Ekspor Sawit ke Pasar Tradisional Mulai Pulih

JAKARTA- Ekspor minyak sawit Indonesia ke pasar tradisional mulai pulih, misalnya ke Tiongkok yang meningkat hingga 37% menjadi 417 ribu ton pada April tahun ini. Harapannya, ekspor komoditas tersebut semakin meningkat pada bulan berikutnya seiring makin meredanya dampak pandemi global Covid-19.

Volume ekspor minyak sawit nasional pada Januari-April 2020 mencapai 10,31 juta ton atau lebih rendah 12,10% dari periode sama tahun sebelumnya, tapi secara nilai lebih tinggi 9,40% menjadi US$ 6,96 miliar.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono mengatakan, ekspor minyak sawit pada April dibanding Maret 2020 turun 77 ribu ton yakni 44 ribu ton dari refined palm oil dan 33 ribu ton dari minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Berdasarkan tujuannya, penurunan terbesar terjadi ke Bangladesh, Afrika, dan Timur Tengah masing -masing 118 ribu ton, 62 ribu ton, dan 56 ribu ton karena impor yang besar ketiga negara tersebut pada Maret. Sebaliknya, ekspor ke Pakistan naik 100% menjadi 201 ribu ton disebabkan impor yang sangat rendah pada Maret. “Ekspor ke Tiongkok naik 37% menjadi 417 ribu ton meskipun masih jauh lebih rendah dari ekspor April 2019 yang sebesar 730 ribu ton, sedangkan ekspor ke India dan Uni Eropa juga menunjukkan sedikit kenaikan. Tren yang positif ini akan berjalan terus dengan semakin meredanya pandemi Covid-19,” kata dia di Jakarta, Senin (8/6).

Di tengah pandemi Covid-19 yang telah berjalan lebih dari dua bulan, kegiatan operasional di perkebunan kelapa sawit dan pabrik kelapa sawit masih berjalan normal dengan mengikuti protokol pencegahan secara disiplin. Produksi CPO pada April 2020 mencapai 12,60% lebih tinggi dari produksi Maret, sedangkan konsumsi dalam negeri turun 6,60%, ekspor turun 2,80%, dan harga CPO turun dari rata-rata US$ 636 per ton pada Maret menjadi US$ 516 per ton (CIF Rotterdam) pada April sedangkan nilai ekspornya turun 10% dari US$ 1,82 miliar menjadi US$ 1,64 miliar. Dibandingkan Januari-April 2019, produksi CPO 2020 lebih rendah 12,20%, konsumsi dalam negeri lebih tinggi 6,20%, ekspor lebih rendah 12,10%, dan nilai ekspor 9,40% lebih tinggi yaitu US$ 6,96 miliar dibandingkan US$ 6,37 miliar. “Produksi yang lebih rendah dari tahun lalu merupakan efek bawaan dari kemarau panjang tahun lalu. Meningkatnya produksi pada April ini diharapkan merupakan titik awal fase kenaikan produksi musiman untuk tahun ini,” jelas Mukti.

Konsumsi dalam negeri pada April dibandingkan Maret turun 98 ribu ton disebabkan turunnya konsumsi biodiesel sebanyak 113 ribu ton akibat turunnya mobilitas masyarakat sedangkan lebih tingginya konsumsi biodiesel Januari-April 2020 dari tahun lalu disebabkan oleh implementasi program B30. Kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diduga menyebabkan konsumsi untuk keperluan pangan naik hanya 4.000 ton menjadi 725 ribu ton sedangkan konsumsi oleokimia naik 11 ribu ton menjadi 115 ribu ton karena meningkatnya pemakaian hand sanitizer dan sabun. “Konsumsi oleokimia masih akan bertahan meski ada pelonggaran PSBB karena protokol Covid-19 masih tetap diterapkan,” ungkap Mukti.

Ketua Bidang Luar Negeri Gapki Fadhil Hasan menuturkan, dalam kondisi seperti saat ini sulit bagi Indonesia untuk mencari pasar ekspor sawit baru, meski usaha itu tetap harus dilakukan seperti menuju pasar Afrika. Untuk jangka pendek, yang harus dilakukan Indonesia adalah tetap mempertahankan pasar yang sudah ada, sedangkan mencari pasar baru adalah untuk tujuan jangka menengah-panjang. “Di tengah penurunan permintaan minyak nabati termasuk minyak sawit karena pandemi Covid-19, mempertahankan pasar yang ada lebih baik, tapi mencari pasar baru juga tetap harus terus dilakukan,” kata Fadhil Hasan.

Sedangkan Direktur Eksekutif palm oil Agri business Strategic Policy Institute (Paspi) Tungkot Sipayung menuturkan, sambil menunggu pemulihan ekonomi secara total di Tiongkok, Indonesia bisa membidik pasar yang tidak terdampak Covid-19 seperti Afrika, juga melobi untuk meningkatkan ekspor ke Bangladesh dan Pakistan, juga ke India karena tidak semua bagian India melakukan lockdown. “Kesempatan bagi Indonesia untuk menggenjot ekspor minyak sawit khususnya minyak goreng ke negara dengan kelompok masyarakat menengah ke bawah relatif banyak seperti Afrika, mereka akan memilih minyak sawit karena lebih murah, apalagi dengan kondisi saat ini daya beli masyarakatnya turun sekali,” jelas dia.

Samai Tahun Lalu

Tungkot Sipayung menjelaskan, volume ekspor minyak sawit sepanjang tahun ini kemungkinan lebih rendah sedikit atau hanya mendekati tahun lalu. Asumsinya, mulai Juli ekonomi dunia benar-benar sudah recovery dari Covid-19 sehingga permintaan sawit naik. “Sekarang memang tersedia barang tapi penyerapannya tergantung bagaimana dunia menyelesaikan Covid-19 ini, sampai saat ini masih banyak negara lockdown sehingga aktivitas berkurang pun aktivitas distribusi sehingga ini menurunkan permintaan yang bisa merugikan produsen sawit,” kata dia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Gapki, ekspor minyak sawit nasional sepanjang 2019 mencapai 36,17 juta ton senilai US$ 19 miliar.

Pada Januari-Februari 2019 ekspor sawit RI mencapai 6,90 juta ton, tapi pada Januari-Februari 2020 hanya 4,90 juta ton, atau anjlok 20%. Penurunan terjadi terutama untuk ekspor minyak sawit olahan, seperti ekspor minyak goreng ke Tiongkok yang turun drastis karena negara itu memberlakukan lockdown. Ketika Tiongkok mulai recovery pada April, ditandai dengan dibukanya pabrik-pabrik di negara tersebut sehingga meningkatkan stok domestik migornya, India yang juga tujuan pasar sawit terbesar RI menyusul melakukan lockdown. “Semoga ketika India tidak lockdown ekspor ke negara itu bisa naik, tapi sayangnya sebelum lockdown ekspor sawit kita ke India pada Januari-Februari 2020 sudah turun 20%,” ujar Tungkot.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia