Jokowi Kucurkan Rp 111,1 Miliar Guna Replanting Sawit

 

Presiden Joko Widodo mengucurkan dana peremajaan tanaman kelapa sawit. Dana yang bersumber dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kepala Sawit (BPDP-KS) disalurkan pada petani sawit di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumsel, Jumat pekan lalu.

Pada tahap pertama ini, pemerintah akan memulai peremajaan (replanting) tanaman kelapa sawit pada sekitar 4.460 hektar (ha) sawit rakyat.

Presiden Jokowi mengatakan setiap hektar tanaman sawit yang diremajakan akan mendapatkan dana hibah langsung Rp25juta. Dana ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para petani,

“Kita mulai dari komiditi kelapa sawit dahulu. Untuk pertama dimulai dari  Sumsel, nanti di Riau, Medan dan provinsi lain di Jawa. Pemerintah berupaya meremajakan tanaman perkebunan tua yang kurang produktif. Setelah sawit, nanti bisa karet, kopi, hingga pala dan kakao,”ujar Jokowi.

Jika dipastikan luasan replanting di Muba mencapai 4.460 hektar, dengan dana Rp25 juta/ha, maka akumulasi dana program replanting sawit di Indonesia untuk pertama ini mencapai Rp111,15 Miliar. “Petani juga bisa bekerja sama dengan perbankan dalam pengembangan kebutuhan lainnya,”ujar Jokowi.

Jokowi menambahkan tanaman sawit yang sudah tua atau berkisar usia 25 tahun keatas akan mengalami penurunan produksi. Pada kondisi tanaman demikian, maka produksi CPO hanya akan berkisar 2-2,5ton/ha. Padahal, pada titik optimal CPO tanaman sawit bisa melebihi 8ton/ha seperti di Malaysia.

“Solusi utamanya, peremajaan. Mengganti tanaman tua dengan bibit yang lebih unggul, dan bersetifikasi. Diharapkan juga petani mendukung program replanting ini dengan merawat tanaman untuk diwariskan pada anak cucu,”ungkapnya.

Prosesi penanaman yang langsung dilakukan Presiden Joko Widodo di blok 5 Desa Panca Tungkal kabupaten Musi Banyuasin juga dihadiri oleh Gubernur Sumsel, Alex Noerdin dan Bupati Musi Banyuasin, Dodi Reza Alex Noerdin dan Wakil Bupati, Benni Hernedi. Selain menanam, Presiden Joko Widodo tiba-tiba memilih meninjau kebun tanaman sawit yang sudah tua dengan lokasi yang tidak berjauhan dari penanaman.

Selain itu, hadiri juga Seketaris Kabinet, Promono Anung, Menteri Pertanian, Arman Sulaiman, Menteri Agraria dan tata ruang, Syofian Djalil, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono.

Ditambahkan Jokowi, selain melakukan penanaman pihaknya juga membagikan sekitar 1.300 sertifikat tanah (legalitas) tanah petani masyarakat. Dari luasan itu, sekitar 160 hektar (ha) dibebaskan merupakan kawasan hutan. “Pengakuan hak atas tanah akan menguatkan petani untuk bertani,”ucapnya.

Sertifikat tanah yang dimiliki petani dapat juga diagunkan ke perbankan. Dengan tambahan modal pertanian, maka petani harus juga mengarahkan berbagai aktivitasnya pada hal-hal produktif, misalnya membeli kendaraan untuk mengangkut sawit, atau menambah luasan lahan tanaman sawitnya,”Sertifikat jangan disalahgunakan, jangan terjebak pada hutang-hutang, gali lubang dan tutup lubang lagi,”kata Jokowi mengingatkan para petani.

Selain modal, pemerintah juga menyalurkan bibit palawija, seperti halnya jagung untuk menjadi tanaman tambahan pada lahan sawitnya,”Pemerintah ingin, agar sawit di Indonesi lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan hingga bersaing di pasar global menjadi produk berkelanjutan,”ujarnya.

Skema pembiayaannya, kebutuhan dasar untuk penanaman kembali mencapai lebih dari Rp50 juta/ha. Melalui BPDP-KS disalurkan dana sebesar Rp25juta/ha, dan kebutuhan lainnya diharapkan bisa dipenuhi melalui kerjasama perbankan atau koperasi di perusahaan perkebunan.

Bupati Musi Banyuasin, Dodi Reza Alex menambahkan kabupaten Musi Banyuasin memiliki luasan sawit yang besar namun sayangnya tanamannya sudah beranjak tua atau mulai mengalami penurunan produksi. Selain sawit, juga terdapat tanaman karet yang juga membutuhkan peremajaan akibat usia yang sudah tidak produktif lagi. Namun dengan peremajaan sawit akan mampu memberikan semangat pada petani untuk bisa meningkatkan produksi maksimal hingga mampu memenuhi kebutuhan bahan baku pengelolaan minyak sawit,

“Dengan luasan yang maksimal, juga kita mendorong agar perusahaan perkebunan juga membangun pabrik pengelolaan minyak sawit dengan berbagai produksinya. Ini harapan, agar masyarakat terus menjadi bagian dari pembangunan daerah,” ujarnya.

 

Sumber: Gatra.com