Industri Hilir minyak Sawit Terus Berkembang

 

FILE PHOTO: A worker adjusts the netting on a lorry carrying palm oil fruits inside a palm oil factory in Sepang, outside Kuala Lumpur June 18, 2014. REUTERS/Samsul Said/File Photo

 

Indonesia semakin meningkatkan hilirisasi industri minyak sawit. Hal ini pun terlihat dari beberapa perusahaan yang berusaha mengembangkan produk turunan minyak sawit.

Direktur Eksekutif Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Iskandar Andi Nuhung mengungkapkan, saat ini ekspor turunan minyak kelapa sawit semakin melampaui ekspor minyak sawit mentah (CPO).

Meskipun tidak mengungkap berapa angka pasti besaran ekspor produk olahan CPO, Andi mengatakan saat ini jumlahnya sudah sekitar 65% dibandingkan ekspor CPO. Menurut Andi, kondisi ini harus terus ditingkatkan, mengingat semakin berkembangnya hilirisasi industri minyak sawit semakin memberi nilai tambah pada produk olahan CPO Indonesia.

Selain memberikan nilai tambah, Andi juga beranggapan dengan adanya hilirisasi ini Indonesia akan bisa menghentikan impor produk olahan CPO dari negara lain. Apalagi, barang-barang yang diimpor tersebut lebih mahal dibandingkan nilai ekspor CPO Indonesia. “Selama ini produk olahan CPO itu kita impor. Kalau industri hilurnya berekmbang kan lebih bagus, jadi kita tidak perlu impor lagi,” tutur Andi, Jumat (15/9).

Menurut Andi, perkembangan industri hilir CPO ini juga merupakan salah satu efek positif dari pemboikotan produk CPO Indonesia di beberapa negara, seperti yang dilakukan Uni Eropa dan Amerika. Dia berpendapat, dengan adanya pemboikotan tersebut Indonesia akhirnya bisa lebih fokus mengembangkan produk olahan CPO sendiri.

Meski begitu, Andi tidak menampik masih ada kemungkinan produk olahan CPO Indonesia akan mengalami hal yang sama dengan CPO Indonesia. “Negara lain itu kan bisa melakukan segala cara supaya produknya tetap berkembang. Dia juga akan melakukan penelurusan setiap produk yang diimpor, termasuk hasil olahan CPO kita. CPO kan dari sawit, sawitnya dari mana, jadi mereka akan menelusuri keaslian produk itu,” ungkap Andi.

Meski begitu, Andi berpesan supaya masyarakat Indonesia terus berpikiran positif terhadap tuduhan yang dilayangkan pada Indonesia. Pasalnya, dia berpendapat tuduhan tersebut bisa memberikan dampak positif serta memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi industri kelapa sawit di Indonesia. Menurutnya, upaya perwakilan Indonesia yang melakukan negoisasi dengan negaran lain terus menghasilkan dampak yang baik.

“Tampaknya usaha-usaha yang dilakukan oleh delegasi Indonesia untuk Eropa dan Amerika memberikan hal positif. Misalnya mereka memahami dan mereka ingin lebih banyak melihat sawit tersebut dikembangkan. Kita bisa menjelaskan cara menanam sawit di Indonesia, kita punya Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO), dan cara bertanam yang baik. Dan ada juga negara yang membuat kajian bagaimana pengaruh sawit ini. Akhirnya ada solusi yang diberikan,” tandas Andi.

Sumber: Kontan.co.id