Industri sawit Indonesia ketiban untung berkat perang dagang China-AS

 

 

Analis PT Monex Investindo Futures Arie Nurhadi mengatakan, ada kecenderungan perbaikan harga minyak sawit mentah (CPO) akibat perang dagang antara Amerika Serikat dengan China. Hal ini dapat terjadi apabila China juga menerapkan kenaikan tarif impor kepada Amerika Serikat.

“Mengenai perang dagang antara Amerika Serikat dengan China mungkin berpotensi untuk mempengaruhi harga, di mana kedua negara tersebut telah saling membalas sikap dengan kebijakan,” ujar Arie dalam risetnya di Jakarta, Jumat (30/3).

Arie mengatakan, jika China memberlakukan juga pada tarif impor tersebut pada komoditas kedelai Amerika Serikat, maka harga kedelai Amerika Serikat akan benar-benar jatuh. Tidak menutup kemungkinan hal ini juga akan berimbas positif bagi harga CPO.

“Situasi ini justru akan menjadi potensi positif untuk harga CPO. Memang belum ada rilis resmi mengenai kabar ini, namun pelaku pasar tetap menantikan ketidakpastian yang ada,” katanya.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, telah menetapkan tarif sekitar USD 60 miliar atau sekitar Rp 827,34 triliun atas produk China masuk ke negeri Paman Sam. Kebijakan Trump ini memicu perang dagang.

Kebijakan Trump tersebut dirancang untuk menghukum China atas praktik perdagangannya. Pemerintahan AS di bawah Donald Trump menilai China mencuri kekayaan intelektual perusahaan-perusahaan AS.

Langkah baru ini mengikuti dari investigasi yang dilakukan Penasihat Trump di bidang perdagangan AS Robert Lighthnizer. Dinilai praktik perdagangan China berpotensi tidak adil kepada AS.

Lighthizer mengatakan, produk-produk China yang akan dikenakan tarif baru antara lain barang aeronautika, rel, kendaraan energi baru dan produk berteknologi tinggi.

China pun bereaksi terhadap langkah Trump. Mereka tidak takut perang dagang. China berencana menerapkan tarif 128 produk AS. Keputusan dari Trump tersebut dapat di bawa ke WTO (World Trade Organization).

Selain itu, China akan melakukan sejumlah langkah hadapi AS. China juga diperkirakan mendepresiasi yuan dan menjual ratusan miliar surat utang AS.

Sumber: Merdeka.com