak dilakukan oleh sejumlah negara utama seperti Mesir, Yordania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. “Pada akhirnya, yang mengambil pasar minyak kemasan itu Timur Tengah, bukan kita,” ujar dia. Oleh karena itu, ia mendorong Indonesia untuk mengambil potensi pada industri pengemasan. Terlebih lagi, ada ceruk pasar yang besar di Afrika, yang berpenduduk sekitar 1 miliar jiwa.

Sumber: Katadata.co.id