Inovasi Teknologi Pacu Produktivitas

 

SUKOHARJO – Inovasi teknologi diyakini dapat meningkatkan produktivitas benih kelapa sawit dan pada akhirnya mempertahankan daya saing Indonesia di pasar global komoditas tersebut.

Sri Mas Sari

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) optimistis akan menghasilkan benih dengan potensi produktivitas 10 ton minyak sawit mentah per hektare per tahun pada 2020 melalui inovasi teknologi. Saat ini, potensi produktivitas benih yang dihasilkan PPKS berkisar 6 ton-8 ton per ha.

Direktur PPKS PT Riset Perkebunan Nusantara Hasril Hasan Siregar mengatakan inovasi yang terus-menerus telah mengangkat produktivitas sawit yang pada dekade 1960 hanya menghasilkan CPO 4,3 ton per ha per tahun.

Kini, melalui integrasi teknologi biologi molekuler ke dalam sistem pemuliaan konvensional, serta penerapan pertanyakan secara kultur jaringan akan mampu meningkatkan potensi produksi menjadi lebih dari 10 ton CPO per ha per tahun. “Peranan riset dalam menghadirkan inovasi akan terus diperlukan dari masa ke masa,” katanya dalam kegiatan Pertemuan Teknis Kelapa Sawit di Sukoharjo, Selasa (18/7).

Sejalan dengan inovasi varietas unggul, introduksi dan riset tentang serangga penyerbuk kelapa sawit (SPKS) Elaeidobius kamerunicus juga berkontribusi meningkatkan produksi tandan buah segar (TBS) sekitar 26% pada dekade 1980. Selanjutnya pada 2010-2020, PPKS melalui inovasi teknologi hatch and carry dan pengembangan atrak-tan airomix akan menaikkan produksi (TBS) hingga 25%.

Hasril memaparkan produktivitas kelapa sawit masih relatif rendah, yakni 15%-35% atau di bawah produktivitas potensial, sehingga memerlukan dukungan riset, inovasi dan penerapan praktik terbaik.

“Inovasi kultur teknis terutama pemupukan yang efisien, berimbang dan efektif tentunya selalu diperlukan untuk mencapai produktivitas potensial.”

Hasril juga menyebutkan beberapa inovasi lainnya yang sudah dikembangkan untuk menjawab tantangan teknis perkelapasawitan terkini, a.l. perakitan bahan tanaman unggul kelapa sawit moderat tahan Ganoderma, pemanfaatan teknologi drone dalam monitoring penyakit Ganoderma, penerapan sistem peremajaan yang efektif untuk areal endemik Ganoderma, aplikasi teknologi tata air di lahan gambut atau pasang surut, serta penerapan sistem irigasi pada khan kering.

DAYA SAING

Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Bayu Krisnamurthi memampaikan Indonesia harus dapat memproduksi minimal 25 ton tandan buah segar kelapa sawit per hektare per tahun jika ingin mempertahankan daya saing di pasar minyak nabati dunia.

Produktivitas TBS itu hendaknya diikuti pula dengan rendemen (yield) setidaknya 25% atau menghasilkan Crude Palm Oil (CPO) 5 ton-6 ton per ha per tahun. Lompatan produktivitas itu penting untuk menggapai visi menggandakan suplai CPO Indonesia ke pasar dunia sekitar 60 juta ton pada 2050.

Saat ini, produktivitas TBS banyak yang masih di bawah 20 ton per ha, terutama dialami oleh petani swadaya karena umur tanaman sudah tua atau kualitas benih tidak baik. Akibatnya, CPO yang dihasilkannya pun hanya sekitar 2,5-3 ton per ha kendati masih Iebih unggul dibandingkan dengan produktivitas minyak mpeseed yang hanya 0,6 ton per ha, minyak biji bunga matahari 0,5 ton per ha, dan minyak kedelai 0,4 ton per ha.

Bayu mengatakan ruang untuk mengerek produktivitas TBS dan CPO itu berada pada perkebunan rakyat mengingat yield yang dihasilkan perkebunan swasta sudah relatif tinggi. “Tidak sekadar mempertahankan keberlanjutan kelapa sawit, kita juga harus mempertahankan keberlanjutan daya saing sawit. Kita menjadi nomor

satu [eksportir minyak nabati] karena memiliki daya saing, daya saing yang memberikan manfaat kepada petani sawit,” ujarnya dalam kegiatan Pertemuan Teknis Kelapa Sawit di Sukoharjo, Selasa (18/7).

Meskipun demikian, lanjut Bayu, sawit hendaknya tidak dibatasi untuk sekadar menghasilkan CPO. Menurut dia, sawit harus menghasilkan multiproduk, mulai dari cairan, padatan, hingga gas.

Mantan Kepala Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP Sawit) itu memberi gambaran, Indonesia mengekspor cangkang sawit ke Jepang untuk memenuhi kebutuhan bahan baku bioenergi Negeri Matahari Terbit. Tahun lalu, volume pengapalan cangkang sawit ke Jepang 450.000 ton dengan harga USS80 per ton free on board (FOB) atau USS120 cost, insurance, and freight (CIF).

Sementara itu, mantan menteri pertanian Bungaran Saragih mengatakan peremajaan kebun sawit menjadi syarat utama untuk mencapai target produksi 25 ton TBS per ha, kemudian disusul oleh praktik pertanian yang baik (GAP).

“Kalau BPDP menyatakan tahun ini replanting 20.000 ha kebun dimulai, barangkali target itu bisa dicapai 5-10 tahun yang akan datang. lima tahun mungkin terlalu ambisius karena baru panen. Mungkin 10 tahun yang akan datang,” katanya.

Sri Mas Sari

Sumber: Bisnis Indonesia