Gapki Tepis Perkebunan Sawit Mempekerjakan Anak-Anak

 

 

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menepis isu yang mengatakan perkebunan kelapa sawit mempekerjakan anak-anak sebagai tenaga kerja.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono menegaskan baik di perkebunan sawit maupun perusahaan perkebunan memperkerjakan anak-anak selain melanggar hukum juga sangat tidak mungkin.

“Perusahan perkebunan kelapa sawit tidak mungkin memperkerjakan anak di bawah umur,” tegasnya saat menghadiri dialog nasional bertajuk “Palm Oil Multi-Stakeholder National Diaologue: Towards decent work for all in Indonesia’s palm oil sector” di Pullman Hotel, Jakarta, Selasa (10/10).

Lebih lanjut Ia menjelaskan, jenis pekerjaan di kebun sawit berada di luar kemampuan anak-anak. Untuk permanen Tandan Buah Segar (TBS), misalnya, selain memerlukan keahlian latihan khusus, untuk mengangkat alat panen TBS yang begitu berat hampir tidak mungkin dilakukan anak-anak. Belum lagi mengangkat TBS dengan berat 10-15 kg per tandan. Jadi, sangat tidak mungkin dilakukan anak-anak.

“Selain itu, tata kelola perusahaan juga tidak memungkinkan penggunaan tenaga kerja anak-anak karena salah satu syarat untuk tenaga kerja perusahaan adalah tenaga kerja dewasa yang memiliki kartu tanda penduduk,” tambahnya.

Joko pun tidak menepis bila terkadang dijumpai anak-anak bekerja di perkebunan kelapa sawit. Namun, ia memastikan bahwa itu sudah atas persetujuan orang tua mereka.  “Itu merupakan permintaan orang tua atau anak sendiri untuk membantu orang tuanya. Dan itu  pun biasanya pekerjaan ringan,” ungkapnya.

Dari pantauan Warta Ekonomi, acara dialog ini turut pula dihadiri Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PPK dan K3), Kementerian Ketenagakerjaan, Sugeng Priyanto, Direktur ILO di Indonesia, Michiko Miyamoto serta stakeholder kelapa sawit.

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id