Jadi Penyumbang Terbesar Devisa Negara, Gapki Kalbar Lawan Kampanye Hitam Sawit

 

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia melansir kinerja produksi minyak sawit Indonesia kuartal I 2018 naik mencapai 24 persen dibandingkan periode yang sama 2017 atau dari 8,4 juta ton pada kuartal I 2017 naik menjadi 10,41 juta ton periode yang sama 2018.

Nilai ekspor minyak kelapa sawit Indonesia yang mencapai 22,97 miliar AS pada 2017 lalu sukses melampaui sektor lainnya yaitu Migas dan Pariwisata.

Angka tersebut memberi kontribusi sebagai penyumbang terbesar devisa Indonesia.

Sekretaris Executive Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Cabang Kalimantan Barat (Kalbar), Idwar Hanis mengatakan dibanding komoditas unggulan lain perkebunan kelapa sawit hingga saat ini masih memberi dampak strategis bagi perekonomian Kalbar.

“Saat ini sawit menjadi komoditi menyumbang devisa terbesar bagi negara. Seiring dengan isu yang berkembang di masyarakat, Gapki Kalbar menepis bahwa lahan sawit memberikan dampak negatif,” ujar Idwar, Senin (25/6/2018).

Ia mengatakan jika dilihat keseluruhan areal Kalbar yang luasnya mencapai 14 juta hektare dan baru sekitar 10 persen lahan ditanami sawit.

Karena dari lahan yang dibudidayakan di Kalbar saat ini diakuinya baru sekitar 6 juta hektare lahan yang dibudidaya untuk sawit.

Sehingga apa yang diasumsikan dalam rangka membangun perkebunan kelapa sawit kata Idwar terjawab sudah dan menambah spirit Gapki Kalbar dalam melakukan ekpansi. Diakuinya perkembangan Kalbar dalam melakukan ekspansi 10 tahun terakhir luar biasa.

Jika dulu luas areal yang digarap hanya sekitar 500 ribu hektar, sekarang sudah 1,5 juta hektar pertahun. “Secara nasional sawit sudah dibuktikan bahwa merupakan produk strategis. Terbukti sawit sukses mendulang dolar,” ujar Idwar.

Artinya kata Idwar peluang untuk membangun atau mengekspansi kelapa sawit cukup besar. Ia berharap tidak ada perubahan rencana pemerintah yang akan menambah 2,5 juta hektar per tahun.

“Peluangnya besar, sepanjang tidak ada perubahan rencana makro dari pemerintah daerah. Saya yakin pemerintah daerah juga memberikan iklim yang kondusif baik provinsi maupun kabupaten. Sambutan baik juga dari masyarakat karena kalau tidak masyarakat pasti menolak,” ujarnya.

Idwar mengatakan banyak yang melakukan kampanye hitam terhadap sawit padahal peran sawit sangat strategis. Berapa banyak kata Idwar desa di Kalbar yang terbuka aksesnya dari yang sebelumnya terisolasi.

Nilai ekonomis dari sawit diakuinya luar biasa, sawit kata Idwar juga tidak bisa dikatakan usaha yang hanya 1-2 tahun karena menggunakan modal yang cukup besar. Namun ia mengaku perkembangannya luar biasa dari yang hanya ratusan hektar sekarang pertumbuhannya jutaan hektare.

“Jika kita melihat dari tren pertumbuhan sawit luar biasa. Jadi harus mengikuti perkembangan teknologi, harus beriringan sehingga sawit ini terus berjalan dan menguntungkan Kalbar dan nasional. Karena ini jangka panjang dan padat modal artinya harus ada kepastian, pastinya dari sisi regulasi,” ujarnya.

 

Sumber: Tribunnews.com