EMITEN CPO OPTIMISTIS MONCER

 

Sepanjang tahun berjalan 2020, indeks saham agrikultur tersungkur dengan kinerja paling buruk di antara 10 indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia. Hal itu sejalan dengan harga CPO yang bergerak turun.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak sawit mentah (crude palm oil) di bursa berjangka Malaysia menyentuh level 2.440 ringgit per ton pada perdagangan Rabu (26/2). CPO terkoreksi 18,27% sepanjang tahun berjalan 2020 kendati sempat menyentuh level tertinggi 3.070 ringgit per ton pada 2 Januari 2020.

Di lantai bursa, kinerja indeks saham agrikultur atau Jakagri terkoreksi 19,26% secara year-to-date. Kinerja indeks terbebani oleh melorotnya harga saham PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI), PT PP London Sumatera Indonesia Tbk. (LSIP), dan PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT). Kendati harga CPO masih dibayangi virus corona dan penurunan ekspor, sejumlah emiten perkebunan Kelapa Sawit tetap optimistis kinerja kuartal 1/2020 bakal baik.

Sekretaris Perusahaan PT Sawit Sumber-mas Sarana Tbk. Swasti Kartikaningtyas mengatakan perseroan mendapat tambahan permintaan CPO dari India. “Ekspor ke China terganggu karena permintaan dari sana menurun. Selain itu, barang juga susah untuk masuk ke pelabuhan,” katanya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Swasti mengungkapkan emiten bersandi saham SSMS itu bakal fokus pada bisnis penghiliran sawit sehingga perseroan dapat mengoptimalkan produksi refinery dengan target pasar ekspor. SSMS mengalihkan 84% penjualan atau setara Rpl ,2 triliun kepada induk usaha, PT Citra Borneo Utama (CBU) untuk memproduksi olein dan stearin.

SSMS menargetkan produk hilir bisa menembus pasar China, India, Pakistan, dan Bangladesh.

Di sisi lain, Direktur Utama PT Astra Agro Lestari Tbk. Santosa menyatakan bahwa terdapat kendala dalam pengiriman minyak sawit dari Sulawesi ke China. Namun, hal itu diyakini tidak akan berpengaruh banyak terhadap kinerja perseroan pada kuartal 1/2020.

“Memang ada penundaan pengiriman ke China, bahkan dua kapal kami yang sudah dikirim ke sana harus diarahkan ke tempat lain karena outbreak corona, tetapi ini tidak akan berlangsung lama,” katanya.

Santosa mengakui penyebaran virus mematikan itu telah memengaruhi harga minyak sawit. Pasalnya, sebelum kasus itu terjadi harga komoditas unggulan itu naik ke level 3.000 ringgit per ton, sedangkan saat ini melandai ke level 2.400-2.700 ringgit per ton.

“Ekspor ke India memang naik dan harga pun ikut juga. Namun, ada pasar lain, seperti Pakistan dan Bangladesh yang tidak terpenuhi karena pasokan terbatas. Jadi, ya, pasar itu sekarang diisi Malaysia.”

Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani mengatakan bahwa emiten-emiten sektor perkebunan tengah terpapar konflik antara Malaysia dengan India. Hendriko belum dapat merekomendasikan saham emiten perkebunan karena secara teknikal jangka pendek atmosfer industri perkebunan belum membaik. “Kalau volumenya naik, tapi harga tidak ke mana-mana maka kinerja akan stagnan,” katanya.

Lunglai Lagi

Menjelang akhir Februari 2020, harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) kembali tertekan. Di bursa Malaysia, CPO terkoreksi sekitar 18% year-to-date ke level 2.467 ringgit per ton pada perdagangan kemarin. Sejalan dengan itu, indeks saham agribisnis di Bursa Efek Indonesia memerah.

 

Sumber: Bisnis Indonesia