Fasilitas Ekspor Dibenahi, Perekonomian Bengkulu Bisa Melesat

Pelaku industri sawit di Bengkulu mengharapkan pembangunan terminal curah cair di Pelabuhan Pulau Baai,  Bengkulu, dapat segera diwujudkan. Dengan adanya terminal curah cair mempermudah pengiriman sawit tujuan domestik dan ekspor. Selain itu, ekonomi Bengkulu dapat bergerak lebih cepat.

“Selama ini pengiriman minyak sawit harus melalui provinsi tetangga seperti Padang dan Lampung. Bahkan untuk ekspor juga kesulitan,” ujar John Irwansyah Siregar, Ketua GAPKI Provinsi  Bengkulu, dalam Workshop bersama Media Massa dengan tema “Memperkuat Persepsi Positif Industri Kelapa Sawit di Kalangan Media Massa dan Netizen” di Hotel Madelin Bengkulu, Selasa (16 Oktober 2018).

John Irwansyah menuturkan GAPKI sangat mendukung pembenahan infrastruktur di Pelabuhan Pulau Baai supaya perekonomian daerah tumbuh. Pasalnya, kegiatan ekspor sawit yang melalui Pulau Baai hanya terealisasi sekitar 30%-40%. “Kami ingin pembenahan sehingga ekspor langsung dari Bengkulu. Tidak hanya sawit, ekspor kopi asal Bengkulu harus melalui pelabuhan Panjang di Lampung. Makanya, kami sangat mendukung terminal curah cair ini,” ujar John.

Dukungan ini telah dibuktikan GAPKI Bengkulu melalui serangkaian kerjasama. Antara lain pada 18 November 2016, penandatanganan MoU dengan Pelindo II P. Baai mengenai Rencana Kerjasama Pembangunan & Pengoperasian Terminal Curah Cair di Pelabuhan P. Baai Bengkulu. Selanjutnya pada 21 Desember 2017, Ground Breaking Pembangunan Tangki Timbun untuk CPO di Pelabuhan P. Baai – Bengkulu.

Dengan adanya terminal curah, dikatakan John, akan terwujud investasi di sektor hilir sawit. Dalam waktu dekat akan ada peletakan batu pertama pembangunan refineri sawit oleh investor asal India. Selain refineri, provinsi  Bengkulu membutuhkan pabrik pengolahan PKO. Nantinya, limbah ampas atau bungkil dapat diolah menjadi pakan ternak sapi.

Menurut John Irwansyah, dengan adanya pembangunan terminal curah cair akan menambah pendapatan daerah Bengkulu dan penyerapan tenaga kerja. Selain akan dibangun terminal curah cair akan dibangun juga Kawasan Ekonomi Khusus, Karantina Hewan dan Terminal Curah Kering yang terintegrasi.

“Untuk industri sawit, terminal curah cair akan mempercepat proses pengapalan. Alhasil  sangat menguntungkan buat pelaku bisnis sawit, karena CPO dapat terkirim secepatnya, begitupula dengan perputaran bisnisnya akan cepat,” tambah John.

Dalam kesempatan terpisah, Pelindo II menjelaskan pembangunan Terminal Curah Cair bertujuan untuk mendukung perkembangan industri Curah Cair di Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu. Terminal Curah Cair ini akan dibangun di atas lahan HPL milik Pelindo II seluas 17 hektar. Lahan seluas itu menampung 19 tangki penampung bahan curah cair seperti minyam sawit (CPO) berkapasita 3.000 ton per tangki. Serta diproyeksikan mampu melayani 2 juta ton per tahun.

Pelindo II  menggandeng Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) sebagai mitra. Terminal curah cair ini nantinya akan menggunakan teknologi modern. Selama ini Pelindo II sudah melayani penanganan dan pelayanan cargo curah cair jenis Crude Palm Oil (CPO). Namun masih dilakukan secara konvensional dengan metode truck lossing.

Di Bengkulu, produksi CPO tahun 2017 mencapai 984.340 ton. Dengan areal perkebunan sawit seluas 379.084 hektare terdiri dari perkebunan swasta 126.332 hektare dan perkebunan negara 3.635 hektare. Hampir 66% perkebunan sawit di Bengkulu dikelola petani rakyat seluas 248.817 hektare.

 

Sumber: Sawitindonesia.com