Dirjen Perkebunan: Pola Kemitraan Plasma Lebih Baik Dari Satu Atap

 

 

Pola Kemitraan Inti-plasma mampu memberdayakan petani dari aspek transfer teknologi dan peningkatan kesejahteraan.  “”Atas dasar itulah kedepan petani wajib bermitra dengan perusahaan sebagai pembeli hasil petani ataupun sebagai bapak angkat,” kata Bambang Wahyu Dwiantoro, Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, di Jakarta, Rabu (21 Februari 2018)

Bambang menerangkan  lahirnya perkebunan kelapa sawit milik petani adalah pola kemitraan atau pola inti rakyat (PIR), di mana perusahaan sebagai mitra atau inti dari perkebunan milik rakyat tapi bukan pola manajemen satu atap.

Apabila menggunakan manajemen satu atap maka hak penguasaan atas lahan petani dikuasai oleh perusahaan atau semuanya dikelola adalah perusahaan dan petani tinggal menerima hasilnya. Pola seperti itu tidak mengedukasi petani atau masyarakat.

Menurut Bambang,  ada perbedaan mendasar antara manajemen satu atap dengan pola kemitraan atau inti plasma dimana perusahaan sebagai bapak angkat petani hanya menerima hasil dari petani, dan memberikan pelatihan-pelatihan kepada petani bagaimana cara budidaya yang baik sesuai Good Agriculture Practices (GAP). “Jadi pola kemitraan atau inti plasma berbeda dengan pola manajemen satu atap,” ujarnya.

Oleh karena itu, Bambang kembali menghimbau kepada petani, bagi yang sudah bermitra dengan perusahaan sebaiknya dijaga dengan baik atau bila perlu lebih dieratkan kembali.

“Namun, jika perusahaan dirasa petani sudah tidak memihak kepada petani silakan mencari mira yang lebih baik. Tapi juga jika perusahaan sudah melakukan hal yang terbaik untuk petani, petani juga jangan menjadi ‘anak yang durhaka’,” tukasnya.

Dalam kesempatan terpisah, Rino Afrino, Wasekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), mendukung pola kemitraan antara pelbagai pemangku kepentingan di sektor sawit sangat penting, termasuk dalam kaitannya untuk mengembangkan perkebunan rakyat.

“Tren menunjukkan adanya peningkatan pengelolaan lahan perkebunan rakyat. Salah satunya, lahan perkebunan yang dimanfaatkan untuk industri perkebunan kelapa sawit. Dan kita bisa melihat peran penting sawit dalam pengentasan kemiskinan dan pembangunan di wilayah pedesaan,” ujar Rino yang juga aktif sebagai pengurus Ikatan Keluarga Sungai Tapung (IKST).

Rino menjelaskan bahwa  edukasi petani sawit dapat melalui pelatihan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan melibatkan peran serta pemerintah maupun perusahaan besar. “Pengelolaan perkebunan rakyat yang lebih baik diharapkan dapat memperkokoh posisi strategis industri kelapa sawit, terutama dalam upaya pengentasan kemiskinan,” jelasnya.

 

Sumber: Sawitindonesia.com