Ekonomi Kaltara Diprediksi Tumbuh Lebih Baik

 

Perang dagang AS-Tiongkok diperkirakan berdampak pada penurunan ekspor-impor kacang kedelai Hal tersebut akan membuat produk sawit Indonesia dapat menjadi pilihan.

PEMERINTAH Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) optimistis ekonomi daerahnya pada kumulatif 2019 tumbuh lebih baik-daripada tahun sebelumnya. Mereka memprediksi pertumbuhan ekonomi provinsi ke-34 di Tanah Air ini akan berada dalam kisaran 5,7%-6,l%.

Angka tersebut merupakan proyeksi penghitungan oleh Bank Indonesia Perwakilan Kaltara. Keyakinan itu didasari dengan membaiknya kinerja lapangan usaha industri pengolahan yang bersumber dari komoditas kelapa sawit (CPO), seiring dengan kenaikan permintaan yang didukung prospek perbaikan harga pada tahun ini.

Akselerasi kinerja pada lapangan usaha utama penambangan dan perdagangan serta meningkatnya kinerja ekspor luar negeri dan konsumsi rumah tangga menjadi pemicu utama pertumbuhan ekonomi Kaltara.

Gubernur Kaltara Irianto Lambrie mengungkapkan, berdasarkan hasil Indonesia palm oil Conference (IPOC) 2018, perang dagang AS-Tiongkok diperkirakan berdampak pada penurunan aktivitas ekspor-impor kacang kedelai. Hal tersebut akan membuat Tiongkok mencari sumber minyak nabati alternatif sehingga produk sawit Indonesia dapat menjadi pilihan yang tepat.

Tak hanya CPO, dari lapangan usaha konstruksi, berlanjutnya pembangunan infrastruktur di Kaltara juga turut menjadi penopang pertumbuhan. “Akselerasi pembangunan infrastruktur oleh pemerintah daerah diperkirakan tetap tinggi pada 2019,” jelas Irianto.

Pemerintah dan swasta memiliki beberapa proyek strategis bersifat multiyears, seperti pembangunan PLTA Kayan Tahap I, Kota Mandiri Tanjung Selor, RSUD Tipe B Tanjung Selor, rumah sakit Pertamina, gedung perkantoran, serta jalan paralel perbatasan akan menopang pertumbuhan lapangan usaha konstruksi.

Selain itu, konsumsi lembaga nonprofit rumah tangga (LNPRT) dan konsumsi pemerintah diperkirakan tumbuh lebih tinggi selama masa Pilpres dan Pileg 2019. Pertumbuhan ekonomi Kaltara pada tahun-tahun mendatang diharapkan tak lagi hanya mengandalkan pengelolaan sumber daya alam (SDA) mineral. Daerah juga harus menumbuhkan kegiatan ekspor dan perdagangan sebagai sumber pertumbuhan.

Berkaca dari tahun lalu, tercatat kontribusi pertumbuhan ekonomi nasional dari kawasan timur Indonesia paling rendah, termasuk Kalimantan. Itu karena SDA yang melimpah masih belum mampu dikelola dengan baik.

“Persoalannya, negara ini masih bertumpu pada konsumsi, belum pada produksi. Bila ingin menjadi negara modern, kita harus mengarahkan prospek perekonomian kepada ekspor dan perdagangan. Selama ini dua kegiatan tersebut masih terpusat di Pulau Jawa. Pemerintah di masa mendatang harus memiliki upaya untuk mengubahnya,” beber Irianto.

Pemprov merancang strategi untuk menopang geliat ekspor dan perdagangan di Kaltara, salah satunya menyediakan infrastruktur kelistrikan. “Konstruksi PLTA Kayan I dengan daya sekitar 900 mw dimulai Februari 2019. Semoga ini simultan dengan tahap II dan selanjutnya. Listrik yang tersedia akan digunakan untuk mengembangkan KIPI Tanah Kuning-Mangkupadi juga KBM Tanjung Selor dan kepentingan lain,” imbuh Irianto.

Batu bara

Meskipun begitu, Irianto mengakui bahwa aspek pertambangan masih menjadi penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar di Kaltara.

Laporan Perekonomian Provinsi Kalimantan Utara per Mei 2019 yang dirilis Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Kaltara menyebutkan, produksi batu bara diperkirakan mengalami peningkatan seiring dengan masih tingginya permintaan impor batu bara dari India.

Di samping itu, tren pelemahan harga batu bara yang masih terjadi diperkirakan menahan tingginya ekspor luar negeri di pertengahan tahun ini. Berdasarkan hasil liaison dengan pelaku usaha pertambangan di Kaltara, kondisi cuaca yang membaik pada triwulan II2019 akan berdampak pada peningkatan produksi batu bara meskipun koreksi harga diperkirakan masih terus terjadi.

Hal itu pula yang mendasari keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara (Kaltara) triwulan II2019 diperkirakan tumbuh pada level 7,12%-7,S2% (yoy), meningkat jika dibandingkan dengan tri-wulan 12019 sebesar 7,13% berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara.

Terpantau rata-rata harga harga batu bara acuan (HBA) periode April-Mei 2019 masih turun senilai US$85,43 per metrik ton. “Penurunan HBA yang terjadi dalam dua bulan terakhir, salah satunya disebabkan merosotnya indeks Global Coal Newcastle akibat terhambatnya ekspor batu bara Australia ke Tiongkok. Sejak akhir 2018, Tiongkok melakukan pembatasan impor batu bara,” jelas Irianto.

Selain itu, perlambatan perekonomian Tiongkok pada 2019 terjadi seiring dampak perang dagang pada sektor ekspor, konsumsi domestik, dan sektor industri. “Itu semua turut memberi dampak pada penurunan harga komoditas batu bara Kaltara,” papar Gubernur.

Analisis BI juga menyebut bahwa sektor lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan diperkirakan tetap tumbuh positif tapi melambat pada triwulan II 2019. “Produksi komoditas perikanan diperkirakan tumbuh meningkat seiring dengan naiknya konsumsi masyarakat memasuki momen HBKN dan menjadi penahan perlambatan lapangan usaha tersebut,” ulas Gubernur.

Lapangan usaha lain yang turut mendorong laju pertumbuhan ekonomi Kaltara triwulan II 2019, yaitu konstruksi. Mulai berjalannya proyek pembangunan utama di wilayah Kaltara diperkirakan menjadi faktor pendorong laju pertumbuhan ekonomi sepanjang triwulan II2019.

Ditaksir, lapangan usaha konstruksi akan mengalami akselerasi pada triwulan II 2019. Alasannya, keberlanjutan realisasi proyek gedung, rumah sakit Pertamina di Tarakan, dan pabrik industri CPO baru di Malinau dan Nunukan diperkirakan menopang kenaikan kinerja lapangan usaha konstruksi.

Selain itu, sektor konstruksi Kaltara juga didorong PLTA Sei Kayan. Masuknya periode evaluasi belanja pemerintah secara nasional dan daerah untuk periode tengah tahun ini diperkirakan mendorong realisasi berbagai proyek yang berpotensi menjadi akselerator pada pertumbuhan ekonomi lapangan usaha tersebut.

“Lapangan usaha perdagangan dapat tumbuh seiring dengan kenaikan konsumsi rumah tangga ketika momen Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 2019,” tutup Gubernur.

 

Sumber: Media Indonesia