Industri Kelapa Sawit Bantu Kurangi Angka Kemiskinan

 

Pekanbaru – Usaha kelapa sawit telah membantu mengurangi angka kemiskinan di negara berkembang khususnya di Indonesia.

“Hal ini ditandi dengan bisnis kelapa sawit di Indonesia menyerap lebih dari tiga juta tenaga kerja, lebih dari setengahnya terlibat dalam perkebunan sehingga mampu menggerakkan perekonomian di Riau dan nasional,” kata Ketua APKASINDO Riau, Gulat ME Manurung di Pekanbaru, Rabu (13/12/2017)

Menurut dia, berdasarkan hasil penelitian BI, bahwa 47 persen ekonomi Riau digerakkan oleh industri kelapa sawit, dan faktanya lainnya bahwa mahasiswa Univeristas Islam Riau (UIR) sebanyak 70 persen bergantung kepada ekonomi perkebunan kelapa sawit.

Sebab, katanya, orang tua para mahasiwa tersebut adalah petani kelapa sawit, artinya jika harga sawit turun atau jatuh maka permohonan kelonggaran waktu (menunggak) uang kuliah akan menumpuk di meja pimpinan UIR.

“Diyakini memang 80 persen produksi minyak sawit berasal dari negara-negara berkembang, sehingga sangat positif untuk meningkatkan pendapatan masyarakatnya, dan dari 80 persen tersebut ternyata Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar,” katanya.

Selain itu kepemilikan petani atau warga sangat besar pada usaha perkebunan kelapa sawit, dimana sebesar 46 persen dari jumlah lahan kelapa sawit di Indonesia adalah milik warga/petani, sedangkan untuk Riau seluas 2,4 juta hektare ternyata 56 persen (1,36 juta hektare dari total perkebunan kelapa sawit di Riau adalah milik petani kelapa sawit.

Kisaran kepemilikan perkebunan kelapa sawit dikelola rakyat antara 2-20 hektare dan 2,1 juta jiwa bergantung terhadap kebun sawit 1,36 juta hektare tersebut dengan serapan tenaga kerja mencapai hampir 600 ribu jiwa (BPS 2015).

Disamping itu, di Riau, sebanyak 76 pesen kepemilikan petani kebun kelapa sawit rakyat tersebut ternyata masuk dalam kawasan hutan yang sama sekali tidak diketahui oleh petani kelapa sawit rakyat dan sawitnya ada yang sudah berumur 30 tahun.

 

Sumber: Industry.co.id