Indonesia Kuasai Permintaan Kebutuhan Minyak Sawit di Pakistan

 

Jakarta – Indonesia mampu menguasai kebutuhan produk minyak sawit di Pakistan. Hal tersebut karena didukung kebijakan tarif ekspor Indonesia yang dinilai lebih kompetitif sehingga menjadi pendorong tingginya minat pembeli sawit negara tersebut.

“Indonesia menerapkan kebijakan bea ekspor sawit yang lebih kompetitif daripada Malaysia,”kata Abdul Rasheed Janmohammed, Chief Executive Pakistan Edible Oil Conference, di Nusa Dua, Bali, pekan lalu.

Pada 2015 dan 2016, produk sawit Indonesia rata-rata menguasai 80% lebih dari kebutuhan Pakistan. Sebagai informasi, produk olein dan RBD Palm Oil (PO) asal Indonesia lebih banyak diminati industri pengolahan Pakistan.

Sebagai perbandingan, Pakistan mengimpor olein Indonesia sebanyak 1,06 juta ton dan RBD PO berjumlah 978 ribu ton pada 2016. Sedangkan, impor olein dan RBD PO dari Malaysia sebesar 241.961 ton dan 99.184 ton.

Menurut Abdul Rasheed, Indonesia dapat meningkatkan pangsa pasarnya asalkan dapat memperbaiki struktur tarif untuk produk minyak sawit mentah atau CPO.

Ekspor CPO Indonesia ke Pakistan berjumlah 28.425 ton, di bawah Malaysia sebanyak 96.894 ton pada 2016.

Saat ini Pakistan dan Indonesia sedang dalam proses evaluasi kesepakatan Preferential Trade Agreement (PTA) yang diresmikan pada 2013. Dalam pertemuan pertama Agustus 2016, kedua negara memberikan daftar masalah mengenai pelaksanaan PTA selama tiga tahun pertama.

Indonesia dan Pakistan sepakat mengambil langkah-langkah baru guna mengatasi masalah tersebut. Sementara dalam pertemuan kedua pada Februari 2017, Indonesia-Pakistan juga akan kembali meninjau kemajuan yang dicapai dalam kerja sama PTA.

Setelah penandatanganan PTA, total volume perdagangan kedua negara adalah 1,6 miliar dolar AS di tahun pertama dan mencapai 2,1 miliar dolar AS pada 2015. Pakistan telah menjadi importir minyak sawit terbesar keempat dari Indonesia.

 

Sumber: Industry.co.id