India Buka Peluang Negosiasi

 

India membuka peluang negosiasi untuk menurunkan bea masuk produk minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) asal Indonesia.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, Indonesia terus melakukan lobi-lobi ke India dan mulai menunjukkan hasil. Hal itu ditandai dengan mulai munculnya tawaran dari India untuk menurunkan bea masuk CPO Indonesia dengan sejumlah syarat tertentu.

“Salah satu permintaan India, mereka minta kita beli produknya sebagai kompensasi agar bea masuk CPO kita dikurangi atau bahkan dihapus. Tawaran itu disampaikan delegasi mereka pekan lalu,” ujarnya, Rabu (24/10).

Hanya saja, Enggartiasto tidak menyebutkan apa saja komoditas yang ditawarkan India untuk dibeli Indonesia. Menurutnya, tawaran tersebut akan dibahas terlebih dahulu dengan kementerian terkait, sebelum diputuskan.

Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Gabungan Pengusaha Kelapa sawit Indonesia (Gapki) Togar Sitanggang menyambut baik kebijakan terbaru Negeri Bollywood tersebut. Pasalnya selama ini India merupakan pasar yang penting bagi CPO Indonesia.

“Kami tentu senang mendengar kabar itu. Selama ini kami terhambat ekspornya ke sana. Semoga tawaran itu ditindaklajuti pemerintah,” jelasnya.

Berdasarkan data Gapki, pembelian CPO dan produk turunannya pada Agustus paling tinggi dicatat oleh India sebesar 823.000 ton, atau meningkat sekitar 26% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut tetap terjadi kendati India menetapkan bea masuk CPO 44% dan produk turunannya 54%.

Ekonom Indef Rusli Abdullah memperkirakan komoditas yang akan menjadi barter agar CPO Indonesia dipermudah masuknya ke India adalah gula mentah dan daging kerbau. Pasalnya dua komoditas tersebut mengalami kelebihan produksi di India, dan sesuai dengan kebutuhan Indonesia.

“Cuma untuk daging kerbau lebih sulit dibandingkan gula mentah. Sebab, daging kerbau India sempat terganjal aspek kesehatan, yakni dugaan terpapar penyakit kuku dan mulut,” jelasnya.

Gula mentah dianggapnya lebih realistis untuk diimpor Indonesia, lantaran dalam beberapa tahun terakhir kebutuhan impor produk tersebut cukup tinggi di Indonesia. Selain itu, India bahkan sempat beberapa kali mengirimkan delegasinya ke Indonesia untuk menawarkan komoditas dari tebu itu.

 

Sumber: Bisnis Indonesia