Indonesia Menjadi Yang Terbesar Dalam Minyak Nabati Dunia Bersertifikasi

Berdasarkan data RSPO (2016), produksi minyak sawit berkelanjutan tersertifikasi (CSPO + CSPK) dari Indonesia ternyata lebih besar dibandingkan dari negara-negara lain. Hampir 60 persen dari CSPO + CSPK dunia berasal dari Indonesia. Posisi kedua adalah Malaysia, kemudian disusul Papua New Guinea dan Brazil.

Negara Produsen Minyak Sawit Berkelanjutan Tersertifikasi (RSPO, 2016)
Negara Persen (%) Negara Persen (%)
Brazil 1,7 Cambodia 0,2
Colombia 1 Costa Rica 1,6
Ghana 0,3 Guatemala 1
Honduras 0,7 Indonesia 59
Cote D’lvoire 0,04 Madagascar 0,01
Malaysia 27 Papua New Guinea 6
Soloman Island 0,3 Thailand 0,3

 

Perlu dicatat bahwa data CSPO + CSPK dari Indonesia tersebut masih hanya mencakup data RSPO dan belum termasuk data dari ISPO. Selain itu, juga belum memperhitungkan volume produksi dari perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit yang sedang proses sertifikasi, baik melalui ISPO maupun RSPO. Jika data-data tersebut diperhitungkan (karena secara realitas sudah memenuhi sustainable) maka volume produksi CPO dari Indonesia tersebut pasti lebih besar lagi.

Kementerian Pertanian sedang melakukan percepatan implementasi ISPO termasuk untuk perkebunan sawit rakyat. Ditargetkan tahun 2020 sekitar 80 persen perkebunan kelapa sawit Indonesia sudah memperoleh sertifikasi tata kelola perkebunan kelapa sawit berkelanjutan ISPO.

Dengan kata lain data tersebut menujukan bahwa Indonesia selain sebagai produsen minyak sawit dunia terbesar, juga produsen terbesar minyak sawit berkelanjutan tersertifikasi dunia. Apakah minyak kedelai dunia, minyak rapeseed, minyak bunga matahari memiliki tata kelola berkelanjutan seperti minyak sawit? Dan bagaimana dengan komoditas lainnya, pertambangan mineral dan migas serta produk-produk industri dunia, apakah memiliki sistem tata kelola dan sertifikasi berkelanjutan? Pertanyaan tersebut penting karena ekosistem yang berkelanjutan hanya mungkin terwujud jika semua sektor industri, daerah, produksi/komoditi berkelanjutan (tidak cukup hanya sawitnyang berkelanjutan).

Sumber: Mitos vs Fakta 2017

 

Sumber: Sawitindonesia.com