,

GIMNI Memperkirakan Konsumsi Minyak Sawit Nasional Naik 15,38%

FILE PHOTO: A worker collects palm oil fruit inside a palm oil factory in Sepang, outside Kuala Lumpur in this June 18, 2014 file photo. REUTERS/Samsul Said/File Photo GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD

JAKARTA. Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) memperkirakan tahun ini konsumsi minyak sawit nasional sebesar 12,75 juta ton. Konsumsi ini meningkat 15,38% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar 11,05 juta ton

Konsumsi minyak sawit tersebut digunakan untuk produk makanan dan specialty fats sebanyak 8,4 juta ton, oleokimia sebanyak 845.000 ton, serta biodiesel sebanyak 3,5 juta ton.

 

Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga mengatakan, peningkatan konsumsi di dalam negeri ini bukan disebabkan oleh berbagai hambatan yang dialami sawit Indonesia di luar negeri. “Di dalam negeri, di luar biodiesel, pertumbuhan pemakaian sawit untuk bahan pangan dan olekimia ini kira 3% per tahun, ini sesuai dengan pertumbuah penduduk dan ekonomi per tahunnya,” jelas Sahat, Selasa (8/5).

Sementara itu, menurutnya penggunaan biodiesel di dalam negeri pun akan terus meningkat karena adanya regulasi yang ditetapkan pemerintah. Dia bilang, biodiesel juga tidak hanya digunakan untuk kendaraan otomotif tetapi juga untuk kereta pun dan alat-alat berar industri. Inilah yang menurutnya akan mendorong pertumbuhan konsumsi minyak sawit yang besar.

Sementara itu, Sahat pun mengatakan bila konsumsi minyak sawit di dalam negeri terus ditingkatkan, maka Indonesia akan lebih kuat posisinya di pasar global. Meski begitu, Sahat mengatakan supaya penggunaan minyak sawit dalam negeri terus tumbuh, maka harga CPO harus lebih rendah dari saat ini.

Meski begitu, Sahat bilang terdapat beberapa strategi yang bisa mendorong turunnya harga minyak sawit meski harga tandan buah segar di tingkat petani tetap tinggi. Dia bilang, strateginya adalah meningkatkan produktivitas kebun sawit, terutama kebun petani rakyat.

Selanjutnya, meringankan peraturan perbankan untuk petani. Lalu, memanfaatkan semaksimal mungkin pemakaian bio massa. “Selama ini cangkang, tandan kosong, pelepah, dan batang sawit itu belum diikutkan dalam perhitungan harga TBS,” ujar Sahat.

 

Sumber: Kontan.co.id