Harga CPO Memoles emiten kebun

 

Harga minyak sawit mentah atawa crude palm oil (CPO) berada dalam tren menguat. Sektor perkebunan kelapa sawit pun akan diuntungkan dari membaiknya harga komoditas ini.

Sepanjang semester I-2017 lalu, harga CPO memang turun 14,19%. Namun, sejak akhir Juni sampai saat ini, harga CPO meningkat hingga 16,54%. Pada penutupan perdagangan Jumat (15/9) lalu, harga CPO kontrak pengiriman November 2017 di Malaysia Derivative Exchange mencapai RM 2.861 per metrik ton.

 

Jadi, kinerja emiten perkebunan pada paruh kedua tahun ini bisa jauh lebih baik dibandingkan semester pertama lalu. Yosua Zisokhi, Analis Henan Putihrai Sekuritas, mengatakan, dibanding tahun lalu harga jual CPO tahun ini memang cenderung naik.

Karena itulah beberapa emiten CPO sudah mulai menikmati pertumbuhan kinerja keuangan sejak awal tahun ini. “Tahun ini harga CPO sudah naik, rata-rata berkisar di level RM 2.800 hingga RM 3.000 per metrik ton,” ujar Yosua kepada KONTAN, akhir pekan lalu.

Kinerja positif emiten perkebunan diproyeksi masih bisa berlanjut hingga akhir tahun ini. Apalagi, jika melihat secara historis, produksi CPO pada semester kedua selalu lebih tinggi dibandingkan produksi semester pertama.

Meski peningkatan produksi berpotensi melemahkan harga, tetapi menurut Yosua, harga jual CPO masih akan tetap bertahan di kisaran RM 2.700 per metrik ton. “Kalaupun ada penurunan harga CPO, tidak akan terlalu dalam. Produsen juga sudah bisa mengantisipasi penurunan harga,” terang dia.

Novilya Wiyatno, Analis Mega Capital Sekuritas, juga mengatakan, kinerja positif emiten CPO bisa berlanjut sampai kuartal I-2018 mendatang. Produksi CPO juga masih didukung kondisi cuaca yang membaik.

Novilya mengatakan, permintaan CPO juga tengah meningkat. Salah satunya berasal dari program biodiesel. “Porsi kebutuhan minyak sawit untuk pengembangan energi terbarukan mencapai 20% dan akan bertambah menjadi 30% di 2020,” papar dia.

Kenaikan produksi

Pada semester I-2017, beberapa perusahaan kelapa sawit sudah membukukan kenaikan produksi CPO. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), misalnya, menorehkan kenaikan produksi CPO sebesar 13,7% sepanjang semester I-2017 lalu menjadi 762.000 ton.

Lalu, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), mencetak kenaikan produksi CPO mencapai 17,1% menjadi 180.525 ton. Produksi tandan buah segar (TBS) dari kebun inti LSIP juga melonjak 19,7% menjadi 585.576 ton.

Namun menurut Novilya, masih ada sentimen negatif yang membayangi nasib emiten CPO, yakni rencana boikot minyak sawit dari kawasan Uni Eropa. Jika negosiasi yang dilakukan sejumlah negara produsen gagal, maka permintaan CPO dari Benua Biru itu akan merosot.

Sementara itu, Sharlita Malik, Analis Samuel Sekuritas Indonesia, melihat ada potensi kenaikan permintaan CPO akibat perayaan Diwali di India. Festival cahaya itu diperkirakan bisa mengerek permintaan CPO sekitar 5%-6%. Selain permintaan, produksi minyak sawit juga berpotensi meningkat sekitar 10%.

Tapi, seiring peningkatan produksi yang signifikan, harga jual CPO pun akan menyesuaikan dan bisa terkoreksi. Namun, tren pelemahan mata uang ringgit Malaysia masih bisa menjadi katalis positif yang mengimbangi pelemahan harga CPO. Sharlita merekomendasikan netral terhadap saham sektor perkebunan. Ia memprediksi, harga rata-rata CPO akan berada di level RM 2.750 per metrik ton.

Sepanjang tahun ini, harga saham sektor perkebunan masih turun sekitar 4,63%. Tapi, dengan adanya potensi kenaikan harga CPO, beberapa saham emiten perkebunan kelapa sawit masih menarik untuk dicermati.

Sharlita memberi rekomendasi buy untuk saham AALI dengan target harga Rp 17.000 per saham. Novilya juga menyukai saham AALI dan merekomendasikan buy dengan target harga Rp 18.675 per saham. Ia juga memberi rekomendasi buy untuk saham LSIP dengan target harga sebesar Rp 1.600 per saham.

Yosua juga menyebutkan, selain diuntungkan oleh kenaikan harga CPO, LSIP dan AALI juga punya keunggulan lain, yakni memiliki lahan kelapa sawit yang luas. Karena itulah, Yosua juga memberi rekomendasi buy untuk kedua saham tadi. Ia mematok target harga untuk AALI sebesar Rp 17.200 per saham dan target harga LSIP di Rp 1.700 per saham.

Sumber: Kontan.co.id