Kebutuhan Minyak Makan Terus Meningkat

 

Sebagai penghasil CPO terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi besar dalam menghasilkan minyak makan dan hasil produk turunan lainnya.

Perkebunan kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak per hektar tertinggi dari semua jenis minyak nabati lainnya. Di negara penghasil minyak yang lebih tinggi, hasil rata-rata kelapa sawit sekitar empat ton minyak per hektare per tahun, lebih dari dua kali lipat produksi minyak per hektare yang diperoleh dari lobak dan empat kali produksi minyak per hektare yang diperoleh dari kedelai dan biji bunga matahari.

Minyak sawit membutuhkan area perkebunan yang lebih kecil dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak lainnya untuk memproduksi jumlah minyak yang sama. Biaya produksi per ton minyak sawit juga lebih rendah dibandingkan tanaman penghasil minyak lainnya.

“Produksi CPO di Indonesia diperkirakan akan tumbuh 7% YoY di 2017 sampai 2018, Indonesia merupakan negara produsen CPO terbesar di dunia. Sampai bulan Oktober 2017, produksi CPO Indonesia ada di level 34,04 juta ton dan ekspor CPO Indonesia berada di level 26,73 juta ton,” ungkap Direktur Utama PT Mahkota Group (MG), Usli pada acara Penawaran Umum Perdana Saham, di Medan, Rabu (4/7).

Potensi pasar minyak makan yang tinggi di dalam maupun luar negeri, ungkap Usli. Produksi minyak makan masih untuk kebutuhan dalam negeri, padahal Tiongkok dan India dua negara paling besar membutuhkan minyak makan yang berasal dari CPO.

Untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri PT MG mendirikan pabrik refinery dan kernel crushing plant dengan melepas sebanyak 703.688.000 atau 20% saham pada Penawaran Umum Perdana Saham.

Listing Kesembilan

Kepala Pusat Informasi Go Public Medan, Muhammad Pintor Nasution mengapresiasi langkah PT MG yang akan melakukan listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) 12 Juni mendatang.

“Ini perusahaan minyak makan di Sumut pertama yang tercatat di BEI,” katanya.

Dikatakan Pintor, sampai saat ini masih belum banyak perusahaan yang mau listing di BEI. Padahal dari pendataan yang dilakukan dua tahun lalu sedikitnya ada 30 perusahaan di Sumut yang sudah layak listing di BEI.

Bila dibandingkan dengan provinsi lain di luar Pulau Jawa, perusahaan di Sumut yang listing masih yang terbanyak. PT MG perusahaan ke-9 yang tercatat di BEI dengan penjamin pelaksana emisi PT Panin Sekuritas Tbk dan PT Jasa Utama Capital Sekuritas.

“Kita berharap semakin banyak perusahaan di Sumut yang mau listing di BEI,” katanya.

Sumber: Analisa