Ini alasan GAPKI Dukung Langkah Pemerintah Soal B20

 

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mendukung langkah pemerintah yang akan mewajibkan seluruh kendaraan diesel untuk menggunakan bahan bakar biodiesel 20 persen (B20),  sebagai bauran antara solar dengan minyak sawit pada akhir 2018.

Sekretaris Jenderal Gapki Togar Sitanggang mengatakan bahwa, jika nantinya rencana pemerintah untuk B20 baik yang Public Service Obligation (PSO) atau non-PSO bisa dilaksanakan secara keseluruhan, maka akan ada peningkatan penyerapan Crude Palm Oil (CPO) di dalam negeri.

“Gapki mendukung kebijakan tersebut, karena berarti akan ada peningkatan permintaan dari dalam negeri,” kata Togar, saat dihubungi Antara, Kamis.

Togar mengatakan, diperkirakan serapan untuk CPO bisa naik menjadi 6-8 juta kiloliter, jika mandatori B20 tersebut dilaksanakan pemerintah. Sebelumnya, untuk serapan dalam negeri yang dipergunakan untuk biodiesel PSO berkisar antara 2,7-3 juta kiloliter.

“Dengan permintaan yang meningkat, maka akan juga berpengaruh terhadap harga. Akan bisa naik antara 50-100 dolar AS per ton,” ujar Togar.

Langkah pemerintah untuk mewajibkan B20 tersebut dalam upaya menghemat devisa dan mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM). Sebelumnya B20 dalam konsumsi solar hanya diwajibkan kepada kendaraan bersubsidi atau PSO seperti kereta api.

Namun nantinya, B20 akan wajib digunakan pada kendaraan non-PSO seperti alat-alat berat di sektor pertambangan, traktor atau ekskavator, termasuk juga diperluas ke kendaraan-kendaraan pribadi.

Selain itu, dampak positif lain yang akan diterima para pelaku usaha adalah, dengan meningkatnya permintaan dalam negeri, maka akan mendongkrak harga CPO di pasar internasional. Saat ini, harga minyak nabati di pasar internasional juga turun. Salah satu faktornya adalah perang dagang antara Amerika dan China.

Dengan kondisi tersebut, harga minyak nabati terus tercatat mengalami penurunan. Khusus untuk Indonesia, pemerintah diharapkan membuat kebijakan untuk meningkatkan konsumsi di dalam negeri dengan menggalakan penggunaan biodiesel yang lebih banyak.

Sepanjang Mei 2018, harga CPO global bergerak di kisaran 650-670 dolar AS per metrik ton dengan harga rata-rata 653,6 dolar AS per metrik ton. Harga rata-rata Mei menurun 8,6 dolar AS dibandingkan harga rata-rata pada April 2018 yang sebesar 662,2 dolar AS per metrik ton.

Harga minyak sawit pada bulan mendatang diperkirakan akan cenderung menurun karena stok minyak sawit Indonesia dan Malaysia masih tinggi.

 

Sumber: Antaranews.com