Indonesia Lawan Kampanye Hitam Sawit di Forum Dagang Dunia

 

Pemerintah Indonesia menegaskan melawan kampanye negatif terhadap industri minyak kelapa sawit lewat forum Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO).

Mengutip ANTARA, Selasa (3/10), Perwakilan Tetap Republik Indonesia di Jenewa, Swiss, menyebut pemerintah telah memprakarsai pelaksanaan kegiatan bertajuk Workshop on Sustainability and Non-Tariff Barriers to Trade: The Case Study of Palm Oil.

Workshop ini didukung oleh beberapa negara produsen sawit lainnya, seperti Malaysia, Thailand, Guatemala, dan Kolombia. Catatan di beberapa negara tujuan ekspor, khususnya Eropa, produk sawit diperlakukan diskriminatif terkait dengan isu-isu pengrusakan hutan, perubahan iklim, dan pelanggaran hak masyarakat adat.

Kampanye negatif itu dinilai berpotensi mengakibatkan kerugian negara yang sangat besar dan berdampak pada perekonomian nasional. Wakil Tetap RI di Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib menunjukkan ada berbagai tekanan terhadap produk sawit di Eropa.

Tekanan berasal dari berbagai negara maju dan aturan tarif dan nontarif yang ditetapkan oleh pemerintah pengguna sawit.

Padahal, sejumlah pembicara, khususnya yang berasal dari negara ekonomi kecil mengungkapkan bahwa perkembangan industri sawit telah mengubah kondisi ekonomi negaranya dalam tatanan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.

“Program pengentasan kemiskinan, pengurangan kesenjangan, peningkatan pendapatan telah banyak didukung oleh industri sawit. Di dalam perkembangannya, industri sawit ini telah melibatkan para pelaku berskala kecil,” ujarnya.

Margot Logman dari Aliansi Minyak Sawit Eropa (European Palm Oil Alliance/EPOA) memberikan informasi yang seimbang dalam perspektif kelapa sawit yang berkelanjutan di kawasan Eropa, khususnya dari sisi pelaku konsumen, untuk mengatasi tantangan terhadap isu lingkungan dan sosial terkait dengan penggundulan dan degradasi hutan.

“Minyak kelapa sawit menafkahi banyak orang di dunia, sehingga negara maju harus membantu negara-negara produsen untuk membuat minyak sawit lestari,” terang dia.

EPOA mengakui bahwa produksi kelapa sawit memainkan peran yang penting di dalam kegiatan ekonomi negara-negara produsen dan telah berperan secara langsung maupun tidak langsung untuk membantu masyarakat keluar dari kemiskinan di negara-negara tersebut.

Selanjutnya, negara-negara produsen kelapa sawit akan terus melanjutkan kerja sama mereka dengan sejumlah para pemangku kepentingan di Jenewa, serta Brussels, Belgia, untuk memastikan setiap peraturan yang berlaku harus bersifat adil dan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam fora multilateral.

 

Sumber: Cnnindonesia.com