,

Diskusi Webinar Majalah Sawit Indonesi Sesi-III Menjaga Ekspor Sawit Di Kala Pandemi

“Di saat pandemi ini, pemerintah dan pelaku industri perlu menjaga pasar ekspor. Kalau bisa dijaga saja itu sudah bagus. Jangan dulu bicara perluasan di kondisi sekarang. Makanya saya setuju sekali dengan tema diskusi (Majalah Sawit Indonesia) ini,” kata Dr. Rusman Heriawan, Ketua Dewan Pengawas Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit.

Majalah Sawit Indonesia mengadakan diskusi sesi-III Ngeriung Bicara Sawit (NGEBAS) pada 15 Juni 2020. Dalam sesi ini, Dr. Jerry Sambuaga, Wakil Menteri Perdagangan RI dihadirkan sebagai pembicara utama. Bersama pembicara lain yaitu Joko Supriyono (Ketua Umum GAPKI), Sahat Sinaga (Direktur Eksekutif GIMNI), dan M.Ferian (Plt. Direktur Kemitraan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit-BPDPKS).

“Dari kacamata global, ekspor sawit tetap surplus dari sekian banyak komoditas lain. Artinya, perdagangan komoditas ini tetap kondusif. Pemerintah berupaya menjaga daya saing produk sawit Indonesia di negara tujuan ekspor,” ujar Jerry Sambuaga, Wakil Menteri Perdagangan RI, saat menjadi pembicara diskusi webinar yang diadakan Majalah Sawit Indonesia bertemakan “Menjaga Pasar Ekspor Sawit di Kala Pandemi,  Senin (15 Juni 2020).

Pemerintah berupaya menjaga pasar ekspor sawit di luar negeri dalam rangka memperkuat ketahanan ekonomi dan devisa ekspor. Sampai kuartal pertama 2020, ekspor sawit tetap kondusif ditengah pandemi Covid-19. Sepanjang periode Januari-April 2020, merujuk data Kementerian Perdagangan RI, ekspor CPO dan turunannya mencapai USD 6,3 miliar dan berkontribusi bagi ekspor nonmigas sebesar 12,4%.

Jerry Sambuaga sangat optimistis terhadap prospek ekspor sawit Indonesia ke negara tujuan utama. Alasannya, kelapa sawit sangat efisiens dan ekonomis dari aspek harga dibandingkan minyak nabati lain seperti minyak kedelai, minyak rapak (rapeseed), dan minyak bunga matahari.

Kementerian Perdagangan mencatat sepanjang Januari sampai April 2020 terjadi peningkatan ekspor baik secara volume maupun nilai ekspor. Nilai CPO tumbuh signifikan 57.7%, dari USD 1.04 miliar menjadi USD 1.64 miliar. Sementara secara volume, ekspor CPO meningkat sebesar 13.3% dari 2.19 juta ton menjadi 2.48 juta ton. Hal ini dikarenakan terjadi peningkatan harga CPO akhir tahun 2019 sampai dengan awal tahun 2020.

Sebaliknya, produk turunan CPO seperti RBD Palm Olein (RBD PO) mengalami penurunan permintaan. Ekspor RBD Palm Olein anjlok cukup dalam pada periode Januari-April tahun 2020 (yoy), khususnya secaca volume dengan penurunan minus 28.8% yang berdampak kepada penurunan volumen menjadi 2,85 juta ton dari periode sama tahun lalu sebesar 4.01 juta ton. Imbasnya,  nilai ekspor RBD PO merosot 9.2%  menjadi USD 1,95 miliar dari periode sama tahun lalu sebesar USD 2,15 miliar.

Menurut Jerry, pandemi Covid-19 yang terjadi mulai akhir tahun 2019 berdampak kepada  ekspor minyak sawit dan turunannya dan juga secara umum perdagangan nasional. Ekspor CPO dan produk turunannya ke dunia melemah sejak awal Januari 2020. Telah terjadi penurunan yang cukup dalam jika dibandingkan bulan Desember 2019.

Untungnya, ekspor sawit dan produk turunan di beberapa negara masih menunjukkan tren positif dari Januari sampai April 2020. Sebagai contoh, ekspor CPO dan produk turunannya ke India naik 11,2 persen menjadi 1,64 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Begitupula dari nilai ekspornya ada pertumbuhan  55,3 persen menjadi US$1,09 miliar. Begitupula ekspor produk sawit ke Pakistan naik 22,3% menjadi US$ 452,7 juta dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar US$ 370,1 juta.

Namun, pengapalan sawit Indonesia ke China  terpangkas 54,3 persen menjadi hanya 879.000 ton di kuartal pertama 2020 dari periode sama tahun lalu sebanyak 1,93 juta ton. Dampaknya, nilai ekspor juga turun 48,5 persen dari US$ 966,1 juta menjadi US$ 497,4 juta.

Joko Supriyono, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menjelaskan bahwa sektor kelapa sawit tetap mampu bertahan dan  memberikan dampak ke semua sektor perekonomian  di tengah tekanan Covid-19. Apa lagi, pandemi Covid-19 sulit diperkirakan kapan akan berakhir, tetapi memasuki bulan Juni sudah banyak negara yang mulai beraktivitas dan memasuki era new normal.

“Industri sawit akan kami jaga daya saingnya. Apalagi, perusahaan di bawah anggota GAPKI telah menunjukkan tidak ada pengurangan karyawan (PHK) di tengah wabah,” ujar Joko.

Ditambahkan Joko bahwa perusahaaan sawit anggota GAPKI mendukung kebijakan pemerintah untuk menjaga ekspor sawit. Saat ini, Indonesia perlu membangun hubungan baik dengan negara tujuan utama seperti India, Pakistan, Bangladesh dan Tiongkok. Selain mengembangkan pasar baru tujuan ekspor yang lebih potensial contohnya negara di Afrika karena negara Afrika sedang tumbuh dan berkembang.

Di sisi lain, Joko mengusulkan agar pemerintah mengurangi hambatan ekspor seperti infrastruktur pelabuhan harus terus ditingkatkan kualitasnya, biaya logistik harus mulai diturunkan dan kewajiban pemakaian kapal nasional untuk ekspor harus dipertimbangkan kembali kebijakannya. Lalu, kampanye positif sawit tetap diperkuat terutama bagi negara-negara Eropa.

 

Sumber: Sawitindonesia.com