,

Harga Tak Banyak Berubah

 

Kendati India menurunkan kembali bea masuk minyak kelapa sawit mentah dan turunannya pada tahun ini, kinerja ekspor dan pergerakan harga komoditas tersebut di pasar global diperkirakan belum berubah signifikan.

Seperti dikutip dari Reuters, Rabu (1/1) Pemerintah India memutuskan untuk menurunkan bea masuk minyak kelapa sawit mentah [crude palm oil/CFO) pada tahun ini menjadi 37,50% dari 40% pada 31 Desember 2019.

Sementara itu, bea masuk untuk produk olahan atau turunan CPO, diturunkan dari 50% menjadi 45%.

Pemerintah India menyebutkan bahwa kebijakan itu diambil lantaran adanya permintaan dari pemasok komoditas tersebut, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk menurunkan bea masuk CPO serta produk turunannya.

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kanya Lakhsmi mengatakan bahwa penurunan bea masuk CPO dan produk turunannya oleh India akan menjadi tambahan sentimen positif bagi industri tersebut di Indonesia.

Terlebih, mulai tahun ini, pemerintah telah menerapkan mandatori biodiesel B30, yang akan membantu menyerap produksi CPO domestik.

Menurutnya, hal itu akan memberi kepastian permintaan produk CPO, baik secara global maupun internasional.

Namun, dia menilai volume ekspor CPO dan produk turunannya dari Indonesia ke India tidak akan mengalami lonjakan yang signifikan. Pasalnya, para produsen CPO dalam negeri akan lebih dulu memfokuskan diri memasok ke dalam negeri guna memenuhi kebutuhan biodiesel B30. Adapun, kebijakan biodiesel B30 diperkirakan menyerap 9,6 juta ton CPO dalam negeri.

“Kebijakan India ini memang memberikan sentimen positif bagi industri CPO. Namun, volume ekspor ke India perkiraan saya belum akan berubah banyak tahun ini. Para produsen kita akan menghitung dulu selisih harga jual domestik dengan net ekspor ke India. Produsen kita juga bakal lebih mengutamakan suplai ke dalam negeri karena B30 sudah jalan dan sifatnya mandatori,” kata Kanya ketika dihubungi Bisnis, Rabu (1/1).

Dia juga memperkirakan harga CPO di pasar global cenderung bergerak stabil di level saat ini, yakni di kisaran US$800/ton.

Menurutnya, apabila harga CPO di pasar global mengalami kenaikan maka kenaikan tersebut akan cenderung bergerak secara lambat.

Pasalnya, Kanya menilai apabila harga CPO bergerak terlalu tinggi, hal itu akan menjadi bumerang bagi permintaan komoditas tersebut di pasar global.

Dia mengatakan bahwa dengan terus terkereknya harga CPO di pasar global, maka gap harga antara CPO dan minyak nabati lain seperti minyak kedelai dan biji rapa akan makin menipis.

Kondisi tersebut, lanjutnya, akan membuat para konsumen CPO berpeluang mengalihkan konsumsinya ke minyak nabati lain. Terlebih, CPO masih menjadi komoditas yang paling sering diserang oleh isu-isu lingkungan hidup.

Di sisi lain, dia menilai kebijakan tarif India tersebut menunjukkan bahwa negara tersebut mulai mencari cara agar suplai CPO dan produk turunannya ke pasar domestiknya. Pasalnya, India khawatir pasokan impor CPO dan produk turunannya turun drastis, lantaran Indonesia sudah mulai menerapkan mandatori biodiesel B30 dan Malaysia segera menerapkan kebijakan biodiesel BIO.

“Bagaimana pun juga, kebijakan India ini memberi kepastian terhadap permintaan CPO yang kita produksi. Di sisi lain, harga secara global akan cenderung stabil dan tidak akan anjlok lagi.”

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengamini adanya kekhawatiran India terkait dengan terbatasnya pasokan CPO dari RI, lantaran Indonesia membeiiakukan B30. Langkah Indonesia direspons oleh India dengan memberi insentif dari bea masuk agar pasar India tetap menarik bagi produsen CPO.

“Permintaan CPO mereka dari Indonesia berkisar 5 juta ton per tahun. Kalau kita berlakukan mandatori biodiesel B30, pasokan untuk global akan turun. India tidak mau kondisi itu berdampak seretnya pasokan ke konsumen dalam negerinya.”

Sahat memperkirakan dengan adanya penurunan bea masuk oleh India, ekspor CPO dan produk turunannya dari Indonesia ke India hanya akan tumbuh 5,7 juta ton pada tahun ini. Volume itu naik dari proyeksi ekspor komoditas ke India yang mencapai 5,4 juta ton pada 2019.

 

Sumber: Bisnis Indonesia