Jokowi Minta Produsen Mobil Sukseskan B30

Presiden Jokowi mengapresiasi kinerja industri otomotif nasional yang terus tumbuh dan mendorong pertumbuhan
ekonomi. Produsen otomotif diminta sukseskan program biodiesel 20 persen (B20).

JOKOWI mengatakan, sektor otomotif merupakan elemen penting penggerak roda ekonomi Indonesia. Termasuk memberikan lapangan kerja bagi 1,4 juta pekerja di Indonesia.

“Indonesia kini menghadapi berbagai tantangan dari segi otomotif. Yang pertama adalah meluasnya fenomena mobil listrik yang sudah mulai diterapkan di berbagai negara,” ujarnya saat membuka Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018 di ICE BSD Tangerang, kemarin.

Dalam kesempatan itu, Jokowi ditemani oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi.

Tantangan lainnya adalah teknologi distrupsi. Di mana perkembangan teknologi seperti kendaraan otonom dan transportasi online membuat industri otomotif harus meredefinisi arti mobil. Sehingga inovasi tersebut dapat dikategorikan sebagai bagian dari sebuah transportasi.

Bekas Gubernur DKI Jakarta ini juga meminta.agar industri otomotif mendukung program B20 yang akan diterapkan oleh pemerintah untuk menghemat devisa. “Saya minta dukung penuh ini supaya substitusi biodisel produksi lokal bisa kita optimalkan semaksimal mungkin,” katanya.

Untuk mendukung implementasi kebijakan tersebut, pemerintah juga akan memberikan insentif bagi produsen yang mau menjual biodiesel ke sektor non-PSO (Public Service Obligation). Perluasan, insentif dan penggunaan B20 akan tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres).

“Saat ini kita sebagai negara perlu dolar menerima dolar. Kita sudah hitung dengan asumsi minyak mentah 70 dolar AS per barel dan dengan asumsi peningkatan penyerapan biodiesel akan mengangkat harga minyak sawit menjadi lOO dolarAS lompatan-nya besar sekali,” ujarnya.

Bila Indonesia bisa mengimplementasikan hal tersebut itu maka negara menghemat devisa sebesar 5,9 miliar dolar AS. “Hampir 6 miliar dolar AS dan proses ini akan saya ikuti terus karena biasanya kita kalau sudah rapat iya, iya tapi keluar rapat lupa semua, sekarang enggak, saya ikuti terus,” ujarnya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah sudah membuat peta jalan 2025 dengan menargetkan 25 persen kendaraan diproduksi di Indonesia adalah kendaran listrik atau termasuk low carbon emotion vehicle (LCEV)

“Saat ini juga ada implementasi B20 yang seluruh industri otomotif sudah siap kalau industri otomotif siap maka yang lain pasti siap karena dari sisi teknologi yang paling complicated di otomotif,” katanya.

Menurut Airlangga, penerapan ambang batas menjadi penting karena industri saat ini memproduksi dua jenis mesin, yaitu mesin euro 2 dan euro 4. “Tapi euro 2 tidak bisa diekspor karena dunia sudah memakai euro4jadi kita ke euro 4,” ujarnya.

Coba Mobil Desa

Setelah membuka GIIAS, Jokowi langsung menuju menuju Hall 3 untuk melihat langsung Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes). Jokowi terlihat antusias dan sangat tertarik dengan AMMDes. “Kalau duduk merasa nyaman sekali,” ujarnya.

Jokowi pun langsung mencoba AMMDes ditemani Airlangga Hartarto dan Menteri Desa Eko Putro Sandjojo. “Saya menyambut baik inovasi AMMDes. Ini satu jenis tapi kaitan dengan industri hukumnya sangat banyak,” kata Jokowi.

Jokowi mengatakan, berdasarkan informasi yang ia terima lebih dari 70 industri komponen dalam negeri siap menjadi pemasok komponen AMMDes. “Industri otomotif harus keluar dari zona nyaman. Kita harus terus dinamis kerja keras meneruskan menerapkan inovasi yang diperlukan,” tuturnya.

 

 

Sumber: Rakyat Merdeka